Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Internasional. Tampilkan semua postingan

Sekenario Negara-Negara Commonwealth Pengaruhi Masa Depan RI

Artikel Ditulis Oleh Adie Sachs

Aksi provokativ tiga negara tetangga pada Indonesia adalah terstruktur dengan rapi dan satu komando. Tujuan ketiga negara itu dalam satu koridor kerjasama pertahanan yang saling mendukung sesuai piagam Commonwealth atau persemakmuran. Memang ada teori “kebetulan” dalam pandangan awam ketika Australia menggebah pencari suaka ke wilayah Indonesia. Atau munculnya sekoci berwarna oranye di perairan selatan, kemudian Singapura tiba tiba melakukan protes penamaan KRI Usman Harun. Bersahutan kemudian dengan pembakaran kapal nelayan asal Papua di perairan Papua New Guinea (PNG).

Sekenario Negara-Negara Commonwealth Pengaruhi Masa Depan RI

Setelah Malaysia gagal melakukan tugasnya dengan baik, tiga negara lain yang sesama bertuan pada Ratu Elisabeth di Buckingham mengambil alih. Yang menjadi pertanyaan dan seolah tidak terpikirkan oleh masyarakat Indonesia adalah,

” Apakah ada skenario kebetulan - kebetulan yang bukan merupakan sebuah kebetulan? “


Pertama, pemberian nama Kapal Perang Indonesia sebagai KRI Usman - Harun sebenarnya tidak seketika, perlu waktu dan sejak awal pembangunan kapal sudah dirumuskan. Lalu diputuskan tepatnya pada 12 Desember 2012 setelah melalui diskusi yang panjang. Singapura sebenarnya sejak awal juga sudah tahu, lalu mengapa mempermasalahkannya saat ini?

Kedua, Australia yang mengalami pergantian tampuk pimpinan, sejak Tony Abbott menjadi Perdana Menteri memang terlihat bertolak belakang dengan Kevin Rudd atau Julia Gillard. Namun Abbott tidak punya pilihan selain memainkan perannya, setidaknya sampai misi terselesaikan. Sampai jelas siapa yang menjadi koleganya di Jakarta.

Ketiga, PNG yang selama ini nyaris tidak pernah tercetak dalam berita di koran koran Indonesia, yang tidak ingin belahan barat Cendrawasih lebih makmur, hanya memainkan peran yang jadi bagian mereka. Kenapa mereka melakukan aksi yang sadis disaat sekarang?

Keempat, Indonesia sedang menjalani proses pergantian kepala negara dan akan menghadapi pemilu parlemen dalam tahun ini. Ini adalah tahun yang krusial dan menentukan bagi Indonesia dan kawasan. Pemimpin Indonesia terpilih adalah yang paling “berkuasa dan menentukan” di Asia Tenggara serta berpengaruh di Asia Pasifik, situasi politik Indonesia akan menjadi hitungan kebijakan politik luar negeri setiap pemerintahan, khususnya kawasan Pasifik. Sekali lagi… ini bukan narsisme, ini adalah kenyataan tentang bagaimana dunia memandang posisi Indonesia sejak jaman Bung Karno.

Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui.

Amat disayangkan jika nama Usman - Harun dipandang sebagai masalah ketidaknyamanan Singapura pada Indonesia. Demikian pula dengan pelecehan oleh Australia atas teritorial Indonesia hanya sebatas Aussie versus RI karena imigran gelap semata. Atau aksi barbar PNG pada nelayan kita hanyalah pelanggaran batas laut dalam kebetulan yang bersamaan?. Tidak..!

Ada pola yang tidak terdeteksi umum, sebab kita diarahkan agar melihat masalah dengan setiap negara itu adalah hitam putih, berdiri sendiri dan masing masing. Padahal, kita harusnya bersikap kritis dan jeli dalam memantau perkembangan negara ini dan kaitannya dengan hubungan antarbangsa. Kepentingan blok blok global atas keberadaan Indonesia sering tidak menjadi bagian analisis awal, sehingga kita hampir selalu terlambat bereaksi dan menentukan posisi.

Singapura, Australia dan PNG serta Malaysia bekerja dalam irama yang sama dan terpola dengan baik dalam satu dirigen orkestra. Tujuannya adalah memastikan beberapa hal yang ingin diketahui dan dipastikan sesuai keinginan dengan memanfaatkan momentum poin keempat tadi ( pemilu 2014 ). Apa saja tujuannya?

1. Memancing informasi kekuatan Militer Indonesia sesunggunya.

Data yang dikumpulkan secara berkesimbungan oleh AS, Singapura, Malaysia hingga Australia NewZealand (ANZ) dianggap tidak presisi. Ada perbedaan antara anggaran yang minim, jumlah Alutsista dengan daya tempur TNI yang dipantau. Dukungan dana dan teknologi persenjataan yang minimal berbanding terbalik dengan daya pukul TNI. Militer Indonesia selama ini dianggap masih misterius oleh kekuatan utama dunia.

Seperti juga militer negara lain, memang seperti itulah seharusnya TNI menjaga kerahasiaan kekuatannya. Namun, misteri kekuatan militer Indonesia dianggap lebih penting untuk diukur karena faktor sejarah penggagas Non Blok yang disandangnya.

Australia yang selalu mengarahkan matanya pada militer Indonesia sering merasa tertipu ketika melihat kemampuan para prajurit TNI. Malaysia sendiri harus merasakan malu ketika manuver kapal TLDM di laut Ambalat terusir bukan saja oleh KRI yang lebih kecil, tetapi oleh keberadaan dua prajurit marinir di anjungan kapal mereka. Entah bagaimana keduanya bisa naik dan entah sejak kapan, tetapi keduanya sukses memaksa kapal TLDM berbalik arah meninggalkan Ambalat.

Dengan provokasi ini diharapkan akan muncul banyak informasi tentang jumlah kekuatan tentara indonesia dan persenjataannya secara resmi baik di media media terpercaya maupun dari pihak Indonesia sendiri. Daya gertak TNI tidak sehebat China atau Iran , namun disinilah letak rasa penasaran para tetangga kita.

2. Memancing reaksi sahabat lama.


Singapura sukses jalankan misinya, setidaknya saat ini karena Rusia muncul ke permukaan dalam memandang masalah yang dianggap cukup hangat. Indonesia mungkin tidak berminat berperang dengan Singapura, namun Rusia memandang perlu memberi sinyal bantuan jika sesuatu berjalan tidak kondusif. Kemunculan Rusia ini tidak biasa dan bukan hal gegabah, karena si beruang merah cenderung menjauh selama Orde Baru dan menjaga jarak selama SBY berkuasa. Moskow sengaja menanggapi keusilan Singapura, namun mereka juga memberi pesan jelas akan posisinya yang melihat pola satu komando pada kelakuan PNG dan Australia.

Bukan berarti Rusia terjebak pada permainan Singapura, melainkan permainan selanjutnya, yang lebih panas sedang menjadi sasaran Rusia, yaitu Indonesia tidak akan dibiarkan seperti Mesir atau Suriah. Artinya, pesan jelas Rusia ditujukan bagi “dirigen” kuartet (Malaysia, Singapura, PNG dan Australia), agar tidak mencoba memaksakan pemimpin sesuai pilihan mereka di Indonesia seperti yang sudah mereka lakukan di Mesir atau coba paksakan di Suriah.

3. Pemimpin pesanan sang Dirijen.

Indonesia diharapkan memilih pemimpin yang sesuai selera adidaya, seseorang yang berpihak pada kelangsungan hidup sekutunya di kawasan. Singapura yang kecil tidak akan bisa hidup makmur jika Indonesia tidak memberi keistimewaan, demikian pula Australia apalagi hegemoni Amerika akan jauh surut tanpa Indonesia. Penting juga diketahui posisi tentara indonesia akan berpihak kemana kepada siapa dalam hal sengketa dengan China soal Laut China Selatan.

Semua kepentingan di atas butuh seseorang yang sesuai keinginan dan menguntungkan sang Adidaya, dan itu adalah seseorang yang sebaiknya mirip SBY atau Pak Harto. Meski dari kalangan militer, bahkan keduanya adalah Jenderal, namun mereka adalah anak emas yang tidak segan tunduk pada Amerika. Amerika sangat tidak menyukai pemimpin yang idealis seperti Gusdur atau Megawati apalagi Soekarno yang Non Blok.

Kriteria presiden Indonesia yang diinginkan oleh Washington adalah latar belakang pengusaha atau militer, idealisme liberal, dan bukan nasionalis Sukarnois atau Islamis. Singapura sangat inginkan sosok Prabowo atau Wiranto yang memimpin Indonesia, keduanya adalah sahabat dekat Singapura.

Gangguan gangguan yang bernuansa kekerasan dan militer tiga negara tetangga itu ditujukan untuk memberi gambaran potensi perang Indonesia. Dalam keadaan kondisi geopolitik kawasan yang tegang, diharapkan rakyat Indonesia memilih pemimpin dari kalangan militer. Apa yang dilakukan oleh Singapura, PNG dan Australia adalah provokasi untuk menggiring opini bahwa Indonesia kini dan kedepan masih butuh presiden dari kalangan militer.

4.  Laut China Selatan.

Beberapa hari yang lalu, China melakukan latihan perang di wilayah perairan internasional yang dekat dengan Pulau Christmas setelah melintasi Selat Sunda. Pihak Australia pun mengakui hal tersebut seperti diberitakan Sidney Morning Herald, Kamis (13/2/2014).


Apa yang dilakukan China di laut selatan Jawa itu adalah legal menurut hukum Internasional karena latihan berlangsung di perairan internasional. Selain itu latihan mereka hanya bentuk manuver dan membidik tetapi tidak menggunakan amunisi persenjataan. Namun tindakan China ini disinyalir untuk menunjukkan kekuatan angkatan lautnya kepada dunia internasional. Dan itu semua dilakukan di tengah kebijakan pertahanan Australia lebih banyak berfokus kepada Indonesia dan kekuatan lain di Asia Timur.

Hal ini semakin menarik ketika posisi Indonesia yang tidak memihak pada konflik laut sengketa di Laut China Selatan, sementara China selalu mengingatkan dukungannya pada Indonesia terkait Papua. Kampanye kekuatan armada China memang tidak hanya ditujukan kepada Australia tetapi juga kepada wilayah Asia Pasifik secara keseluruhan. Ini juga termasuk memberikan pesan kepada Amerika Serikat (AS) dan India, bahwa kedua negara itu tidak bisa memblokir jalur laut yang vital melalui Selat Malaka.

Langkah China dianggap mendapat ijin restu dari Indonesia sebagai pemilik alur laut [ALKI] menuju perairan Samudera Hindia yang menjadi prioritas strategis baru mereka. Hal ini sekaligus menunjukkan kesiapan China dalam mengerahkan militer untuk melindungi kepentingannya di wilayah tenggara bila dibutuhkan. Termasuk membantu kepentingan geopolitik bersama Rusia di Indonesia khususnya.

China sebagai pemain utama baru yang menandingi dominasi Amerika perlu terus meningkatkan kekuatan di Asia dan secara global. Indonesia perlu melihat tindakan China, tanggapan Dubes Rusia dan provokasi tiga negara sebagai bentuk tarik menarik “perhatian” Indonesia sebagai negara seksi nan besar. Keberpihakan pemimpin yang akan dipilih, menakar kekuatan militer sesungguhnya, siapa pembela Indonesia selain Rusia hingga mengarahkan opini pemilih adalah “sekali dayung, dua tiga pula terlampaui”. Itulah tujuan keusilan tiga negara tetangga tadi.

Mentalitas kita yang inferior sering menghambat rasa percaya diri, sehingga terjebak pada pemikiran bahwa masalah yang terjadi dengan negara tetangga hanyalah masalah antar dua negara (bilateral). Kita tidak terbiasa berpikir dan mencantumkan analisa betapa kita disegani dan ditakuti oleh pihak asing. Ini bukan bentuk narsisme, bukan pula superioritas, tetapi bentuk penghargaan dan rasa percaya pada diri sendiri.

Adakah kita mau terjebak permainan negara tetangga itu dengan mengumbar keinginan perang karena amarah? Atau kita mengikuti keinginan mereka dengan tergiring opini agar memilih pemimpin dari kalangan militer karena menganggap situasi tidak kondusif? Itu semua ditangan anda .



Sumber : Kompasnia

Indonesia Nyanyikan "Killing Me Softly" Untuk Australia

Penyadapan yang dilakukan Australia menjadi catatan tersendiri bagi Indonesia. Diam – diam, Indonesia bersikap perlahan menyikapi hal itu. Penyikapan Indonesia yang seperti ini membuat negeri kangguru ini cukup kerepotan.

foto : dailytelegraph.com.au

Guru Besar Hukum Internasional Universitas Indonesia, Prof Hikmahanto Juwana, menyatakan apa yang dilakukan Indonesia adalah ‘membunuh’ Australia perlahan. “Seperti lagu killing me softly,” paparnya kepada ROL, Selasa (18/2).

Sikap ini menandakan ketegasan Indonesia yang unik. “Jadi tidak konvensional,” imbuh Hikmahanto.
 


Ketegasan itu menurutnya sudah disampaikan Pemerintah Indonesia harus adanya code of conduct yang disepakati Indonesia dan Australia. Jadi, Indonesia akan menormalkan hubungan dengan Australia jika ada kode prilaku. Isinya, berkaitan dengan sejumlah hal, diantaranya soal penyadapan. Misal, Hikmahanto menjelaskan, jika Australia mau menyadap sejumlah orang di Indonesia, maka harus sepengetahuan Indonesia. Dia menyatakan Australia sepertinya belum mau menyepakati kode prilaku seperti itu.

Sampai saat ini pun, Dubes  Indonesia untuk Australia belum kembali bertugas. Persoalan pencari suaka terus menghantui negeri kangguru itu. Persoalan pencari suaka memang menjadi masalah rumit bagi pemerintah Australia. Berbagai macam cara dan kebijakan dilakukan demi mengatasi persoalan tersebut.

Pihaknya yakin Australia bertanya-tanya mengapa Indonesia tidak mau menormalkan hubungan “Jawabannya pasti bisa, asal menyepakati code of conduct,” imbuh Hikmahanto.

Indonesia menurutnya sudah bersikap bagus dihadapan Australia. Sudah ada pilihan yang disodorkan kepada Australia, apakah menganggap Indonesia teman atau tidak. Hal ini, menurutnya, bergantung kepada cara pandang Perdana Menteri Tonny Abbot kepada Indonesia. (ROL)

Menlu Singapura Kemukanan Alasan Spesifik Protes Penamaan KRI Usman Harun oleh TNI

Menlu Singapura Shanmugam bicara mengenai alasan spesifik mengapa pihaknya merasa keberatan dengan penamaan KRI Usman Harun oleh TNI. Penamaan boleh untuk hal lain, tapi berbeda imbasnya dengan penamaan pada kapal perang.


"Ini merupakan area di mana Indonesia memiliki kedaulatan hak untuk memberikan nama terhadap kapal perangnya, yang tumpang tindih dengan sejarah bersama dan keputusan Singapura dan Indonesia untuk meletakkan sejarah ini di belakang," ujar Shanmugam seperti dilansir dari Channel News Asia, Rabu (12/2/2014).


Shamnugam mengatakan kedua negara harus menghormati kesepakatan tersebut. Jangan sampai hal yang menjadi sejarah kelam -- bagi Singapura -- kembali muncul ke permukaan.

"Dan harus ada sensitivitas itu dalam kedua negara untuk memastikan hal itu berada di belakang kita dan tidak membukanya lagi. Itulah mengapa kami meminta Indonesia untuk mempertimbangkan kembali penamaan kapal perang itu," ujarnya.

Shamnugam pun menjelaskan mengapa Singapura keberatan dengan penamaan 'Usman Harun' di sebuah kapal perang. Hal itu terkait dengan mobilitas dan simbol yang dibawa suatu kapal.

"Untuk menamakan sebuah bangunan dengan nama mereka atau menguburkannya dalam makam pahlawan nasional, itu adalah suatu hal, namun beda halnya dengan penamaan kapal perang. Sinyalnya sangat berbeda karena kapal berlayar di tujuh samudera, membawa pesan di setiap tanah yang dihampiri kapal tersebut. Begitu juga kapal itu membawa bendera nasional." (Detik)

SBY Merasa Dikhianati Australia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono merasa dikhianati oleh Perdana Menteri Australia, Tony Abbott, yang selama ini telah dianggap sebagai teman baiknya.

SBY Merasa Dikhianati Australia

Hal itu diungkap SBY dalam buku terbaru yang dia luncurkan pada Jumat, 17 Januari 2014 bertajuk "Selalu Ada Pilihan".

Laman News Corporated Australia, Sabtu 18 Januari 2014 melansir dalam buku barunya itu, SBY menulis penyesalannya yang mendalam soal isu penyadapan yang mengemuka di November 2013 lalu. Akibat isu itu, hubungan bilateral kedua negara yang sebelumnya berada di puncak, kembali ke titik nadir.


Bahkan, SBY menjelaskan hubungan kedua negara kembali anjlok sama seperti ketika krisis Timor Timur menyeruak di 1999 silam. Dalam buku setebal 807 halaman itu, SBY menyatakan dengan jelas kekecewaannya terhadap Abbott dalam menangani kasus spionase.

Khususnya, ketika pemimpin Partai Liberal itu, menolak meminta maaf atas aksi Badan Intelijen mereka (DSD) yang telah menyadap komunikasi pribadinya, Ani Yudhoyono, dan para pejabat tinggi lainnya. SBY menyebut aksi itu, benar-benar telah melukainya secara pribadi.

Awalnya, SBY menulis, dia ingin menahan diri memberikan respon keras atas isu penyadapan yang dilakukan oleh Negeri Kanguru. Namun, pikirannya berubah, ketika secara terang-terangan Abbott menolak meminta maaf dan mengatakan aktivitas spionase merupakan hal yang biasa dilakukan antar negara.

"Ketika teman baik saya, Tony Abbott mengatakan di hadapan Parlemen Australia bahwa kasus ini normal dan menolak untuk meminta maaf, saya tidak bisa lagi berdiam diri," tulis SBY di buku barunya itu.

SBY juga menulis ia tidak dapat menerima secara rasional keputusan Australia untuk memata-matai dirinya dan orang terdekatnya.

"Hal penting lainnya yaitu bahwa insiden ini terkait dengan sisi moral dan etis menjadi seorang tetangga yang baik," imbuh SBY.

SBY pun mengaku sangat kecewa dengan respons yang diberikan Pemerintah Australia. Australia, dinilai SBY, memberikan jawaban yang mengambang.

"Jawaban yang mereka berikan antara 'ya' dan 'tidak'," kata SBY.

Di dalam buku itu SBY turut menyatakan Negeri Kanguru seharusnya menginformasikan kepadanya soal adanya kelompok intelijen dari lima negara sekutu Amerika Serikat (AS) yang disebut "Lima Mata".

"Ketika saya membaca berita soal aksi penyadapan yang melibatkan AS dan Australia, saya menginstruksikan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa untuk meminta klarifikasi dari pihak Australia," kata SBY di bukunya.

Penyelesaian ketegangan hubungan bilateral ini sepertinya akan berlangsung cukup lama. Pasalnya, di bukunya, terlihat jelas bahwa SBY tetap kesal dengan drama penyadapan yang berlangsung akhir tahun 2013 itu.

SBY mengatakan belum menerima penjelasan yang memuaskan dari pihak Australia. Walau begitu, SBY mengajukan enam langkah penyelesaian untuk menormalkan kembali hubungan diplomatik kedua negara.

Buku itu diluncurkan pada Jumat, 17 Januari 2014 di Jakarta Convention Centre (JCC) di hadapan 1000 hadirin, termasuk para politisi dan pebisnis.

Awalnya, SBY ingin meluncurkan buku tersebut pada Desember 2013, tetapi ditunda karena ingin memasukkan bab tambahan mengenai isu penyadapan yang dilakukan DSD. Bab itu diberi judul "Seorang Pemimpin Harus Tegas, tetapi Tetap Rasional". (VivaNews)

RI Akan Tingkatkan Patroli Laut Untuk Cegah Pelanggaran Australia

Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan, Djoko Suyanto, geram atas aksi kapal Angkatan Laut Australia, yang beberapa waktu lalu menerobos perairan Indonesia saat mengusir perahu yang ditumpangi para pencari suaka. Pelanggaran batas wilayah itu diakui sendiri oleh pemerintah Australia pekan lalu.

RI akan tingkatkan patroli laut untuk cegah pelanggaran Australia

"Pemerintah Australia di bawah pimpinan Perdana Menteri Tonny Abbot juga harus paham dan mengerti apa arti kedaulatan RI, yang dilanggar begitu saja oleh AL Australia," kata Djoko di Jakarta, Rabu 22 Januari 2014.


Menurut Djoko, pengembalian pencari suaka yang sudah masuk wilayah negara manapun, termasuk Australia seharusnya diurus bersama Komisi PBB untuk Urusan Pengungsi (UNHCR) dan Organisasi Migrasi Internasional (IOM). Kerjasama itu diatur dalam amanat Perserikatan Bangsa-Bangsa.

"Indonesia akan terus meningkatkan patroli keamanan laut untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali," kata dia.

Sebelumnnya, Komandan Operasi Perbatasan Kedaulatan Australia, Letnan Jenderal Angus Campbell, menyatakan pelanggaran tersebut terjadi secara tidak sengaja. Campbell menjamin Australia tak akan mengulangi kesalahan yang sama. (VivaNews)

Australia Janji Tidak Lagi Terobos Perairan Indonesia

Komandan Operasi Perbatasan Kedaulatan Australia, Letnan Jenderal Angus Campbell, mengatakan telah mempelajari kesalahan yang mereka buat saat menerobos perairan Indonesia dalam rangka mengusir kapal pengangkut imigran gelap. Dia menjamin tidak akan ada pelanggaran serupa.

Australia Janji Tidak Lagi Terobos Perairan Indonesia
Pencari suaka di perairan Indonesia
Namun, Campbell bungkam saat ditanya bagaimana caranya memantau para anak buahnya di lapangan agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Harian Sydney Morning Herald (SMH), Jumat 17 Januari 2014, melansir Campbell hanya menyebut bahwa tentara AL Australia telah memberlakukan langkah sementara hingga peninjauan aksi penerobosan itu selesai dilaksanakan.


"Saya hanya akan mengatakan bahwa saya merasa sangat nyaman karena terdapat kendali aktif untuk memastikan bahwa kapal-kapal kami tidak akan berbuat kesalahan serupa di masa mendatang," ujar Campbell. Namun dia tidak bersedia jelaskan lebih lanjut soal langkah berikut.

Sementara Menteri Imigrasi dan Perbatasan, Scott Morrison, mengatakan Kepala Tentara AL Australia, Ray Griggs, telah menghubungi TNI AL pada Kamis kemarin, untuk menginformasikan soal pelanggaran itu. Ray, ujar Morrison, turut meminta maaf atas perbuatan itu.

Aksi tersebut dilakukan secara tidak sengaja. Menurut Campbell, mereka baru menyadari telah melewati batas teritori perairan Indonesia, ketika melihat laporan rutin kapal Negeri Kanguru yang beroperasi di perbatasan.

Permintaan maaf juga coba disampaikan oleh Menteri Luar Negeri Australia, Julie Bishop. Namun, Reuters melansir Bishop tidak dapat menghubungi Menlu Marty Natalegawa, karena dia sedang berada di Myanmar untuk sebuah pertemuan terkait ASEAN.

Morrison tidak menjawab pertanyaan media apakah permintaan maaf formal telah dikeluarkan oleh Kementeriannya. Namun, dia membenarkan bahwa Bishop telah mengirimkan surat permintaan maaf ke Menlu Marty.

"Kami telah meminta maaf dan telah menyatakan secara jelas apa yang terjadi dalam peristiwa itu kepada rekan kami di Indonesia hari ini," ujar Morrison.

Tetap Berlangsung

Namun, lanjut Morrison, bukan berarti akibat kejadian ini mereka akan berhenti bekerja menghentikan pencari suaka.

"Kami akan terus bekerja sesuai dengan amanah ketika kami dipilih dulu yaitu untuk menghentikan perahu pencari suaka," imbuh Morrison.

Tentara AL Australia sebelumnya dilaporkan mendorong kembali perahu para pencari suaka ke perairan Indonesia. Polisi Indonesia yang tak ingin disebut namanyaitu mengatakan bahwa penduduk desa menemukan sejumlah pencari suaka yang terdampar di perairan pada 8 Januari 2014.

Itu adalah kali ketiga tentara AL Australia mendorong para pencari suaka ke perairan Indonesia. Sebelumnya, TNI AL telah mengkonfirmasi dua perahu sebelumnya yang didorong oleh AL Australia yaitu, pada 19 Desember 2013 dan 6 Januari 2014. (VivaNews)

Angkatan Laut RI - Inggris Bahas Pengembangan Kerja Sama Pertahanan

Kepala Staf TNI AL, Laksamana TNI Marsetio, menerima kunjungan First Sea Lord and Chief of Naval Staff Royal British Navy (KSAL Inggris), Admiral Sir George Zambellas KCB DSC, di Markas Besar Angkatan Laut, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis.

Angkatan Laut RI - Inggris Bahas Pengembangan Kerja Sama Pertahanan

Kunjungan Zambellas dan delegasi yang dia pimpin disambut upacara jajar kehormatan militer di pelataran Gedung Utama Markas Besar TNI AL. Seusai itu Zambellas memasuki gedung utama itu dan berbincang dengan Marsetio.


Zambellas datang ke Jakarta bersamaan dengan pelayaran perdana kapal perang Angkatan Laut Kerajaan Inggris, HMS Daring-D32, di perairan Indonesia. Direncanakan kapal perang sarat teknologi tinggi itu sandar di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta, selama empat hari sejak Jumat besok (17/1).

Kunjungan orang pertama di Angkatan Laut Kerajaan Inggris itu sangat bermakna. Zambellas, menurut Kepala Dinas Penerangan TNI AL, Laksamana Pertama TNI Untung Surapati, juga untuk memperkuat hubungan antara kedua angkatan laut Indonesia dan Kerajaan Inggris.

Dalam lawatannya ini, Zambellas juga membicarakan tentang kepentingan pembangunan kerja sama di bidang pertahanan. Kehadiran HMS Daring-D32 menjadi perintis perkembangan kerja sama pertahanan ini.

Arsenal buatan Inggris bukan aneh bagi TNI AL. Tercatat helikopter anti kapal selam WASP pernah digunakan aktif di Dinas Penerbangan TNI AL (kini Pusat Penerbangan TNI AL), dan peluru kendali anti serangan udara Sea Cat juga pernah ditawarkan untuk diakuisisi Indonesia.

Selain untuk memperkuat hubungan kedua angkatan laut, kehadiran HMS Daring-D32 di Jakarta juga menjadi tempat persinggahan terakhir pelayaran panjang sembilan bulan dia. Sebelum ini dia menyinggahi Australia, New Zealand, Jepang, Korea Selatan, China, dan Singapura.

HMS Daring-D32  kapal perang kelas destroyer berpeluru kendali, bermarkas di Porthsmouth, Inggris, dengan komandan kini Commander Angus Essenhigh.

Selama di Jakarta, HMS Daring-D32 akan dibuka untuk publik. Di lambung dan geladak kapal perang buatan BAE Systems Surface Ships di Portsmouth itu juga akan digelar pameran industri pertahanan Inggris, selain pertandingan persahabatan antara personelnya dengan personel TNI AL.

Dengan 190 personelnya, mereka juga dijadualkan akan hadir di SMK Hang Tuah, Jakarta, lari pagi di bundaran Hotel Indonesia, dan beberapa yang lain.  (Antara)

Indobatt Raih 5 Trofi dan Medali Emas Bergengsi Biathlon FCR

"Semangat juang dan kemampuan prajurit TNI saat mengikuti kejuaraan Biathlon Winter Military Sport yang kami selenggarakan pada 23 Desember 2013 lalu sangat mengagumkan," tutur Force Commander Reserve (FCR), Colonel Loic Mizon, Kamis pagi (9/1) saat menyerahkan Tropi Kejuaraan dan Medali kepada Tim Menembak Indobatt. 

Indobatt Raih 5 Trofi dan Medali Emas Bergengsi Biathlon FCR

Kelima atlet menembak Pistol Indobatt yang berhasil mengharumkan nama Indonesia yaitu Kapten Inf Yudhison R. Tarigan, Lettu Paskhas Mansyur M. Lettu Inf Bagus Prabowo, Praka Marinir Ngadimin dan Pratu Jufri Trianto. 

Mereka berhasil mempersembahkan satu Tropi dan Medali Emas untuk kategori menembak Pistol beregu serta satu Tropi dan Medali Emas untuk kategori menembak Pistol perorangan yang diraih oleh Praka Marinir Ngadimin.


Sedangkan kelima atlet menembak Senapan Indobatt yang juga berhasil mengibarkan bendera Merah Putih di Markas FCR UN Posn 9-1, yaitu Serda Agus Darwanto, Praka Ronal Mardian, Praka Joko Harsanto, Praka Alan Lawae, dan Pratu Sumadi.

Tim Menembak Senapan berhasil mempersembahkan satu Tropi dan Medali Emas untuk ketegori menembak Senapan beregu serta satu Tropi dan Medali Emas untuk kategori menembak senapan perorangan yang diraih oleh Serda Agus Darwanto.

Komandan Satgas Indobatt XXIII-H/UNIFIL Letkol Inf M. Asmi yang sedang berada di UNIFIL HQ Naqoura, menunjuk Kasi MIO (Military Information Officer) Mayor Marinir Jan Risa untuk mewakili Beliau saat penyerahan Tropi dan Medali mengucapkan rasa bangga atas jerih payah dan perjuangan yang telah ditunjukkan oleh para atlet menembak Indobatt sehingga berhasil mengangkat martabat Indonesia di dunia Internasional. (TNI)

Berulah Lagi, Kapal Perang Australia Masuki Perairan Indonesia Tanpa Izin

Kapal perang Australia memasuki wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) kembali terjadi sejak pertengahan Desember silam di mana tiga kapal perang milik marinir angkatan laut Australia memasuki wilayah perairan Rote saat menggiring para imigran yang memasuki wilayah Australia.

Berulah Lagi, Kapal Perang Australia Masuki Perairan Indonesia Tanpa Izin

Kapal perang Australia tersebut dengan bebas melintasi di perairan Rote tanpa pengawasan Tentara Nasional Indonesia (TNI) angkatan Laut (AL).

Hal itu diketahui setelah aparat kepolisian Resort Rote Nao kembali mengamankan 45 imigran gelap yang terdampar di Dusun kakaek Desa Lenupetu Kecamatan Pantai Baru, Senin (6/1).

Berdasarkan informasi yang dihimpun wartawan dari juru bicara para imigran, Yusuf Ibrahim (28), di Mapolres Rote Ndao, diketahui bahwa mereka digiring oleh marinir AL Australia menggunakan tiga buah kapal perang dan enam speed boat hingga memasuki wilayah perairan Rote, Nusa Tenggara Timur (NTT).


Tidak hanya itu, para imigran tersebut bahkan menunjukkan alat bukti berupa GPS di mana dalam alat tersebut menunjukkan bahwa kapal Perang milik marinir Australia telah memasuki wilayah perairan Rote sekitar tujuh mil dari daratan Pulau Rote.

Yusuf Ibrahim juga mengisahkan mereka sempat bertahan di perbatasan Australia–RI selama 1,5 hari. Selama berada di sana, mereka diperlakukan tidak manusiawi oleh para marinir dengan tidak diberi makan dan hanya diberi minum.

Bahkan beberapa rekannya disiksa dengan cara dibawa ke dalam ruang mesin dan dipaksa memegang knalpot mesin kapal.

Akibatnya, keempat rekannya mengalami luka bakar pada bagian telapak tangan dan satu rekan lainnya di tendang hingga mengalami luka lebam dibagian paha dan lengan kiri.

“Empat rekan kami disiksa oleh tentara Australia dengan cara dimasukkan ke dalam ruangan mesin dan dipaksa memegang knalpot mesin sehingga mengakibatkan luka bakar di bagian telapak tangan, sedangkan satu orang lainya ditendang dan mengakibatkan luka lebam di bagian paha dan lengan bagian kiri, ungkap Yusuf.

Sementara itu, Kapolres Rote Ndao AKBP Hidayat, saat dikonfirmasi wartawan, mengatakan para imigran tersebut berangkat dari Pulau Kendari pada tanggal 21 Desember 2013 dan tiba di Australia pada tanggal 1 Januari 2014.

Setelah memasuki wilayah Australia, para imigran dihadang dan digiring keluar menggunakan kapal perang.

Aparat kepolisian yang mengetahui adanya penemuan imigran tersebut langsung bergerak ke lokasi dan langsung mengamankan para imigran tersebut ke Mapolres Rote Ndao.

Menurut rencana, para imigran tersebut akan di berangkatkan ke imigrasi kelas II Kupang, Selasa (7/1), menggunakan jasa penyeberangan Express Bahari.

Untuk diketahui, ke-45 imigran yang berhasil diamankan di antaranya laki-laki 36 orang, perempuan sembilan orang. Warga negara (WN) Nigeria dua orang, WN Sudan sembilan orang, WN Somalia 28 orang, WN Mesir tiga orang, WN Yaman satu orang, WN Gana satu orang, WN Libanon satu orang.

Sementara itu juragan dan ABK berhasil meloloskan diri dan sementara dalam pengejaran oleh aparat Kepolisian Resort Rote Ndao.  (BeritaSatu)

Angkatan Udara RI-China Tingkatkan Kerja Sama Militer

WAKIL Kepala Staf Angkatan Udara (Wakasau), Marsekal Madya TNI Sunaryo menerima kunjungan Maj. Gen. Zhou Weaping, Deputy Director Political Command People's Liberation Army Air Force (PLAAF) China, di Markas Besar Angkatan Udara (Mabesau), Cilangkap, Jakarta Timur, Senin (6/1).

Angkatan Udara RI-China Tingkatkan Kerja Sama Militer

Dalam pertemuan tersebut, Wakasau dan Deputy Director, Political Command PLAAF membahas tentang kerja sama militer kedua negara khususnya TNI Angkatan Udara dengan Angkatan Udara China.


“Kerja sama kedua militer tersebut dititikberatkan pada peningkatan pendidikan dan latihan yang sudah terjalin dengan baik selama ini,” kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Udara (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI Hadi Tjahjanto, S.IP melalui siaran pers diterima Jurnal Nasional.

Menurut Kadispenau, Wakasau didampingi Asisten Pengamanan (Aspam) KSAU, Marsekal Muda TNI Zulhasymi. Sedangkan Maj. Gen. Zhou Weaping didampingi Col. Wang Fengbin (Air Force Airborne Troops College), Col. Zhang Xiaozhong (Air Force Logistic College), Col. Cao Shunquan (Deputy Section Chief Training Departement of PLAAF HQ), dan Col. Xu Daxhuang (Chinese Defence Attache). (Jurnas)

Panglima TNI lepas satuan tugas Konga XX-K ke Kongo

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko melepas 175 anggota Satuan Tugas Kontigen Garuda (Konga) XX-K untuk bertugas selama satu tahun bersama misi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Stabilisasi di Republik Demokratik Kongo (Mission de l'Organisation des Nations Unies Pour la Stabilisation en Republique Democratique du Congo/MONUSCO).


"Mereka akan berangkat pada Selasa malam (31/12) dan akan melaksanakan tugas pemelihara perdamaian dunia di Democratic Republic of Congo selama satu tahun," kata Panglima TNI, yang menjadi inspektur upacara pelepasan di Markas Besar TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa.

Ia mengatakan pasukan itu akan menggantikan Satuan Tugas Kizi TNI Konga XX-J/MONUSCO yang masa tugasnya berakhir pada Desember 2013.


Satuan Tugas Kizi TNI Konga XX-K beranggotakan 175 orang yang terdiri atas 148 TNI Angkatan Darat, 18 TNI Angkatan Laut, lima TNI Angkatan Udara, dan empat personel dari Mabes TNI.

Satuan tugas itu dipimpin oleh Mayor CZI Nurdihin Adi Nugroho (abituren Akademi Militer Tahun 1998) yang dalam keseharian menjabat sebagai Komandan Detasemen Zeni Bangunan-2 Kodam VI/Mulawarman.

Menurut Moeldoko, Satuan Tugas Kizi TNI Konga XX-K/MONUSCO akan melakukan pemeliharaan jalan dari Dungu ke Ngilima, pemeliharaan rutin Runway Dungu, pembangunan hanggar Helipad, pengaspalan taxi way, dan pembuatan jembatan di Moke Faradje.

Pasukan juga akan membangun jalan dari Faradje ke Gilima sepanjang 24 kilometer dan perbaikan jalan Dungu- Faradje sepanjang 140 kilometer serta melanjutkan tugas pasukan sebelumnya.

Sebelum berangkat ke Kongo, pasukan Konga XX-K/MONUSCO telah melakukan latihan penyiapan di Pusat Misi Penyelenggara Perdamaian (PMPP) TNI Sentul Bogor, Jawa Barat, selama satu bulan.  (VivaNews)

Satgas Indobatt Diminta Perketat Penjagaan

Guna mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan selama melaksanakan tugas sebagai misi perdamaian di Lebanon, Prajurit TNI yang tergabung dalam satgas Kontingen Garuda (Konga) XXIII-H/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) atau Indobatt (Indonesian Battalion), diperintahkan agar memperketat penjagaan di setiap pintu masuk markas (Main Gate)masing-masing UNP (United Nation Position), Sabtu (28/12/2013).

Satgas Indobatt Diminta Perketat Penjagaan
Sebanyak 1.169 Prajurit TNI yang tergabung dalam satgas Kontingen Garuda (Konga) pada misi perdamaian di Lebanon menerima penghargaan Medali dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), karena telah dinilai berhasil oleh PBB dalam mengemban misinya sebagai penjaga perdamaian di Lebanon sebagai Peacekeepers dibawah payung UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon). Upacara penyematan Medali PBB dilaksanakan dalam suatu upacara militer, dengan Inspektur Upacara Deputy Force Commander Brigadir Jenderal Phatric Phelan dan Komandan Upacara Wadansatgas Indobatt Mayor Inf Pio L. Nainggolan, bertempat di Lapangan Soekarno, Markas Indonesia Battalion, Adshid al Qusayr, Lebanon Selatan, Jumat (30/8/2013), waktu setempat.

Dalam pengarahannya, Dansatgas Konga XXIII-H/UNIFIL Letkol Inf M. Asmi mengatakan bahwa, setiap personel militer dan sipil serta kendaraan baik mobil UN (United Nation), maupun mobil sipil yang akan masuk ataupun keluar dari markas wajib untuk dicek, mulai dari identitas pengemudi sampai kendaraannya.
 


"Kondisi di Lebanon saat ini yang tengah memanas menjadi perhatian penting saya selaku Komandan Satgas, guna mengamankan setiap personel TNI yang bertugas  sebagai pasukan perdamaian di wilayah Lebanon Selatan maupun materiil yang menjadi tanggung jawab Satgas Indobatt dalam pelaksanaan tugasnya," kata Letkol Inf M. Asmi.

Dansatgas memerintahkan, jika ada hal yang mencurigakan agar segera dilaporkan kepada Komandan Peleton (Danton) maupun Komandan Kompi (Danki) masing-masing, agar segera dapat ditindak lanjuti.

Selain itu, langkah antisipasi lainnya diberlakukannya patroli ronda malam di masing-masing Markas Indobatt, yaitu: UN Post7-1 Adshit al Qusayr Markas Indobatt, UN Post7-3 Blate Markas Kompi Bravo, UN Post 9-2 Az Zikkiyah Markas Kompi Charlie dan UN Post 9-63 El Aadeisse serta UN Post 9-15 Kafer Killa Markas Kompi Alfa.

Sementara itu, Wadansatgas Indobatt Mayor Inf Ade Rony didampingi Kasilog Satgas Kapten Inf Dobby, Perwira Fuel Lettu Marinir Donny melaksanakan pengecekan kesiapan kendaraan tempur yang berada di UN Post9-2 Az Zikkiyah Markas Kompi Charlie.

"Inspeksi ini adalah untuk mengecek seberapa jauh kesiapan setiap kendaraan tempur Satgas Indobatt dalam mendukung pelaksanaan tugas patroli," katanya.

Jenis kendaraan tempur yang berada di Kompi Charlie, diantaranya jenis BTR 80-A buatan Rusia tahun 2002 sebanyak 12 unit, 2 unit VAB buatan Pindad jenis ANOA dan Ambulance serta 1 unit Panhard buatan Prancis. (Tribun)

Satgas Indobatt cegah kontak tembak Lebanon-Israel

Rencana pihak IDF (Israel Defence Force) untuk melakukan pemotongan pohon tumbang yang menimpa Technical Fence di daerah Blue Line perbatasan Lebanon-Israel tepatnya di TP (Temporary Post)-37, telah menimbulkan reaksi dari pihak Lebanon.

Satgas Indobatt cegah kontak tembak Lebanon-Israel

Informasi awal yang di dapat dari Sector East Tactical Operation Center (SECEAST TOC), tentara IDF akan melaksanakan pemotongan pohon tersebut pada hari Jumat, 20 Desember 2013 sekira pukul 08.00 waktu setempat. Rencana dari Israel Defence Force tersebut langsung memancing reaksi dari berbagai pihak.
 


Terkait dengan informasi tersebut, Prajurit TNI yang tergabung dalam satgas Indonesian Battalion (Indobatt) Kontingen Garuda XXIII-H/UNIFIL (United Nations Interim Force In Lebanon) di bawah pimpinan Letkol Inf M Asmi selaku Komandan Satgas segera memerintahkan anggotanya untuk menuju Temporary Post-37 dan berjaga di sepanjang jalan Blue Line perbatasan Lebanon dan Israel.

Sementara itu, beberapa personel dari OGL (Observers Group in Lebanon), Lebanese Armed Force (LAF), wartawan lokal, Spain Battalion, Local Police dan masyarakat setempat secara berturut-turut mendatangi lokasi kejadian tersebut.

Komandan Satgas Indobatt Letkol Inf M Asmi, Pasi MIO (Military Information Officer) Lettu Inf Cahyo, Pasiops FP (Force Protection) Lettu Mar Erwan Putra, Komandan Kompi “A” Lettu Inf Ading yang saat itu sudah berada di lapangan segera melakukan koordinasi dengan pihak-pihak terkait agar peristiwa yang terjadi pada tanggal 3 Agustus 2010 lalu tidak terulang kembali.

Kondisi di sepanjang Blue Line yang sehari-hari biasanya lengang berubah menjadi ramai dan menegangkan, karena dari kedua pihak baik Lebanese Armed Force maupun Israel Defence Force masing-masing bersenjata lengkap.

Prajurit TNI segera menempatkan diri berada di tengah-tengah antara tentara LAF dan IDF dibawah pimpinan Lettu Mar Indra Batubara dan Lettu Inf Maulana. Beberapa personel TNI berdiri menghadap ke arah tentara LAF dan sebagian yang lain menghadap ke arah IDF sambil mengibar-ngibarkan Bendera UN (United Nation) sebagai pertanda bagi kedua pihak bahwa pasukan UNIFIL (United Nation Interim Force in Lebanon) telah hadir di antara mereka.

Komandan Satgas Indobatt Konga XXIII-H/UNIFIL Letkol Inf M Asmi memerintahkan kepada para prajuritnya agar senantiasa awas  dan waspada selama menengahi antara tentara LAF dengan IDF.

“Pastikan bahwa prosedur yang telah ditetapkan UN dilaksanakan dengan semaksimal mungkin dan mari kita senantiasa berdoa agar saat pemotongan pohon oleh pihak Israel Defence Force tidak terjadi hal-hal yang mengarah ke kontak senjata,” katanya.

Dikarenakan satu dan lain hal, ternyata Israel Defence Force memutuskan untuk menunda proses pemotongan pohon tumbang tersebut menjadi Jumat siang, dan sekitar pukul 14.50 waktu setempat tentara Israel baru memulai proses pemotongan pohon tersebut.

Terlihat satu orang IDF melaksanakan pemotongan pohon, dua orang personel berjaga dengan senjata mengarah ke keramaian di Blue Line dan dua personel bersiaga di bagian belakang. Di sisi lain, tentara LAF yang berada di sepanjang Blue Line pun bersiap dengan menyandang senjata M-16 nya.

Melihat hal ini, para prajurit TNI berupaya keras untuk tidak terjadi letusan senjata dari kedua belah pihak dengan memperingatkan tentara LAF dan IDF berulang kali serta tetap mengibar-ngibarkan bendera UN (United Nation).

Usai melaksanakan pemotongan pohon, tentara IDF langsung memperbaiki Technical Fence yang rusak akibat tertimpa pohon tadi. Keseluruhan proses, mulai dari pemotongan pohon sampai dengan perbaikan pagar akhirnya selesai sekira pukul 17.10 waktu setempat.

Selanjutnya, tentara IDF langsung mengemas kembali alat peralatan yang digunakan dan memasukannya ke dalam mobil kemudian pergi meninggalkan lokasi sekira pukul 17.35 waktu setempat, demikian pula dengan tentara LAF kembali menuju markasnya di wilayah Marjayoun, Lebanon Selatan. (Sindo)

Noam Chomsky: Papua, Skandal Besar Barat

Salah satu intelektual terkemuka dunia, Noam Chomsky, angkat bicara mengenai kondisi di Papua. Dalam sebuah wawancara yang muncul di YouTube, profesor emeritus Massachusetts Institute of Technology (MIT), Amerika Serikat, itu menyebut genosida sedang terjadi di Papua.

Noam Chomsky: Papua, Skandal Besar Barat
Noam Chomsky, bapak linguistik modern
"Dukungan Barat terhadap penindasan di Papua Barat adalah skandal besar," kata Chomsky dalam salah satu video yang merupakan bagian dari serial "The Chomsky Videos", diunggah pada 8 Desember 2013. Negara-negara Barat, kata Chomsky, mengamini karena ingin mengeruk sumber daya alam Papua.

Chomsky yang kerap disebut sebagai "Bapak Linguistik Modern" itu menyatakan, populasi, kebudayaan dan masyarakat Papua sedang berada dalam penindasan. "Apa yang terjadi di sana? Jelas genosida yang nyata," kata Chomsky. "Jika aktivis-aktivisnya ditaruh di satu ruangan, mereka terlihat putus asa," katanya pria keturunan Yahudi kelahiran 7 Desember 1928.

Dan posisi Amerika Serikat, kata Chomsky, mendukung aksi itu. Selama 25 tahun, politik luar negeri negerinya itu mendukung segala macam aksi termasuk penindasan militer terhadap Papua, kata intelektual yang menganggap dirinya seorang sosialis libertarian itu.

Video wawancara Chomsky ini sudah beredar luas di Papua. Tabloid Jubi melalui lamannya turut menyiarkan ulang video ini. (VivaNews)

175 Prajurit Satgas Kompi Zeni TNI Konga terima penghargaan medali PBB

Sebanyak 175 prajurit TNI yang tergabung dalam Satgas Kompi Zeni TNI Kontingen Garuda (Konga) XX-J/MONUSCO, menerima penghargaan medali Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

175 Prajurit Satgas Kompi Zeni TNI Konga terima penghargaan medali PBB

Penghargaan medali PBB ini disematkan langsung oleh Special Representative of Secretary General (SRSG) untuk MONUSCO (Mission de I’Organisation de republic des Nation Unies Pour la Stabilisation en Republique Democratique du Congo), Martin Kobler, di Camp Bumi Nusantara, Dungu, Kongo-Afrika, Kamis, 19 Desember 2013.


Momen ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri bagi prajurit TNI Konga XX-J, karena penyematan penghargaan medali PBB dilakukan langsung oleh pejabat tertinggi di MONUSCO. Adapun prajurit TNI terdiri dari TNI AD 151 orang, TNI AL 19 orang dan TNI AU 5 orang, dibawah pimpinan Letkol Czi Irfan Siddiq selaku Komandan Satgas (Dansatgas), bertugas menjalankan misi pemeliharaan perdamaian bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di Republik Demokratik Kongo-Afrika Tengah, selama 11 bulan terakhir.

Dalam amanatnya, SRSG menyampaikan penghargaan dan apresiasi yang tinggi terhadap kinerja dan dedikasi yang diberikan oleh Satgas Kizi TNI Konga XX-J selama bertugas di daerah Kongo, seperti yang tertuang dalam amanat yang dibacakan dengan menggunakan bahasa Indonesia oleh Martin Kobler sebagai bentuk penghormatan khusus kepada Kontingen Indonesia,

“sekali lagi saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh personel Satgas Kompi Zeni Indonesia yang telah memberikan karya terbaik di dalam misi perdamaian MONUSCO. Besar harapan saya kepada Satgas Kompi Zeni Indonesia untuk tetap bertugas dengan penuh dedikasi dalam rangka mewujudkan stabilitas dan kemajuan bagi masyarakat Republik Demokratik Kongo,” ujar Martin dalam siaran persnya, Jumat (20/12/2013).

Kegiatan upacara Medal Parade Kontingen Indonesia diakhiri dengan defile pasukan di hadapan SRSG dan seluruh Komandan Kontingen di Dungu, dilanjutkan pertunjukan demonstrasi Beladiri Militer Yong Moodo dan Kolone Senapan oleh personel Satgas Kizi TNI. Atraksi yang membutuhkan konsentrasi, pelatihan dan keterampilan tinggi tersebut mengundang decak kagum para hadirin. (SIndo)

China Tawarkan Berbagai Kerja Sama Militer Kepada Indonesia

Menteri Pertahanan China, Jenderal Chang Wanquan, menyambangi Indonesia hari ini, Senin 16 Desember 2013. Memulai kunjungan pertama ke Kementerian Pertahanan, Jenderal Chang menawarkan beberapa kerja sama di bidang militer dan pendidikan dengan Indonesia.

China Tawarkan Berbagai Kerja Sama Militer Kepada Indonesia
Menhan RI Purnomo Yusgiantoro dan Menhan China Chang Wanquan. | ANTARA FOTO/Fanny Octavianus
Hal itu diungkap Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, usai melakukan pertemuan bilateral dengan Menhan Chang, selama hampir tiga jam di Gedung Kemenhan, Jakarta Pusat. Purnomo menyebut kerja sama yang konkret dan ditawarkan Pemerintah China yaitu bidang militer darat, laut, dan udara.

"Kerja sama di darat akan diselenggarakan latihan bersama dengan Kopassus. Rencananya, latihan tersebut akan digelar secara rutin," ujar Purnomo.


Melalui kerja sama ini, menurut Purnomo, terlihat betapa dekat hubungan kedua pasukan khusus antara China dan Indonesia.

Sementara itu, untuk kerja sama di bidang laut, kedua pasukan akan berlatih bersama dengan nama latihan komodo dan digelar di Laut China Selatan. "Namun, lokasi latihan di LCS tidak akan menyentuh wilayah internasionalnya. Kami hanya akan berlatih di wilayah kita saja," kata dia.

Pemerintah China, ujar Purnomo, sangat mendukung adanya latihan laut tersebut.

Terakhir, di bidang militer udara, China siap mendidik para pilot Indonesia untuk berlatih menggunakan simulator pesawat Sukhoi. Penggunaan simulator, ujar Purnomo, sengaja dipilih, karena apabila berlatih dengan pesawat asli, bisa memakan biaya yang tinggi.

"Di Beijing, mereka memang memiliki peralatan yang lengkap. Mereka tidak dikenakan biaya, ketika berlatih menggunakan simulasi," ujar dia.

Namun, di saat bersamaan, Pemerintah Indonesia juga sedang dalam tahap untuk memesan simulator tersebut. Alat simulator itu tidak bisa tiba dalam waktu cepat di Indonesia, lantaran Kepala Badan Perencanaan Pertahanan (Kabarahan) dari Mabes TNI AU sedang meneliti simulator jenis apa yang pas untuk pesawat Sukhoi SU-27 dan SU-30.

"Apabila jenis simulator yang cocok buatan Rusia, karena pesawatnya juga buatan dari sana, ya kami akan beli dari Rusia," kata dia.

Terkait kerja sama di bidang militer, Purnomo menyampaikan kebijakan Pemerintah Indonesia yang tidak akan melakukan pembelian alat militer dari satu negara saja.

Berdasarkan pengalaman di masa lalu, ujar Purnomo, menggantungkan peralatan militer ke satu negara saja, dapat menyulitkan militer dalam negeri.

Sementara itu, kerja sama di bidang pendidikan akan direalisasikan dengan menyumbangkan sebuah laboratorium bahasa Mandarin di Pusat Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) di Sentul.

"Kami sedang membicarakan kemungkinan tersebut. Selain itu, mereka juga akan mengirimkan seorang guru pengajar bahasa Mandarin," imbuh Purnomo. Bahasa Mandarin, turut dipandang penting di dunia internasional.

Dalam pertemuan bilateral, Purnomo turut mengajak Menhan China untuk ikut terlibat dalam pertemuan Menhan Dialog Pertahanan Internasional (JIDD) di Jakarta yang dihelat Maret 2014. Hal itu, karena tema yang diangkat akan menyinggung soal keamanan maritim.

"Dan mereka berjanji akan mengirimkan delegasi besar dan tingkat tinggi untuk mengikuti JIDD. Di sana, mereka dapat berdiskusi mengenai Laut China Selatan dan Laut China Timur, termasuk menyampaikan posisi mereka dalam sengketa lahan yang tengah berlangsung," kata dia.

Chang akan berada di Indonesia hingga 19 Desember mendatang. Agenda terakhirnya adalah bertemu dengan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.  (VivaNews)

Ingin Rujuk Australia Harus Penuhi 6 Sarat yang Diajukan Indonesia

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meminta Pemerintah Australia menjalankan enam syarat yang diajukan Pemerintah Republik Indonesia (RI), baru berbicara tentang normalisasi hubungan RI-Australia.

Ingin Rujuk Australia Harus Penuhi 6 Sarat yang Diajukan Indonesia
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyampaikan komitmen bersama, usai Rapat Koordinasi tentang Pangan, di Istana Bung Hatta, Bukittinggi, Sumbar, Selasa (29//10). | foto : ANTARA

Enam syarat yang disampaikan RI, di antaranya perlu dibentuknya kode etik dan protokol yang mengatur kesepakatan hubungan RI-Australia menyusul ketegangan hubungan diplomatik akibat skandal penyadapan oleh Badan Intelijen Australia (DSD) terhadap telepon seluler SBY, istrinya, dan sejumlah menteri pada 2009.

"Itu prinsip, kita tidak bisa maju tanpa adanya saling menghormati, saling mempercayai," ujar Presiden saat memberikan keterangan pers di Pendopo Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, Jumat (6/12).


Presiden mengaku telah melakukan pembicaraan telepon selama 30 menit dengan Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa. Marty secara eksplisit menjelaskan kepada presiden mengenai pertemuannya dengan Menteri Luar Negeri Australia Julie Bishop di Bali, Kamis (5/12).

Pada pertemuan itu, lanjut Presiden, Bishop secara terbuka menyampaikan penyesalan mendalam atas skandal penyadapan telepon sejumlah pejabat tinggi negara. Namun, rasa penyesalan itu belum cukup hingga Pemerintah Australia menjalankan persyaratan yang ditetapkan RI.

"Biarlah mengalir dulu sampai Indonesia yakin. Saya yakin, bahwa ke depan tidak ada lagi hal seperti itu dan kita bisa menjalin kerja sama dengan baik," kata presiden.

Dia menyatakan bahwa bagi Indonesia, menyadap pembicaraan Kepala Negara sahabat berarti tidak mempercayai dan menghormati. Oleh karena itu, RI berkeinginan untuk membangun suatu hubungan baru dengan kesepakatan bahwa semuanya harus memiliki penghormatan dan kepercayaan kepada mitranya.

"Sikap kita jelas dan tegas, penyadapan ini suatu yang serius dan kita tidak bisa dianggap berlangsung begitu saja,"kata presiden.

Menurut Presiden, pada pertemuan dengan Menlu Marty Natalegawa, Bishop menyatakan bahwa Australia konsekuen untuk menghormati kedaulatan dan keutuhan NKRI.

"Tapi bagaiman pun harus kita selesaikan dulu masalah penyadapan ini sampai beres, kemudian kita siap melaksanakan normalisasi hubungan bilateral kedua negara," katanya.


Sumber : BeritaSatu

Ribuan Prajurit TNI Berangkat ke Libanon

TENTARA Nasional Indonesia kembali mengirimkan 1.169 prajuritnya yang tergabung dalam Satuan Tugas TNI Kontingen Garuda (Konga) UNIFIL (United Nations Interim Force in Lebanon) dalam rangka Misi Perdamaian PBB di Lebanon.

Ribuan Prajurit TNI Berangkat ke Libanon
Prajurit TNI misi perdamaian Libanon

Upacara pemberangkatan dipimpin langsung oleh Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, dengan upacara militer di Markas Besar TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (3/12/2013).

Dalam amanatnya, Panglima TNI mengatakan, opini publik domestik dan persepsi masyarakat internasional terhadap determinasi kebijakan politik luar negeri Indonesia selalu menjadi elemen yang sangat penting dalam formulasi penyelenggaraan hubungan internasional dan pelaksanaan politik luar negeri Indonesia.


“Sehingga secara langsung memberikan nilai terhadap kapasitas dan kredibilitas Indonesia di forum internasional,” ujar Panglima TNI.

Dalam kaitan ini, katanya, prajurit sekalian merupakan salah satu faktor penentu, sekaligus pelaku keberhasilan diplomasi Indonesia dalam mengangkat citra dan kredibilitas bangsa dan negara, melalui misi PBB yang diembankan negara kepada para prajurit sekalian.

Dari 1.169 Prajurit TNI tersebut, yaitu: 850 personel Batalyon Mekanis TNI Konga XXIII-H dipimpin Letkol Inf M. Asmi, 75 personel Military Police Unit (MPU) Konga XXV-F dipimpin Letkol Cpm Andri Gunawan, 150 personel Force Protection Company (FPC) Konga XXVI-F2 dipimpin Mayor Inf Aulia Dwi.

Sedangkan 50 personel Satgas Force Headquarter Support Unit (SHQSU) Konga XXVI-F1 dipimpin Kolonel Inf Adipatikarnawijaya, 6 (enam) personel Satgas CIMIC TNI Konga XXXI-D dipimpin Mayor Arm Syamsul Bahri.

18 personel Satgas Military Community Outtreach Unit (MCOU) Konga XXX-D dipimpin Mayor Arm Erza Nathanael, 9 (Sembilan) personel Satgas Level 2 Hospital Unifil XXIX-E dipimpin Kapten Ckm dr. Trisihono, S. PM dan 11 personel Milstaf Sector East HG Unifil dipimpin Kolonel Inf Kemal.

Penugasan yang akan dilaksanakan merupakan implementasi dari cita-cita bangsa Indonesia yang tercantum dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea empat yang berbunyi, “Ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.” (POL)

Wawancara Mantan KSAD Jenderal (Purn) Pramono Edhi Wibowo Mengenai Isu Penyadapan

Jenderal (Purn) Pramono Edhi Wibowo, mantan Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), kini aktif berpolitik.  Satu bulan setelah mengakhiri masa jabatan sebagai KSAD karena pensiun pada Mei 2013,  adik ipar Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ini bergabung dengan Partai Demokrat yang didirikan SBY dan istrinya Ani Bambang Yudhoyono, kakak perempuan Pramono Edhi Wibowo. 

Mantan KSAD Jenderal (Purn) Pramono Edhi Wibowo

Posisi penting di parpol berlambang berlian biru itu langsung menghampirinya: anggota Dewan Pembina.  Ketua Dewan Pembina, jabatan yang menentukan hitam-putih kebijakan partai, adalah Presiden SBY, yang juga merangkap jabatan sebagai Ketua Umum Partai.  Sekretaris partai dijabat putra kedua Presiden SBY, yakni Edhie Baskoro Yudhoyono, yang biasa dipanggil “Ibas”.


Karir militer perwira lulusan Akabri 1980 ini terbilang lengkap. Putra Komandan RPKAD Sarwo Edhie Wibowo yang menjulang namanya karena pemberantasan pemberontakan G 30 S/PKI ini pernah menduduki posisi Komandan Jendral Kopassus, Panglima Komando Strategis Angkatan Darat, dan Pangdam III Siliwangi.  Mas Edhie, begitu ia kini menyebut dirinya, pernah juga menjadi ajudan mantan Presiden Megawati Soekarnoputri.

Pengangkatannya sebagai KSAD sempat menuai kritik, muncul anggapan dia dipilih karena faktor nepotisme.  Kesan ini pula yang mencuat saat ia memutuskan terjun menjadi salah satu calon presiden yang berlaga dalam konvensi yang digelar Partai Demokrat. Konvensi yang diikuti 11 kandidat akan mencari calon presiden andalan Demokrat pada Pemilu 2014.

"Saya terpanggil untuk berkontribusi meningkatkan elektabilitas partai yang kini tengah disorot kinerjanya," ujar Pramono Edhie saat berbincang dengan Uni Z Lubis, Pemimpin Redaksi VIVA.co.id bersama tim Cakrawala ANTV di Media Center Pramono Edhie Wibowo, kawasan Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, baru-baru ini.

Rumah besar yang kini menjadi tempatnya berkantor, sebelumnya seringkali digunakan untuk rapat Sekretariat Gabungan (Setgab), koalisi parpol pendukung pemerintahan SBY.  Minggu malam (1 Desember) wawancara tambahan terkait isu penyadapan pejabat tinggi negara oleh intelijen Australia yang mengguncang Tanah Air dilakukan via telepon. Saat itu Pramono Edhie tengah berada di Cipanas, bertemu dengan tim Partai Demokrat. Berikut petikan wawancaranya:

Presiden SBY, Ibu Negara, dan sejumlah pejabat tinggi Indonesia disadap intelijen Australia.  Tanggapan Anda?

Indonesia menganggap Australia itu negara sahabat.  Begitu pula pernyataan pemerintahan mereka selama ini.  Sahabat kok menyadap? Kalau ingin dapatkan informasi mbok ya bertanya saja langsung, tidak perlu menyadap. Itu namanya tidak ada “trust”.

Penyadapan dianggap hal biasa juga, bahkan menurut pengakuan mantan petinggi lembaga intelijen,  Indonesia pernah lakukan hal yang sama terhadap pihak Australia. Yang lantas digugat adalah kemampuan kita mengamankan komunikasi Presiden. Mampukah kita?

Baik dalam berkomunikasi, membangun sistem penangkalan atas intersepsi pihak lain terhadap komunikasi kita, apakah komunikasi intelejen atau komunikasi Presiden, memerlukan peran teknologi.  Lha, selama ini kita menggunakan teknologi mereka?  Teknologi asing. Produk mereka.  Tidak ada jaminan  kita aman, karena bisa saja mereka justru  menggunakan produk itu untuk menyadap.

Apa solusinya?  Bikin sendiri?  Mampukah kita?

TNI AD sudah mengembangkan komunikasi radio yang dibuat sendiri.  Jadi sulit disadap pihak lain kalau komunikasi menggunakan radio.  Setidaknya ini sudah dilakukan di lingkungan militer.  Kalau Presiden, Ibu Negara dan pejabat kita kan menggunakan telepon seluler yang dijual komersil di pasaran.  Sama seperti yang kita gunakan.  Mudah disadap.  Masalahnya buat apa sih negara sahabat menyadap?  Pengumpulan informasi intelijen memang dilakukan untuk mengetahui apa sikap pihak yang bakal menjadi lawan.  Supaya tidak kaget kalau ada gerakan terdadak.  Apakah kita di Indonesia ini dianggap membahayakan bagi negara yang menyadap?  Negara yang menyadap itu apa menganggap Presiden (SBY) sebagai musuh?

Sekarang dibicarakan soal pentingnya pertahanan dunia maya (cyber defense) dan membangun satelit sendiri.  Sudah seberapa jauh langkah yang diambil?


Membangun satelit sendiri menurut saya sangat perlu.  TNI sudah membangun cyber defense itu beberapa waktu lalu, karena yang terjadi di masa sekarang adalah ancaman perang non tradisional.  Kita perlu amankan instansi dan instalasi vital, apalagi sekarang semuanya sudah komputerisasi.  Rawan dibajak.

Bukan kali ini saja komunikasi Presiden bocor via penyadapan.  Dulu ada kasus bocorannya rekaman percakapan telepon Presiden BJ Habibie dan Jaksa Agung Andi Ghalib. Siapa yang menurut Anda harus bertanggungjawab?

Selama menggunakan telepon seluler biasa ya rawan disadap, pintu masuknya beberapa.  Siapa yang harus bertanggungjawab?  Ya menurut saya intelijen yang menangani pengamanan untuk Presiden.

Kita beralih ke aktivitas politik Anda. Mengapa “Mas Edhie”? Mengapa akun Twitternya menggunakan angka 55? (akun Twitter @edhiewibowo_55 mulai berkicau sejak 3 September 2013).

Ketika aktif ke daerah setelah jadi peserta konvensi, saya merasa penyebutan “Pramono” bagi sebagian orang yang bukan orang Jawa, agak sulit.  Bisa keseleo menyebutnya “Purnomo”.  Setelah berdiskusi dengan tim, saya putuskan menggunakan sebutan “Edhie”, nama tengah saya.  Artinya “indah”.  Mudah dikenal juga. Angka 55 karena saya lahir tanggal 5, bulan 5, tahun 1955, dan saya punya lima saudara perempuan ha ha ha ha....

Dari pantauan di akun Twitter, nampaknya Anda rajin berkunjung ke daerah.  Ini penugasan khusus dari Pak SBY selaku ketua umum PD?

Tujuan saya masuk partai ini adalah meningkatkan elektabilitas, dan membesarkan kembali nama besar partai yang sempat terpuruk.  Caranya ya dengan turun menyambangi konstituen, bertemu dengan rakyat di daerah.  Ini inisiatif saya.  Apalagi setelah saya ikut konvensi, saya perlu memperkenalkan diri ke daerah.  Sampai saat ini sudah 15 lokasi saya kunjungi.

Ada fasilitas dan pelayanan khusus bagi Anda dari jajaran TNI di daerah?

Wah, ini pertanyaan bagus, saya juga senang supaya masyarakat tahu.  Tidak ada pelayanan khusus.  Mereka hanya melihat saya mantan KSAD, mantan pimpinan.  Mereka melihat saja dari jauh.  Ya, saling sapa.  Saya sapa mereka.  Yang lebih banyak menyambut saya di daerah adalah anggota Partai Demokrat. Sebelum terjun ke daerah setelah ikut konvensi, banyak kota yang belum pernah saya kunjungi.  Misalnya kota Mataram di NTB, lalu Simalungun.  Banyak lah.  Pekanbaru juga belum pernah saya kunjungi saat saya masih aktif di AD.  Kunjungan ke daerah membuat saya merasa Indonesia itu luar biasa.  Banyak budaya yang belum saya kenal.  Dulu kalau berkunjung ke daerah juga terbatas mengunjungi ke area perbatasan, basis militer, kesannya homogen.  Padahal Indonesia itu heterogen.

Apa temuan dari kunjungan ke daerah?  Apakah masyarakat juga curhat mengenai kesulitan hidup mereka?

Saat saya berkunjung ke kampung nelayan mereka mengatakan, “Pak kami belum punya bahan bakar”. Sederhana masalahnya.  Memang harus dihitung betul ketersediaan bahan bakar.

Tindak lanjutnya?

Saya sampaikan masalah itu ke ketua umum, juga ke jajaran anggota Partai Demokrat di daerah untuk membantu.  Kalau belum cukup, saya komunikasikan dengan menteri terkait.  Kebetulan Menteri ESDM kan dari partai kami juga.  Komunikasi lebih mudah.

Setelah pensiun dari militer, Anda langsung gabung Partai Demokrat.  Keinginan sendiri atau diminta Pak SBY dan Bu Ani, kakak Anda?

Prinsipnya, sampai saya mengakhiri masa dinas, pengabdian diri saya di militer tidak berkurang.  Begitu juga sesudah pensiun.  Saya berkomunikasi dengan Pak SBY, dan melihat ada alasan kuat untuk bergabung, karena saat itu elektabilitas (Partai) Demokrat sangat rendah.  Orang bertanya kepada saya, “Kok kamu mau bergabung padahal Partai Demokrat lagi terpuruk?” Saya lakukan itu karena ingin Partai Demokrat  menjadi lebih baik.  Masyarakat di daerah juga masih menginginkan Partai Demokrat menjadi partai politik yang besar.

Menurut Anda, mengapa elektabilitas Partai Demokrat turun?


Ya, ada beberapa hal yang dilakukan oleh anggota Partai Demokrat yang masyarakat sudah tahu secara luas.  Mereka terlibat kasus korupsi.  Walaupun selalu dikatakan bahwa korupsi itu juga melibatkan banyak partai politik lain, bagaimana pun kita harus introspeksi diri.  Yang terlibat kasus, silakan selesaikan permasalahannya.  Pada dasarnya kan di Partai Demokrat sampai saat ini lebih banyak yang bersih daripada yang terlibat.

Parpol lain kadernya ada yang terlibat korupsi.  Tapi yang pernah beriklan anti korupsi hanya Partai Demokrat, dan yang terseret kasus notabene nama besar dan petinggi partai.  Ini membuat Partai Demokrat lebih disorot.  Tanggapan Anda?


Manusia punya sifat masing-masing.  Yang bisa terlibat korupsi tidak mengenal kedudukan, asal  pendidikan.  Bahkan saat ini ramai dibahas kasus korupsi yang melibatkan sosok pimpinan puncak sebuah lembaga.  Iklan anti korupsi yang pernah dibuat Partai Demokrat menurut saya tetap relevan.  Yang tidak relevan adalah anggota yang terlibat korupsi. Mereka harus mempertanggungjawabkannya.  Jangan bersembunyi di balik Partai Demokrat. Itu tidak baik!

Langsung duduk di jajaran dewan pembina partai, adakah tugas khusus bagi Anda dari ketua umum dan ketua dewan pembina?


Tidak ada tugas khusus, tapi saya bekerja berdasarkan pengalaman sebagai KSAD.  Saya bisa menyelesaikan tugas dan tidak ada permasalahan, khususnya masalah korupsi.  Itu saya terapkan juga di partai.  Saat kunjungan ke daerah, saya juga sampaikan ke anggota prinsip ini.  Mana yang boleh, mana yang tidak.

Masuknya Anda ke Partai Demokrat kian mengentalkan nuansa politik dinasti.  Bapak dan anak jadi ketum, ketua dewan pembina, dan sekjen.  Lalu Anda di dewan pembina.  Belasan keluarga jadi caleg.  Komentar Anda?

Saya menanggapi yang disampaikan masyarakat itu sebenarnya terkait dengan potensi korupsi. Jadi politik dinasti itu andai seseorang ditunjuk memimpin sesuatu, misalnya raja menunjuk anaknya jadi pangeran, itu memimpin dinasti. Edhie Baskoro jadi sekjen kan permintaan Mas Anas (Urbaningrum), bukan permintaan SBY.  Mas Anas jadi ketum karena pemilihan.  Dia berhak menyusun kepengurusan.  Saya masuk partai, lantas dikasih ruang istimewa di dewan pembina.  Bersama saya di dewan pembina ada Mas Dede Yusuf mantan wakil gubernur Jawa Barat, lalu ada Gubernur Bali  Made Mangku Pastika.  Masak saya tidak boleh?  Saya pernah jadi KSAD.  Kapasitas saya tidak bisa diragukan.  Justru kalau tidak boleh, namanya diskriminasi.

Soalnya ketika Presiden SBY ikut  menyentil politik dinasti keluarga Gubernur Banten, itu berbalik ke PD....

Saya melihat itu fair saja.  Dulu saat Demokrat baru lahir banyak orang tidak mau jadi anggota.  Saya masih dinas tentara.  Pak SBY sampai mengajak saudaranya, maaf ya, pembantu pun diajak jadi anggota.  Pada saat itu mengharapkan kenaikan elektabilitas dari tiga persen menjadi tujuh setengah persen. Yang mau gabung hanya saudaranya sendiri. Berjuanglah bersama saudara, tetangga.  Sekarang partai sudah besar, terus mereka disuruh keluar? Tidak fair-lah.  Tidak fair!  Jadi menurut saya ini beda situasi dengan partai lain.  Politik dinasti tidak masalah, yang penting persyaratan perjalanannya sesuai ketentuan yang berlaku.

Soal elektabilitas dalam konvensi, dibandingkan calon lain yang lebih dulu populer di masyarakat, bahkan ada menteri yang punya kesempatan mengkampanyekan diri dengan kunjungan terkait pekerjaan, nampaknya sulit bagi Anda untuk menyaingi?

Begini, saya sudah evaluasi sampai saat ini saya harus lebih banyak memperkenalkan diri ke pemilih.  Kalau elektabilitas saya masih rendah, saya tetap usaha.  Tapi dari kunjungan intensif ke daerah dalam dua bulan ini, Insya Allah elektabilitas saya naik.  Tolong dilihat, maaf ya, ada orang yang punya jabatan bisa tampil di mana-mana.  Saya tidak punya jabatan, tapi saya lihat ada tren kenaikan, sehingga saya yakin pelan-pelan elektabilitas membaik.  Yang saya takut, kalau naik tinggi terlalu cepat, saya tidak bisa evaluasi.  Bahkan bisa turun mendadak juga.

Pemimpin negeri dengan latar-belakang militer masih relevankah?

Menurut saya masih.  Di  militer itu ada jenjang yang harus dilalui.  Misalnya, saya harus lalui jenjang Letnan Dua, lalu beberapa jenjang ke Kolonel dan seterusnya.  Memimpin unit kecil  sampai ratusan ribu.  Belajar kepemimpinan bertahap dan terus dievaluasi.  Jadi, Insya Allah bisa menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin militer itu anak buahnya dari seluruh suku di Indonesia.  Jadi sudah terlatih.

Modal untuk ikut konvensi capres dari mana?

Modalnya sangat kecil.  Bahkan saya harus berhemat, saya harus berbagi dengan anggota Demokrat di daerah.  Saya terpaksa naik pesawat kelas ekonomi. Saat jadi KSAD saya naik kelas bisnis karena “grade”nya di sana.  Yang penting sampainya kan sama ha ha ha.... Tim saya sampai mencari penerbangan apa yang murah.  Ada yang komentar, “kere kok mau jadi presiden”.  Saya berangkat apa adanya dengan harapan nantinya saya tidak disandera karena biaya.

Isu negatif kembali melingkupi Presiden yang notabene ketum partai, terkait dengan sosok Bunda Putri.  Presiden bahkan secara khusus membantah, berjanji mengungkap. Tapi kemudian tidak diungkap juga.   Lalu ada Ibu Pur yang ada di lingkungan dekat keluarga Cikeas, yang dianggap bisa menjadi pelobi, bahkan pembisik.  Seberapa besar pengaruh mereka kepada keputusan yang diambil Presiden?

Nih, sekalian saya jelaskan. Pak SBY jadi presiden sembilan tahun.  Sebelumnya jadi menteri, bintangnya tiga.  Kalau dipengaruhi pembisik dalam buat keputusan, saya rasa kecil sekali kemungkinan.  Saya yang keluarga dekat saja kalau menyampaikan sesuatu, dicek langsung sama beliau.  Langsung, saat saya masih ada di situ.  Itu adiknya  loh. Saya kan menyampaikan sesuatu agar Pak SBY tidak hanya mendengar dari birokrasi yang langsung berkerja di bawah beliau.  Dicek.

Yang mungkin terjadi sehingga ucapan Pak SBY ditanggapi negatif ya mungkin karena informasinya yang salah.  Tapi kalau pengambilan keputusannya tidak.  Beliau selalu menggunakan kepemimpinan staf. Tidak ambil keputusan sendiri.  Staf sebagai pelengkap.

Menanggapi ormas yang didirikan Anas Urbaningrum, Pak SBY nampaknya keder?  Sampai secara khusus bahas itu meski secara “no mention” di acara PD di Sentul? Bahkan berkirim pesan pendek?


Saya pikir segala sesuatu yang tidak benar harus dijawab, jangan didiamkan karena nanti dianggap benar.  Dulu, diam itu emas.  Sekarang tidak lagi. Pak SBY keder?  Tidak lah.  Menurut saya tidak sebanding! Maaf ya, saya bilang ke kader jangan  minder. Yang tidak baik perkaranya kan sedang diproses.  Edhie Wibowo yang antikorupsi malah masuk partai.  Track-record saya bisa dilihat sejak di AD.  Bahkan saya disalahkan karena membeli tank.  Ternyata dengan dana tetap saya bisa beli lebih banyak tank, karena tidak ada korupsi.  Jadi saya bisa mengatakan, saat saya berkuasa saya tidak korupsi.  Orang lain “ baru akan”. Aku sudah melakukan dan masuk Demokrat.  Kader Demokrat yang baik jauh lebih banyak.  Silakan kita lihat, mereka yang keluar itu apakah bisa menjadi besar?

Dalam dua kali pidato terakhir, Pak SBY mengeluh soal media.  Padahal beliau dulu populer karena media juga.  Kesannya pikiran Pak SBY terokupasi dengan pemberitaan media.  Bukankah semua kegiatan Pak SBY selalu diliput luas?

Beliau merasa kok tidak imbang banget.  Kalau imbang, beliau oke saja.  Beliau katakan, sudahlah, apa yang kukatakan, kalau tidak bisa dimuat 100 persen, muat 25 persen.  Tapi tolong kebenarannya juga disampaikan, jangan diartikan berbeda.  Media sangat berpengaruh terhadap pendidikan rakyat, termasuk membangun demokrasi. 



Sumber : VivaNews

Ini 4 Sandi operasi penyadapan asing diduga targetkan Indonesia

Operasi penyadapan dengan Indonesia sebagai korban rupanya sudah terjadi sejak lama. Operasi tersebut dilakukan dalam berbagai nama sandi operasi. Kabar mengejutkan mengenai penyadapan yang terjadi di Indonesia juga disampaikan harian The Australian. Media ini menuliskan bahwa pemerintah Australia juga menyadap satelit Palapa milik Indonesia. Pihak yang diduga menyadap adalah Australian Signals Directorate (ASD), salah satu direktorat di Kementerian Pertahanan Australia yang bertanggung jawab atas signals intelligence (SIGNIT).

Ini 4 Sandi operasi penyadapan asing diduga targetkan Indonesia

Informasi mengenai penyadapan satelit ini diungkap Des Ball, professor dari Australian National University's Strategic and Defence Studies Centre. Dalam artikel itu, Satelit Palapa disebut-sebut sebagai sasaran kunci penyadapan yang dilakukan Australia.


Sebelum mencuat soal penyadapan satelit Palapa, surat kabar Australia Sydney Morning Herald pada 29 Oktober 2013 juga mengabarkan adanya penyadapan yang dilakukan pemerintah AS terhadap pemerintah Indonesia. Bahkan bukan hanya Jakarta, AS juga disebut-sebut menyadap semua negara di Asia Tenggara lainnya. Berikut ini sandi operasi penyadapan dengan Indonesia sebagai korban yang sudah dilakukan sejak lama, seperti dirangkum dari data pengamat telematika Roy Suryo yang kini menjabat Menpora:

1. Echelon and friendship (NSA 1990)

Echelon adalah nama sandi untuk menggambarkan kerja sama pengumpulan data informasi oleh lima negara yaitu Australia, Kanada, Selandia Baru, Inggris dan Amerika Serikat, disingkat AUSCANNZUKUS. Echelon merupakan bentuk kerja sama mengumpulkan sinyal intelijen dengan menganalisis jaringan berbagai negara.

Echelon digambarkan sebagai satu-satunya sistem piranti lunak yang mengontrol pengunduhan serta penyebaran hasil penyadapan satelit komunikasi komersial. Echelon juga digunakan untuk memonitor komunikasi militer serta diplomasi Uni Soviet dan Blok Timur pada era Perang Dingin tahun 1960-an. Pada akhir abad ke-20, Echelon berfungsi lebih luas menjadi sistem penyadapan global untuk komunikasi komersial maupun partikelir.

Menurut sebuah laporan parlemen Eropa, Echelon mampu menyadap panggilan telepon, faksimile, e-mail dan data lainnya yang tersambung lewat transmisi satelit maupun PSTN (public switched telephone network) tempat lalu lintas internet.

2. Jupiter and Larkswood

NBC pernah memberitakan bahwa stasiun penyadapan terbesar badan intelijen Australia DSD berada di Shoal Bay dekat Darwin. Sepanjang 1999 sebanyak 120-150 orang bekerja di sana mendengarkan traffic radio di Indonesia, merekam sinyal terenskripsi dan memonitoring percakapan telepon satelit.? Sistem ini memantau percakapan antara ABRI dengan milisi di Timor-Timur, antara ABRI dengan komando daerah di Dili dan antara Dili dengan markas Kodam di Denpasar. Sambungan lain yang disadap adalah antara Dili dengan Jakarta.

Data lain dari Desmond Ball dalam 'The Defence Presence in the Northern Territory', ada sistem penyadapan dengan sandi Larkswood. Sistem ini menyadap komunikasi satelit terutama yang menggunakan satelit Palapa. Dari semula hanya ada dua piringan antena, pada akhir 90-an sudah ada 11 antena untuk menyadap berbagai komunikasi satelit di Indonesia. Aksi penyadapan ini dilakukan terhadap pejabat militer Indonesia yang lebih menggunakan telepon satelit dalam berkomunikasi dibandingkan dengan komunikasi radio.

3. Orion Spy Satellite (1999)

Orion Spy Satellite adalah operasi penyadapan komunikasi seluler Jakarta dan Dili. Penyadapan dilakukan lewat satelit mata-mata Orion dengan orbit di atas wilayah Indonesia. NBC pernah memberitakan soal ini pada 12 September 1999.

Satelit Orion berposisi 22.300 mil di atas Indonesia. Secara teori, satelit ini bisa menyadap komunikasi walkie talkie dari Timor Timur. Informasi bisa dikirim real time ke markas Australia di Pine Gap. Sambungan telepon dari Indonesia juga bisa disadap dan datanya dikirim ke Amerika Serikat.

4. Magic Lantern (FBI)

Magic Lantern adalah teknologi mata-mata penyadapan passphrase program enkripsi publik seperti Pgp via Implant virus penyadap pada komputer sasaran. Piranti lunak ini dikembangkan oleh Biro Penyelidik Federal (FBI) di mana agen bisa membaca data yang dibutuhkan dengan menyusupkan virus. Magic Lantern meng-instal software bernama keylogging ke komputer korban yang mampu merekam apa saja diketik korban di keyboardnya.

Dengan cara ini informasi-informasi penting bisa didapat untuk dikirim ke FBI. Sejauh ini belum ada laporan Magic Lantern menyadap komunikasi yang dilakukan dengan target di Indonesia. Namun setidaknya, Magic Lantern memberikan peringatan bahwa informasi sepenting apapun bisa disadap. (Merdeka)