Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesawat Tempur. Tampilkan semua postingan

Indonesia Telah Miliki Kilo Class dan 24 Pesawat Tempur Sukhoi..??

Perdebatan kiblat dari pembelian alutsista militer selama ini, menarik untuk dicermati. Kalau ditelaah semenjak kejadian embargo oleh USA dan konco-konconya tahun 1999 sampai 2004, sepertinya sudah menjadi pengalaman pahit dan berharga bagi TNI. Seperti kita semua thau selama 30 tahun berkuasa Pak Harto selalu berkiblat ke blok barat dalam hal pengadaan alutsista. Yang berdatangan pun boleh dibilang alakadarnya mulai pemaksaan pemakaian F.86 Sabre dan T.33 ex RAAF medio tahun 1970-an sampai penjatahan jenis, spesifikasi dan jumlah unit yang bisa dibeli dalam medio 1980-an.

Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia
Rudal Krypton Kh-31 diusung Fighter Sukhoi Indonesia (photo: FB Jiwa Merah Putih)

Pada akhirnya pewaris tahta alias presiden-presiden kita selanjutnya mengalami betul yang namanya pelecehan yang diakibatkan rendahnya daya gedor alutsista kita. Puncaknya adalah pelecehan paling parah di ambalat yang dilakukan oleh sonora.


Kita Marah ?
Ya, kita rakyat Indonesia tentu marah dan Pak SBY geram betul tapi beliau sadar, kalau kekuatan alutsista TNI kita saat itu masih tertinggal jauh dari negara-negara tetangga yang sok jaguh. Sejumlah langkah beliau lakukan dalam langkah penguatan alutsista TNI. Selain kontrak-kontrak warisan penguasa sebelumnya yaitu pengadaan 4 buah korvet SIGMA, pengadaan 4 unit LPD kelas Banjarmasin, pembelian beberapa unit pesawat latih KT-1 B Wong bee yang di dalamnya ada skema hibah beberapa unit LVT 7 (landing Vehicle Tank) dari Korea Selatan untuk Marinir TNI AL, Pembelian beberapa unit baterai peluncur roket RM 70 Grad dari Ceko, pembelian beberapa Helicopter Colibri untuk TNI AU dan TNI AL, Rudal QW 3 dari China dan beberapa kontrak pembelian lain, maka diperlukan juga pembelian alutsista strategis yang lebih gahar dari blok timur yaitu blok sahabat lama yang kemungkinan mengembargo kita kedepannya kecil sekali, antara lain :


  1. Kontrak pengadaan Alutsista berupa fasilitas kredit senilai 1 miliar dolar tahun 2007 (seperti yang diumbar kemedia massa) dari RUSIA, yang digunakan untuk membeli 3 Sukhoi 27 SKM dan 3 Sukhoi 30 MK2 senilai $ 300 juta (untuk melengkapi 4 unit Sukhoi kita yang dipesan tahun 2003) dan $ 700 juta lainnya digunakan untuk membeli 2 unit kapal selam kelas Kilo.

    Apakah Indonesia hanya mengajukan fasilitas kredit senilai 1 miliar dolar kepada Rusia ? Menurut saya jawabannya tidak, alias Indonesia mengajukan fasilitas kredit dengan nilai lebih dari 1 miliar dolar.

    Kenapa ? Karena pada tahun setelahnya mulai berdatangan alutsista dari RUSIA selain dua yang disebut di atas. Mulai dari beberapa unit Helicopter Mi 35 Hind E dan Hind P dan beberapa unit Helicopter Mi 17 buat TNI AD. Beberapa unit Panser BTR 80 buat Marinir TNI AL, 17 unit Tank BMP 3F buat marinir TNI AL, pembelian beberapa rudal termasuk rudal yakhont (ini yang dipublish dan diperlihatkan barangnya ke publik walaupun tidak dirilis berapa unit sebenarnya yang dibeli).

    Kalau begitu ada kemungkinan dong saat itu kita pesan Sukhoi lebih dari enam unit ? Atau berarti dua Kapal Selam Kilo yang dulu kita pesan itu, sekarang sudah menyelam jalan-jalan dong di perairan kita ?.

    Benar, bisa jadi seperti itu. jumlah Sukhoi kita sesungguhnya adalah lebih dari 16 unit. (tidak seperti yang dipublish) kenapa, karena sukhoi kita ini termasuk alutsista yang sangat strategis sampai-sampai rudal-rudalnya saja, baru dimunculkan secara resmi saat latihan Angkasa Yudha 2013.

    Begitupun dengan KS Kilo dua unit, pastinya sudah berkeliaran di perairan nusantara kita.

    Sebagai bahan analisa saja, kenapa Sukhoi datangnya masih dibungkus dan diangkut pakai pesawat Antonov Rusia dan dirakit di sini ?

    Kenapa tidak terbang ferry saja dari negara pembuat ke Indonesia macam T. 50 I atau F. 16 zaman tahun 1989-1990 dulu. Kalau jaraknya jauh ya memang tidak masuk dilogika juga, secara Super Tucano saja yang jarak Brazil ke Indonesia lebih jauh tetap terbang ferry.

    Seperti berita yang saya kutip. “karena sesuai amanat UU Kebebasan Informasi Publik, Mengenai tudingan Indonesian Corruption Watch (ICW) soal pemerintah yang tidak transparan soal pengadaan alutsista, Andi mengatakan berdasarkan UU proses pembelian senjata termasuk hal yang dikecualikan”.

    Andi menambahkan, “Dalam UU Kebebasan Informasi Publik proses pengadaan senjata memang termasuk dalam hal-hal yang dikecualikan. Kementerian Pertahanan tidak wajib mempublikasikan, bahkan harus menerapkan prinsip kehati-hatian.”

    Apalagi Sukhoi dan KS Kilo merupakan produk buatan blok timur, yang notabene gampang banget dijaga kerahasiaannya karena kita sudah mempunyai perjanjian kerjasama militer dengan Rusia. Berbeda dengan produk buatan blok barat yang walaupun sudah kita jaga kerahasiaannya, tetap saja ketahuan (malahan kita ditertawai) karena negara calon musuh kita seperti Sonotan tinggal tanya doang ke negara pembuatnya.

    Makanya tahun 2012, sebelum latihan “Pitch Black” Kepala Staf RAAF sampai datang langsung ke sarang Thunder di Hasanuddin, untuk memeriksa dan menghitung satu-satu sukhoi kita. Ada berapa sih ?. Dan alhamdulilah yang dipajang di apron dan hanggar tetap 10 unit dan yang dikirim buat latihan cuma 4 (empat) unit.

    Soalnya menurut data intelejen mereka, sukhoi TNI AU termasuk 6 biji yang dipesan tahun 2011 dan diterima 2013, jumlahnya total ada 24 biji. Makanya meraka mati-matian menyadap kita karena ingin memperoleh informasi akurat tentang alutsista apa saja yang sudah dibeli dan jumlahnya dari Rusia.

    Begitupun dengan Kapal Selam Kilo sudah berapa banyak pemberitaan media luar dari tetangga-tetangga kita yang mengkonfirmasikan keberadaan “mahluk halus” Hiu Kencana itu. Makanya atas dasar inilah mereka mati-matian, melakukan penyadapan lebih intensif kepada indonesia.
  2. Pembantukan dan pelaksanaan program Minimum Essential Force (MEF) mulai dari tahap I sampai III.

    Di sini jelas sekali dalam memenuhi kekuatan minimum tersebut Indonesia memainkan peran cantiknya sebagai negara non blok dengan baik. Berbagai macam alutsista dari Blok Barat dan Blok Timur dibeli dan dipublikasikan kepada masyarakat umum. Antara lain :

    Blok Barat :
  • Pembelian 6 unit F. 16 Block 60 / berubah menjadi hibah 24 unit F. 16 Block 25 (upgrade Block 32++) + 4 unit F.16 Block 25 sebagai cadangan sparepart dan 2 unit F. 16 Block 15 OCU cadangan sparepart (sepertinya ini diupgrade juga).
  • Pembelian 16 unit T. 50 I dari korsel, disertai skema hibah beberapa unit LVT 7 (landing Vehicle Tank) buat marinir dan beberapa unit F.5 tiger II untuk TNI AU (belum jelas diambil atau tidak walaupun ada berita TNI AU menolak karena tidak sesuai).
  • Pembelian 16 unit Super Tucano dari EMBRAER Brazil.
  • Pembelian 18 unit Pesawat Latih G 120tp Grob dari Jerman.
  • Pembelian beberapa unit UAV Searcher II dan Heron dari Israel (dibeli melalui perusahaan yang berdomisili di Filipina)
  • Pembelian 9 unit pesawat angkut ringan CN. 295.
  • Pembelian 9 unit pesawat angkut C. 130 Hercules ex RAAF (4 biji hibah/retrofit + 5 biji beli dengan harga murah).
  • Pembelian 6 unit Helicopter EC 725 Cougar.
  • Pembelian 2 unit Fregat Sigma 10514.
  • Pembelian 3 unit Fregat kelas Nakhoda Ragam.
  • Pembelian 3 unit KS Changbogo
  • Pembelian MBT Leopard
  • Pembelian Medium Tank Marder
  • Pembelian beberapa baterai RM 70 Grad
  • Pembelian 36 unit Astros II
  • Pembelian 8 AH-64 E Apache
  • Pembelian beberapa rudal seperti Helfire II, AIM-120, AIM-9, starstreak II, Exocet dan lain-lain.

Blok Timur :

  • Pembelian 6 unit Sukhoi 30 MK2 
  • Pembelian 37 Tank BMP 3F
  • Pembelian beberapa unit panser amphibi BTR 80A
  • Pembelian 55 unit BTR 4 dari Ukraina
  • Pembelian rudal C. 802 dan C.705 dari China

Selain pembelian berbagai jenis alutsista tersebut, dalam MEF I Indonesia juga memperkuat militernya dengan berbagai macam jenis alutsista buatan dalam negeri, antara lain :
 

  • Pembelian Panser Anoa 
  • Pembelian Panser Komodo
  • Pembelian 35 unit heli Bell 412 EP
  • Pembelian 3 unit CN. 235 Patmar
  • Pengadaan beberapa unit KCR 40
  • Pengadaan beberapa unit KCR 60
  • Pengadaan beberapa unit perusak Trimaran kelas Klewang
  • Pengadaan 2 unit kapal bantu cair minyak
  • Pengadaan kapal LST untuk Leopard
  • Pengadaan beberapa unit kapal Patroli buatan fasharkan TNI AL

Daftar belanja diatas adalah daftar belanja MEF I yang dipublish oleh Kementerian Pertahanan untuk konsumsi masyarakat Indonesia, sedang daftar belanja yang tidak dipublish tentunya ada (terutama dari Blok Timur), dan biarlah tetap menjadi rahasia sampai nanti pada saatnya akan terbongkar dengan sendirinya. (contoh kasus operasi Alpha pengadaan A.4 Skyhawk dari Israel).

Sebelum berakhirnya MEF pertama, dengan dana pengadaan alutsista yang masih tersisa, Indonesia kembali mendapat tawaran hibah alutsista strategis berupa beberapa kapal selam, fregat sampai destroyer dari Rusia. Dan atas tawaran itu pihak Kementerian Pertahanan dan TNI telah memberangkatkan tim untuk mengevaluasi tawaran menarik ini.

    Selain itu tidak lupa pembelian Sukhoi 35 dan tentu saja sistem pertahanan jarak menengah jauh yang saat ini sedang digodok oleh kemenhan.
Mengenai ToT percayalah selain dengan Korea Selatan, sesungguhnya Indonesia juga menjajaki ToT dengan beberapa negara lain terutama dengan Rusia. Kemenhan pun telah mempunyai rencana Plan B apabila pengerjaan rencana Plan A itu gatot, demi kemandirian bangsa ini berswasembada alutsista sendiri.

Pada akhirnya kita berharap bahwa apa yang telah dilakukan oleh pemimpin kita saat ini, dapat dilanjutkan kembali oleh pemimpin kita yang terpilih selanjutnya nanti. Mudah-mudahan saja pemimpin kita nanti itu tetap sekuat tenaga melanjutkan program penguatan alutsista TNI ini sampai pada renstra III jikalau perlu sampai selamanya. (written by pocong syereem | JKGR )

Presiden SBY Girang Lihat Pesawat Tempur Korea

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menghadiri serah-terima satu skuadron atau 16 unit pesawat tempur latih T-50i Golden Eagle dari Kementerian Pertahanan ke TNI Angkatan Udara di 'taxi way echo' Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Kamis, 13 Februari 2014.

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono saat bersiap untuk berpose bersama para pilot pesawat tempur latih T50i Golden Eagle, di Pangkalan Udara TNI Angkatan Udara, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur (13/2). TEMPO/Imam Sukamto

SBY disambut Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan Djoko Suyanto, serta tiga Kepala Staf Angkatan. Tak lama duduk, Presiden langsung disuguhi tontonan apik. (Lihat FOTO: Presiden SBY Jajal Pesawat Latih Tempur AU Terbaru)


Empat unit pesawat tempur T-50i Golden Eagle dan dua unit Sukhoi SU-30 terbang membentuk formasi delta atau segitiga. Keenam pesawat tampak empat kali terbang di atas tenda upacara.

SBY tampak girang saat melihat pesawat-pesawat baru TNI AU beraksi. Mengenakan kaca mata hitam dan rompi warna cokelat, Yudhoyono terlihat senyum sambil menepukkan tangan.

Di akhir pertunjukan empat pesawat baru buatan Korea Aerospace Industry mendarat dan parkir di tepat di depan tenda Yudhoyono. Sebelum parkir, keempat pesawat menjalani ritual gerbang pelangi. Yakni dua unit mobil pemadam kebakaran menembakkan air tepat di atas keempat pesawat yang akan parkir. Saking kencangnya air yang disemprot ke atas seolah membuat gerbang dari air.

"Ini tradisi TNI AU jika menyambut pesawat baru. Kalau sudah begitu pesawat T-50 resmi masuk jajaran TNI AU," kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto kepada wartawan.

Selanjutnya, Yudhoyono ditemani Menhan, Menkopolhukam, KSAD, KSAL, KSAU, dan perwakilan dari Korea Selatan foto bersama di depan pesawat T-50i Golden Eagle. Karena cuaca cukup terik, kaca mata hitam terus melekat di wajah Yudhoyono. Saat difoto, SBY tampak sumringah dan sesekali melambaikan tangan.

Pesawat tempur ringan ini, dia melanjutkan, dibeli pemerintah untuk menggantikan pesawat Hawk MK-53 yang sudah uzur. Pesawat ini akan bermarkas di Skuadron Udara 15 di Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur.

Keenam belas pesawat T50i Golden Eagle dibeli dari pemerintah Korea Selatan pada tanggal 25 Mei 2011 dengan nilai kontrak US$ 400 juta. "Pembelian ini masuk dalam program modernisasi alat utama sistem pertahanan Indonesia," kata dia.

Pesawat T-50i Golden Eagle adalah pesawat tempur latih supersonik hasil kerjasama pabrikan Lockheed Martin (Amerika Serikat) dengan dengan Korean Aerospace Industry (Korea Selatan). Pesawat ini dilengkapi dengan 'missile guided/unguided', roket, bom, meriam 20 milimeter, dan radar.  (Tempo)

Pesawat Tempur KFX/IFX Diproyeksikan Untuk Pengganti F-16

Direktur Utama Korea Aerospace Industries Ha Sung Yong yakin pesawat tempur Korean Fighter Xperiment/Indonesia Fighter Xperiment yang kini sedang dikembangkan bersama Indonesia dapat menggantikan pesawat F16 di masa datang.

Pesawat Tempur KFx/IFX Diproyeksikan Untuk Pengganti F-16

Setelah proyek pengembangan bersama KFX/IFX dihentikan dan dilanjutkan pada Januari 2014, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro berharap pada 2020 prototipe pesawat dapat ditampilkan dan akan mulai diproduksi pada tahun berikutnya.

Menurut Sung Yong, pesawat tempur K/IFX apabila dikembangkan dapat dijadikan sebagai pesawat pengganti F16 dan F4 pada 2025.


"Pengganti F16 pada 2025 akan sangat dibutuhkan, saya percaya dengan kerjasama yang kuat kami dapat memenuhi pengganti F16 di masa yang akan datang," jelasnya saat ditemui seusai acara serah terima pesawat tempur T-50i Golden Eagle di Lanud Halim Perdanakusuma, Kamis (13/02/2014)

Selain itu Sung Yong juga yakin proyek pengembangan pesawat tempur bersama ini akan sukses karena lima alasan, yang pertama karena Korea dan Indonesia adalah sahabat yang istimewa. Kedua, karena secara geografis letak kedua negara sangat dekat.

Alasan ketiga adalah karena kondisi geografis yang memungkinkan untuk menjalin komunikasi yang efisien dan efektif dalam mengembangkan pesawat.

Alasan keempat karena budaya kedua negara memiliki banyak kesamaan yang memudahkan untuk saling mengerti.

Sementara alasan terakhir, Sung Yong mengatakan dari segi teknologi, Indonesia memiliki kesamaan dalam pengembangan pesawat dan helikopter.  (Bisnis.com)

Menhan serahkan 16 pesawat T-50i Golden Eagle pada TNI AU

Indonesia resmi memiliki 16 unit pesawat latih tempur T-50i Golden Eagle. Pesawat itu didatangkan dari Korea Selatan sejak bulan September lalu.

Menhan serahkan 16 pesawat T-50i Golden Eagle pada TNI AU

Ke-16 pesawat tersebut akan diserahkan oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro kepada TNI AU dan disaksikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Kamis (13/2).

Menurut Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara Marsekal Pertama Hadi Tjahjanto, pembelian pesawat berkecepatan 1.600 km/jam ini adalah sebagai bentuk remunerasi alutsista TNI. Pesawat itu untuk memperkuat pertahanan dan keamanan wilayah Indonesia.


"Semoga kedatangan alutsista tempur terbaru ini akan bermanfaat bagi TNI. Pesawat ini memang mirip sekali dengan F-16, memiliki kelincahan dan kemampuan persenjataan yang maksimal," kata Hadi, di lapangan Taxy Way Echo pangkalan TNI AU Halim.

Hadi menjelaskan, pesawat tempur T-50i Golden Eagle, spesifikasi dengan panjang 43 kaki serta lebar sayap 31 dan tinggi 16 kaki. Pesawat itu memiliki persenjataan sekitar 10.500 pound yang dilengkapi kanon galting internal tiga laras general dinamics 20mm yang mampu menyemburkan 2000 peluru per menitnya.

"Direncanakan akan dilengkapi radar udara maka pesawat canggih ini akan mampu mengubah daya tempur udara kita," ucapnya.

16 Pesawat ini akan segera diserahterimakan dalam upacara militer di Skuadron 17 Lapangan Udara Halim Perdanakusuma. Dalam upacara serah terima tersebut juga akan dihadiri oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Panglima TNI Jenderal Moeldoko, dan para petinggi TNI lainnya.

Pesawat tempur taktis T-50i Golden Eagle pesanan pemerintah Indonesia ini akan menambah kekuatan Skuadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Maospati. T-50i akan digunakan sebagai pesawat latih tempur menggantikan pesawat Hawk MK-53.

Pesawat T-50i merupakan pesawat jet serang ringan. Pesawat ini juga biasanya digunakan sebagai pesawat latih lanjutan bagi penerbang tempur.

Melihat spesifikasinya, T-50i sangat mirip dengan F-16. Wajar saja, Korea Selatan memang menjadikan T-50i sebagai pesawat latih sebelum pilot-pilot tempur mereka menggunakan F-16. (Merdeka)

Airbus Military Siap Terbangkan Pesawat C-295 Pesanan Indonesia

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro meninjau pabrik pesawat Airbus Military di Sevilla, Spanyol untuk inagurasi produksi keenam yang siap diterbangkan ke Indonesia pada awal Maret 2014.

 
Kunjungan Menhan RI didampingi Sekretaris Negara Bidang Pertahanan Spanyol Pedro Arguelles Salaverria dan Dirut PT Dirgantara Indonesia Ir Budi Santoso, kata Counsellor Pensosbud KBRI Madrid, Theodorus Satrio Nugroho di London, Selasa.

Kunjungan Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro beserta delegasi ke Sevilla juga didampingi Dubes RI di Madrid Yuli Mumpuni Widarso untuk melihat pesanan sembilan pesawat Airbus Military model C-295.


Presiden Direktur Airbus Military, Domingo Urena-Raso dalam menyambut Menteri Pertahanan RI menyatakan kebanggaannya dan kepuasannya bekerjasama dengan Indonesia, khususnya dengan PT Dirgantara Indonesia yang telah lama bermitra dengan perusahaan pesawat terbang Spanyol CASA.

Kesepakatan kedua pihak untuk bekerjasama dalam merakit C-295 pesanan ke-8 dan ke-9 serta melakukan pemasaran bersama untuk produk berikutnya yang juga akan dirakit di Bandung ke pasar Asia Pasifik merupakan perkembangan penting dari kerjasama bilateral yang telah sangat lama terjalin.

Pihaknya yakin kemajuan teknologi Airbus Military akan dapat memenuhi kebutuhan Pemerintah Indonesia dalam program modernisasi peralatan militernya.

Sementara itu Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro dalam sambutan balasannya menyatakan hal senada, memuji keberhasilan kedua pihak dalam memelihara hubungan kemitraan yang saling menguntungkan.

Menteri Pertahanan menantang kedua pihak untuk sanggup secara cerdas meraih peluang yang tersedia di pasar regional Asia Pasifik. Dinyatakan bahwa Asia Pasifik merupakan kawasan dengan pertumbuhan ekonomi yang sangat mengesankan, sehingga merupakan pasar yang sangat potensial bagi C-295.

Counsellor Pensosbud KBRI Madrid, Theodorus Satrio Nugroho, mengatakan kunjungan Menhan RI ke Spanyol selama dua hari pekan silam akan semakin meningkatkan kerjasama kedua Negara khususnya di bidang pertahanan.

Selain sebagai kunjungan balasan atas kunjungan Menteri Pertahanan Spanyol Pedro Morenes Eulate ke Jakarta Pebruari tahun lalu dimana pada kesempatan tersebut ditandatangani Nota Kesepahaman (MOU) RI - Spanyol tentang Kerjasama Bidang Pertahanan.

Kunjungan kerja Menteri Pertahanan juga dimaksudkan untuk mengimplementasikan butir-butir MOU, diisi dengan berbagai kegiatan diantaranya pertemuan bilateral dengan Menteri Pertahanan Spanyol Pedro Morenes Eulate.

Kedatangan Menteri Pertahanan RI di Kementerian Pertahanan Spanyol disambut dengan upacara militer, bersama dengan Menteri Pertahanan Spanyol melakukan pemeriksaan barisan kehormatan.

Pembicaraan bilateral berlangsung sangat hangat, terbuka dan substantif dimana kedua Menteri Pertahanan membahas berbagai upaya peningkatan kerjasama bilateral di bidang pertahanan seperti kerjasama yang saling menguntungkan di bidang industri pertahanan sertai transfer of technology (TOT).

Kedua pihak membahas kemungkinan membentuk pengaturan teknis pelaksanaannya (implementation arrangements), pengembangan sumber daya manusia melalui pertukaran siswa militer dan personil operasi pemeliharaan perdamaian di bawah PBB (UN Peace Keeping Operation/UN PKO) dengan memanfaatkan PKO Training Center di Jakarta.

Kedua negara termasuk aktif dalam menyumbangkan personil pada UN PKO dalam jumlah yang cukup terbesar, dan kerja sama dalam operasi penanggulangan bencana alam.

Kedua Menteri Pertahanan juga bertukar pandangan tentang perkembangan situasi di kawasan masing-masing dan perkembangan situasi internasional. Kedua pihak sepakat untuk terus meningkatkan kerjasama dalam memajukan perdamaian dan keamanan internasional.

Menteri Pertahanan RI menyampaikan undangan kepada pihak Spanyol untuk berpartisipasi dalam beberapa kegiatan yang diselenggarakan di Indonesia, seperti Jakarta International Defense Dialogue (JIDD) pada 19-20 Maret 2014.

Selain Indodefense di Jakarta pada 5-8 November 2014 dan sebagai observer pada Multilateral Naval Exercise  Komodo 2014 di perairan wilayah Barat Indonesia pada Maret 2014.

Selain kedua kegiatan utama tersebut, Menteri Pertahanan RI juga telah menerima paparan dari Pimpinan Navantia, perusahaan galangan kapal milik Pemerintah Spanyol, tentang kapasitas rancang bangun kapal perang unggulan Spanyol.

Paparan dari Freire Shipyard, perusahaan galangan kapal spesialis kapal layar tiang tinggi (tallship) yang akan membangun kapal latih KRI Dewa Ruci 2 di galangan kapalnya di Kota Vigo.

KBRI Madrid mendukung pelaksanaan kunjungan kerja Menteri Pertahanan RI ke Spanyol dan siap mendorong kedua pihak untuk terus mengimplementasikan butir-butir kesepakatan dalam MOU serta siap mengawal penyelesaian pengaturan teknis pelaksanaan kerjasama industri pertahanan. (Investor)

TNI-AU Pilih Pesawat Tempur Sukhoi Untuk Gantikan F-5 Tiger

Pesawat tempur F-5 Tiger milik TNI Angkatan Udara akan memasuki masa pensiun dan segera dikandangkan tahun ini. Meski begitu, TNI Angkatan Udara maupun Kementerian Pertahanan belum memutuskan pesawat pengganti Tiger. Kepala Staf Angkatan Udara Marsekal Ida Bagus Putu Dunia mengatakan baru membuat kajian soal opsi-opsi pesawat pengganti.

Pesawat tempur Sukhoi Su-35 fighter dengan mesin jet terbaru mengangkasa di bandara Le Bourget, menjelang pembukaan pameran dirgantara Paris Air Show ke-50, di Perancis (15/6).
Pesawat tempur Sukhoi Su-35 fighter dengan mesin jet terbaru mengangkasa di bandara Le Bourget, menjelang pembukaan pameran dirgantara Paris Air Show ke-50, di Perancis (15/6). |  REUTERS/Pascal Rossignol

"Kajian tersebut sudah saya kirim ke Menteri Pertahanan dan Markas Besar TNI. Nanti akan diputuskan di sana," kata Putu Dunia kepada wartawan di Markas Besar TNI Angkatan Udara, Cilangkap, Jakarta Timur, Senin, 27 Januari 2014.


Dalam kajian tersebut, TNI Angkatan Udara merekomendasikan sejumlah pesawat tempur canggih pengganti F-5 Tiger. Antara lain pesawat tempur Sukhoi SU-35 buatan Rusia, F-16 Fighting Falcon di atas blok 24 buatan Amerika Serikat, F-15 Strike Eagle buatan Amerika Serikat, atau SAAB Gripen buatan Swedia.

TNI Angkatan Udara juga membuat peringkat dari pesawat-pesawat tersebut sesuai kebutuhan mereka. Pada urutan pertama adalah Sukhoi SU-35, disusul SAAB Gripen, dan terakhir adalah F-15 Strike Eagle. Dengan kata lain, pesawat tempur bikinan Rusia menjadi pilihan utama pengganti F-5 Tiger.

Menurut Putu, ketiga pesawat pengganti itu dipilih karena daya tangkal yang mumpuni, khususnya terhadap negara-negara tetangga. "Termasuk faktor persenjataan, perawatan, dan banyak faktor lain," kata dia.

Putu menginginkan pemerintah segera membeli pesawat tempur pengganti F-5 Tiger pada periode 2015-2019. Idealnya, kebutuhan TNI Angkatan Udara sebanyak 16 unit atau satu skuadron. "Tapi kami kembalikan pada kemampuan keuangan negara," kata dia.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal Moeldoko menginginkan Sukhoi SU-35 sebagai pengganti F-5 Tiger. Menurut dia, pesawat buatan Rusia itu punya efek gentar yang tinggi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik. Sedangkan Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro ingin Angkatan Udara punya pesawat tempur canggih yang mampu menggendong rudal jarak jauh, seperti Brahmos buatan India. (Tempo)

Pesawat Tempur T-50i Golden Eagle Siap Kawal NKRI

Sebanyak 16 pesawat T-50i Golden Eagle pesanan Pemerintah Indonesia seluruhnya sudah berada di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, setelah dua pesawat terakhir Sabtu (25/1), tiba di Lanud Iswahjudi yang diterima langsung oleh Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E.

Pesawat Tempur T-50i Golden Eagle TNI AU
Pesawat Tempur T-50i Golden Eagle TNI AU

Kedatangan kedua pesawat terakhir tersebut merupakan pengiriman tahap akhir setelah secara bertahap dimana ke-16 pesawat T-50i Golden Eagle, diterbangkan secara ferry dengan rute Sacheon Korea Selatan-Kaohsiung Taiwan -Cebu Philipina-Sepinggan Balikpapan Kaltim-Iswahjudi Air Force Base, oleh Penerbang Korean Aerospace Industries (KAI) ke Indonesia, mulai September 2013 tahun lalu.


Acara penyambutan pesawat T-50i Golden Eagle, yang diterbangkan secara ferry oleh penerbang MR. Kwon Huiman, MR. Lee Dongkyo, MR. Khang Cheol, MR. Shin Donghak dari Negara asalnya Korea Selatan, mendapat penghormatan berupa water salute dan kesenian Reog Ponorogo, disaksikan langsung Komandan Lanud Iswahjudi Marsekal Pertama TNI Yuyu Sutisna, S.E., bersama vice president KAI Lee Seung Min, serta segenap Pejabat di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi,

Menurut rencana, pihak Korea akan menyerahkan ke-16 pesawat Golden Eagle ke Pemerintah Indonesia bulan Februari mendatang di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, selanjutnya ke-16 pesawat Golden Eagle tersebut akan dioperasikan Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi sebagai tambahan kekuatan udara dalam mengawal dan mengamankan NKRI.

Sementara sesuai kontrak yang telah dibuat dengan PT. KAI dalam waktu 2 tahun akan menyertakan techrep (Teknical Representative), untuk mengawasi pelaksanaan operasional penerbangan sekaligus sebagai tempat konsultasi para Teknisi Skadron Udara 15 dalam merawat maupun hal-hal yang bersifat perbaikan. Teknisi tersebut juga sebagai penghubung antara Operator di Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi dengan pihak Pabrik di Korea. (TNI)

Keberlangsungan Projek N219, Terkendala Pemilu 2014...??

2014  akan jadi tahun penentuan bagi realisasi pesawat komuter N219.  Anggaran sudah diteken pemerintah. Tapi, tak sedikit pihak risau oleh karena adanya hajatan nasional Pemilu dan pergantian pemerintahan.

Keberlangsungan Projek N219, Terkendala Pemilu 2014...??

Di atas kertas, praktis tak ada lagi yang meragukan desain atau rancang  bangun pesawat transpor dua mesin 19 penumpang ini. Baik pimpinan PT Dirgantara Indonesia selaku pelaksana proyek pembuatan maupun Lapan sebagai pemilik proyek, yakin N219 feasible untuk diterbangkan. Terlebih karena  dari segi teknologi tak ada yang perlu dikaji lebih lanjut.


Dari segi kelangsungan produksi juga praktis tak ada sentimen negatif. Sejumlah operator penerbangan telah menyatakan siap membeli. Pesawat ini termasuk yang ditunggu-tunggu untuk dijadikan kuda beban di ratusan rute pengumpan. Namun, hajatan Pemilihan Umum di pertengahan tahun ini dan ketepatan penggunaan anggaran yang sudah siap diturunkan pada 2014 memang masih menyisakan pertanyaan.

Akankah pertarungan antarkekuatan politik di dalam negeri masih memberi ruang yang kondusif bagi pembuatan pesawat ini?

Pertanyaan tersebut tak ayal diajukan wartawan kepada Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bapennas Prof Dr Armida S. Alisjahbana saat berkunjung ke Pusat Teknologi Penerbangan Lapan, Rumpin, Banten, akhir November 2013. “Ini harus jalan karena pesawat ini diperlukan untuk konektivitas daerah-daerah terpencil. Program N219 juga dinilai penting untuk mendorong program pengembangan industri strategis dan penguasaan bangsa ini atas iptek dan inovasinya. Jadi sebagai program yang multiple objectives, positioningnya sudah amat kuat,” ujarnya kepada Angkasa.

Menteri Armida tak saja mendapat penjelasan rinci di seputar program pengembangan N219, tetapi juga tentang program pengembangan roket, satelit serta sistem penginderaan jauh yang telah maupun akan dilakukan enjinir-enjinir Lapan. Hadir dalam acara tersebut Dirut DI Budi Santoso, Kepala Lapan Bambang S. Tejasukmana, Direktur Teknologi dan Pengembangan DI Dr Andi Alisjahbana, Deputi Teknologi Dirgantara Lapan Prof Dr Soewarto Hardhienata, Kepala Pustekbang Dr Gunawan Prabowo, para deputi Bappenas, dan Tim Program N219.

Sejumlah pihak menyatakan, kunjungan Menteri PPN/Kepala Bappenas bisa diterjemahkan sebagai sinyal keseriusan Pemerintah terhadap proyek yang yang nantinya akan jadi portopolio pertama penggarapan pesawat terbang di Tanah Air. Dikatakan baru untuk pertama kali, karena memang baru kali inilah Indonesia menyiapkan seutuhnya sebuah pesawat terbang transpor, mulai dari struktur fisik sampai ke urusan dokumen kelengkapannya.

Dokumen kelengkapan tersebut -- di antaranya berupa type certificate application dan flight permit – selanjutnya akan diurus oleh DI ke Direktorat Kelaikan Udara Pengoperasian Pesawat Udara, Kementerian Perhubungan.  “Kedua pihak selanjutnya akan memastikan detail spesifikasi yang tepat untuk keperluan comformity approval. Dalam pembuatan NC-212 dan CN235, tahapan ini tidak ada karena semua sudah diselesaikan pihak CASA,” ungkap Bambang Tejasukmana.

“Ini artinya, jika semua bisa dikerjakan dan berhasil, Indonesia bisa baru bisa dikatakan mampu mengerjakan pesawat secara seutuhnya dan ini prestasi buat kita semua,” tergasnya.

Kerja antardepartemen


Angkasa mencatat, sejauh ini program N219 masih bergulir sesuai jadwal. Dua prototipe ditargetkan selesai akhir 2014 dan menjalani uji terbang setahun kemudian. Mengutip keterangan Pustekbang, sampai dengan akhir 2013, Tim Program N219 sudah merampungkan tahapan Preliminary-Design. Dalam tahapan yang telah berlangsung sejak pertengahan 2012 itu, mereka di antaranya telah menuntaskan seluruh rangkaian Power On Wind Tunnel Test pesawat  di fasilitas terowongan angin Pustekbang.

Di terowongan angin subsonik tersebut, model N219 skala kecil diberi hembusan asap untuk memastikan kualitas desain aerodinamisnya. Setelah ini, memasuki 2014, kedua pihak akan bahu membahu menggarap Detail Design, Fabrication & Assembly, lalu Ground Test serta Flight Test & Certification. Oleh karena keempat tahapan butuh waktu cukup panjang, penuntasannya akan berlanjut hingga 2015 bahkan 2016. Selain di Pustekbang, Rumpin, pengerjaan program juga dilakukan di fasilitas DI di Bandung, Jawa Barat.

Kepada Angkasa, Menteri Armida mengatakan, pemerintah menginginkan program ini tuntas karena pesawat yang akan dihasilkan bisa digunakan untuk ikut mendukung pembangunan perekonomian di banyak daerah terpencil. “Indonesia memang bisa membeli pesawat sekelas ini dari luar. Namun kalau bisa membuat sendiri, kenapa tidak dilakukan? Kalau pun ada yang harus dicermati, itu adalah tentang sistem kerja antardepartemen, proses produksi dan soal standarisasi komponen. Namun itu semua juga bisa kita kerjakan,” terangnya.

Kepala Lapan Bambang Tejasukmana mengungkap, untuk program N219, Pemerintah telah sepakat menggelontorkan dana Rp310 miliar pada tahun anggaran 2014 dan Rp90 miliar pada 2015. Sementara untuk pengerjaan di tahun 2016, akan dipastikan lebih lanjut setelah pemerintahan baru hasil Pemilu 2014 bekerja. Baginya, anggaran 2016 masih terbilang krusial karena akan digunakan untuk membiayai type certificate. Tanpa ini, pesawat tidak bisa diterbangkan dan belum boleh diproduksi.

N219 sendiri bukanlah satu-satunya program yang tengah digarap Pustekbang. Menyusul keberhasilan dalam rekayasa teknologi kendali penerbangan pada pesawat nirawak LSU-02 yang beberapa bulan terbang autonomous sejauh 200 kilometer di Pantai Selatan Jawa Barat, mereka telah menyiapakan proyek riset selanjutnya, yakni pembuatan Lapan Survelillance Aircfrat. Pesawat bermesin tunggal bodi ramping mirip glider ini sejatinya adalah pesawat STEMME 15 buatan Jerman.

“Di tengah segala keterbatasan dan usia unit yang masih tergolong muda ini, kami memang harus  berfikir strategis. Sementara sebagian SDM fokus pada  N219, sebagian lagi kami kirim ke Jerman untuk menguasai reverse-engineering glider yang biasa dipakai untuk misi surveillance,” kata Kepala Pustekbang Gunawan Prabowo seraya menambahkan bahwa tugas belajar itu dilakukan di STEMME, pabrik pesawat terbang ringan di Strausberg/Berlin.

Selain untuk misi surveillance, pesawat terbang ringan unik untuk dua awak tersebut juga akan diaplikasikan sebagai pesawat riset pemula. Sebagai pesawat surveillance yang unik dan dilengkapi berbagai peralatan elektronik, STEMME 15 juga akan dimanfaatkan untuk melakukan verifikasi dan validasi citra satelit, pemotretan foto udara, monitoring dan pemetaan daerah banjir, pemantauan titik panas kebakaran hutan, SAR dan misi riset Lapan lainnya.

STEMME 15 memiliki panjang badan 8,52 meter, rentang sayap 18 meter, maximum take-off weight 1.100 kilogram dan mampu terbang dengan kecepatan maksimum 314 km/jam dengan mesin tunggal Rotax 914 F2/S1. Sebagai glider sendiri, pesawat ini mampu terbang hingga ketinggian 7.620 meter di atas permukaan laut dan jarak jelajah (dalam moda jarak jauh) sampai 2.500 kilometer. ( Adrianus Darmawan | Angkasa)


Data Spesifikasi N219

  • Kecepatan jelajah maksimum            :   210 knot 
  • Jangkauan maksimum dengan muatan :   831 mil-laut
  • Stall-speed                                      :     59 knot
  • Jarak lepas-landas  (MTOW, ISA, SL)   :   426 meter
  • Jarak pendaratan (MLW, ISA, SL)        :   484 meter
  • Berat maksimum lepas-landas            :  7.030 kg
  • Muatan maksimum                            :  2.318 kg
  • Kapasitas bahan bakar maksimum       :  1.588 kg
  • Ketinggian jelajah maksimum            :  24.000 kaki
  • Mesin                                              :  2 x PT6A-42, 4 blades 
  • Tenaga lepas landas                          :  2 x 850 SHP

Korea Selatan Perkenalkan Konsep Internal Weapon Bay Pesawat Tempur KFX

Masa depan Fighter KF-X siluman Korea Selatan berbentuk seperti F-22, rongga senjata dirancang di dalam tubuh pesawat (internal weapon bay) dan dilengkapi dengan sistem radar AESA.

Korea Selatan Perkenalkan Konsep Internal Weapon Bay Pesawat Tempur KFX
Korea Selatan Perkenalkan Desain KFX C103-iA

Media Korea Selatan untuk pertama kali memperkenalkan dokumen rencana desain KFX-C103-iA pada bulan Agustus 2013 – sebuah proyek bersama untuk mengembangkan pesawat tempur siluman KF-X. Rencana rinci KFX-C103-iA dirancang atas dasar disain 103 C- Pusat Penelitian dan Pengembangan General CRDC Korea.


Rencana terbaru menunjukkan pejabat Korea Selatan melepas opsi Fighter C-203  dengan canard (pilihan lain dalam proyek KFX) dan melanjutkan pengembangan model C-103 sebagai pesawat tempur generasi siluman.

Fitur baru terbesar dari disain KFX-C103-iA adalah meningkatnya kapasitas daya angkut senjata yang terletak di badan pesawat (internal weapon bay). Pemikirannya, jika tidak ada internal weapon bay, maka fitur pesawat tempur siluman berkurang secara signifikan. Dengan meningkatnya kapasitas senjata yang bisa diangkut internal weapon bay, maka secara signifikan meningkatkan kemampuan tempur udara dan hal ini menunjukkan perbedaan yang jelas dengan C-103.


Fitur baru paling dominan dari KFX-C103-iA adalah peningkatan kapasitas internal weapon bay
Fitur baru paling dominan dari KFX-C103-iA adalah peningkatan kapasitas internal weapon bay
Dengan desain ini, untuk pertama kalinya Korea Selatan mengumumkan konsep internal weapon bay mereka secara lebih rinci. Hal ini sekaligus menunjukkan proyek KF-X telah memasuki tahap desain rinci. Pesawat tempur KFX C103-iA merupakan penyempurnaan desain dari C-103 dan C103-i, dimana C-103 belum memiliki internal weapon bay (IWB) sehingga hanya bisa mengangkut senjata 40% dari C103-iA. Sedangkan versi C103-i sudah memiliki IWB tetapi hanya bisa mengangkut bom Mk-83x seberat 500kg atau 60% dari C103-Ai. Pesawat tempur K/IFX C103-iA mampu membawa bom Mk-83x seberat 1000kg di luar rudal AIM series.


Diagram proses pengembangan pesawat tempur siluman Korea Selatan. Pada awal tahun 1999, Badan Pengembangan Pertahanan Korea Selatan (ADD) pertama kali mengusulkan proyek KF-X. Pada tahun 2001, Presiden Korea Selatan Kim Daejung menyetujui rencana pembangunan KF-X.



Dua pilihan desain proyek KF-X meliputi model C101 dan C201 dengan canard. Kedua model melangkah dalam pengembangan rencana dan akhirnya didapat model C103 turunan dari C101, yang mengembangkan desain senjata di rongga tubuh (internal weapon bay). Pejabat militer Korea Selatan, menyetujui model C-103.



Dilihat dari sudut ini menunjukkan rancangan KFX-C103-iA memiliki tingkat kemiripan besar dengan pesawat tempur siluman F-22, AS. Fighter  KFX memiliki 16 hardpoint untuk mengangkut rudal AIM-120, AIM-9x, dan bom Mk-84 JDAM, didalam IWB dapat mengangkut 6 AIM-120/2 AIM-120,(2 AIM-9x dan 2 Mk-84 JDAM).



Sruktur desain-ruang rangka senjata dan tata letak rak rudal udara ke udara jarak menengah dari KFX-C103-iA. Bentuk rampdoor memaksimakan jenis missile yang dapat dimuat. Setiap sisi didesin tajam untuk mengurangi pemantuan radar.



Penampilan eksternal KFX-C101 mirip dengan Pesawat F-22, namun sedikit lebih kecil dalam ukuran. Pesawat menggunakan desain model DSI inlet.

Gambar menunjukkan luas penampang bom bay KFX C103-iA lebih besar dari F-35 dan F-22  


Pengembangan internal weapon bay yang lebih besar menyebabkan perut KFX/IFX lebih berisi dibanding versi sebelumnya. KFX-C103-iA dirancang menggunakan perangkat yang mampu menerima bahan bakar di udara, seperti halnya pesawat tempur siluman F-22 dan F-35 yang menggunakan skema serupa.


AGM untuk mengurangi vektor udara masuk ke dalam lambung pesawat secara masif, yang sangat berbahaya bagi keseimbangan pesawat saat meluncurkan rudal.


Peluncuran roket dari weapon bay KFX-C103-iA.

Dengan teknologi “eject launcher” C-103-iA bisa menembakkan missile bahkan dalam posisi manuver ekstrim.



Radar KFX-C103-iA Korea menggunakan active electronically scanned array (AESA)/ active phased array radar dan sistem sensor optik “Electro-Optical Distributed Aperture System” EODAS. Sistem EODAS dari KFX tempur-C103-iA diatur di depan kokpit kaca depan. Desain ini mirip dengan tata letak pada Su-30/35 atau tempur SU T-50 Rusia.

Para Peneliti Korea Selatan membuat sendiri pola radar pemindaian elektronik aktif (AESA).
Skema Pengembangan KFX-C103-iA
Penerapan internal weapon bay menyebabkan dimensi badan pesawat menjadi lebih besar

Penggunaan teknologi hidrolik memaksimalkan ruang penyimpanan senjata dan membuat KFX C103-iA dapat melontarkan missile pada manuver ekstreem. penutupnya pun di design untuk tidak memantulkan sinyal radar.



Teknologi hidrolik eject launcher untuk penembakan missile yang lebih aman
Kapasitas rudal yang bisa diangkut oleh KFX/IFX C103-iA dibanding pesawat tempur lain
Perbandingan pesawat tempur KFX-C103-iA dengan pesawat lain di kelas Generasi 4,5

Optimalisasi pada vortex sayap meningkatkan trust vectoring pasawat agar mendapatkan peningkatkan daya serta penghematan bahan bakar

Desain sistem rem udara KFX-C103-iA mirip Sukhoi
Optimalisasi tailplane horisontal KFX-C103-iA
Vortex C103-iA pada saat kecepatan supersonic

Cantelan senjata eksternal KFX-C103-iA

Desain kokpit rencana KFX-C103-iA. Kanopi yang besar membantu memaksimalkan radar moto/radar mata atau manual sang pilot

Menurut media Korea Selatan, target produksi pesawat tempur siluman KF-X akan gagal mencapai target di tahun 2020 seperti yang direncanakan semula. KAI memperkirakan pesawat ini jadi pada tahun 2030- 2040. Hal ini menunjukkan kemampuan teknis Korea Selatan tidak cukup untuk melakukan penelitian dan pengembangan pesawat tempur siluman. Pemerintah Korea Selatan dituntut untuk lebih serius mendorong research and development dari pesawat tempur KFX-C103-iA.

Jika pesawat tempur siluman KFX beroperasi tahun 2030-2040, tentu Indonesia yang berpartisipasi  harus menyiapkan pesawat perantara menunggu hingga KFX beroperasi. Untuk stop gap tersebut, Korea Selatan juga kemungkinan memesan 40 pesawat siluman (stealth) F-35 Lockheed Martin yang akan digunakan Republic of Korea Air Force (ROKAF) pada tahun 2018-2021. (kienthuc.net.vn | JKGR )

TNI-AU Terim Tiga Pesawat CN-295 Buatan Dalam Negeri

Tiga pesawat angkut sedang jenis CN 295  buatan PT Dirgantara Indonesia (PT DI) diserahkan ke Skadron Udara 2 Lanud Halim Perdanakusuma, untuk memperkuat armada udara setelah selesai dalam pembuatannya, Kamis (9/1) di halaman Hanggar Skadron Udara 2. Pesawat baru bernomor ekor A-2903, 2904 dan 2905 tersebut merupakan rangkaian pesanan pemerintah dari total 9 pesawat CN 295 pada PT DI untuk menggantikan Pesawat Fokker 27.  Dua pesanan pertama Pesawat CN 295 telah diserahkan ke Skadron Udara 2 sejak Oktober 2012 lalu.

TNI-AU Terim Tiga Pesawat CN-295 Buatan Dalam Negeri

Dalam sambutannya Komandan Skadron Udara 2 Letkol Pnb Destianto Nugroho Utomo menyampaikan kedatangan tiga pesawat baru CN 295 tersebut akan didayagunakan sebaik-baiknya untuk pelaksaan tugas-tugas Skadron Udara 2 dalam hal  angkutan personel dan logistik, penerjunan pasukan dan logistik, evakuasi medis udara, patroli udara terbatas, maupun misi kemanusiaan lainnya. Untuk itu, Komandan Skadron Udara 2 berharaf kepada segenap crew dan personel Skadron Udara 2 agar dapat mengoperasionalkan dan merawat dengan baik.


Rangkaian acara penyerahan pesawat meliputi penyambutan kedatangan pesawat yang sudah diawaki crew  Skadron Udara 2, sambutan Komandan Skadron Udara 2, pembacaan doa, pemotongan nasi tumpeng kuning oleh Komandan Skadron, penyerahan pemotongan nasi tumpeng kepada crew Skadron Udara 2 dan ramah tamah.  Hadir dalam kegiatan tersebut pejabat Lanud Halim Perdanakusuma, Komandan satuan di Lanud Halim Perdanakusuma juga teknisi dari PT DI.  (ARC)

Ketika Fitur Pesawat Siluman, Tidak Lagi Dianggap Siluman

Prototipe pesawat siluman YF-22 mulai terbang tahun 1991 dan USAF berencana membeli total 650 pesawat. Model produksi F-22 Raptor mulai terbang tahun 1997 dan produksi pertama kali diserahkan ke Nellis Air Force Base, Nevada, pada Januari 2003. Pada 6 April 2009, MenHan Amerika Gates mengusulkan penghentian produksi pada tahun 2011, dengan total produksi tinggal 187 pesawat, minus yang jatuh/ rusak, antara lain alasannya adalah untuk mempercepat produksi F-35. Estimasi biaya per unit pada tahun 2011 adalah 411 jt USD.

Lockheed Martin F-35 Lightning II
Lockheed Martin F-35 Lightning II adalah keluarga dari kursi tunggal, bermesin tunggal, pesawat tempur generasi kelima multirole yang sedang dikembangkan untuk melakukan serangan darat, pengintaian dan misi pertahanan udara dengan kemampuan siluman. F -35 memiliki tiga model utama, yaitu F-35A adalah varian lepas landas dan mendarat konvensional, F-35B adalah varian take-off pendek dan vertikal dan F-35C sebagai varian berbasis kapal induk. Program F-35 Lightning II telah mengalami sejumlah pembengkakan biaya dan keterlambatan perkembangan.

Semua pesawat di atas adalah yang disebut pesawat tempur generasi ke-5, atau pesawat siluman/ stealth, atau “VLO”, yang tidak bisa/ sangat sulit dideteksi oleh radar lawan, atau dengan kata lain anti-radar. Dunia (termasuk kita) kagum dengan pesawat siluman/ stealth dan menobatkannya sebagai jagoan yang selalu tak terkalahkan dibandingkan dengan pesawat tempur generasi sebelumnya gen 4 dan 4+ atau pesawat non-siluman. F-22 Raptor praktis menjadi benchmark pesawat tempur dunia.

Apakah memang demikian ?.  Tulisan ini, sebuah diskusi akademik yang disarikan dari berbagai sumber, mencoba mencari tahu jawabannya.

Kelemahan utama pesawat siluman
Pesawat jet cepat (siluman atau bukan) harus dipahami sebagai “obyek udara berenergi”. Jumlah “pekerjaan” yang diperlukan untuk mendorong sebuah objek dari transonik hingga kecepatan supersonik akan menghasilkan panas. Gelombang kejut yang terjadi merupakan fungsi dari kompresi dan gesekan udara oleh pesawat dan oleh karena itu terjadi pemanasan (lihat Gambar 1).


Gambar 1 Gelombang kejut

Hubungan ini disebut termodinamika. Setiap kali gas (udara) dikompres (diperas) – akan memanas. Hal ini sering disebut sebagai ‘panas kompresi.’ Daerah khas pemanasan termodinamika (bukan bagian dari pembakaran) adalah yang disebabkan oleh gesekan-panas “kompresi” dari atmosfer (gas) dengan badan pesawat (airframe) ketika kecepatan meningkat. Ditambah lagi sumber panas gas buang dari nozel mesin sebagai akibat pembakaran di dalam mesin (lihat Gambar 2).


Gambar 2 Sumber pemanasan pada pesawat

Fitur “stealthy” F-22 mungkin memiliki kelemahan pertahanan terhadap deteksi dari sensor infra red airborne atau IRST yang diterbangkan pada ketinggian besar. Jika Raptor diterbangkan pada kecepatan tinggi dan ketinggian besar, terjadi pemanasan akibat gesekan badan pesawat dan kanopi, di samping sumber panas gas buang dari nozel mesin (Gambar 1, 2, 3,4 dan 6). Perlu dicatat bahwa pada 11.000 meter, temperatur atmosfer di luar adalah -56,5° C artinya di bawah nol, sedangkan temperatur karena gesekan udara adalah 54,4° C dengan kecepatan Mach 1,6 , dan 116,8 °C dengan kecepatan Mach 2; dengan kata lain, perbedaan temperatur antara pesawat dan udara ambien adalah lebih dari 100° C. Fenomena ini berlaku untuk semua pesawat tempur “VLO” pada kecepatan dan tinggi terbang tersebut.


Gambar 3 Sumber pemanasan gas buang

Gambar 4 Lingkungan pesawat terbang

Sensor IRST

Di atas disebutkan bahwa IRST (Infra Red Search & Tracking) yang dibawa pesawat terbang tinggi dapat mendeteksi fenomena pemanasan pesawat siluman (Stealth), dalam segala cuaca siang dan malam. Hujan dan awan memang berpengaruh, tetapi biasanya awan hanya terbentuk pada ketinggian 4000 m ke bawah. Dalam hal ini pesawat siluman tidak dapat menghindar (counter measure) karena ini adalah hukum alam/ fisika.

RCS – Radar Cross Section sasaran (Gambar 5) ditentukan oleh: 1) daya yang ditransmisikan ke arah sasaran; 2) jumlah daya yang mengenai sasaran dan dipantulkan kembali ke arah radar; 3) jumlah daya terpantul yang dicegat oleh antena radar; 4) lamanya waktu di mana radar ini menunjuk pada sasaran (TOT – time on target).


Gambar 5 Memindai VLO

Masalah di sini adalah IRST (sensor IR) dapat “diperintahkan” radar, untuk mengikuti apa pun pelacakan radar, atau sebaliknya radar “diperintahkan” IRST untuk melacak apa pun yang “dilihat” oleh sensor IR. Jadi pada dasarnya: “TOT – time on target “. (Perhatikan angka “1″ dan “4″ dari Gambar 5 ).

Ini konsisten dengan informasi publik yang ada yang menyatakan bahwa Stealth lebih suka menghadapi “scanning” radar dari pada  “tracking” radar.

Ingat Stealth secara efektif adalah sebuah ’radio spektrum airfoil’ dan niatnya adalah untuk secara pasif mengurangi kekuatan lawan “2″ dan “3″ . Stealth tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan “1″ dan “4″. Stealth dapat menghasilkan beberapa jenis radio / radar transmisi jamming – penipuan, tapi ini kemudian berpotensi mengungkapkan posisinya . Bukan masalah mudah untuk menyelesaikan problem pesawat tempur Stealth – yang memerlukan transmisi energi radio sendiri / kawan untuk menggunakan senjata utamanya di kisaran jarak. Masalah diperparah karena tanpa radio – transmisi – dukungan penargetan sendiri / kawan, awak pesawat Stealth bisa dipaksa untuk terbang ke pertempuran udara modern, lingkungan yang bermusuhan, dalam cakupan deteksi IRST sebelum Stealth dapat menembakkan senjatanya.

Sekarang lawan sudah lama dilengkapi dengan IRST seperti pesawat tempur Sukhoi Advanced Flanker Series (OLS),  Eurofighter Typhoon (PIRATE),  dan Rafale (FSO). Lihat Gambar 6, 7 dan 8. Gambar 6 menunjukan IRST pada Su-35 Flanker (kiri) and T-50/PAK FA (kanan). Salah satu saja dapat menyebabkan masalah besar bagi F – 22. Perhatikan distorsi – kilauan panas besar di latar belakang – panas yang dihasilkan oleh semua pesawat yang bertenaga – siluman atau sebaliknya , terlepas dari asal Negara.

Perlu diingat bahwa pesawat tempur seperti Flanker bisa menggunakan rudal menengah R-77 ‘Adder’ versi IR, terlepas dari apa yang terjadi (atau tidak terjadi) dalam spektrum radio (dengan kurang memperhatikan RCS). Juga Flanker tidak menggunakan radar untuk melacak sasaran pertempuran udara bermanuver agresif untuk solusi penembakan. Hanya IRST dengan  laser rangefinder yang diperlukan. Jadi adalah wajar untuk mengatakan Flanker dengan IRST memiliki kemampuan udara-ke-udara yang kuat.


Gambar 6 IRST pada Su-35 Flanker (kiri) and T-50/PAK FA (kanan).

Gambar 7 PIRATE (IRST) di Typhoon

Gambar 8 Sistem IRST and IFF Kamera Televisi di Rafale

Integrasi IRST ke dalam sistem senjata dapat menghasilkan sebuah pesawat yang sangat tahan terhadap manuver “Beaming” / “Beam -turn” / “Doppler-turn ” manuver yang digunakan oleh lawan untuk memecahkan penguncian radar – karena sasaran sekarang menyajikan peningkatan aspek panas ke sensor.

Catatan sejarah Perang Dingin membuktikan hal ini. Pesawat pencegat Soviet Mig -25 PD / PDS Foxbat dan khususnya MiG – 31 Foxhound secara rutin melacak sorti pesawat pengintai Amerika SR-71 Blackbird di perbatasan Pakta Warsawa hanya menggunakan saluran inframerah (IRST) MiG. Mereka hanya mengunci ke tanda tangan termal SR-71 yang sangat besar terbang pada kecepatan dan pada ketinggian – dilaporkan dari kisaran jarak lebih dari 100 km (62 mil). Foxbat dan Foxhound kemudian bisa mengunci Blackbird dengan radar utama mereka (info diperoleh dari IRST) ketika perintah diberikan untuk menyerang. Foxbat akan memakai 4 (empat) rudal R 40 (dua radar dan dua IR homing) dan MiG-31 Foxhound dengan R–33. SR-71 hampir pasti, akan tidak mampu mengatasinya bila ditargetkan dengan cara ini, yang selama ini tidak diketahui oleh publik.


Gambar 9 IRST pada MiG-31 (disebut peralatan multi-fungsi optical ‘OMB’) ditarik ke dalam hidung jika tidak digunakan

Apakah supersonik Raptor bisa mendekat dan manuver ke posisi tembak yang tak terlihat oleh sistem IRST masa depan yang modern telah menjadi sumber perdebatan dan kerahasiaan untuk beberapa waktu. Sistem-sistem IRST baru sangat sensitif yang bahkan pelepasan senjata rudal lawan dapat dideteksi dari semburan roketnya dan bahkan pemanasan kerucut hidungnya. Cukuplah untuk mengatakan bahwa perbaikan dan siklus–desain sensor IR tentu akan melebihi badan/ airframe pesawat siluman.

IRST pada Flanker (Gambar 6)  ini jelas terlihat tepat di depan kanopi. Lihat ukuran fisiknya. Sensor ini sepenuhnya terintegrasi ke dalam sistem senjata dan dapat memberikan isyarat target termal untuk radar, pilot atau keduanya. Menggunakan HMS (Helmet Mounted Sight) – penampakan : sensor, radar dan kepala pencari rudal – terlihat di mana pun pilot melihat.

IRST mungkin juga menggunakan data ‘APM – Atmospheric Propagation Model ‘ yang disimpan sendiri untuk secara efektif “membuat tebakan” kisaran relatif jarak, aspek dan kecepatan sasaran tanpa radar atau laser pengintai. Pada dasarnya kinerja sendiri sensornya dikonstruksi untuk membangun sebuah model sensitivitas terhadap benda yang dikenal pada jarak dan kecepatan dikenal. Kemudian selama masa perang ketika IRST melihat sesuatu – akan dibandingkan dengan data APM yang dimiliki  - dan sistem senjata kemudian mengekstrapolasikan kisaran jarak dan baringan sasaran.

Jadi pada dasarnya varian lanjutan Flanker (dengan rudal kelas IR seeker R-77) dapat mempengaruhi pertempuran melawan radio spectrum airfoil supersonik (F-22) dengan menggunakan – semua sensor yang tersedia – dalam lima (5) cara :
 

  1. Positif – Benar (Doppler): IRST menggunakan inframerah Doppler -shift w / APM untuk menentukan kisaran jarak sasaran. 
  2. Positif – Benar (Laser): IRST menggunakan inframerah dan memverifikasi jarak ke sasaran dengan laser range -finder .
  3. Positif – Benar (Radar): IRST menggunakan inframerah dan memverifikasi jarak ke sasaran dengan radar.
  4. Positif – Benar (Siklus): IRST menggunakan inframerah dan memverifikasi jarak ke sasaran dengan ulangi melalui langkah 1-2-3. 
  5. Dan akhirnya … Secara konsepsual seseorang/ pilot dapat bertindak pada – ‘ Positif – Salah ‘ – bahkan jika siluman adalah 100 % efektif dalam spektrum radio :
    • IRST memindai sesuatu.
    • Arahkan radar Anda ke situ.
    • Tidak ada pantulan radar kembali (atau hal aneh)? = Siluman.
    • Kami/ Kawan tidak memiliki siluman .
    • Pilih rudal R-77 IR – ‘ Tembak ! ‘

Rusia telah mengidentifikasi dua bidang utama untuk mengeksploitasi Raptor supersonik .Yaitu berputar di sekitar, dan berulang kembali ke dalam dua masalah ini :

• Senjata utama F-22 .

• Tanda tangan/ signature Termal F-22.

Logikanya jelas. Jika Raptor mencoba untuk memperbaiki situasi kinematiknya dengan menggunakan ketinggian tinggi dan kecepatan tinggi – dia akan meningkatkan paparan termal nya. Setiap usaha untuk mengurangi masalah propagasi termal – oleh kecepatan atau ketinggian rendah – berdampak langsung pada daya ( mengurangi jarak ) senjata utama dari Raptor.

Tidak ada jalan keluar …

Kelemahan lain pesawat siluman

Selain kelemahan utama seperti uraian di atas, Raptor juga mempunyai kelemahan lain :

1. Harga kelewat mahal.

Konsekwensinya tidak dibeli dalam kuantitas yang memadai (rencana semula 650 pesawat menjadi hanya 187 pesawat).

2. Biaya pemeliharaan yang mahal.

Ada tantangan untuk mempertahankan fitur siluman secara logistik setelah dicapai secara operasional. Bertambahnya usia pesawat siluman, meningkatan pemeliharaan LO yang diperlukan untuk mencegah degradasi fitur desain siluman yang unik. Pesawat sebelumnya  F-117 dan B-2 telah menderita “tingkat kapabilitas misi” rendah – yaitu, jumlah waktu bahwa pesawat tersebut dinilai tidak siap tempur – karena berlebihnya waktu untuk mengganti dan memperbaiki struktur dan permukaan terkait LO. Bayangkan apabila kondisi medan tempurnya seperti di Vietnam atau Indonesia, dengan hujan yang deras dan kelembaban sangat tinggi? Permasalahan tersebut telah diperburuk oleh kekurangan angkatan kerja terampil yang dibutuhkan untuk melakukan pekerjaan dan tuntutan pelatihan untuk menerbangkan jumlah pesawat yang terbatas, sehingga menunda perawatan yang dibutuhkan.

Tampaknya pasti bahwa F-22 yang supersonik, aerobatik dan F–35, termasuk yang berpangkalan di kapal induk akan menghadapi tantangan lingkungan dan logistik untuk mempertahankan fitur siluman mereka ketika dikerahkan ke garis depan.

Penutup
Pesawat siluman mempunyai kelebihan yang kuat, tetapi juga mempunyai kelemahan yang mendasar. Sampai sekarang, selain Amerika Serikat, baru Federasi Rusia dan China, yang mulai ikut mengembangkan pesawat siluman, antara lain karena kemampuan finansialnya selain teknologinya.

IRST adalah teknologi yang jauh lebih murah dan andal dibandingkan dengan VLO. Mungkin itulah sebabnya Negara maju Eropa serta Rusia lebih memilihnya dari pada VLO. Saat ini tingkat kemajuan IRST sudah hampir sama dengan kemampuan jarak sensor radar F-22. Tidak lama lagi hampir pasti akan melewatinya. Ingat bahwa sampai saat ini F-22 belum memiliki IRST, sedangkan F-35 memiliki Electro-Optical Targeting System (EOTS) dan Distributed Aperture System (DAS) yang optimal untuk sasaran di darat sesuai dengan misi utamanya yaitu ground attack bukan air dominance fighter.

Bagaimana dengan Indonesia? Kalau untuk memiliki pesawat tempur siluman semacam F-22 atau PAK FA, rasanya masih masuk kategori mimpi. Tapi untuk menghadapi siluman semacam F-35 cukuplah kita punya pesawat generasi 4++ semacam SU-35 atau Rafale. (written by Antonov).


Sumber : JKGR

Referensi

  • Airborne Infrared and Supersonic Stealth, http://theboresight.blogspot.com/2009/07/airborne-infrared-and-supersonic.html 
  • Lockheed Martin F-22 Raptor, http://en.wikipedia.org/wiki/Lockheed_Martin_F-22_Raptor
  • Lockheed Martin F-35 Lightning II, http://en.wikipedia.org/wiki/Lockheed_Martin_F-35_Lightning_II