Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Helikopter. Tampilkan semua postingan

Mengenal Kelebihan Helikopter Dauphin Buatan PT. DI

Helikopter Dauphin AS-365N3+ produksi PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dan Eurocopter telah dipakai pasukan penjaga pantai Amerika Serikat (AS) atau US Coast Guard. Helikopter ini memiliki beberapa keunggulan daripada helikopter sejenis.

Mengenal Kelebihan Helikopter Dauphin Buatan PT. DI

"Ini biasa dipakai US Coast Guard," kata Direktur Teknologi dan Pengembangan PTDI Andi Alisyahbana usai acara penyerahan heli Dauphin pesanan Basarnas di Lanudal Pondok Cabe Tangerang Selatan, Selasa (18/2/2014).

Dauphin merupakan heli kelas medium dengan bobot 5 ton yang diproduksi bersama PTDI dengan Eurocopter. Helikopter ini dilengkapi alat canggih berupa radar cuaca dan sensor infra merah atau Forward Looking Infrared Camera.

Dengan peralatan canggih tersebut, Heli Dauphin mampu terbang dalam cuaca buruk dan bisa terbang saat malam hari untuk melakukan evakuasi.

"Ini juga dipasang oleh kita. Ada Weather Radar atau radar cuaca. Lalu hoist, alat komunikasi ke kapal juga bisa. Nanti juga akan dipasang namanya forward looking infrared camera. Itu kamera infra merah yang bisa deteksi panas. Kalau malam dia nggak bisa liat manusia tapi tubuh manusia kalau masih ada di air, kan ada panas jadi dia bisa terdeteksi," jelasnya.

Helikopter Dauphin yang dibandrol seharga US$ 12 juta atau sekitar Rp 120 miliar ini memiliki kemampuan untuk terbang stabil di atas laut atau air saat melakukan evakuasi menggunakan tali atau peralatan hoist (pengerek). Selain itu, helikopter ini dilengkapi dengan roda sehingga bisa berjalan saat mendarat.

"Helikopter (jenis) Bell nggak ada roda. Ini pakai roda. Keuntungan roda. Dia bisa jalan," jelasnya. (Detik)

Helikopter Serbu AS 550 Fennec Segera Perkuat TNI AD

Sejumlah helikopter serbu ringan AS 550 Fennec akan memperkuat TNI Angkatan Darat (AD). Dari 12 unit yang dipesan TNI AD, beberapa helikopter yang diproduksi Eurocpter melalui PT Dirgantara Indonesia sudah bisa dioperasikan pada 2014 ini.

Helikopter Serbu AS 550 Fennec TNI AD

"Untuk 12 heli Fennec yang akan dibeli TNI AD, rencana tiba tahun 2014 dan 2015," sebut Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Andika Perkasa dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Selasa (11/2/2014).

Namun Andika belum tahu berapa unit helikopter pesanan yang sudah jadi pada 2014 ini. Yang jelas, dari 12 unit yang dipesan itu, 8 unit akan ditempatkan di Squadron-12 Serbu Waytuba, Sumatera Selatan, 3 unit di Squadron-13 Serbu Tanjungredep, Kalimantan Timur, dan 1 unit di Pusdik Penerbangan TNI AD Semarang, Jawa Tengah.


Untuk mengoperasikan helikopter-helikopter serbu itu, saat ini TNI AD telah menyiapkan pilot beserta teknisinya. AS 550 Fennec berupa helikopter berbadan kecil dengan single engine ini merupakan bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai program Minimum Essensial Force (MEF).

"Kebutuhan SDM untuk operasional Heli Fennec disiapkan 23 penerbang dan 31 teknisi," tambah dia.

Sementara, untuk helikopter Apache yang dipesan dari Amerika Serikat akan tiba pada tahun 2017. Meski belum datang, TNI telah menyiapkan sejumlah personel.

"Kebutuhan SDM untuk operasional heli Apache direncanakan 24 penerbang dan 59 teknisi. Gelar heli Apache ini masih belum ditentukan," ujar Andika.

Helikopter AS 550 Fennec adalah helikopter militer ringan yang diproduksi Eurocopter grup, gabungan perusahaan Aerospatiale Prancis dan DaimlerChrysler Aerospace AG (DASA) Jerman.

Fennec dapat dilengkapi dengan senjata koaksial, roket, torpedo dan amunisi lainnya. AS 550 Fennec dapat menampung 6 orang, yakni 2 kru dan 4 penumpang. Helikopter yang menggunakan mesin Turbomeca Arril 2B ini mampu terbang selama 4 jam lebih dengan kecepatan maksimum 287 km/jam.  (Liputan9)

Helikopter Apache AH-64E akan ditempatkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan diperkuat dengan delapan helikopter tempur AH-64 Apache yang akan didatangkan secara bertahap mulai tahun 2015. "Secara bertahap helikopter tersebut akan kita datangkan mulai 2015 hingga 2017. Helikopter canggih buatan Boeing ini akan dioperasikan oleh para penerbang Angkatan Darat (Penerbad)," katanya di Samarinda, Kamis (23/1).

Helikopter Apache AH-64E akan ditempatkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

Ia mengatakan, TNI AD tengah menyiapkan sejumlah titik untuk menjadi pangkalan senjata berawak ini. Menurut KSAD, salah satunya adalah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kabupaten paling utara Provinsi Kaltim itu selain helikopter Apache, juga akan menjadi pangkalan heli tempur Agusta dan berbagai jenis pesawat lain.


"Indonesia membeli varian terbaru dari helikopter serbu tersebut, yaitu versi AH-64E. Sejak 2013, model ini oleh Amerika Serikat, negara pembuatnya, mulai dipakai untuk menggantikan AH-64D Longbow, yang di ASEAN dimiliki oleh Singapura.

Dia mengatakan, AH-64E memiliki mesin T700-GE-701D yang hemat bahan bakar dan lebih efisien sehingga dapat terbang lebih jauh, lebih lama, dan bisa membawa persenjataan lebih banyak. Rotornya terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan namun lebih kuat yang membuat jenis heli ini terbang lebih cepat ketimbang seri D.

Jenderal Budiman mengatakan, harga delapan heli lengkap dengan persenjataan dan pelatihan pilot serta kru darat adalah 600 juta dolar AS. Selain Indonesia, katanya, Taiwan, India, dan Qatar juga sudah memesan AH-64E bersamaan dengan Korea Selatan dan Jepang. India bahkan bisa memaksa Boeing melakukan alih teknologi dengan membuat sebagian komponen untuk India di India.

Dia mengatakan, senjata utama Apache AH-64 adalah rudal AGM-114 Hellfire. Rudal ini dijuluki tank-killer atau penghancur tank, julukan yang didapatnya dari berbagai medan perang. Apache membawa 16 rudal Hellfire dibagi ke dalam 4 peluncur di sayapnya dengan jangkauan tembak hingga 12 km.

Senjata lapis kedua dari Apache adalah roket Hydra 70 mm yang dibawa dalam sepasang peluncur roket isi 19 roket. Untuk pertahanan udara, helikopter ini dilengkapi rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-92 Stinger. Heli ini juga bisa mengangkut rudal anti radiasi AGM-122 untuk menghancurkan instalasi radar musuh.

"Jadi kita tunggu saja," kata KSAD Jenderal Budiman. (ROL)

Helikopter TNI AD yang hilang di Kalimantan ditemukan selamat

Sebuah helikopter milik TNI AD berjenis Bell 412 hilang kontak di Tarakan, Kalimantan Utara. Pesawat ini hilang kontak karena cuaca buruk, Rabu (22/1) sore.

Helikopter TNI AD yang hilang di Kalimantan ditemukan selamat

Tim gabungan TNI AD dan TNI AU telah melakukan pencarian dan menemukan helikopter itu mendarat darurat karena cuaca buruk.

" Pesawat Heli Bell 412 EP No Registrasi HA-5166 milik TNI AD ternyata melakukan pendaratan darurat kemarin sekitar jam 15.00 WITA di Desa Long Tulip, Kec. Karang Mentarang, Kab. Malinau karena cuaca buruk," kata Kadispen TNI AD Brigjen Andika Perkasa, Rabu (22/1).


Pesawat yang dipiloti Kapten Simatupang itu membawa dua kru dan tujuh orang anggota Yon 100 Raider yang bertugas mengamankan perbatasan. Mereka semua selamat.

"Seluruh penumpang dan crew dalam keadaan selamat. Bila cuaca sudah memungkinkan hari ini, mereka akan terbang kembali ke Long Bawang," kata jenderal bintang satu ini. (Merdeka)

Aneka Pesawat yang Bakal Dimiliki TNI Tahun Ini

Panglima TNI Jenderal Moeldoko gembira dengan beberapa alat utama sistem persenjataan baru yang bakal diterima tahun ini. Salah satu yang dia tunggu adalah helikopter serbu Apache dari Amerika Serikat.

Aneka Pesawat yang Bakal Dimiliki TNI Tahun Ini

"Dulu kami tak menyangka bisa membeli helikopter sekelas Apache," kata Moeldoko kepada wartawan di lapangan Markas Besar TNI di Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 6 Januari 2014.

Moeldoko tak sabar menunggu kedatangan helikopter serbu tersebut. Meski bekas, helikopter canggih tersebut terlebih dahulu menjalani proses upgrade sebelum dikirim ke Indonesia.


"Mudah-mudahan kami bisa datangkan dua unit Apache sebelum HUT TNI 5 Oktober 2014, jadi bisa kami pamerkan nanti," kata dia.

Selain helikopter Apache, TNI bakal menerima belasan pesawat baru dan bekas berbagai jenis di tahun ini. "Ada pesawat tempur jet, pesawat tempur baling-baling, dan pesawat angkut," kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto saat dihubungi, Sabtu, 4 Januari 2014.

Dari jajaran pesawat tempur jet adalah F-16 blok 24 hibah dari Amerika Serikat. Menurut Hadi, Angkatan Udara bakal menerima delapan dari 24 unit pesawat hibah sebelum bulan Oktober 2014. Sesuai rencana pesawat F-16 bakal menghuni Skuadron 16, Pekanbaru, Riau.

Selain itu, Angkatan Udara bakal menerima secara bertahap pesawat tempur bermesin jet T-50 Golden Eagle buatan Korea Selatan. Dari satu skuadron atau 16 unit pesawat yang dipesan, baru delapan unit yang diterima Indonesia. Pesawat inilah yang bakal digunakan untuk melatih pilot-pilot tempur TNI AU menggantikan pesawat Hawk 100/200.

Untuk pesawat tempur ringan atau bermesin piston atau baling-baling, akan datang pesawat Super Tucano buatan pabrikan Embraer Brazil. Dari 16 unit yang dipesan, baru empat unit yang sudah tiba di Tanah Air. "Setidaknya dua unit bakal datang lagi tahun ini," kata Hadi. Pesawat ini menjadi tulang punggung TNI AU dalam melakukan misi antigerilya menggantikan pesawat OV-10 Bronco yang dipensiunkan tahun lalu.

Selain itu, TNI AU bakal menerima satu unit pesawat jenis angkut C-130 Hercules dari Australia. Pesawat ini juga bakal menambah kekuatan armada angkut TNI AU. "Rencananya datang bulan Juli nanti."

Sesuai rencana Angkatan Udara juga bakal menerima beberapa unit pesawat terbang tanpa awak dari Filipina tahun ini. Pesawat tanpa awak bakal menghuni skuadron khusus surveillance di Pontianak, Kalimantan Barat. "Sesuai renstra (rencana strategis), pesawat datang tahun ini," kata Hadi.  (Tempo)

PT. DI Serahkan 6 Heli serbu Bell 412 EP dan 3 Pesawat CN 295

PT Dirgantara Indonesia (DI) menyerahkan sebanyak enam unit helikopter serbu Bell 412 EP dan tiga unit pesawat CN 295 kepada Kementerian Pertahanan (Kemhan).

PT. DI Serahkan 6 Heli serbu Bell 412 EP dan 3 Pesawat CN 295

Berita acara serah terima pesawat ditandatangani langsung Direktur Utama PT DI, Budi Santoso dan Kepala Badan Sarana Pertahanan Kemhan, Laksamana Muda TNI Rahmat Lubis di Kawasan Produksi II PT DI, Bandung, Selasa (17/12).

Kontrak pengadaan pesawat CN 295 itu sendiri dilakukan pada 14 Februari 2012 lalu. Untuk pesawat CN 295, selanjutnya akan dioperasikan oleh TNI AU dan Helikopter serbu Bell 412 EP dioperasikan jajaran TNI AD.


Satu unit Helikopter angkut sedang Bell 412 EP juga diserahkan PT DI kepada Polisi Udara Republik Indonesia. Khusus untuk pengadaan helikopter jenis itu, kontrak pemesanan ditandatangani pada 1 Juli 2013.

Dalam kesempatan tersebut, Direktur PT DI juga menyerahkan dua unit Helikopter SAR AS365 N3+ Dauphin dan diterima oleh pejabat pembuat komitmen Basarnas. Penandatanganan kontrak jual beli dua helikopter jenis ini dilakukan pada 28 November 2012 lalu.

Dirut PT DI, Budi Santoso mengakui, selain mendapatkan bantuan modal, PTDI juga mendapatkan pesanan pembuatan pesawat cukup banyak dari pemerintah. "Kami harap semakin banyak pesawat buatan dalam negeri yang terbang di angkasa Indonesia," kata Budi.

Menurut Budi, dengan diserahkannya seluruh pesawat kepada tiga institusi (TNI, Kepolisian dan Basarnas) merupakan sesuatu hal yang membanggakan. Di satu sisi menunjukkan komitmen PT DI untuk dapat memenuhi kebutuhan alat utama sistem persenjataan (alutsista), di sisi lain instansi pemerintah sudah mulai memakai produk PT DI. (BeritaSatu)

Bell Helicopter Jadikan PT DI Partner Global

Bell Helicopter tidak menganggap PT Dirgantara Indonesia sebagai saingan dalam pengembangan maupun pemasaran helikopter yang dihasilkan. Bell justru melihat PT DI sebagai partner untuk memanfaatkan pasar global yang terus berkembang.

Bell Helicopter Jadikan PT DI Partner Global

Hal tersebut disampaikan langsung Presiden dan CEO Bell Helicopter John L. Garrison saat menerima kunjungan Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di kantor pusatnya di Mirabel, Kanada, Jumat (6/12). Kunjungan Sjafrie antara lain didampingi Duta Besar Indonesia untuk Kanada Dienne H. Moentario, Direktur Utama PT DI Budi Santoso , dan para pejabat dari Kementerian Pertahanan serta Tentara Nasional Indonesia.

"Hubungan kami dengan PT DI sudah berlangsung hampir 30 tahun. Indonesia bukan hanya menjadi pasar bagi Bell, tetapi juga PT DI menjadi basis produksi untuk kawasan," kata Garrison.


Presiden Bell Helicopter menambahkan bahwa dengan pengalamannya di industri dirgantara, PT DI mempunyai kemampuan untuk memproduksi suku cadang. Bell menjadikan PT DI sebagai pemasok kebutuhan Bell untuk memenuhi pasar global.

Dirut PT DI, Budi Santoso, membenarkan hubungan panjang yang dimiliki PT DI dan Bell. Untuk itulah PT DI diberi kepercayaan untuk merakit 22 helikopter Bell 412 yang dipesan oleh Kementerian Pertahanan.

Menurut Budi, pengadaan enam dari 22 helikopter itu dibiayai oleh Bank Rakyat Indonesia (BRI) cabang New York, sementara 16 sisanya mendapatkan fasilitas kredit ekspor dari Pemerintah Kanada.

"Kredit yang diberikan BRI sekitar 70 juta dollar AS, sementara kredit ekspor yang diberikan Pemerintah Kanada sekitar 144 juta dollar Kanada," kata Budi. (MetroTv News)

Setelah Mendapatkan Heli Canggih Apache, TNI AD Juga Memburu Black Hawk

Setelah memastikan pembelian delapan helikopter canggih Apache dari pabrikan Boeing Amerika Serikat, Kementerian Pertahanan berencana menambah armada udaranya dengan membeli helikopter Black Hawk.

Helikopter S-70A Black Hawk
Helikopter S-70A Black Hawk

Hal ini disampaikan oleh  Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Letnan Jenderal Budiman usai menyaksikan latihan perang antarcabang  Kodam V Brawijaya di pusat latihan tempur Marinir di Karang Tekok, Banyuputih, Situbondo, Selasa (3/12/2013).

"Pembahasannya (pembelian helikopter Black Hawk) sudah masuk DPR RI, rencananya ada 24 helikopter atau satu skuadron," terang Budiman.


Menurut Budiman, pembelian helikopter canggih Black Hawk sangat tepat jika melihat kondisi geografis Indonesia.

Selain mempunyai fungsi tempur yang canggih, helikopter ini mempunyai fungsi lain yang tak kalah penting, yakni bisa sebagai alat transportasi dan pengangkutan logistik.

"Tidak hanya untuk perang, tapi juga untuk fungsi lain, semisal pengiriman bantuan untuk korban bencana," lanjut Budiman.

Sementara itu, terkait latihan perang antar cabang Kodam V Brawijaya yang Selasa pagi hingga siang digelar di Situbondo dengan jumlah prajurit yang dikerahkan mencapai 4300 lebih personel.

Budiman berharap latihan perang berikutnya sudah didukung dengan persenjataan yang lebih canggih. Tidak seperti saat ini yang beberapa peralatannya tergolong uzur meski tetap baik untuk digunakan.

Budiman mencontohkan penggunaan meriam 105 yang sudah cukup tua atau penggunaan 9 tank AMX 13 yang umurnya sudah lebih tua darinya yang saat ini 57 tahun.

"Tank AMX ini lebih tua dari saya," ucapnya. "Begitu juga dengan tim pengisi bahan bakar tank yang masih menggunakan engkol untuk isi bahan bakar tank, kedepan akan ada sistem pengisian yang lebih canggih dan mungkin ada mobil khusus pengangkut bahan bakar."

Pameran Alutsista
Sementara itu, Pangdam V Brawijaya Mayor Jendral TNI Ediwan Prabowo mengatakan Kodam V Brawijaya akan mengelar pameran Alutsista di Lapangan Kodam pada 13 hingga 15 Desember mendatang.

"Masih ingat dengan pameran Alutsista di Monas, Jakarta Oktober lalu? Di Surabaya akan ada pameran yang besar seperti itu, dan mungkin lebih besar," terang Ediwan.

Ediwan menambahkan, pameran Alutsista ini sekaligus menjadi rangkaian peringatan hari Juang Kartika atau Hari TNI AD.

Dalam pameran nanti, akan dipamerkan berbagai macam peralatan tempur terbaru yang dimiliki oleh TNI. (Tribun)

Heli MI-17 Diduga Jatuh Akibat Topan Haiyan..??

Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Budiman mengatakan, jatuhnya helikopter MI-17 di Malinau, Kalimantan Utara, disebabkan oleh hantaman angin kuat. Ini kesimpulan dari hasil investigasi tim Budiman di lokasi kejadian.

Heli MI-17 Diduga Jatuh Akibat Topan Haiyan..??

"Situasi angin di lokasi tak pasti. Sebelum kejadian, angin normal, tapi tiba-tiba kencang sekali," kata Budiman kepada wartawan di Balai Kartini, Jakarta, Selasa, 19 November 2013.

Budiman mengingatkan bahwa helikopter MI-17 jatuh bersamaan dengan bencana topan Haiyan yang melanda Filipina, Sabtu, 9 November 2013. Menurut dia, angin besar yang menerpa helikopter MI-17 merupakan bagian dari badai Haiyan.


"Lokasi Malinau masih berada sedikit di ujung pergerakan badai," kata Budiman. Meski begitu, dia tetap akan melakukan evaluasi terhadap penerbang TNI Angkatan Darat. Budiman ingin seluruh penerbang punya kemampuan yang tinggi saat bertugas.

Selain itu, Budiman juga bakal memanggil pihak Rosoboron, eksportir alat sistem utama persenjataan Rusia. Dia ingin mengajak Rusia turun tangan membahas kelemahan yang dimiliki helikopter MI-17. "Agar ditemukan solusi, biar tidak terjadi lejadian serupa," kata dia.

Jenderal Budiman mengatakan helikopter MI-17 punya kelemahan yang berisiko tinggi. Helikopter buatan Rusia ini tak boleh mendapat hantaman angin yang kencang saat hendak mendarat. "Khususnya angin besar dari arah belakang dan kanan sisi belakang," kata dia.

Sabtu, 9 November 2013, helikopter Komando Daerah Militer VI Mulawarman jenis MI-17 jatuh di Malinau. Helikopter TNI ini diduga membawa 19 penumpang, terdiri atas personel Kodam dan warga sipil. Sebanyak 14 penumpang diduga tewas dan lima lainnya luka-luka. 


Sumber : Tempo

Cerita KSAD Budiman Saat Naik Helikopter MI-17

Tragedi jatuhnya Helikopter MI-17 yang menewaskan 13 dari 19 penumpang di Malinau, Kalimantan Utara menyisakan duka mendalam. Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Budiman pun memiliki kenangan sendiri terbang dengan pesawat buatan Rusia itu.

Cerita KSAD Budiman Saat Naik Helikopter MI-17
Helikopter MI-17 TNI AD

Menurut Budiman, helikopter itu merupakan salah satu peralatan terbaik yang dimiliki Indonesia. Pesawat jenis itu juga baru saja didatangkan ke Indonesia dan kondisinya masih sangat bagus.

Pengalaman Budiman terbang bersama MI-17 diawali saat perjalanannya menyusuri hutan di Kalimantan. Kala itu, penerbangan dilakukan dalam rangka meninjau Ekspedisi Khatulistiwa.


"Saya gunakan itu di Kalimantan 4 kali penerbangan. Pada saat saya tahun 2011, 2012 pada saat saya meninjau dan menutup Ekspedisi Khatulistiwa, saya menggunakan untuk terbang," katanya usai menerima kontingen penembak TNI Angkatan Darat yang baru saja menang dalam Kejuaraan Menembak se-Asia Tenggara di Mabes AD, Rabu (13/11/2013).

Budiman menuturkan, kala itu dia menyusuri hutan belantara di Kalimantan dari satu titik ke titik lainnya. Butuh waktu 1,5 jam untuk berpindah dari satu titik ke titik lainnya. Dan, sepanjang penerbangan, tak ada yang dilihat selain hutan belantara dengan pohon yang sangat tinggi.

"Itu memang kalau terbang dari satu titik ke tempat lain lebih dari 1,5 jam yang kita lihat hanya hamparan hutan dan tidak ada medan medan terbuka. Jadi sepanjang 1,5 jam itu hutan yang luar biasa lebatnya. Ketinggiannya sangat tinggis seklai untuk pohon-pohonnya 3 tingkat untuk pohon pohonnya. Sehingga kalau kondisi pesawat sangat bagus," tuturnya.

Pengalaman itu, kemudian dikonversi ke tragedi yang baru saja menimpa jenis helikopter yang pernah membawanya menyusuri hutan Kalimantan. Dari segi muatan, kata Budiman, daya angkut MI-17 mencapai 3 ton.

Sedangkan, saat itu helikopter membawa logistik seberat 450 kg dan awak pesawat berjumlah 19 orang. Jika dijumlahkan, beban yang diangkut baru 1.850 kg. Ditambah tangki cadangan dengan berat maksimal 300 kg. Jadi, total muatan yang diangkut MI-17 saat itu bari 2.150 kg.

"Sehingga untuk beban tidak. Lebih betul-betul 10 meter turun mendarat ada angin yang cukup kencang, karena ketinggiannya 1.600 meter. Di atas puncak ketinggian yang kiri kanannya jurang. Tapi sekitarnya pohon yang sangat tinggi sekali."

"Tapi panjangnya sudah benar, yaitu 100x60 meter untuk kepentingan pendaratan. Dia sudah hapal benar, pilot meminta mekanik periksa kiri kanan, ok aman. Bersamaan dengan itu ada angin cukup kuat. Akhirnya buntutnya menyangkut pohon," ungkap Budiman.

Yang tersisa dari helikopter itu hanya bagian yang tersangkut dari pohon. Sisanya, sudah hancur akibat ledakan pasca menabrak pohon. (Liputan6)

Helikopter AS-365 N3+ Dauphin Basarnas

Helikopter terbaru pesanan Badan SAR Nasional (BASARNAS) jenis AS-365N3+ Dauphin (civil version) telah “mejeng” di hanggar perakitan helikopter PT Dirgantara Indonesia. Helikopter ini terlihat tengah memasuki tahap perakitan akhir. Lambang SAR pun sudah tertempel pada tubuh helikopter buatan Prancis ini.

Helikopter AS-365 N3+ Dauphin Basarnas dirakit PT DI (photo: Basarnas)
Dari data ARC helikopter Dauphin Basarnas dibeli dengan nilai hampir Rp 270 Miliar untuk 2 unit. Tender pengadaan sudah diteken pada November tahun lalu. Helikopter yang dibeli pun telah sesuai dengan standar SAR. Diantaranya terdapat peralatan Hoist untuk menarik/mengevakuasi korban pada sisi pintu kanan. Diduga pula, heli ini nantinya dilengkapi dengan radar cuaca, untuk mendukung operasional pada segala medan dan kondisi.


Helikopter AS-365 N3+ Dauphin Basarnas dirakit PT DI (photo: arc.web.id)

helikopter AS-365N3+ merupakan salah satu helikopter SAR terbaik di dunia. Helikopter sejenis sudah digunakan berbagai instansi dunia mulai dari sipil hingga militer. Dan Salah satu pengguna utamanya adalah US Coast Guard. Di dalam negeri, Dauphin sudah dioperasikan oleh Kepolisian Udara. Sssst.. konon TNI-AL sendiri sudah menjatuhkan pilihan helikopter Anti Kapal Selam kepada versi militer dari Dauphin, yaitu Panther (arc)

TNI Segera diperkuat Helikopter Apache dan Helikopter Fennec

Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, mengungkakan bahwa pihaknya berencana akan menambah jumlah Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista), termasuk sejumlah helikopter.

TNI Segera diperkuat Helikopter Apache dan Helikopter Fennec
Helikopter Fennec

"Kami akan hadirkan 12 helikopter Fennec dari Prancis, lalu helikopter serangnya ada Apache, minimum 6," ujar Moeldoko, Senin 11 November 2013.

Selain dua jenis helikopter itu, Moeldoko mengungkapkan keinginan untuk mendatangkan helikopter Chinook. "Ke depan, mungkin Chinook untuk memindahkan personel di perbatasan khususnya, kita sangat membutuhkan," jelasnya.


Namun, dia mengakui bahwa keinginannya untuk mendatangkan Chinook masih belum dikomunikasikan dengan pihak DPR. Menurutnya, pihaknya dengan DPR hanya baru menyetujui pembicaraan mengenai Apache, helikopter serang andalan tentara Amerika Serikat.


Helikopter Apache

Moeldoko berharap agar rencananya untuk menghadirkan helikopter Chinook bisa segera terwujud. Karena, menurutnya hal tersebut dirasakan cukup penting. "Mudah-mudahan tahun 2015 bisa dianggarkan, karena tidak terlalu mahal," tuturnya.  (VivaNews)

Angin Kencang Penyebab Helikopter Mi17 TNI AD Jatuh di Kalimantan

Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko menjelaskan penyebab jatuhnya pesawat Heli MI-17 milik TNI Angkatan Darat karena hempasan angin kencang ketika akan mendarat di Malinau, Kalimantan Utara, Sabtu (9/11).

Angin Kencang Penyebab Helikopter Mi17 TNI AD Jatuh di Kalimantan

"Hempasan angin ini tak bisa dihindari sehingga bagian ekor helikopter menabrak pohon. Akibat tabrakan tersebut, heli semakin tak terkendali hingga akhirnya terguling dan terbakar lantaran ada bahan bakar minyak (BBM) di bagian pesawat," kata Panglima TNI di sela-sela acara Operasi Kebangsaan dengan tema "Mari Bung Lebih Indonesia Lagi" di Gedung Kesenian Pasar Baru Jakarta, Senin malam.

Menurut dia, hal itu terungkap berdasarkan hasil investigasi sementara yang dilakukan oleh TNI AD. Namun, Mabes TNI juga melakukan investigasi agar nanti ada keseimbangan.


"Saya ingin mencari penyebab yang sesungguhnya agar ke depan bisa dihindari," kata Moeldoko.

Selain membawa bahan bangunan untuk membangun pos perbatasan di Kabupaten Malinau, helikopter itu membawa warga sipil untuk ikut membantu membangun pos perbatasan tersebut.

Panglima TNI menegaskan penyebab jatuhnya helikopter buatan Rusia itu bukan disebabkan oleh "human error" atau kerusakan mesin, melainkan karena faktor cuaca.

"Bukan human error atau kerusakan mesin. Helikopter dalam kondisi baik, bahkan sebelum ke Malinau, heli sempat terbang ke suatu tempat dari Kota Tarakan," katanya seraya menargetkan investigasi akan selesai pada pekan ini.

Ia menambahkan helikopter buatan tahun 2010 itu merupakan helikopter yang cukup handal, bahkan dirinya seringkali menggunakannya.

"Saya meyakini helikopter ini bandel (handal), saya sering pakai helikopter MI-17 ini," katanya.

Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Rukman Ahmad dalam konferensi pers, Sabtu (9/11) menyatakan TNI AD telah membentuk tim investigasi untuk memastikan penyebab kecelakaan. Tim Investigasi beranggotakan enam orang dan Tim Recovery berangotakan 12 orang ke Tarakan yang telah diberangkat pada hari Sabtu sekitar pukul 15.00 WIB.

"Tim akan bekerja secepat mungkin dan melihat apa penyebab jatuhnya helikopter ini. Setelah itu mungkin kita baru tahu apa penyebabnya," katanya di Mabes TNI AD Jakarta.

Menurutnya penyebab kecelakaan bukan dikarenakan kesalahan pilot maupun karena kelebihan muatan. "Dari sisi muatan untuk sementara bukan sesuatu yang diperkirakan sebagai penyebab. Yang jelas, helikopter oleng sebelum jatuh," katanya.

Helikopter yang jenisnya turut diperbantukan untuk misi perdamaian dunia ini disebutkan jatuh dan terbakar saat mendarat di helipad, sekitar 300 meter dari pospamtas di Kabupaten Malinau, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yang berbatasan dengan Sarawak, Malaysia pada pukul 10.45 Wita.

Kronologis berawal sekitar pukul 09.00 Wita, Heli MI-17 take off dari tarakan dengan enam kru dan satu pengawas yang kesemuanya anggota militer beserta dua orang warga sipil pemborong bangunan pos. Pada pukul 10.15 Wita heli mendarat di Desa Apauping untuk mengangkut 10 orang pekerja sehingga total penumpang menjadi 19 orang, terdiri atas tujuh militer dan 12 orang sipil.

Pada pukul 10.25 Wita, Heli take off menuju Pos Long Bulan Malinau. 20 menit berselang, heli yang sempat hilang kontak tersebut diketahui jatuh sekitar 300 meter dari Helipad. Heli melakukan proses Aproach pada ketinggian kurang lebih 30 meter dan oleng, sehingga menyebabkan heli jatuh di lokasi hutan/jurang dengan perkiraan jarak 800 meter dari permukaan laut.

Kadispenad mengugkapkan penggunaan helikopter untuk mengangkut material bangunan menuju Pos Long Bulan Malinau dikarenakaan tidak adanya akses jalan darat atau jalan air berupa sungai.

Sebanyak 13 korban meninggal dunia terdiri atas lima orang militer dan delapan sipil. Kelima korban tewas militer adalah Kapten Cpn Wahyu Ramdan (FE/Flight Engineering), Kapten Czi Sardi (anggota Denzibang Tarakan/pengawas), Lettu Cpn Agung Budi Harjo (Pilot), Lettu Cpn Rohmad (Co-Pilot) dan Serka Aan Prayitno (Mekanik).

Sedanggkan kedelapan sipil yang meninggal dalam kecelakaan itu masing-masing adalah Desi (pekerja pembangunan pos Pamtas asal Jakarta), Wahyu (pekerja pembangunan pos Pamtas asal Jakarta), Belong Lenggang (warga Desa Apauping), Ling-ling (warga Desa Apauping), Asun (warga Desa Apauping), Sam (warga Desa Apauping), Ging (warga Desa Apauping), Rodes (warga Desa Apauping).

Lima korban selamat yang menderita luka bakar terdiri atas dua anggota militer dan empat orang sipil. Kedua anggota militer bernama Sertu Joko Karsono dan Praka Tigor MT Siburian. Sementara empat sipil selamat yaitu Mendan, Albert, Fredi dan Njuk.

Kadispenad memastikan TNI AD telah mengambil langkah-langkah dalam penanganan kecelakaan, diantaranya evakuasi korban luka yang dilakukan bekerjasama dengan PT Pertamina dan perusahaan swasta National Utility Helicopter berupa bantuan Helly Bell 412. Sedangkan evakuasi korban meninggal mulai dilakukan tanggal 10 November 2013 menggunakan Helly MI-17 dan Cassa 212 dari Semarang.

Jasad terlebih dahulu dibawa ke Tarakan dan selanjutnya dibawa menggunakan pesawat Hercules ke daerah asal korban yang berada di luar Pulau Kalimantan. (Antara)

Helikopter Mi-17 TNI AD jatuh di Malinau

Sebuah helikopter milik TNI AD jatuh di wilayah Pujungan, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, sekitar pukul 11.00 Wita, Sabtu.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Kabupaten Nunukan, Octavianto di Nunukan, Sabtu, membenarkan bahwa telah terjadi kecelakaan pesawat milik TNI AD di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia itu.


Helikopter Mi-17 TNI AD jatuh di Malinau

Namun, ia belum dapat memastikan jumlah korban akibat kecelakaan tersebut. Octavianto mengutarakan, ia juga belum mengetahui kronologis peristiwa itu.

Ia mengatakan menerima informasi kejadian tersebut sekitar pukul 12.00 Wita dan saat ini evakuasi sedang dilakukan.


"Ada korban tapi jumlahnya belum kami ketahui. Saat ini sedang dilakukan evakuasi," jelasnya.

Ia menambahkan, helikopter tersebut sedang mengangkut logistik bagi prajurit pengamanan perbatasan Indonesia-Malinau dari Kota Tarakan, Kalimantan Utara.

Kepala Basarnas ini juga mengaku belum dapat memberikan keterangan lebih lengkap sehubungan belum mendapatkan data akurat dari tim yang berada di lokasi kejadian.



Dugaan Penyebab Helikopter TNI AD Jatuh di Kalimantan Utara

Kapuspen TNI Laksamana Muda, Iskandar Sitompul mengungkapkan dugaan awal penyebab jatuhnya Helikopter MI-17 milik TNI Angkatan Darat di daerah Kecamatan Baku Hulu, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara.

Menurutnya, secara tiba-tiba helikopter kehilangan power (tenaga) hingga akhirnya jatuh dan menyebabkan 13 orang tewas serta 6 mengalami luka bakar.

Helikopter tersebut membawa 21 penumpang yakni 13 orang warga sipil dan 8 anggota TNI. "Seluruh korban sudah ditemukan, yang selamat sudah dibawa ke rumah sakit terdekat," katanya.

Pihaknya akan segera melakukan investigasi terkait penyebab insiden nahas tersebut. Terutama soal mendadak hilangnya tenaga (power) helikopter yang baru dibeli 2-3 tahun lalu. "Kita akan segera kirim tim untuk investigasi masalah itu. Apakah ada masalah teknis atau yang lainnya," ujar dia.

Helikopter itu berangkat dari Tarakan, Kalimantan Utara, sekitar pukul 09.09 WITA pagi tadi menuju perbatasan Malaysia dengan mengangkut 1.800 Kg logistik untuk keperluan pembangunan pos perbatasan di Long Bulan atau daerah Tunjungan, Malinau melalui pos Apauping.

Seharusnya Helikopter MI-17 tiba di pos Apauping pada 10.06 WITA, tetapi hingga pukul 10.10 WITA pesawat belum mendarat.



6 Korban Selamat Terlempar dari Heli Saat Akan Jatuh

Enam orang selamat dalam peristiwa jatuhnya Helikopter Mi-17 milik TNI AD di sekitar Pospamtas Bulan di Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara, sekira pukul 10.45 Wita. Mereka berada di dekat pintu, dan terlempar sebelum heli jatuh kemudian terbakar.

"Korban selamat enam orang berada di dekat pintu, mereka terlempar dari dalam heli," ujar Pangdam VI/Mulawarman Mayjen TNI Dicky Wainal Usman, Sabtu (9/11/2013).

Korban selamat kini menjalani perawatan di Tarakan setelah dievakuasi lewat udara sore tadi. Menurutnya, mereka mengalami luka bakar, namun seluruhnya sadarkan diri. "Luka bakar cukup serius, dua ringan. Yang selamat dua TNI, empat sipil. Mereka sadar semua," terangnya.

Dicky belum berani memastikan jumlah korban tewas, namun menurut manifest, heli mengangkut 19 orang. Sebanyak 10 orang di antaranya merupakan pekerja bangunan yang akan membangun pospamtas. "Diperkirakan (tewas) 13 orang, tapi belum pasti, besok kita lihat lagi setelah dievakuasi," jelas Dicky.

Dia menerangkan, awalnya heli mengangkut sembilan orang dari Tarakan menuju Desa Apoping, Kecamatan Bahau Ulu, Kabupaten Malinau. Heli lalu mendarat mengangkut 10 pekerja bangunan, dan kembali terbang menuju perbatasan. "Tidak jauh (dari Desa Apoping ke perbatasn) sekitar 20 menit menggunakan heli," ujarnya.

Saat akan mendarat di helipad yang letaknya sekira 30 meter dari pospamtas, baling-baling belakang heli terus berputar. Nahas, heli lalu jatuh dan terbakar. Investigasi akan dilakukan untuk mengetahui penyebab pasti kecelakaan tersebut. "Saya kira ada masalah, cuaca mungkin, sehingga baling-baling terus berputar. Akan dilakukan investigasi untuk mengetahui penyebab pasti," terangnya.

Dia memastikan kondisi helikopter masih dalam keadaan laik terbang. Helikopter buatan Rusia tersebut baru dioperasikan pada 2010 lalu untuk pengamanan perbatasan. Kodam VI/Mulawarman memiliki dua helikopter serupa, satu lagi berada di Balikpapan. "Heli cukup baik, tahun 2010 baru dioperasikan," pungkasnya.





Sumber : Antara | OkeZone

Tim aerobatik Dynamic Pegasus unjuk kebolehan di Belitung

Lima helikopter latih Skuadron Udara 7 EC-120B Colibri yang tergabung dalam tim aerobatik Dynamic Pegasus, hadir di Pulau Belitung, Bangka Belitung, dalam misi latihan navigasi jarak jauh. 


 Tim aerobatik Dynamic Pegasus unjuk kebolehan di Belitung
 Tim aerobatik Dynamic Pegasus

Kelima EC120B Colibri itu dipimpin Komandan Skuadron Udara 7, Letnan Kolonel Penerbang Khairun Aslam, dan mendarat di Bandar Udara Hanandjoedin, Belitung. Mereka telah lepas landas dari pangkalannya, Pangkalan Udara Utama TNI AU Suryadarma, Subang, Jawa Barat, sejak beberapa waktu lalu.

Terbang lintas alias fly pass di atas kota merupakan satu suguhan perdana yang diberikan kepada masyarakat Belitung, seturut informasi Dinas Penerangan TNI AU, diterima di Jakarta, Kamis. Langit biru tanpa awan dan jernih memudahkan masyarakat menikmati aksi aerobatik itu secara jelas.


Tim aerobatik memakai nama Pegasus, kuda sembrani dalam mitologi Yunani, itu mengandalkan pesawat terbang sayap putar ringan buatan Prancis. Dalam aksinya di udara, mereka menyajikan berbagai manuver yang menyiratkan pilot pengawaknya haruslah sangat berpengalaman.

Tim Dynamic Pegasus biasanya melakukan 10 manuver aerobatik, yaitu 180 take off, Pegasus cross, Pegasus Head On, Water Fall, Spiral Dive, Wind Mill, Leader Strike, Kiss The Hummingbird, Solo Lazy, dan Sparkling Pegasus.

Kedatangan Tim Dynamic Pegasus ke Belitung ini dalam rangka latihan Navigasi Jarak Jauh, yang dimulai dari home base di Pangkalan Udara Utama TNI AU Suryadarma, ke Pangkalan Udara TNI AU Atang Senjadja di Bogor, Pangkalan Udara TNI AU Astra Ksetra di Lampung, di mana mereka menginap.

Dari situ lalu ke Pangkalan Udara TNI AU Palembang, dan berlanjut ke Pangkalan Udara TNI AU Tanjung Pandan. Rute kembali ke home base, mengulang dari rute keberangkatan.

"Latihan ini agar perwira siswa penerbang TNI AU mampu terbang navigasi memakai politage atau baca peta, kalkulasi waktu, dan fuel logging sehingga menambah pengalaman dan jam terbang bagi para penerbang muda," kata Komandan Pangkalan TNI AU Hanadjoeddin, Letnan Kolonel Navigasi Indrasto Setiawan.

Latihan navigasi ini melibatkan 23 personel dari Skadron Udara 7, lima instruktur penerbang, seorang pilot leader, sembilan perwira penerbang siswa dan delapan orang  awak darat. (Antara)

PT. DI Turut Sempurnakan Desain Bodi Helikopter EC 725 Cougar

Industri Industri pesawat terbang Indonesia terus berkembang. PT Dirgantara Indonesia, badan usaha milik negara (BUMN) strategis ini, bekerja sama dengan Eurocopter dalam mengembangkan helikopter EC 725 Cougar.

PT. DI Turut Sempurnakan Desain Bodi Helikopter EC 725 Cougar

Setelah tiga tahun pengembangan, fuselage (badan helikopter) ini akhirnya rampung juga. Helikopter Cougar ini tentunya didesain oleh Eurocopter. Industri helikopter yang bermarkas di Prancis ini juga memegang hak cipta Helikopter Cougar.

Awalnya PTDI merakit helikopter ini atas pemesanan dari TNI Angkatan Udara, sebanyak empat unit. Dari Eurocopter, dikirimlah desain Cougar. Namun desain yang dikirimkan ternyata belum sempurna.


"Mulanya kami seperti subkontrak, mereka memberikan desain, kami yang mengerjakan. Tapi ini berbeda. Gambar-gambar yang diberikan kepada kami itu belum matang. Belum bisa menjadi komponen dan masih banyak kesalahan. Kami membantu desain tersebut menjadi desain utuh," ujar Sonny Saleh Ibrahim, Kepala Komunikasi PTDI, Rabu (23/10/2013).

Karena turut serta dalam mendesain Cougar, tentu PTDI mendapat keuntungan juga. "Akhirnya kami investasi juga di dalam, tapi investasi produksi. Tools-nya jadi tools kami. Jadi, nanti suatu hari misalnya negara lain membeli Cougar di Eurocopter, komponennya dibuat di sini, lalu kirim ke Prancis," kata Sonny.

PTDI menjadi mitra strategis Eurocopter. Ini sudah berlangsung selama tiga tahun, sejak TNI AU melakukan pemesanan pada tahun 2010. PTDI bertugas mengerjakan fuselage dan tail boom (buntut helikopter), sambil mengembangkan desain. Baling-baling dan sisanya dikerjakan oleh Eurocopter.

Sonny menuturkan proses pembuatannya. Desain helikopter diberikan kepada PTDI untuk pembuatan fuselage dan tail boom. Setelah itu, karya PTDI ini diserahkan ke Eurocopter untuk dipasangi mesin dan komponen lainnya. Helikopter belum rampung karena masih harus diserahkan kembali ke PTDI untuk pemasangan komponen elektronik dan lain-lain. Jika rampung, helikopter berkapasitas 22 orang ini bisa diserahkan ke TNI AU yang memesannya.

Bagaimana dengan pemasangan persenjataan di Cougar ini? "Selama persenjataan yang digunakan adalah produksi PT Pindad, kami yang akan memasangnya. Kalau impor, TNI AU sendiri yang akan pasang karena mereka yang tahu," ujar Sonny.

Tak hanya dengan Eurocopter, kerja sama serupa juga dilakukan PTDI dengan perusahaan global Airbus. PTDI menjadi global supplier. "Global supplier itu, kami membuat komponen untuk Airbus atau Eurocopter, lalu pesawatnya dipakai di seluruh dunia," kata Sonny.

Karya dari jerih payah anak bangsa Indonesia, akhirnya bisa berkibar juga di dunia internasional meski bahan baku sebagian masih harus diimpor. Sejak 1976, pembuatan helikopter di PTDI selalu lisensi penuh dari luar negeri. Pembuatan Cougar ini menjadi yang pertama bagi PTDI berposisi sebagai mitra strategis industri luar negeri.

Pembuatan helikopter di PTDI, dimulai dengan jenis NBO 105 pada 1976. Dilanjut Puma NSA 330 dan Super Puma NAS 332 di tahun 1982. Dua tahun kemudian, 1984, PTDI memproduksi lagi Nbell 412. EC 725 Cougar sendiri dikerjakan sejak 2010, diikuti pengerjaan Bell 412-EP di 2011. Helikopter Cougar sendiri merupakan evolusi dari Super Puma NAS 332. Hingga saat ini, Super Puma NAS 332 sudah diproduksi 20 unit. Sebagian besar produksi ini digunakan oleh TNI AU.  (Tribun)

Berau Segera Miliki Skuadron Heli

Realisasi rencana strategis Angkatan Darat di Kabupaten Berau untuk membangun satuan tempur Skuadron Heli terus berlanjut. Dalam kunjungan kerja pertamanya ke Bumi Batiwakkal, Danrem 091/ASN Kolonel Inf Nono Suharsono, Senin (21/10) kemarin menyebutkan bahwa sementara ini proses yang berlangsung adalah pembangunan pangkalan di Bandara Kalimarau.

Berau Segera Miliki Skuadron Heli

“Itu memang bagian rencana strategis Angkatan Darat memperkuat wilayah perbatasan, makanya kita akan membangun skuadron heli ini, dengan demikian keamanan perbatasan bisa betul-betul terjaga,” ungkapnya ditemui usai paparan di hadapan jajaran Kodim 0902/TRD kemarin.


Meski tidak menjelaskan target realisasi masuknya perangkat dan personel, Danrem menyebutkan penyiapan pangkalan adalah persiapan yang utama.“Begitu nanti pangkalannya selesai dengan perangkatnya, maka personelnya akan segera diisi,” lanjutnya.

Untuk tahap pertama, sesuai rencana akan ditempatkan empat personel Penerbangan Angkatan Darat (Penerbad) di pangkalan ini. Secara bertahap, penambahan personel akan terus dilakukan dibarengi dengan pemenuhan fasilitas lain, termasuk pengadaan jenis pesawat lain yang dibutuhkan. Karena itu, dirinya berharap dukungan dari masyarakat Berau, termasuk Pemkab.

“Agar nantinya TNI bisa bekerja lebih baik dalam menjalankan tugas pokok serta menunjang kegiatan pemerintah daerah,” tandasnya.

Terpisah, Dandim 0902/TRD Letkol Hendri Sembiring menyebutkan bahwa rencana tersebut akan direalisasikan akhir tahun ini. Beberapa unit helikopter akan parkir di eks terminal lama Bandara Kalimarau.

“Ya kemungkinan akhir tahun ini rencananya helikopter sudah parkir di Berau, itu informasi terakhir,” ujarnya.

Setelah ada kesepakatan dengan Ditjen Perhubungan Udara (Dithubud)," lanjut Dandim.
Setelah itu, apabila tidak ada kendala, maka keseluruhan terminal lama akan digunakan. Sejauh ini, disebutnya belum ada masalah apapun.

“Kalau ada kesepakatan, pastinya semua akan dipakai karena nantinya kita akan memanjangkan apron yang ada, membangun hanggar heli, dan bangunan maintenance juga termasuk markas, saya rasa nggak ada masalah ketika bertemu dengan menteri saat peresmian hanya tinggal MoU saja,” jelasnya.
Untuk markas dan mes personel, diungkapkannya akan dibangun 2014 mendatang. Sekaligus keperluan lainnya. Sedangkan helkopter serbu yang akan didatangkan akhir tahun ini hanya empat unit dari total keseluruhan yang direncanakan sebanyak 32 helikopter, untuk empat flight.

“Ini bakal menjadi markas skuadron pertama di Kaltim, nantinya dari empat flight, ada dua flight saja yang di Berau, yang dua berada di Sulawesi dan Kalimantan Barat. Berau nanti akan menjadi sentralnya, tujuannya jelas untuk mempermudah pelayanan, termasuk dukungan wilayah perbatasan,” tandasnya.  (Sapos)

Menhan Tinjau Kesiapan Satgas Helikopter TNI KONGA XXXV-A

Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Senin (21/10) didampingi mantan Wakil Presiden RI Try Sutrisno meninjau kesiapan Satgas Helikopter TNI Kontingen Garuda KONGA XXXV - A UNAMID, di Pangkalan Udara Utama Angkatan Darat Ahmad Yani, Semarang.

Menhan Tinjau Kesiapan Satgas Helikopter TNI KONGA XXXV-A
Ilustrasi
Pada kesempatan peninjauan tersebut, Menhan menerima paparan dari Dansatgas Letkol Eko Priyanto tentang kesiapan satgas  helikopter TNI KONGA XXXV - A yang akan diberangkatkan ke wilayah Darfur, Sudan Utara.

Disamping itu Menhan juga memberikan pengarahan kepada 120 personel Satgas Helikopter TNI KONGA XXXV-A  yang terdiri dari satuan Penerbad, Bekang, Bataliyon Infantri, Arhanud, perhubungan, peralatan, dan kesehatan Angkatan Darat.Usai memberikan pengarahan Menhan juga memeriksa secara langsung kesiapan peralatan personel dan tiga unit helikopter Mi-17 V5 buatan Rusia yang akan digunakan selama melaksanakan tugas peace keeping di daerah Darfur.

Adapun tugas pokok Satgas helikopter ini adalah untuk mendukung kegiatan perdamaian yang dimandatkan Dewan Keamanan PBB. Adapun  tugas-tugas tersebut melaksanakan bantuan tempur seperti Angkutan pasukan, patroli udara, combat search and rescue, observasi dan pengintaian daerah serta tugas bantuan administrasi seperti angkutan personel, transport VIP, dukungan logistik, evakuasi darurat dan relay radio.

Dalam pengarahannya, Menhan mengatakan sebagai pasukan pemeliharaan perdamaian seluruh personel Satgas diharapkan tetap waspada selama menjalankan tugas, mengingat daerah darfur masih relatif rawan.

Menhan juga menghimbau kepada para personel yang bertugas tetap memperioritaskan keselamatan kerja dengan mengikuti SOP dan peraturan yang telah ditentukan oleh PBB.

Meski masih menunggu keputusan dari PBB terkait jadwal keberangkatan dari satgas helikopter ini, Menhan yakin bahwa satgas ini telah siap sebagai pasukan pemeliharaan perdamaian yang profesional. (DMC)

Banggar DPR RI Sepakati, Anggaran Kemenhan 2014 Sebesar Rp 83 Triliun

Pembahasan anggaran belanja Kementerian Pertahanan untuk tahun anggaran 2014 di Badan Anggaran (Banggar) DPR RI sudah hampir usai. Diperkirakan anggaran belanja TNI di tahun depan bisa mencapai Rp 83 triliun.

Banggar DPR RI Sepakati, Anggaran Kemenhan 2014 Sebesar Rp 83 Triliun
Helikopter Aphace Menjadi Target Belanja Kemenhan di tahun 2014

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi Golkar yang juga anggota Banggar Fayakhun Andriadi menjelaskan, setelah Komisi I menyelesaikan pembahasan anggaran indikatif  Kemenhan TA 2014, anggaran belanja dilanjutkan pembahasannya di Banggar.

"Saat ini pembahasan anggaran Kemenhan di Banggar sudah hampir selesai, tinggal beberapa poin saja," ujar Fayakhun kepada JurnalParlemen, Senin (14/10).


Fayakhun menjelaskan, secara umum Banggar telah memberikan lampu hijau untuk anggaran Kemenhan TA 2014 sekitar Rp 83 trilliun. Pagu indikatif Kemenhan TA 2014 sebelumnya sebesar Rp 80,497 tiliun.

Banggar juga telah memberikan dukungan untuk ajuan penggunaan dana sekitar Rp 6 triliun untuk kepentingan pengadaan helikopter serang Apache beserta persenjataannya dari AS dan pesawat angkut Hercules C-130 bekas kepunyaan RAAF (Royal Australian Air Force).

Sedangkan untuk usulan tambahan inisiatif baru sebesar Rp 8,7 triliun dari Kemenhan pada TA 2014, kata Fayakhun, masih akan didalami Banggar. "Terutama untuk program apa saja usul inisiatif tambahan anggaran sebesar itu nantinya akan digunakannya. Di Banggar masih butuh penjelasan detail atas usulan program dan penggunaannya," ujarnya.  (Parlemen)