Tampilkan postingan dengan label TNI AD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TNI AD. Tampilkan semua postingan

Helikopter Serbu AS 550 Fennec Segera Perkuat TNI AD

Sejumlah helikopter serbu ringan AS 550 Fennec akan memperkuat TNI Angkatan Darat (AD). Dari 12 unit yang dipesan TNI AD, beberapa helikopter yang diproduksi Eurocpter melalui PT Dirgantara Indonesia sudah bisa dioperasikan pada 2014 ini.

Helikopter Serbu AS 550 Fennec TNI AD

"Untuk 12 heli Fennec yang akan dibeli TNI AD, rencana tiba tahun 2014 dan 2015," sebut Kepala Dinas Penerangan TNI AD Brigjen Andika Perkasa dalam keterangan tertulis yang diterima Liputan6.com di Jakarta, Selasa (11/2/2014).

Namun Andika belum tahu berapa unit helikopter pesanan yang sudah jadi pada 2014 ini. Yang jelas, dari 12 unit yang dipesan itu, 8 unit akan ditempatkan di Squadron-12 Serbu Waytuba, Sumatera Selatan, 3 unit di Squadron-13 Serbu Tanjungredep, Kalimantan Timur, dan 1 unit di Pusdik Penerbangan TNI AD Semarang, Jawa Tengah.


Untuk mengoperasikan helikopter-helikopter serbu itu, saat ini TNI AD telah menyiapkan pilot beserta teknisinya. AS 550 Fennec berupa helikopter berbadan kecil dengan single engine ini merupakan bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) sesuai program Minimum Essensial Force (MEF).

"Kebutuhan SDM untuk operasional Heli Fennec disiapkan 23 penerbang dan 31 teknisi," tambah dia.

Sementara, untuk helikopter Apache yang dipesan dari Amerika Serikat akan tiba pada tahun 2017. Meski belum datang, TNI telah menyiapkan sejumlah personel.

"Kebutuhan SDM untuk operasional heli Apache direncanakan 24 penerbang dan 59 teknisi. Gelar heli Apache ini masih belum ditentukan," ujar Andika.

Helikopter AS 550 Fennec adalah helikopter militer ringan yang diproduksi Eurocopter grup, gabungan perusahaan Aerospatiale Prancis dan DaimlerChrysler Aerospace AG (DASA) Jerman.

Fennec dapat dilengkapi dengan senjata koaksial, roket, torpedo dan amunisi lainnya. AS 550 Fennec dapat menampung 6 orang, yakni 2 kru dan 4 penumpang. Helikopter yang menggunakan mesin Turbomeca Arril 2B ini mampu terbang selama 4 jam lebih dengan kecepatan maksimum 287 km/jam.  (Liputan9)

Menhan Tinjau Kesiapan Garasi Tank Leopard Di Yonkav 8 Pasuruan

Menhan RI Punomo Yusgiantoro, Senin (27/1) meninjau kesiapan dari garasi khusus Tank Leopard di Batalyon Kavaleri 8 (Yonkav 8) Divisi 2 Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad), Pasuruan, Jawa Timur.

Menhan Tinjau Kesiapan Garasi Tank Leopard Di Yonkav 8 Pasuruan

Sebelum meninjau, Menhan dengan didampingi Panglima TNI Jenderal TNI Dr. Moeldoko, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq, dan Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, menerima paparan dari Danyon Kav 8 Letkol Kav Otto Sollu terkait kesiapan Yonkav 8 untuk menerima kedatangan kendaraan tempur MBT baru Leopard buatan Jerman.  Turut mengikuti paparan tersebut Panglima Divisi 2 Kostrad, Mayjen TNI Agus.K, Pangdam V Brawijaya, Mayjen TNI Ediwan Prabowo, dan Kabaranahan Kemhan, Laksda TNI Ir. Rachmad.Lubis serta para pejabat lainnya dari Kemhan, Komisi I DPR dan TNI.


Dalam paparannya Danyon Kav 8 mengungkapkan bahwa kesatuannya sudah membangun garasi serta sarana pendukung lain untuk operasional Tank MBT jenis Leopard.

Bangunan garasi khusus Tank Leopard yang tersedia saat ini sebanyak 33 unit. Masing-masing garasi ini dapat menahan beban sekitar 70 ton.

Selain itu secara umum Yonkav 8 juga memiliki garasi Tank Pendukung sebanyak 5 unit garasi, garasi Transporter sebanyak 8 unit, garasi untuk kegiatan workshop 1 unit serta gudang munisi 1 unit.

Sementara itu, kesiapan sumber daya manusia untuk mendukung operasional Leopard, Yonkav 8 telah menyiapkan personil terlatih yaitu 60 orang komandan kendaraan, 60 orang pengemudi, 41 orang penembak, serta 41 orang loader. Disamping itu telah disiapkan tim teknisi berjumlah 24 orang, terdiri dari teknisi mesin 8 org, teknisi alkom 8 org dan teknisi senjata 8 org.

Usai menerima paparan, Menhan beserta rombongan meninjau lokasi garasi Tank Leopard.

Disela-sela peninjauan tersebut Menhan mengatakan bahwa rencananya Tank Leopard yang akan ditempatkan di Satuan Yonkav 8 ini sekitar 40 unit.  Menurut Menhan, garasi beserta sarana pendukungnya di YonKav 8 telah siap menerima Tank Leopard.

Sementara itu Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko mengatakan masih terdapat beberapa hal yang harus dipersiapkan di satuan Yonkav 8 tersebut, diantaranya lahan yang akan dipergunakan khusus untuk medan latihan manuver ataupun menembak dari Tank Leopard.

"itulah yang sedang kita pikirkan medan untuk manuvernya kavaleri khususnya untuk Main Battle Tank. kalo tidak ya nanti bisa mengganggu lalu lintas atau lingkungan sekitarnya." ungkap Panglima TNI.

Yonkav 8 merupakan satuan kavaleri yang mendapat kehormatan dan kepercayaan untuk menerima dan mengoperasikan Tank Leopard ini dengan kekuatan 1 Batalyon lengkap. (DMC)

LAPAN Kembangkan Anti Cyberwar dan Teknologi Penginderaan Jarak Jauh

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) diajak TNI AD mengembangkan teknologi penginderaan jarak jauh dan anti cyberwar. Hasil riset bersama ini bukan hanya untuk keperluan menghadapi pertempuran modern, namun juga operasi tanggap darurat bencana alam di daerah terpencil.

LAPAN Kembangkan Teknologi Penginderaan Jarak Jauh dan Anti Cyberwar

Nota kesepakatan kerjasama senilai Rp 3,5 miliar ini ditandatangani oleh KSAD Jend. Budiman dan Kepala LAPAN Bambang Tedjakusuma. Penandangangannya berlangsung di Mabes AD, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (21/1/2014).


"Kemampuan LAPAN dalam teknik satelit dan pengindraan jarak jauh diperlukan untuk survei, pengembangan roket peluncur dan pesawat intai tanpa awak. Ini mendukung perang melawan pembajakan dan terorisme yang memerlukan presisi dalam tembakan, manuver dan informasi," kata Jend. Budiman dalam sambutannya.

"Ke depannya bukan hanya digunakan dalam pertempuran generasi ke-4, namun dimanfaatkan juga dalam penanggulangan bencana alam," sambungnya.

Di dalam kerjasama ini LAPAN akan bergandengan dengan Direktorat Tofografi TNI AD untuk pemetaan geospasial. Pemetaan ini dalam pengembangannya mencakup peta kekuatan teroris dan daerah bencana alam yang selama ini masih tergantung kepada produksi luar negeri.

"Perlu kemandirian dalam industri pertahanan, berkaitan degan satelit dan pengendalian jarak jauh. Selain itu juga untuk menjaga kerahasian baik tertulis, lisan dan elektronik," jelas KSAD.

Kepala LAPAN Bambang Tedjakusuma di dalam sambutannya menyatakan sudah banyak riset yang dikembangkan dan bisa TNI AD manfaatkan. Di antaranya adalah roket peluru kendali presisi untuk pertahanan yang mempunyai daya jangkau mulai 15 km, 23 km, 36 km hingga 100 km.

"Kami juga punya database untuk penginderaan jarak jauh. Kerjasama ini juga kami jalin dengan TNI AL dan AU," ujar Bambang. (MetroNews)

Helikopter Apache AH-64E akan ditempatkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman mengatakan, TNI AD akan diperkuat dengan delapan helikopter tempur AH-64 Apache yang akan didatangkan secara bertahap mulai tahun 2015. "Secara bertahap helikopter tersebut akan kita datangkan mulai 2015 hingga 2017. Helikopter canggih buatan Boeing ini akan dioperasikan oleh para penerbang Angkatan Darat (Penerbad)," katanya di Samarinda, Kamis (23/1).

Helikopter Apache AH-64E akan ditempatkan di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur

Ia mengatakan, TNI AD tengah menyiapkan sejumlah titik untuk menjadi pangkalan senjata berawak ini. Menurut KSAD, salah satunya adalah di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Di kabupaten paling utara Provinsi Kaltim itu selain helikopter Apache, juga akan menjadi pangkalan heli tempur Agusta dan berbagai jenis pesawat lain.


"Indonesia membeli varian terbaru dari helikopter serbu tersebut, yaitu versi AH-64E. Sejak 2013, model ini oleh Amerika Serikat, negara pembuatnya, mulai dipakai untuk menggantikan AH-64D Longbow, yang di ASEAN dimiliki oleh Singapura.

Dia mengatakan, AH-64E memiliki mesin T700-GE-701D yang hemat bahan bakar dan lebih efisien sehingga dapat terbang lebih jauh, lebih lama, dan bisa membawa persenjataan lebih banyak. Rotornya terbuat dari bahan komposit yang lebih ringan namun lebih kuat yang membuat jenis heli ini terbang lebih cepat ketimbang seri D.

Jenderal Budiman mengatakan, harga delapan heli lengkap dengan persenjataan dan pelatihan pilot serta kru darat adalah 600 juta dolar AS. Selain Indonesia, katanya, Taiwan, India, dan Qatar juga sudah memesan AH-64E bersamaan dengan Korea Selatan dan Jepang. India bahkan bisa memaksa Boeing melakukan alih teknologi dengan membuat sebagian komponen untuk India di India.

Dia mengatakan, senjata utama Apache AH-64 adalah rudal AGM-114 Hellfire. Rudal ini dijuluki tank-killer atau penghancur tank, julukan yang didapatnya dari berbagai medan perang. Apache membawa 16 rudal Hellfire dibagi ke dalam 4 peluncur di sayapnya dengan jangkauan tembak hingga 12 km.

Senjata lapis kedua dari Apache adalah roket Hydra 70 mm yang dibawa dalam sepasang peluncur roket isi 19 roket. Untuk pertahanan udara, helikopter ini dilengkapi rudal AIM-9 Sidewinder dan AIM-92 Stinger. Heli ini juga bisa mengangkut rudal anti radiasi AGM-122 untuk menghancurkan instalasi radar musuh.

"Jadi kita tunggu saja," kata KSAD Jenderal Budiman. (ROL)

Helikopter TNI AD yang hilang di Kalimantan ditemukan selamat

Sebuah helikopter milik TNI AD berjenis Bell 412 hilang kontak di Tarakan, Kalimantan Utara. Pesawat ini hilang kontak karena cuaca buruk, Rabu (22/1) sore.

Helikopter TNI AD yang hilang di Kalimantan ditemukan selamat

Tim gabungan TNI AD dan TNI AU telah melakukan pencarian dan menemukan helikopter itu mendarat darurat karena cuaca buruk.

" Pesawat Heli Bell 412 EP No Registrasi HA-5166 milik TNI AD ternyata melakukan pendaratan darurat kemarin sekitar jam 15.00 WITA di Desa Long Tulip, Kec. Karang Mentarang, Kab. Malinau karena cuaca buruk," kata Kadispen TNI AD Brigjen Andika Perkasa, Rabu (22/1).


Pesawat yang dipiloti Kapten Simatupang itu membawa dua kru dan tujuh orang anggota Yon 100 Raider yang bertugas mengamankan perbatasan. Mereka semua selamat.

"Seluruh penumpang dan crew dalam keadaan selamat. Bila cuaca sudah memungkinkan hari ini, mereka akan terbang kembali ke Long Bawang," kata jenderal bintang satu ini. (Merdeka)

TNI AD dan Lapan Kembangkan Pesawat Tanpa Awak dan Rudal Jarak Jauh

TNI AD menandatangani nota kesepahaman (MoU) dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) untuk pengembangan rudal jarak jauh dan pesawat tanpa awak.

TNI AD dan Lapan Kembangkan Pesawat Tanpa Awak dan Rudal Jarak Jauh

Penandatangan nota kesepahaman itu dilakukan antara Kepala Staf TNI AD Jenderal TNI Budiman dan Kepala LAPAN Bambang S Tejasukma di Aula serbaguna Mabes AD, Jalan Veteran, Jakarta Pusat, Selasa.

MoU dibuat terkait perjanjian kerja sama antara Direktorat Topografi Angkatan Darat dengan LAPAN tentang pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi kedirgantaraan.


"Beberapa kemampuan LAPAN nanti akan kita manfaatkan untuk kepentingan TNI AD," kata KSAD Budiman.

Hal itu meliputi teknologi penerbangan roket, satelit penginderaan jarak jauh, sains antariksa, sains atmosfir dan teknologi UAV (Unmanned Aerial Vehicle) pesawat tanpa awak untuk melakukan pengintaian dan memonitor untuk mendukung program pembangunan pertahanan negara. Untuk kerja sama dengan LAPAN ini TNI AD mengeluarkan anggaran Rp3,5 miliar.

Ia menjelaskan teknologi penginderaan jarak jauh yang dimiliki LAPAN dapat membantu TNI dalam kepentingan survei dan mapping, geospacial inteligent, monitoring pengamanan wilayah.

"Kami akan melakukan pemantauan melalui satelit untuk menjaga wilayah perbatasan," ucapnya.

Untuk teknologi roket, LAPAN membantu pengembangan missile jarak jauh.

Budiman juga mengatakan keahlian LAPAN ini juga dapat mendukung TNI dalam tugas operasi seperti SAR, penanggulangan bencana alam, terorisme, dan sebagainya.

Kepala LAPAN, Bambang S Tejasukma, mengatakan kerja sama dengan TNI AD akan fokus pada pengembangan metoda dan membuat prototipe, yang diproduksi oleh perusahaan yang bergerak di industri pertahanan.

"Lapan tetap bekerja sama dengan industri untuk membangun kompetensi industri tersebut dalam melayani Angkatan Darat," katanya.

Ia mencontohkan, perusahaan di industri pertahanan yang biasa bekerja sama dengan TNI antara lain PT Pindad dan PT Dirgantara Indonesia.

Selain bekerja sama dengan TNI AD, LAPAN juga telah bekerja sama dengan TNI Angkatan Laut. Bahkan, ke depan LAPAN tengah menyusun kerja sama dengan TNI Angkatan Udara dalam pengembangan teknologi kedirgantaraan. (Investor)

2014, TNI AD Fokus Transformasi Organisasi

Mulai berdatangannya sejumlah alat utama sistem senjata (alutsista) membuat TNI Angkatan Darat memilih fokus melakukan tranformasi organisasi pada 2014.

2014, TNI AD Fokus Transformasi Organisasi

"Kami ingin mengedepankan transformasi TNI AD untuk menyiapkan diri menghadapi (periode) 2015-2019," kata Kepala Staf TNI AD, Jenderal Budiman, seusai membuka Rapat Pimpinan 2014 TNI AD di Markas Besar TNI AD, Jakarta, Rabu (15/1).

Transformasi tersebut, lanjut Kasad, akan disesuaikan dengan perkembangan lingkungan strategis yang mungkin dihadapi Indonesia pada lima hingga sepuluh tahun ke depan. Menurutnya, transformasi dilakukan agar TNI AD semakin profesional dan mampu menjawab tuntutan dan perkembangan zaman.


"Kami akan menyampaikan materi strategi transformasi bidang pertempuran dan teritorial kepada peserta rapim, termasuk mendengarkan materi paparan dari panglima kodam terkait transformasi TNI AD di wilayah kodam," kata dia.

Rapim 2014 TNI AD diikuti 122 peserta yang terdiri dari para panglima komandan utama, para kepala bagian pelaksana pusat, serta para staf dan asisten TNI AD. Hadir pula sejumlah peninjau.

Budiman melanjutkan perkembangan sosial kemasyarakatan membuat TNI AD harus segera mentransformasi diri. "Perlu ada perencanaan dalam suatu transformasi untuk membentuk prajurit modern, efisien, efektif, tapi tak meninggalkan militansi," jelasnya.

Dia menjelaskan tranformasi lebih pada upaya mendesain konsep keorganisasian TNI AD hingga 20 tahun ke depan. Rencana itu akan dibuat lebih mendetail pada setiap lima tahun.

Perencanaan, kata dia, dibagi sesuai fungsi utama TNI AD, meliputi pertempuran, teritorial, dan pembinaan kekuatan/dukungan.

Pertambahan alutsista membuat TNI AD harus segera mendesain ulang organisasi. Jika dulu TNI AD hanya memiliki meriam 105 mm yang jarak ledaknya hanya 12 kilometer, saat ini sudah memiliki meriam 155 mm dengan daya jangkau 42 kilometer.

TNI AD juga sudah memiliki Multilauncher Rocket System (MLRS) dengan daya jangkau hingga 100 kilometer. "Kita juga punya tank (Leopard) yang kapabilitasnya luar biasa," ujarnya.

Ada pula penangkis serangan udara yang kemungkinan perkenaannya mencapai 96 persen. Semua itu bisa didapat walaupun anggaran belanja pertahanan Indonesia masih kurang dari 1 persen GDP. "Bahkan, kita sudah bisa membuat beberapa alutsista sendiri," lanjutnya. (KJ)

Kasad Uji Coba Kapal Tempur Pesanan TNI AD

Kepla Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Budiman saat melaksanakan Kunjungan ke PT Tesco, di kampung Pasar Emas Desa Buni Bakti Kecamatan Babelan Kabupaten Bekasi, Selasa (14/1/2014). Kunjungan tersebut dalam rangka melihat hasil produksi pembuatan kapal Khusus TNI AD.  Turut hadir  Asops Kasad, Aslog Kasad,  Pangdam Jaya, dan para Pejabat Tinggi TNI AD.

Kasad Uji Coba Kapal Tempur Pesanan TNI AD

Pada kesempatan tersebut, Kasad Jenderal TNI Budiman bersama rombongan melakukan uji coba (test drive) kapal yang sudah dipesan TNI AD sebanyak 10 unit, salah satunya Kapal jenis KMC Komando, di Kali CBL. Kapal tersebut dirancang khusus untuk pengamanan wilayah teritorial perbatasan sungai dan laut di Indonesia, serta mencegah terjadinya penyelundupan antar pulau dan negara yang melalui perairam sungai dan laut.
 


Menurut PT Tesco, Kapal yang dipesan oleh TNI AD dengan jenis khusus yang tidak menyerupai kapal-kapal tempur lainnya yang dimiliki TNI AL. Karena jenis kapal ini bukan janis kapal tempur, melainkan kapal ini untuk pengamanan wilayah pulau.

“Dari 10 unit Kapal ini di design secara khusus dan dilengkapi dengan senjata otomatis serta mesin buatan Amerika, yang berkekuatan tinggi untuk melawan derasnya arus air serta berkecapeatan tinggi,” katanya.

Kasad Jenderal TNI Budiman usai  uji coba kapal KMC Komando menyampaikan rasa bangga dan puas dengan buatan negara sendiri yang begitu bagus, bahkan kualitasnya pun tidak kalah dengan buatan luar negeri.  “Kenapa kita harus pesan kapal atau perlengkapan lain ke negara luar, kalau dinegara sendiri bisa membuatnya dengan sesepurna ini,” katanya,

Sementara itu, selain mengunjungi PT Tesco, Kasad  beserta rombongan juga melaksanakan kunjungan ke kantor Koramil Babelan. Pada kesempatan tersebut,selain  melihat kondisi kantor koramil Kecamatan Babelan, Kasad juga berkesempatan Tatap Muka dengan Komandan Korem, Komandan Kodim dan Danramil Kabupaten Bekasi.

Kasad menekankan kepada aparat teroritorial untuk meningkatkan pengawasan setiap wilayah, sehingga  keamanan dapat terjaga dengan baik . Dan yang lebih utama TNI harus  cepat tanggap terhadap kondisi yang terjadi di wilayah. “Apalagi saat ini musim penghujan dan sering terjadi banjir dimana-mana, TNI AD harus cepat dan tanggap serta memiliki sikap yang peduli terhadap warga serta masyarakat yang sedang tertimpa musibah.”ujar Kasad. (POL)

TNI AD Lirik Pesawat Tanpa Awak Buatan Undip

Dekan Fakultas Sains dan Matematika (FSM) Universitas Diponegoro Dr Muhammad Nur menyatakan, Indonesia bisa menjadi negara unggulan teknologi kalau  pemerintah mau mengakomodasi inovasi anak-anak muda dari berbagai penjuru Indonesia.

TNI AD Lirik Pesawat Tanpa Awak Buatan Undip

Hal tersebut dikatakan Muhammad Nur di kampus setempat saat menerima dua mahasiswa jurusan Fisika FSM Muhammad Izzudin Shofar dan Havez Varirani Al Kautsar usai meraih penghargaan Juara II Lomba Karya Cipta TNI AD dari Litbang TNI AD.

Karya mereka berupa pembuatan model pesawat tanpa awak dengan tambahan teknologi telemetri dan multi fungsi. Kedua mahasiswa ditemani PD III FSM Ngadiwiyana Ssi,Msi.
 


“Indonesia ke depan akan menjadi negara luar biasa hebat kalau pemerintah mau memakai inovasi dan kreasi anak-anak muda yang hebat-hebat dari segala penjuru negeri ini,” ujar Muhammad Nur yang kami muat (3/1/2014).

Sedang Izzudin dan Havez menyatakan lomba yang dilaksanakan Litbang TNI AD di Jakarta dan Surabaya ini berlangsung pertengahan Desember 2013. Lewat karya model pesawat tanpa awak  ini, Izzudin dan Havez meraih Juara II dan berhak atas hadiah Rp 35 juta, serta menjadi semacam konsultan untuk TNI AD kalau nantinya karya tersebut dibuat riil oleh TNI. (POL)


Pasukan Perbatasan Papua Siaga dan Waspadai OPM

Puluhan foto petinggi Organisasi Papua Merdeka (OPM) disebarkan ke prajurit yang akan bertugas di perbatasan Papua dan Papua Nugini. Tujuannya agar mereka bisa mengenal siapa saja yang patut untuk diwaspadai pada saat mereka bertugas di wilayah tersebut.


"Walaupun kerawanannya sudah menurun, namun kita harus tetap siaga," kata Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam), Mayor Jenderal Dicky Wainal Usman, di sela-sela penyiapan Satuan Petugas Pengamanan Indonesia-Papua Nugini, di Markas Komando Batalyon Infanteri 623/Bhakti Wira Utama, Sungai Ulin, Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Jumat (27/12).‬‬


Kodam Mulawarman menyiapkan 650 personel untuk mengamankan perbatasan Indonesia dan Papua Nugini selama sembilan bulan. Mereka akan mulai bertugas pada akhir Februari 2014 mendatang.
Sebelum diberangkatkan ke Papua, para personel yang berasal dari

Yonif 623/BWU dan Yonif 600/Raider itu harus melakukan latihan pratugas selama tiga minggu. Pratugas ini difokuskan pada persiapan tempur dan teori penyergapan. Selain itu, mereka juga dibekali keahlian bersosialisasi untuk melakukan pendekatan terhadap masyarakat setempat.

Selain persoalan OPM, Pangdam juga menekankan bahaya serangan malaria. Dia meminta petugas medis menyiapkan segala keperluan agar sebelum menginjak Papua para prajurit sudah dibekali imunitas tinggi terhadap malaria. "Malaria menjadi tantangan bagi kalian. Kalau terkena itu, kita tak bisa bekerja. Apalagi terkena malaria tropika," katanya.

Selain malaria, Dicky juga meminta prajuritnya menjaga perilaku terkait tinggi kasus HIV/AIDS di Papua. "Penyakit sipilis pun harus kalian waspadai," ujarnya.

Personel akan dihadapkan pada kondisi alam Papua yang ekstrem. Perjalanan dari Kalimantan ke Papua pun membutuhkan waktu hingga satu bulan. Dimulai dengan menggunakan kapal dari Pontianak ke Papua yang menghabiskan waktu tiga minggu, dilanjutkan dengan perjalanan darat sekitar 75 kilometer.

Belum sampai di situ, para prajurit pun harus melanjutkan perjalanan dengan pesawat angkut dan kemudian berpindah ke helikopter. Turun dari helikopter, mereka masih harus melakukan perjalanan selama sehari dengan rute menanjak sebelum akhirnya tiba di daerah perbatasan.

Fokus di Jayapura

Komandan Yonif 623/BWU, Mayor Singgih Pambudi Arinto, mengatakan pengamanan di perbatasan RI-Papua Nugini akan difokuskan di sektor Jayapura dan Keerom. Singgih menambahkan para prajurit juga akan membantu petugas imigrasi dan bea cukai, selain menjaga perbatasan.  (KJ)

Celah Menuju Kemandirian Industri Pertahanan

Kepala Staf TNI AD (Kasad), Jenderal Budiman, dalam berbagai kesempatan, berujar bahwa 90 persen persenjataan yang dipakai pasukan infanteri adalah buatan industri dalam negeri.

Celah Menuju Kemandirian Industri Pertahanan
Kepala Staf TNI AD (Kasad), Jenderal Budiman
 
Senjata-senjata yang dipeluk dan dipanggul para prajurit TNI ADA saat bertugas maupun defile mayoritas buatan PT Pindad. Senjata-senjata itu pula yang membawa nama harum Indonesia dalam berbagai kompetisi ketepatan menembak.

Kasad berharap kebanggaan itu menular pada alat utama sistem senjata (alutsista) di sektor lain, terutama untuk alutsista berat yang ditunggangi prajurit kavaleri dan artileri.

"Kita memang belum sanggup membangun alutsista kompleks seperti tank Leopard, tapi kita sedang dalam tahap menuju ke sana," kata Budiman optimistis.


Optimisme itu beralasan karena PT Pindad sudah mampu membangun panser Anoa yang sebagian besar produksi dalam negeri. Pindad sedikit-sedikit juga membangun kendaraan tempur berbagai tipe. Tentu saja itu merupakan cikal bakal membangun kendaraan lapis baja sekelas tank.

Apakah itu pernyataan gagah-gagahan dari seorang kepala staf? Kementerian Pertahanan (Kemhan) menyatakan bahwa pertahanan mutlak diperkuat. "Bangsa yang kuat adalah bangsa yang kuat pertahanannya," kata Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro.

Sejak 2010, pemerintah sudah mulai merapatkan barisan untuk membangun kekuatan pertahanan yang tangguh. Apalagi negara-negara di Asia Tenggara sudah diperkuat dengan peralatan perang yang canggih.

Kemhan sudah membuat daftar utama ancaman yang mungkin terjadi terhadap negeri ini. Tentunya bekerja sama dengan Kementerian Luar Negeri dan Badan Intelijen Negara. Salah satu ancaman nyata yang sempat menyembul adalah penyadapan yang dilakukan Australia dan

Amerika Serikat terhadap sejumlah petinggi negara.
Purnomo berharap pembangunan kekuatan pertahanan diikuti dengan penguatan peraturan perundangan dan keputusan politik dari anggota parlemen. Pemerintahan mendatang juga harus kuat komitmennya membangun pertahanan. "Kalau presidennya tidak mengerti militer, bisa saja tidak berlanjut. Jadi, komitmennya harus kuat," kata dia.

Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin, yakin sepuluh tahun ke depan, tepatnya 2024, kekuatan pertahanan Indonesia sudah mandiri. Dia optimistis industri pertahanan dalam negeri, swasta, dan badan usaha milik negara (BUMN) sanggup memproduksi alutsista sendiri.

Kapal Selam

Cikal bakal itu sudah terlihat ketika perusahaan Korea Selatan, Daewoo Shipbuilding and Marine Engineering (DSME), mau bekerja sama dengan PT PAL membuat tiga kapal selam. Indonesia diperkirakan bisa membuat kapal selam sendiri pada produksi ketiga kapal selam itu. "Sepuluh tahun mendatang kita berharap PT PAL sudah bisa membuat kapal selam sendiri," kata Sjafrie.

Masih dengan Korea Selatan, PT Dirgantara Indonesia juga dilibatkan membuat pesawat tempur generasi 4,5 yang rencananya diberi nama KFX.

Proyek ini, walaupun sempat tersendat, masih terus berjalan bekerja sama dengan Republic of Korea Air Force (Rokaf).
Sebagai perbandingan kecanggihan, pesawat ini memiliki radius serang lebih tinggi 50 persen dari pesawat F-16 yang menjadi andalan Amerika Serikat. Bahkan, KFX dilengkapi kemampuan antiradar atau stealth.

Melalui Komite Kebijakan Industri Pertahanan (KKIP), Indonesia berkomitmen membangun kemandirian industri dalam negeri. Sjafrie, yang merupakan sekretaris KKIP, menyatakan sekuat tenaga Indonesia harus bisa secepatnya membangun kekuatan pertahanan sendiri.

Jika belum bisa, diusahakan untuk melakukan alih teknologi. Dengan catatan kerja sama alih teknologi harus setara dan jangan sampai industri kita dirugikan. Saat ini, sejumlah alutsista yang dibeli dari luar negeri sudah berderet.

Salah satu yang membetot perhatian adalah kedatangan dua tank bobot berat Leopard 2A4 dan tank sedang Marder dari ratusan yang dipesan. Keduanya merupakan produksi dari Jerman. Dari pembelian yang tak lebih dari 280 juta dollar AS itu, Indonesia akan dibimbing untuk bisa memperbaiki kerusakan kecil maupun besar. "Diharapkan ke depan kita bisa membuat sendiri," kata Sjafrie.

Dari tahun ke tahun, anggaran untuk pengembangan alutsista semakin besar. Pada 2010 saja, anggaran untuk membangun kekuatan pokok pertahanan mencapai 42,3 triliun rupiah. Pada 2014 naik hampir dua kali lipat menjadi 83,4 triliun rupiah. Tentu saja menjadi amat strategis. Jika diikuti dengan pengawasan yang ketat, dijamin kekuatan pokok pertahanan kita akan segera terbentuk lima tahun mendatang.

Anggota Komisi I DPR, Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati, mengatakan kabar yang baik jika pertahanan Indonesia terus diperkuat. Apalagi perkuatan itu dilakukan di semua matra, baik darat, laut, maupun udara. Namun, dia mengingatkan agar sumber daya manusia pengawaknya juga harus diperhatikan. "Pelatihan-pelatihan terhadap pengawak melalui pendidikan formal dan nonformal harus mulai diperbanyak," kata Susaningtyas.

Kualitas Dijaga

Khusus alutsista produksi dalam negeri, dia berharap kualitasnya dijaga sesuai ketentuan internasional. "Jangan sampai begitu akan dipakai kondisinya ringkih," kata dia. Keberadaan KKIP, tambahnya, sangat membantu menuju ke arah kemandirian.

Untuk itu, dia menekankan perlu ada budaya korporasi (corporate culture) yang baik dari BUMN industri pertahanan Indonesia. "BUMN kita harus berimbang dengan industri pertahanan dari negara yang biasa membuat alutsista agar kualitasnya baik," katanya. (KJ)

YONKAV 8/2 KOSTRAD Lakukan Acara Tradisi Penerimaan Tank Leopard dan Marder

Pada hari Senin tanggal 23 Desember 2013 bertempat di pintu gerbang utama Yonkav 8/2 Kostrad, Komandan Batalyon Kavaleri 8/2 Kostrad Letkol Kav Otto Sollu, SE beserta Persit dan prajurit Narasinga menerima kedatangan Alutsista terbaru Kavaleri TNI AD jenis Tank Leopard 2A4 dan Tank Marder dalam suatu acara tradisi yang sederhana namun khidmat.

YONKAV 8/2 KOSTRAD Lakukan Acara Tradisi Penerimaan Tank Leopard dan Marder
 
Alutsista baru Tank Leopard 2A4 dan Tank Marder baru tiba di Asrama Yonkav 8/2 Kostrad, setelah sebelumnya dipamerkan dalam pameran Alutsista dalam rangka Hari Juang Kartika TA. 2013 di Makodam V/ BRW. Perjalanan dari Makodam V menuju Asrama Yonkav menggunakan Trailer khusus dan dikawal oleh petugas dari Pomdam V serta perwakilan dari Pussenkav.


Rangkaian acara tradisi meliputi penyerahan simbolis kunci Tank, penyiraman air bunga serta penyambutan oleh seluruh warga Yonkav 8 baik prajurit, Persit maupun anak-anak. Seluruh warga terlihat antusias menerima kedatangan Alutsista baru tersebut di Yonkav 8. Acara ini merupakan momen bersejarah bagi satuan Yonkav 8 karena diberikan kepercayaan oleh TNI AD dan Negara untuk mengawaki Alutsista terbaru Kavaleri TNI AD berupa Tank jenis  MBT (Main Battle Tank) yang merupakan salah satu tank “TERBAIK” di dunia saat ini. Dengan kedatangan Tank canggih tersebut, diharapkan semakin memperkuat kekuatan militer bangsa kita, dan meningkatkan “Bargaining Position” Negara kita di dunia Internasional.






 Sumber : Yonkav8

Tahun 2014 Taring TNI Semakin Tajam

Kejutan menyenangkan datang di akhir tahun 2013 ini. Sejumlah pengadaan alutsista yang termaktub dalam MEF terus berlangsung, bahkan di percepat. Salah satu yang cukup menonjol dan baru terdengar adalah pengadaan taring-taring baru untuk TNI-AU. Di tahun 2014 nanti, akan ada pengadaan untuk rudal udara ke udara jarak pendek, menengah hingga bom pintar.


Rudal yang dimaksud tak lain tak bukan adalah AIM-9X untuk jarak pendek serta AIM-120C untuk jarak menengah. Dari data yang ARC dapatkan, pengadaan untuk AIM-9X adalah sebanyak 30 buah aktif dan 20 buah captive senilai 150 milyar rupiah. Lalu untuk pengadaan AIM-120C adalah senilai 460 milyar rupiah untuk 20 buah rudal aktif dan 20 buah rudal latihan. 



Selain itu, Kementrian pertahanan juga merencanakan membeli 100 buah kit JDAM senilai 220 milyar rupiah. Ada pula rencana pembelian Flare, Pod Lantirn dan Sniper, dan lain sebagainya. Untuk jelasnya, simak daftar dibawah ini. Bisa ditebak, semua pengadaan ini terkait dengan pengadaan F-16 hibah dari Amerika serikat.


Selain untuk TNI-AU, pengadaan yang lumayan cetar membahana adalah untuk TNI-AD. Pendanaan untuk helikopter Apache, Blackhawk hingga Chinook sudah dianggarkan. Nantinya, TNI AD akan membeli 8 buah Apache, 17 buah Blackhawk serta 3 buah Chinook. Tidak ketinggalan tambahan 80 unit Tank Marder untuk memperkuat satuan lapis baja TNI-AD.

 

Sementara untuk TNI-AL, rencana pengadaan yang ada adalah kelanjutan yang pernah disinggung sebelumnya. Seperti pengadaan PKR, rudal Mica, serta lainnya. Nah, bagaimana? kado akhir tahun yang manis bukan? (ARC)

TNI AD Gandeng Universitas Untuk Modernisasi Alutsista

Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat (AD) mengupayakan proses modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) dari hasil riset yang bekerja sama dengan perguruan tinggi atau universitas.

Kasad Jenderal TNI Budiman memberikan keterangan pers tentang kecelakaan Helikopter Mi-17 di Kalimantan, di Lanumad A. Yani Semarang, Jateng | Foto : Antara

"Nanti, apabila sudah mencapai tingkat keekonomisan, itu bisa diproduksi untuk kami," kata Kepala Staf TNI AD (Kasad) Jenderal (TNI) Budiman selepas memimpin peringatan Hari Juang Kartika di lapangan Komando Daerah Militer V/Brawijaya Surabaya, Minggu (15/12).

Kasad mengatakan salah satu peralatan TNI AD dari hasil kerja sama dengan perguruan tinggi dan swasta yaitu radio komunikasi jarak jauh.

"Radio ini bekerja secara digital, tapi ada juga sebagian yang dapat dioperasionalkan secara manual sehingga prajurit-prajurit yang di lapangan atau tempur dapat menggunakannya," katanya.


Radio komunikasi jarak jauh 8078 itu dilengkapi kemampuan anti-pengacak sinyal, enkripsi agar tidak mudah tersadap, dan sistem pemosisian global (GPS).

Sebelumnya, Kasad mengatakan alutsista produk dalam negeri yang sudah dimiliki TNI AD yaitu kendaraan Anoa, Komodo, dan tank Tarantula.

"Kendaraan itu adalah bentuk kavaleri masa depan dengan wilayah berinfrastruktur yang mempunyai jaring jalan cukup bagus," katanya.

TNI AD memamerkan sejumlah alutsista di lapangan Kodam V/Brawijaya Surabaya sejak 12 Desember hingga 17 Desember 2013.

Beberapa alutsista yang ditampilkan untuk memperingati Hari Juang Kartika itu antara lain: tank Leopard, tank Marder 1A3, 14 unit tank Tarantula, 13 unit tank AMX 105 mm, 13 unit tank Anoa, dua unit tank Panhard, dua unit tank Saladin, 45 unit tank Scorpion, dan dua unit tank Scorpion non 90.

Selain itu, tank Stormer Komando, tank Stormer APC, enam meriam 105 mm/Tarik M101, enam meriam 105 mm, 12 meriam 57mm, enam rain metal 20mm, tiga unit helikopter Bolco 105, tiga helikopter serbu MI-35 (Rusia), empat helikopter serbu MI 17 (Rusia), dua helikopter Bell 205, dan tiga helikopter Bell 412. (BeritaSatu)

TNI AD Harus Dekat Dengan Rakyat

Anggota Komisi I DPR Susaningtyas Nefo Handayani Kertopati mengatakan menjelang peringatan Hari Juang Kartika atau Hari Infanteri TNI Angkatan Darat (AD) Ke-68 pada 15 Desember 2013, prajurit TNI AD harus lebih mendekatkan diri kepada rakyat.

TNI AD Harus Dekat Dengan Rakyat

"TNI AD dari dulu tumbuh sebagai tentara rakyat, merupakan keniscayaan untuk bersinergi dengan rakyat, jangan jadi alat kekuasaan apalagi sebagai centeng pengusaha. Saya lihat sudah semakin tertata, tapi perlu peningkatan kesejahteraan, jadi tidak ada lagi yang nyambi," kata Susaningtyas, di Jakarta, Jumat.

Politisi Partai Hanura ini juga menekankan hal terpenting dari semangat Juang Kartika itu harus memiliki keinginan menjaga kedaulatan NKRI secara utuh.


"Utuh dalam artian menjaga dari ancaman terhadap kehidupan ipoleksosbud serta memiliki visi pertahanan holistik," kata wanita yang mendalami masalah intelijen ini.

Tak hanya itu, wanita yang akrab disapa Nuning ini, mengatakan, peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) juga tak kalah pentingnya.

"Itu semua harus dibarengi dengan peningkatan kesejahteraan prajurit dan penguatan alutsistanya. Tentu itu semua dibutuhkan politik anggaran yang mendukungnya. Ini semua bisa terlaksana bila parlemen dan pemerintah mendukungnya," tuturnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya AD berbenah diri dalam turut menjaga kehidupan HAM dan kemesraan dengan matra lain, termasuk polisi.

Sementara itu, Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq mengatakan TNI AD dalam bersinergi bersama rakyat harus terus diperlukan penguatan jiwa dan perilaku kemanunggalan.

"Bukan saja dari sisi program yang terus berjalan tapi juga pembinaan karakter sosial prajurit yang manunggal dengan rakyat. Sehingga kedepan tidak ada lagi kasus-kasus kekerasan yang melibatkan oknum prajurit dengan warga sipil," ujarnya.

Mahfudz pun meyakini TNI AD akan tetap menjadi inti kekuatan pertahanan mengacu kepada kondisi geografis dan demografis Indonesia.

"Kemampuan individual dan tempur TNI AD tetap bagus, meski di tengah keterbatasan sarana-prasarana, alutsista dan kesejahteraan. Mulai tahun ini ada peningkatan berarti di tiga aspek tersebut. Dan dalam rencana strategis (renstra) lima tahun kedepan, penguatan matra darat akan lebih diprioritaskan," jelasnya.

Menurut dia, penguatan TNI AD karena menyangkut urgensi fungsi-tugas TNI AD dalam menjaga wilayah darat Indonesia, khususnya di perbatasan dan dalam fungsi perbantuan mengatasi gejala-gejala konflik horizontal yang masih kerap terjadi. Selain melaksanakan tugas dalam menjaga keutuhan NKRI, kesejahteraan prajurit TNI AD juga perlu diperhatikan.

"Kesejahteraan prajurit masih perlu ditingkatkan, terutama dari sisi sarana perumahan, layanan kesehatan dan tunjangan operasional. Ini jadi perhatian serius Komisi I DPR," katanya.

Sebelumnya, Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, mengatakan, upaya yang dilakukan oleh TNI dalam mendekatkan diri kepada rakyat, yakni dengan melakukan berbagai kegiatan seperti Ekspedisi NKRI, pelibatan ketika terjadi bencana alam hingga Tentara Manunggal Membangun Desa (TMMD) untuk percepatan pembangunan.

"TMMD adalah usaha dalam mewujudkan tugas TNI. Dalam konteks ini, TNI harus bisa memahami dan menangkap pemikiran bahwa masih ada potensi yang bisa dikembangkan dalam memacu dan mempercepat penuntasan kesejahteraan rakyat bagi masyarakat yang belum tersentuh pembangunan," ujar Panglima TNI.

Ia mengatakan, TNI memiliki pengabdian yang tulus, mewarisi nilai perjuangan masa lalu yang hidupnya tidak lepas dari ruh-nya rakyat, tentu terpanggil untuk berbuat bersama komponen lainnya membantu negara dalam mewujudkan amanah konstitusi.

Pada perspektif keamanan, TMMD memiliki relevansi dalam upaya mengamankan wilayah perbatasan dan memberdayakan wilayah pertahanan serta kekuatan pendukungnya secara dini sesuai dengan sistem pertahanan semesta, dalam mempertahankan wilayah dan menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Sedangkan pada perspektif kesejahteraan, TMMD diarahkan dalam rangka membantu tugas pemerintah daerah, membantu menanggulangi akibat bencana alam, pengungsian dan pemberian bantuan kemanusiaan serta sebagai upaya membantu percepatan pembangunan dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat. (Antara)

Dua penerbang Lanud Supadio capai 1.000 jam terbang

Setelah dilikuidasi beberapa tahun lalu pada zamannya Panglima TNI (dulunya Panglima ABRI) alm Jend Purn Benny Moerdani, Komando Daerah Militer (Kodam) XIII Merdeka Manado, direncanakan kembali akan diaktifkan lagi. Saat ini Kodam di pulau Sulawesi hanya satu, yakni Kodam VIII Wirabuana yang berkedudukan di Makassar Sulawesi Selatan (Sulsel).

Dua penerbang Lanud Supadio capai 1.000 jam terbang

Pembangunan Kodam XIII Merdeka Manado itu direncanakan akan dibangun tahun 2014 di Kota Manado, yang akan membawahi Sulut, Gorontalo dan Sulawesi Tengah. Meski pembangunan markas besar Kodam XIII nanti akan dibangun tahun 2014 mendatang namun Korem 131 Santiago yang merupakan salah satu resort militer wilayah Sulut dan Gorontalo telah melakukan persiapan-persiapan.


Dua lokasi telah disiapkan untuk pembangunannya. Terkait rencana pembangunan Kodam XIII Merdeka Manado itu, Komandan Korem 131 Santiago, Brigjen Musa Bangun ketika dikonfirmasi wartawan, Senin (9/12) mengatakan pihaknya sampai saat ini masih menunggu petunjuk dan keputusan dari pimpinan TNI AD, untuk melakukan pembangunan Kodam di Sulut.

Menurut Musa, meskipun rencana strategis (Renstra) TNI AD yang nantinya bakal direalisasikan tahun 2014. Namun pihaknya sudah menyiapkan beberapa hal yang akan dibutuhkan seperti melakukan survey serta menyiapkan lokasi yang nantinya akan ditentukan pusat. "Sesuai dengan Renstra TNI AD, di tahun 2014 akan ada pembangunan fisik Kodam XIII Merdeka di Manado.

Namun, untuk lokasinya sampai saat ini belum diputuskan. Ada dua tempat yang disiapkan yakni di asrama Korem yang terletak di Teling Atas, kemudian lokasi yang kedua di wilayah Bailang Manado. Pembangunan dan nama Kodam juga masih dimatangkan dan dikaji dari pimpinan pusat," ujar Musa.

Ia mengatakan, dua lokasi pembangunan Kodam itu telah ditetapkan atas kajian dari pusat, maka proses awal pembangunan akan dilaksanakan. Demikian juga, jangkauan wilayah Kodam pun berpeluang bertambah jika muncul daerah baru. Pasalnya, dua daerah yang bakal dimekarkan nanti menjadi provinsi yakni Bolaang Mongondow Raya (BMR) dan Nusa Utara, bisa menjadi wilayah militer dari Kodam XIII Merdeka nantinya.

"Untuk saat ini Korem 131 Santiago masih tetap di lokasi, namun kita akan lihat perkembangannya ke depan sesuai petunjuk pimpinan. Justru untuk Korem sendiri, rencananya kan ditambah dan dibangun di Gorontalo. Kemudian untuk jangkaun wilayah Kodam hingga kini belum resmi ditetapkan, tapi bakal sama wilayahnya dengan Kodam XIII Merdeka yang menjangkau daerah Sulut, Sulteng dan Gorontalo," tambahnya. (shnews)

Setelah Mendapatkan Heli Canggih Apache, TNI AD Juga Memburu Black Hawk

Setelah memastikan pembelian delapan helikopter canggih Apache dari pabrikan Boeing Amerika Serikat, Kementerian Pertahanan berencana menambah armada udaranya dengan membeli helikopter Black Hawk.

Helikopter S-70A Black Hawk
Helikopter S-70A Black Hawk

Hal ini disampaikan oleh  Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Letnan Jenderal Budiman usai menyaksikan latihan perang antarcabang  Kodam V Brawijaya di pusat latihan tempur Marinir di Karang Tekok, Banyuputih, Situbondo, Selasa (3/12/2013).

"Pembahasannya (pembelian helikopter Black Hawk) sudah masuk DPR RI, rencananya ada 24 helikopter atau satu skuadron," terang Budiman.


Menurut Budiman, pembelian helikopter canggih Black Hawk sangat tepat jika melihat kondisi geografis Indonesia.

Selain mempunyai fungsi tempur yang canggih, helikopter ini mempunyai fungsi lain yang tak kalah penting, yakni bisa sebagai alat transportasi dan pengangkutan logistik.

"Tidak hanya untuk perang, tapi juga untuk fungsi lain, semisal pengiriman bantuan untuk korban bencana," lanjut Budiman.

Sementara itu, terkait latihan perang antar cabang Kodam V Brawijaya yang Selasa pagi hingga siang digelar di Situbondo dengan jumlah prajurit yang dikerahkan mencapai 4300 lebih personel.

Budiman berharap latihan perang berikutnya sudah didukung dengan persenjataan yang lebih canggih. Tidak seperti saat ini yang beberapa peralatannya tergolong uzur meski tetap baik untuk digunakan.

Budiman mencontohkan penggunaan meriam 105 yang sudah cukup tua atau penggunaan 9 tank AMX 13 yang umurnya sudah lebih tua darinya yang saat ini 57 tahun.

"Tank AMX ini lebih tua dari saya," ucapnya. "Begitu juga dengan tim pengisi bahan bakar tank yang masih menggunakan engkol untuk isi bahan bakar tank, kedepan akan ada sistem pengisian yang lebih canggih dan mungkin ada mobil khusus pengangkut bahan bakar."

Pameran Alutsista
Sementara itu, Pangdam V Brawijaya Mayor Jendral TNI Ediwan Prabowo mengatakan Kodam V Brawijaya akan mengelar pameran Alutsista di Lapangan Kodam pada 13 hingga 15 Desember mendatang.

"Masih ingat dengan pameran Alutsista di Monas, Jakarta Oktober lalu? Di Surabaya akan ada pameran yang besar seperti itu, dan mungkin lebih besar," terang Ediwan.

Ediwan menambahkan, pameran Alutsista ini sekaligus menjadi rangkaian peringatan hari Juang Kartika atau Hari TNI AD.

Dalam pameran nanti, akan dipamerkan berbagai macam peralatan tempur terbaru yang dimiliki oleh TNI. (Tribun)

Pasukan Yonif 100/Raider Jaga 13.544 patok di Kalimantan Timur

Wakil Kepala Staf TNI-Angkatan Darat Letjen TNI Muhammad Munir mengatakan prajurit Batalyon 100/Raider, Kodam I Bukit Barisan menjaga sebanyak 13.544 patok di Kalimantan Timur, perbatasan Indonesia dengan Malaysia.

Pasukan Yonif 100/Raider Jaga 13.544 patok di Kalimantan Timur

"Patok perbatasan tersebut harus tetap diawasi agar jangan berpindah dari tempat yang semula ke lokasi lain," katanya di Binjai, Kamis, usai meninjau 650 prajurit Yonif 100/Raider yang akan bertugas ke Kalimantan Timur (Kaltim).

Patok perbatasan Indonesia-Malaysia, menurut Wakasad, merupakan kesepakatan antarkedua negara dan harus dihormati dan saling dijaga.


"Prajurit TNI-AD harus menjaga wilayah perbatasan Indonesia karena ini adalah kedaulatan negara," ujar jenderal bintang tiga itu.

Wakasad menyebutkan, menjaga patok perbatasan tersebut, dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab, hal ini juga merupakan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Oleh karena itu, katanya, menjadi tangung jawab prajurit Yonif 100/Raider mengamankan belasan ribu batas patok yang ada di Kaltim yang berbatasan dengan negara tetangga.

"Jangan sampai ada patok perbatasan negara tersebut yang bergeser dan kalau hal ini dibiarkan jelas merugikan Indonesia," ucap Munir.

Wakasad menambahkan, jika ada kelihatan patok perbatasan tersebut yang hilang atau tercabut dan usahakan agar diganti, sehingga dapat diketahui batas wilayah Indonesia.

Selain itu, prajurit TNI-AD yang ditugaskan di Kaltim harus melihat dan mengawasi patok perbatasan. Dan jangan ada yang rusak dan kalau ada yang miring usahakan menegakkannya kembali.

"Prajurit yang bertugas di daerah perbatasan dapat menjaga keamanan, kesehatan dan bergaul dengan baik dengan masyarakat setempat," kata Munir.

Pada acara kunjungan Wakasad tersebut hadir Pangdam I/Bukit Barisan Mayjen TNI Istu Hari Sugiono, Kasdam I/Bukit Barisan Brigjen TNI Andogo Wiradi dan para asisten.

Luas perbatasan Kalimantan Timur, Indonesia dengan Malaysia sepanjang lebih kurang 1.308 kilometer, jumlah patok perbatasan sebanyak 13.544 buah dan jumlah pos sebanyak 31 unit.

Yonif 100/Raider yang dipimpin Komandan Batalyon (Danyon) Letkol Inf Safta Feriansyah akan menggantikan Yonif 141/Aneka Yudha Jaya Prakosa (AYJP) dari Kodam II/ Sriwijaya yang saat ini bertugas di Kaltim. (Antara)

TNI AD Utamakan Senjata Produk Lokal

Untuk memenuhi kebutuhan peralatan alutsista, TNI AD lebih mengutamakan produk buatan dalam negeri.

Pernyataan ini, diungkapkan Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal  TNI Budiman, seusai memberikan pemaparan dihadapan perwira pelaksana latihan taktis Brigadir F 16 Kodam V Brawijaya, di T 12 Karang Tekok, Banyuputih, Situbondo, Selasa (3/12/2013).


TNI AD Utamakan Senjata Produk Lokal
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal  TNI Budiman

Alutsista produk lokal itu, kata Jenderal Budiman, meliputi peluru, senjata, laras pendek, laras panjang, mortir, mesin kendaraan rantis dan anoa.

"Peralatan ini semua merupakan produk dalam negeri," kata Jenderal Budiman.


Meski banyak alutsista produksi lokal, ada banyak produk luar negeri yang dipakai serdadu Indonesia. Seperti tank Leopard dari Jerman, roket multi sistem buatan Brasil, alat penangkis serangan udara buatan Perancis.

Ia mengatakan, sampai tahun 2014, diharapkan pihak TNI AD sudah memiliki beberapa pesawat tempur. Di antaranya,16 unit pesawat terbang heli Bel 412 dan 12 unit heli perang.

Sedangkan pada tahun 2017, TNI AD akan membeli sekitar 8 unit pesawat Apache.

"Kontrak sudah dilaksanakan, 80 persen kebutuhan ini sudah ada pada akhir Nopember 2016 mendatang," pungkasnya. (Tribun)

TNI Kaji Pembentukan Kodam Baru di Papua Barat

TNI belum memastikan pembentukan komando daerah militer di Papua Barat. Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Budiman yang kemarin (22/11) berkunjung ke Manokwari menyatakan masih mengkaji kemungkinan peningkatan satuan militer di wilayah tersebut.

TNI Kaji Pembentukan Kodam Baru di Papua Barat

"Itu (pembentukan kodam) bergantung pada tingkat kepentingannya. Kalau Papua Barat sudah semakin memerlukan pertahanan dan keamanan yang lebih baik, satuan-satuan dapat ditingkatkan," ujarnya seperti dilansir Radar Sorong (JPNN Group).

Meski belum memiliki kodam, lanjut Budiman, TNI tetap berkomitmen memberikan rasa aman kepada masyarakat. Aparat TNI tidak menghendaki adanya peristiwa-peristiwa keributan yang merugikan masyarakat. "TNI berkomitmen mempertahankan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tegas Budiman yang berada di Manokwari sejak Rabu (20/11).


Menurut dia, dirinya pernah ke Manokwari pada 2008. Ketika kembali kemarin, ungkap dia, perkembangan di ibu kota Papua Barat begitu pesat. "Bila perlu dibentuk kodam, akan disesuaikan dengan perkembangan ekonomi dan perkembangan lainnya," jelasnya.

Selain itu, Budiman mengingatkan warga Papua Barat untuk menjaga keamanan pada Pemilu 2014. TNI, lanjut dia, membantu kepolisian untuk menjamin keamanan pelaksanaan Pemilu 2014. "Kami berkomitmen netral dan berbuat yang terbaik demi lancarnya pemilu," tegasnya.

Di Manokwari, Budiman dan Direktur Utama Pertamina Karen Agustiawan melakukan penanaman pohon, meletakkan batu pertama pembangunan 14 ruas jalan di Papua, meninjau pembangunan situs Pekabaran Injil di Pulau Mansinam, serta menyaksikan bakti sosial berupa pengobatan masal dan pembagian sembako. Sebelum kembali ke Jakarta, Karen memenuhi undangan dari Universitas Negeri Papua untuk memberikan kuliah umum.


Sumber : JPNN