Tampilkan postingan dengan label Cyber Army. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cyber Army. Tampilkan semua postingan

LAPAN Kembangkan Anti Cyberwar dan Teknologi Penginderaan Jarak Jauh

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) diajak TNI AD mengembangkan teknologi penginderaan jarak jauh dan anti cyberwar. Hasil riset bersama ini bukan hanya untuk keperluan menghadapi pertempuran modern, namun juga operasi tanggap darurat bencana alam di daerah terpencil.

LAPAN Kembangkan Teknologi Penginderaan Jarak Jauh dan Anti Cyberwar

Nota kesepakatan kerjasama senilai Rp 3,5 miliar ini ditandatangani oleh KSAD Jend. Budiman dan Kepala LAPAN Bambang Tedjakusuma. Penandangangannya berlangsung di Mabes AD, Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta, Selasa (21/1/2014).


"Kemampuan LAPAN dalam teknik satelit dan pengindraan jarak jauh diperlukan untuk survei, pengembangan roket peluncur dan pesawat intai tanpa awak. Ini mendukung perang melawan pembajakan dan terorisme yang memerlukan presisi dalam tembakan, manuver dan informasi," kata Jend. Budiman dalam sambutannya.

"Ke depannya bukan hanya digunakan dalam pertempuran generasi ke-4, namun dimanfaatkan juga dalam penanggulangan bencana alam," sambungnya.

Di dalam kerjasama ini LAPAN akan bergandengan dengan Direktorat Tofografi TNI AD untuk pemetaan geospasial. Pemetaan ini dalam pengembangannya mencakup peta kekuatan teroris dan daerah bencana alam yang selama ini masih tergantung kepada produksi luar negeri.

"Perlu kemandirian dalam industri pertahanan, berkaitan degan satelit dan pengendalian jarak jauh. Selain itu juga untuk menjaga kerahasian baik tertulis, lisan dan elektronik," jelas KSAD.

Kepala LAPAN Bambang Tedjakusuma di dalam sambutannya menyatakan sudah banyak riset yang dikembangkan dan bisa TNI AD manfaatkan. Di antaranya adalah roket peluru kendali presisi untuk pertahanan yang mempunyai daya jangkau mulai 15 km, 23 km, 36 km hingga 100 km.

"Kami juga punya database untuk penginderaan jarak jauh. Kerjasama ini juga kami jalin dengan TNI AL dan AU," ujar Bambang. (MetroNews)

DPR - Indonesia Belum Mampu Hadapi "Cyber War"

Anggota Komisi I DPR Tantowi Yahya mengatakan, Indonesia menjadi objek cyber war (perang teknologi) didasarkan karena peran Indonesia yang semakin penting dalam ekonomi dan politik global.

DPR - Indonesia Belum Mampu Hadapi "Cyber War"

Menurutnya, hal ini karena banyak negara yang punya kepentingan di Indonesia, baik sebagai mitra kerja atau memposisikan Indonesia sebagai ancaman untuk mereka.

“Karena semakin penting posisi suatu negara makan akan semakin banyak pula dilakukan penyadapan,” kata Tantowi saat dihubungi KORAN SINDO, Jumat 13 Desember 2013.

Tantowi mengatakan, dalam sisi peralatan dan teknologi, Indonesia belum mampu mengahadapi cyber war. Maka diperlukan penguatan pada sektor teknologi dan Sumber Daya Manusia (SDM).


Selain itu, Indonesia masih terlalu pasif, pada proses selanjutya Indonesia harus lebih aktif dalam forum cyber war. Saat ini, lanjut dia, dibutuhkan upaya koordinatif antara kementerian dan lembaga terkait.

Seperti Kemenkoinfo, BIN, TNI, Lemsaneg, dan Polisi. Selain itu, dibutuhkan pembelian satelit tersendiri tertama guna kepentingan TNI. Karena ancaman sangat mungkin terajadi dalam pemberian satelit-satelit yang menajdi hibah atau bantuan.

“Alat-alat tersebut harus dipastikan, bahwa aman dari koneksi dengan negara pemberi. Karena teknologi memang tidak terkalahkan, maka Indonesia dituntut untuk berjalan selaras dengan kemajuan dalam batasan kemampuan khususnya anggaran ” ucapnya.

Menurut dia, tantangan ke depan yang akan dihadapi ialah melalui penyadapan dan berlanjut kepada hack ke situs-situs pemerintahan oleh para hacker (peretas). Seperti masih banyak kepala negara yang telah disadap karena dunia sekarang sudah saling mencurigai.

“Tinggal tunggu penjelasan dari snowden saja, dengan demikian dapat dipastikan banyak negara yang telah mempersiapkan diri dalam upaya penangkalan melalui teknologi dan perundingan bilateral maupun multilateral,” tegasnya. (Sindo)

Alat Cyber Crime Polri diduga Pintu Masuk Penyadapan

Indonesia Police Watch (IPW) menduga kuat peralatan cyber crime milik Kepolisian Republik Indonesia (Polri) menjadi pintu masuk penyadapan yang sering dilakukan oleh negara-negara asing terhadap pejabat-pejabat di Indonesia, khususnya Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Alat Cyber Crime Polri diduga Pintu Masuk Penyadapan

Pasalnya, kata Ketua Presidium IPW, Neta S Pane hampir seluruh peralatan yang digunakan oleh cyber crime Polri berasal dari negara asing.


"Kita menduga disadapnya pejabat-pejabat pemerintah (berasal) dari cyber crime bantuan Australia untuk kepolisian. Jadi yang paling banyak menerima bantuan peralatan IT, peralatan cyber dan alat sadap itu kepolisian," kata Neta saat dihubungi Sindonews, Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Selain itu, Neta juga meyakini bahwa peralatan milik cyber crime Polri terbilang cukup canggih, terlebih peralatan penyadapan yang dimiliki oleh cyber crime milik Mabes Polri dan tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror.

"Kebanyakan cyber crime ini dari Australia. Ada lima titik dan itu alat sadap paling canggih. Alat sadap cyber crime Polri itu ada di lima titik, diantaranya di Mabes Polri, Polda Metro Jaya, di Bali kemudian ada di Sumatera Utara dan NTB," papar Neta. (Sindo)

Indonesia Siapkan Satelit Khusus Pertahanan Siber

Komisi I Dewan Perwakilan Rakyat mendukung mendukung penuh pemerintah untuk segera mengembangkan sistem pertahanan siber dan memiliki satelit khusus untuk kepentingan sektor pertahanan, keamanan, intelijen dan luar negeri.

Indonesia Siapkan Satelit Khusus Pertahanan Siber
Satelit Palapa

Hal itu merupakan salah satu butir rekomendasi hasil rapat antara Komisi I DPR dengan Menteri Pertahanan, Menteri Luar Negeri, Kapolri, Kepala BIN, Lemsaneg, Mensesneg dan Menkominfo terkait kasus penyadapan yang dilakukan oleh Australia, Kamis 28 November 2013.

"Pemerintah perlu mengambil langkah-langkah yang diperlukan dalam merealisasikan pengadaan satelit khusus itu," kata Ketua Komisi I DPR Mahfudz Siddiq di Gedung DPR, Jakarta.


Sebelumnya, Menteri Pertahanan Purnomo Yusdiantoro mengatakan, Indonesia memang membutuhkan keamanan dalam dunia maya. Sebab, saat ini, infrastruktur pertahanan siber di Indonesia masih menyewa sehingga tak terlalu mengagetkan bila mudah disadap.

"Kan ada dua infrastruktur, sistem keamanan informasi dan sistem keamanan komunikasi. Selama ini kita kebobolan karena satelit yang ada sewaan, bukan milik kita. Sehingga begitu mudah terjadi penyadapan," kata Purnomo.

Pembangunan keamanan dunia maya ini yang direncanakan pemerintah ini kata dia, memang sangat diperlukan. "Untuk bangun cyber defense regulasi harus diperbaiki, karena sekarang bukan lagi hukum sektor riil tapi juga hukum dunia maya," ujar dia.

Selain sistem keamanan yang perlu ditingkatkan, kata dia, kualitas sumber daya manusianya juga perlu ditingkatkan. "Demikian pula dengan kelembagaannya. Sekarang ini cyber defense antara Kemenhan dengan ID SIRTI di bawah Kemenkominfo," kata dia.

"Ada yang namanya Indonesia Search Responsible System. Ini kenapa yang tidak kita majukan ini. Cyber crime baru ada di kepolisian. Kalau cyber defense perlu diperkokoh kelembagaannya, perlu daftar infrastruktur kritis," kata dia. (VivaNews)

Perang “Serdadu Siber” RI-Australia

"Who want a cc number indonesian?" (Siapa yang mau nomor kartu kredit Indonesia?) tulis peretas Australia dalam website Pastebin.com. Voila! Ratusan nomor kartu kredit dijembreng panjang. Terpampang nama-nama khas Indonesia lengkap dengan alamat e-mail serta kode penerbangan. Data rahasia itu diumbar begitu saja di Internet.

Perang “Serdadu Siber” RI-Australia

Di situs itu, pelaku peretasan yang mengaku sebagai 'AnonAu', atau Anonymous Australia, mengklaim daftar panjang kartu kredit itu adalah pelanggan Garuda Indonesia Airways yang sengaja dicuri. Diduga peretas itu berhasil menyusup ke jaringan database Garuda Indonesia melalui celah di website garuda-indonesia.com. Impresif.

"And how about garuda frequent flyer?" (Bagaimana dengan Garuda Frequent Flyer (GFF)—program loyalty dari Garuda Indonesia yang diperuntukkan untuk pelanggan setia?) AnonAu menambahkan. Kemudian menyusul data-data 317 pelanggan GFF. Juga disertai alamat e-mailnya.


"Yeah.  That's your country, baby … “ tulis AnonAu itu setengah mengejek. Lalu mereka mengatakan data itu dicuri dari dua juta akun milik warga Indonesia di Facebook. “Next... maybe your account... fella," hardik AnonAu dalam pesan itu.

Itulah reaksi para hacker Australia yang berang. Sebab, lebih dari 170 situs tak bersalah asal Australia diobrak-abrik peretas Indonesia, beberapa hari sebelumnya. Aksi balas serang ini telah terjadi lebih dari sepekan. Korban pun  jatuh. Garuda Indonesia dan pelanggannya mungkin hanya secuil dari gambar besar korban "perang."

Garuda membenarkan, bahwa pada Jumat malam hingga Sabtu petang, situs resminya lumpuh. Tidak bisa diakses sama sekali. Itu sebabnya,  kata Vice President Corporate Communication Garuda Indonesia Pujo Broto,  Garuda sengaja mematikan situs mereka.

"Data center kami telah diretas. Untuk pengamanan, kami mematikan situs Garuda selama lima jam,"  ujar Pujo pada VIVAnews, 20 November 2013. Selama itu, para pelanggan maskapai penerbangan nasional itu turut jadi korban. Mereka tak bisa memesan tiket secara online, dan hanya bisa memesan via call center. “Itu buka 24 jam, dan banyak penumpang beralih ke sana,” ujar Pujo.

Rugi? Pujo enggan memaparkan seberapa besar kerugian akibat lumpuhnya sistem pemesanan tiket online Garuda selama masa penyerangan itu. "Tim IT kami langsung bekerja, dan setelah lima jam situs kami kembali live."

Gara-gara disadap

Garuda Indonesia hanya satu dari "sasaran tembak" para “serdadu siber” Australia. Sejumlah situs lain dari Indonesia bernasib sama. Diutak-atik oleh peretas hingga luluh-lantak tak berdaya. Bahkan, sampai hari ini pun mereka masih mati suri.

Jika ditelusuri, tragedi ini berawal dari aksi spionase badan intelijen Australia, Direktorat Sinyal Pertahanan/DSD. Aksi lembaga spion itu terbongkar melalui dokumen rahasia Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA) yang dibocorkan oleh mantan kontraktornya, Edward Snowden.

Menurut laporan Guardian edisi 2 November 2013, operasi penyadapan oleh DSD dilakukan pada 2009, dan dibantu mitra sekutu, yakni NSA. Target operasinya adalah nomor kontak para pejabat tinggi bidang keamanan Indonesia, tak terkecuali Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono beserta istri, Wapres Boediono, mantan Wapres Jusuf Kalla, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, dan beberapa pejabat tinggi lain.

Fakta ini tentu menyulut api antara Indonesia dan Australia. Di dunia maya, kabar ini memantik amarah sejumlah pihak. Aksi mata-mata itu dianggap kelewatan, dan para peretas asal Indonesia pun menuntut balas. Mereka menggencarkan serangan deface —mengubah tampilan depan website— ke sejumlah situs milik Australia, dengan nama operasi #OpAustralia di Twitter.

Badai serangan sporadis digelar para peretas dari Indonesia. Kurang dari 24 jam, 178 wajah website Australia diacak-acak. Nama-nama grup peretas seperti Blackwhiteanglezwings Team, Indonesian Cyber Army, Jagad dot ID, Wonogiri Cyber Team, Indonesia Security Down pun mejeng di halaman depan situs-situs Australia itu. Tak cuma sebentar, tapi berhari-hari.

Tak luput dari serangan, situs milik pemerintah Australia: asis.gov.au (situs milik badan intelijen Australia ASIS atau Australian Secret Intelligence Service) dan asio.gov.au (situs milik badan pertahanan Australia ASIO atau Australian Security Intelligence Organisation). Selama beberapa jam, kedua situs sempat tak bisa diakses.

"Stop spying Indonesia, If Australia still spy on Indonesia, we do not hesitate Indonesian Hacker reluctant to undermine Australia website. … We will stop if Australia to say sorry to Indonesia," kata salah satu peretas melalui pesan yang ditinggalkan di situs korbannya.

Sejak itu, warga Australia berkeluh kesah tentang serangan yang bodoh dan tidak bertanggung jawab itu di media sosial. Merasa merasa tidak terlibat dengan aktivitas intelijen di masa lalu, namun ironis, kini mereka yang menerima getahnya. Saat dikonfirmasi, mengutip laman Cyber War News, seorang peretas beridentitas xCodeZ asal Indonesia berkilah, Australia-lah yang memulai.

Galau oleh serangan membabi-buta dari Indonesia itu, Anonymous Australia meninggalkan peringatan di situs YouTube. Mereka  meminta pelaku aksi peretasan dari Indonesia agar menghentikan serangan ke situs-situs tak bersalah milik masyarakat sipil Australia, dan fokus pada target situs pemerintahan yang memang dianggap lebih relevan.

"We bid you, as a fellow brother to focus on your main target – governments and spy agencies and leave the innocent bystanders out of this," tulis pesan itu di dalam video.

Namun, pesan itu tak digubris. Sekelompok peretas bergerak. Laman Cyber War News, menyatakan peretas Indonesia menyerang situs sipil, setelah membombardir situs Badan Intelijen Australia, ASIS.gov.au dengan serangan DDoS (distributed denial of service). Itu serangan massif.  Sasaran dihujani bom trafik seketika,  sehingga lumpuh secara infrastruktur.

Serangan itu pun menarik perhatian media massa asing. Dampak dari serangan itu meluas cepat. "Sebuah grup peretas bernama Indonesian Security Down (ISD) Team diyakini telah berada di belakang serangan ke situs ASIS. ISD dan kelompok peretas lain, termasuk Indonesian Cyber Army dan The Java Cyber Army bersumpah untuk melanjutkan serangan tersebut," tulis harian Sydney Morning Herald, edisi Senin 11 November 2013 (baca bagian 3: Bangkitnya Hacker Cap Garuda).

Peretas Indonesia pun mendapat sorotan.

Serangan balik

Tak terima negaranya diserang membabi buta, grup peretas Anonymous Australia naik darah.  Mereka pun membuat aksi balasan.  Sebuah video di YouTube diunggah oleh Anonymous Australia. Di video itu, mereka mengancam akan menyerang sejumlah website ternama di Indonesia, milik negara dan swasta, seperti Portal VIVA.co.id, Polri.go.id, Kaskus.com, dan Kpk.go.id.

Peretas Negeri Kanguru itu mengatur serangan balik. Pada Rabu 13 November 2013, beberapa situs besar di Indonesia "kedatangan tamu". Dilaporkan situs milik Angkasa Pura, Solo Airport, Kementerian Pendidikan, hingga Garuda Indonesia tumbang. Sejumlah peretas berhasil menyusup, dan mencuri data-data dari tiap situs (lihat Infografik: Palagan Hacker Indonesia-Australia).

Penelusuran VIVAnews di situs Pastebin, Anonymous Australia berhasil mencuri laporan neraca AngkasaPura, mengutak atik sistem manajemen database Soloairport.com dan Kemdikbud.go.id, serta mencuri data penumpang Garuda Indonesia beserta nomor kartu kreditnya.

Belum puas, mereka menjembrengkan semua data itu di satu halaman, yang bisa diakses luas oleh siapapun.

"We gave you final warning recently,” tulis kelompok peretas itu. Mereka mengaku telah melumpuhkan sistem di Angkasapura, pendidikan dan banyak lagi situs Indonesia lainnya. “First of all, becAUSE this cyber war, you make our site down. Including charity website, church and micro industry”.

Saat dikonfirmasi, Kepala Biro IT PT Angkasa Pura II, Didi Kristianto membenarkan aksi peretasan di perusahaan itu. "Tapi, yang diretas itu bukan situs, melainkan executive information system (EIS) yang didalamnya terdapat data-data pekerja berupa grafik, statistik penerbangan dan laporan keuangan," ujarnya pada VIVAnews, 20 November 2013.

"Untung, data-data yang ada di EIS itu bukan data rahasia. Data-data itu secara rutin dipublikasi di portal BUMN. Sementara data-data rahasia masih aman, dan tidak tersentuh peretas," dia menjelaskan.

Tapi peretas asal Indonesia beridentitas Scrangger40z tak rela kehilangan muka. Dia membalas serangan Anonymous Australia dengan melumpuhkan beberapa situs milik pemerintah Australia dengan domain gov.au, seperti asio.gov.au, asia.gov.au, australia.gov.au, canberraairport.com.au, alburycity.nsw.gov.au, pm.gov.au, dan masih banyak lagi di tautan ini.

Tak hanya mematikan sistem di website itu, sang peretas juga mengunggah shell (trojan) di situs-situs itu sehingga sewaktu-waktu bisa dilumpuhkan melalui remote.

"We attack Australian because we hate indonesian spying from Australian. if you save airport database from indonesian, we can attack all website of australian." (Kami menyerang situs Australia karena kami tidak suka Indonesia dimata-matai Australia. Jika Anda mencuri database bandara dari Indonesia, kami bisa menyerang semua website Australia)

Dalam laman Pastebin, Scrangger40z mengklaim Anonymous Indonesia telah menyusupi 765.734 situs Australia, 456.225 akun Facebook, 51.445 akun Twitter, dan 55.256 akun BlackBerry.

Meredakan situasi kian semrawut, Anonymous Australia kembali mengunggah video ke YouTube. Di dalamnya, mereka memohon agar perang siber antara Indonesia dan Australia dihentikan. Berikut sepetik pesan yang ditulis Anonymous Australia dalam video.

Menurut pantauan, sebagian besar situs pemerintahan Australia tampak pulih. Begitu pun situs-situs milik Indonesia. Hanya beberapa situs seperti Bank Indonesia dan Badan Narkotika Nasional (BNN) tampak masih babak belur bahkan sampai hari ini.

Belum ada konfirmasi dari pihak yang bertanggung jawab atas kegagalan akses kedua situs pemerintah itu. Namun, dugaan kuat sementara kedua situs itu menjadi sasaran para peretas Australia.

Stop!
Isu perang siber ini pun sampai ke meja Kementerian Komunikasi dan Informatika. Juru bicara Kemenkominfo Gatot S Dewa Broto mengatakan, ramainya pemberitaan di media massa tentang aksi peretasan sangat berpotensi memicu keresahan dari masing-masing negara, khususnya pengguna Internet.

"Tindakan peretasan dilakukan secara demonstratif, tidak dapat dipertanggungjawabkan, hanya akan memperkeruh suasana," ujar Gatot. "Ini juga berpotensi melanggar UU No. 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yaitu pada Pasal 28 ayat 1 dan 2, Pasal 29, dan Pasal 30 ayat 1, 2, dan 3."

Senada dengan Gatot, pakar keamanan Informasi Jim Geovedi juga mengimbau agar perang siber antara Indonesia-Australia segera dihentikan. "Perang siber adalah istilah besar dan serius. Apa saja aktivitas dalam sebuah perang siber (cyberwar)? Jika mengikuti definisi perang secara umum yang disesuaikan dengan media siber, maka ada beberapa hal yang akan terjadi," kata Jim, dalam blognya.

Pertama, akan terjadi serangan memakan korban. Jika hanya kerugian material, kata Jim, sebuah aksi ekonomi pun bisa menimbulkan kerugian dalam jumlah besar. Karena itu, kerugian material belum bisa menjadi indikasi terjadinya sebuah perang siber.

Kedua, sebuah aksi perang siber harus bersifat instrumental, atau punya tujuan. Dalam konfrontasi militer, satu pihak akan memaksakan pihak berseberangan untuk melakukan yang tidak mereka inginkan.

"Ketiga, perang siber harus bersifat politik. Deklarasi perang adalah mutlak hak istimewa pemimpin negara, bukan hak anak-anak yang bahkan belum punya hak pilih dalam pemilihan umum di negaranya, walaupun mereka meyakini aksi mereka adalah untuk kepentingan negara dan bangsa," ujar Jim.

Menurutnya, sampai hari ini, belum satupun serangan siber memenuhi persyaratan itu.

Dalam blognya, Jim juga mengingatkan Indonesia punya pihak berwenang, dan lebih mampu menangani persoalan ini. Menurut Jim, jika seseorang menilai pemerintah tidak kompeten, silakan melakukan protes kepada para petinggi negara, dan tidak melakukan tindakan sporadis yang justru membahayakan hubungan antarnegara.

"Jika masih bersikeras, silakan pikirkan beberapa hal berikut. Penyadapan bukan hal baru, Indonesia juga melakukannya. Informasi penyadapan diperoleh dari dokumen yang dibocorkan Edward Snowden. Sebelum dokumen tersebut bocor, apakah kalian menyadari aktivitas memata-matai antar kedua negara telah terjadi?" kata Jim.

Serangan siber itu lebih banyak merugikan pihak yang tidak bersalah, maupun terlibat dalam kegiatan mata-mata. “Jika Anda di pihak yang merasa tidak terlibat tetapi menjadi korban, apakah Anda bisa tidur tenang malam ini?,” tulisnya. (VivaNews)

Hacker Tanpa Nama Ancam Kacaukan Bandara Sepinggan Indonesia

Hacker yang mengaku berasal dari Australia terus saja mencoba mengadu domba hacker Indonesia. Kali ini, mereka berhasil meretas satu lagi sistem milik bandara Indonesia.

Bandara Sepinggan

Seperti pantauan merdeka.com (22/11), kali ini bandara yang jadi korban keganasan mereka adalah Bandar Udara Internasional Sepinggan di Balikpapan. Dalam sebuah rilis, hacker tanpa nama ini menyebutkan bahwa sistem bandara tersebut sudah berhasil mereka kuasai.

"Greeting for all people, Summer 2013, Your sepinggan airport has been taken down," tulis mereka.


Hacker ini pun lantas membeberkan beberapa data penting milik Sepinggan. Di antara data penting tersebut adalah akun dan password milik para pegawai di sana.

Dalam tulisannya, disebutkan bahwa akun dan password ini bisa digunakan untuk mengatur Air Traffic Services Data Management and Automation System di Sepinggan. Hal ini berarti hacker tersebut memiliki akses untuk mengacak-acak sistem penerbangan di sana.

"do you can see it? It's like operator in your ATC (Air Traffic Controller)...how about we ruin it? Make your airplane crash each other during their flight?,"
ancam mereka.

Hacker ini pun kemudian membuat seolah diri mereka berasal dari Australia. "So..do not getting proud if you make our federal police down," kata mereka.

Namun begitu, lagi-lagi hacker ini tak pintar berbahasa Inggris karena masih ditemukan banyaknya kesalahan elementer dalam penggunaan bahasa Inggris mereka. Tercatat, banyak tata bahasa yang tak tepat digunakan dalam surat ancaman ini.

Beberapa kesalahan tersebut di antaranya:

  • do you can see it? yang harusnya do you see it? 
  • how about we ruin it? yang harusnya howifwe ruin it?
  • Make your airplane crash each other during their flight? yang harusnya Make your airplanes crash each other during their flight?

Entah siapa hacker usil yang coba adu domba hacker Indonesia dan Australia ini. Namun, aksi mereka harus segera dihentikan karena bukan kali ini saja bandara di Indonesia berhasil mereka susupi. (Merdeka)

Hacker Indonesia Sempat Lumpuhkan Situs Angkatan Udara Australia

Hanya melakukan penyerangan sekitar 10 menit, hacker Indonesia berhasil melumpuhkan situs Angkatan Udara Australia atau The Royal Australian Air Force (RAAF) yang beralamat di http://airforce.gov.au.

Hacker Indonesia Sempat Lumpuhkan Situs Angkatan Udara Australia

Kepastian tersebut didapat manakala membuka situs status.ws di link http://www.status.ws/sites/airforce.gov.au/6072254492311552. Bila situs airforce dibuka, maka yang tampak hanya tulisan "Page cannot be found".

Meski sudah down, hacker muda Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Security Down Team itu masih terus menyerang sampai situs benar-benar mati 100 persen yang dalam bahasa hacker disebut 404 Not Found.


Menurut admin Indonesia Security Down, situs Angkatan Udara Australia bisa saja hidup lagi manakala mereka langsung ganti IP, seperti yang terjadi pada situs Bank Sentral Australia di http://rba.gov.au yang dihajar kemarin malam.

Situs Angkatan Udara Australia sendiri memiliki protokol internet 175.107.157.3 di port 80. Bila berhasil melumpuhkan situs Angkatan Udara Australia tersebut, berarti ini adalah situs pemerintah Australia yang ke-6 yang dihajar barisan muda hacker Indonesia setelah http://asis.gov.au, http://asio.gov.au, http://defence.gov.au, http://rba.gov.au, dan http://afp.gov.au.

RAAF adalah tentara elit angkatan udara Angkatan Pertahanan Australia. RAAF dibentuk pada Maret 1921 dan telah mengambil bagian dalam banyak abad ke-20 besar konflik termasuk Perang Dunia II, Perang Korea, Perang Vietnam, dan perang Irak. (Merdeka)

Lumpuhnya situs polisi federal jadi berita utama media Australia

Lumpuhnya situs polisi federal (AFP) dan jatuh bangunnya situs Bank Sentral Australia yang menjadi korban serangan DDOS hacker Indonesia menjadi berita utama di sejumlah media di Australia dalam dua hari terakhir.


Seperti ditulis di The Age, juru bicara dari Polisi Federal mengungkapkan situs www.apf.gov.au masih berfungsi ketika mereka meninggalkan kantor. "Namun ketika Kamis pagi, situs sudah down. Situs kemudian diperbaiki pada pukul 8.15 waktu setempat," katanya.

Menurut juru bicara tersebut, AFP akan menangani serangan kepada situs-situs pemerintah secara serius. "Orang yang terlibat dalam serangan cyber ini harus tahu bahwa mereka akan terkena kasus kriminal," katanya.


Meski begitu, AFP menegaskan down-nya situs tidak berdampak terhadap sistem teknologi informasi dan tidak ada informasi sensitif yang ditaruh dalam website tersebut.

Sebagaimana diketahui, situs Australian Federal Police semalam ini rontok diserang hacker Indonesia. Kepastian rontoknya situs ini dapat dibuktikan dengan tidak bisanya situs beralamat di www.afp.gov.au diakses.

Penyerangan terhadap situs Polisi Federal Australia ini dilakukan oleh hacker muda yang tergabung dalam Indonesia Security Down Team. Serangan sendiri dimulai sekitar Pukul 19:25 WIB (20/11).

Belum dapat dipastikan apakah rontoknya situs ini akan berkelanjutan atau Australia akan memindahkan IP address situs ini, sehingga akan kembali normal. (Merdeka)

Hacker Indonesia Lumpuhkan Situs Polisi Federal Australia

Hanya beberapa jam menerima serangan hacker Indonesia, situs Federal Police Australia malam ini lumpuh 100 persen. Kepastian rontoknya situs ini dapat dibuktikan dengan tidak bisanya situs beralamat di www.afp.gov.au diakses.


Penyerangan terhadap situs Polisi Federal Australia ini dilakukan oleh Hacker Anonymous Indonesia yang tergabung dalam Indonesia Security Down Team. Serangan sendiri dimulai sekitar Pukul 19:25 WIB malam ini.


Situs Polisi Federal Australia memiliki alamat internet protocol (IP) di IP : 125.7.101.101 port : 80. Dengan tool-tool yang ada, siapapun bisa saja menyerang situs tersebut dengan hanya memasukkan IP yang bersangkutan. Inilah yang membuat peserta penyerangan terhadap situs Australia cukup banyak, mencapai seribuan hacker.
Hacker Australia juga sebelumnya mencoba menyerang situs Presiden RI tapi lagi-lagi salah sasaran, karena yang diserang adalah www.presiden.go.id, padahal situs ini sama sekali tidak ada.

Hacker Australia juga diduga menjadi dalang rontoknya situs Bank Indonesia selama beberapa jam tadi siang sebagai balasan serangan hacker Indonesia terhadap Bank Sentral Australia.

Situs Bank Sentral Australia, meski tak sempat dibuat 404 Not Found, tapi sempat kembang kempis dan beberapa kali pingsan atau jatuh bangun. Situs tersebut sampai harus mengganti internet protocol (IP) nya agar bisa terhindar dari serangan hacker Indonesia.

Serangan hacker Indonesia diprediksi masih akan berlanjut malam ini sampai besok pagi dengan target dan sasaran yang berbeda atau sama dengan sasaran sebelumnya. (Merdeka)

Cyber Defense Libatkan Semua Komponen Bangsa

Dalam menghadapi acaman pertahanan negara yang bersifat nir militer khususnya di bidang cyber, sebagai leading sector-nya adalah Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo), tetapi apabila  ancaman tesebut sudah menyangkut kedaulatan, keutuhan wilayah dan keselamatan bangsa, maka Kementerian Pertahanan dan TNI mempunyai kewenangan penuh dengan didukung oleh seluruh komponen bangsa yang lain.

Cyber Defense Libatkan Semua Komponen Bangsa

Demikian dikatakan Direktur Komponen Pendukung Direktorat Jenderal Potensi Pertahanan (Dir Komduk Ditjen Pothan Kemhan) Ir Bennyta Suryo Septanto, MT,  saat menjadi nara somber dalam Forum Discussion Group (FGD) tentang “Standarisasi  Keamanan Informasi Pertahanan Siber Nasional”, Kamis (14/11) di Jakarta.


Lebih lanjut Dir Komduk Ditjen Pothan Kemhan mengatakan, dalam sistem pertahanan yang bersifat semesta, dalam menghadapi ancaman militer walaupun leading sector-nya itu TNI tatapi perlu didukung komponen lain.  Demikian juga dalam menghadapi ancaman nir militer seperti ancaman cyber, walaupun leading sector-nya Kemenkominfo tentunya kementerian lainnya, TNI dan Polri serta komponen bangsa yang lain diharapkan juga terlibat.

“Sesuai dengan Undang Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara, bahwa ancaman cyber termasuk dalam ancaman nir militer, dimana dalam menghadapi ancaman nir militer leading sector adalah kementerian diluar pertahanan sesuai dengan jenis ancamannya”, jelasnya.

Dalam rangka menghadapi ancaman pertahanan negara di bidang cyber, Kemhan saat ini sedang membangun system pertahanan cyber nasional dengan menyiapkan regulasi, kelembanggaan/organisasi, infrastruktur pendukung dan menyiapkan Sumber Daya Manusia dengan mengadakan pelatihan-pelatihan.

FGD diselenggarakan oleh Ditjen Pothan Kemhan dan dihadiri kurang lebih 40 peserta yang berasal dari instansi pemerintah, akademisi dan komunitas IT.  FGD ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mendapatkan masukan-masukan dari pihak-pihak terkait tentang bagaimana system pertahanan cyber nasional akan dibangun.

Selain Dir Komduk Ditjen Pothan Kemhan, FGD juga menghadirkan nara sumber Staff Khusus Menteri Komunikasi dan Informatika Rudi Luminto dan dimoderatori oleh Dosen Luar Biasa Jurusan Informatika ITB Setiadi Yazid, Ph.D. (DMC)

Kemhan Rumuskan Formulasi "Cyber Defense

Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia sedang merumuskan formulasi prinsip dan filosofi cyber defense sebagai pedoman perang inkonvensional. Para wakil menteri pertahanan dari 21 negara pada pertemuan Seoul Defense Dialogue (SDD), Selasa (12/11) dan Rabu (13/11) menyadari pentingnya cyber defense, tapi mereka belum bisa merumuskan formula mengenai prinsip dan filosofi cyber defense.

Kemhan Rumuskan Formulasi "Cyber Defense

"Semua negara sudah sibuk menangani cyber defense. Tapi, yang disentuh adalah masalah di hilir, sedang hulunya belum jelas," kata Wakil Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin di Tokyo (Kamis (14/11). Masalah cyber defense di hulu adalah ketidakjelasan prinsip dan filosofi cyber defense karena belum ada formulasinya. SDD belum bisa merumuskan formulasi itu.

Di level hilir, cyber war sudah terjadi. Sistem informasi institusi strategis sebuah negara, termasuk institusi pertahanan, diganggu bahkan bisa dilumpuhkan. Sistem informasi institusi strategis dirusak, sehingga tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Perang lewat jaringan informasi, baik berbasis telepon maupun internet kian marak.


"Ini bukan hanya urusan militer, tapi semua pihak," kata Sjafrie.

Bidang Cyber Monitoring Center Kemenhan saat ini ditugaskan untuk merumuskan formulasi tentang prinsip dan filosofi cyber defense. Indonesia berniat menjadi pionir dalam formulasi prinsip dan filosofi cyber defense. Setelah rampung, formulasi yang dibuat Indonesia ini akan disampaikan kepada negara lain agar cyber defense secara internasional dapat memiliki pedoman.

Perang konvensional sudah bergeser ke perang inkonvensional dan itu sudah terjadi sejak dulu. Pada masa lalu, perang gerilya adalah juga inkonvensional, tapi memiliki asas univesal.

Sekarang, cyber war juga inkonvensional, namun juga memiliki asas universal. Karena itu, kata Sjafrie, Indonesia perlu menginisiasi altenatif formulasi tentang pedoman cyber defense agar menjadi rujukan internasional. (BeritaSatu)

Menkominfo: Hacking itu melanggar undang-undang ITE

Menteri Komunikasi dan Informatika Tifatul Sembiring mengatakan, serangan yang dilakukan sejumlah peretas Indonesia terhadap situs-situs asal Australia dan Amerika Serikat (AS) merupakan pelanggaran terhadap hukum. Ia menegaskan, banyaknya kasus peretasan juga tidak ada kaitannya dengan isu penyadapan.

Menkominfo: Hacking itu melanggar undang-undang ITE

"Mengenai penyadapan itu kan belum diakui oleh pemerintah Australia, kedua di dalam negeri sendiri hacking itu melanggar undang-undang ITE," ujar Tifatul saat menghadiri sidang kabinet paripurna di Kantor Presiden, Jakarta, Kamis (14/11).

Tak hanya Indonesia, peretasan yang dilakukan terhadap situs tertentu juga bertentangan dengan hukum internasional. "Internasional juga enggak boleh menghacking, makanya kan enggak ketahuan siapa yang melakukannya," lanjutnya.


Ketika disinggung apakah menolak tindakan yang dilakukan para peretas, mantan Presiden PKS ini menolak memberikan jawaban. "Saya tidak tahu mereka penyerang apa dan apa yang diserang," pungkasnya.

Sebelumnya, serangan hacker Indonesia ke situs-situs penting Australia terlihat dari sebuah laman grup terbuka di Facebook dan laman event #StopSpyingOnIndonesian. Dari sanalah, komando, penentuan target sasaran, dan langkah-langkah atau tools yang perlu disiapkan terungkap.

Berdasarkan pantauan merdeka.com, kedua laman Facebook yang bisa diakses siapa saja tersebut, terlihat rasa nasionalisme yang sangat besar dari sedikitnya 500 hacker yang tergabung di dalamnya.

Komandan penyerangan #OpAustralia Om-Jin selaku Co Founder The Indonesian Security Down mengungkapkan apa yang akan mereka lakukan adalah untuk masyarakat Indonesia. Om-Jin juga menyinggung soal Istana yang tidak setuju hacker Indonesia serang situs Australia, bahwa tidak ada yang dilanggar dengan apa yang mereka lakukan di negara yang demokratis.

"Ini adalah protes kami, selagi Anda (bapak Presiden) tutup mata. Dalam operasi ini kami akan terus bombardir lawan, karena kami tidak pernah merugikan keuangan negara, tidak korupsi, tidak memakan uang rakyat, dan tidak melakukan pencucian uang," ungkapnya dalam laman grup terbuka Indonesia Security Down di Facebook.

Dia melanjutkan bahwa operasi penyerangan ke situs Australia tidak menggunakan uang negara, dan kelompok hacker itu hanya ingin membuktikan bahwa mereka melakukan hal tersebut hanya semata-mata agar privasi Indonesia tidak terusik.

Tak lupa kepada pasukannya, Om-Jin berpesan agar tidak men-deface situs Australia secara acak demi mencegah cyber war dan demi menjaga negara Indonesia juga, dan tidak usah mencari ketenaran atau perhatian. (Merdeka)

Ulah hacker menyerang Australia bikin repot Indonesia

Indonesia Security Incident Response Team on Internet Infrastructure (ID-SIRTII) mengeluhkan ulah hacker muda yang tergabung dalam Anonymous Indonesia karena hanya merepotkan penjagaan keamanan situs penting pemerintah.

Ulah hacker menyerang Australia bikin repot Indonesia

Wakil Ketua ID-SIRTII Muhammad Salahudin mengatakan hacker muda Indonesia itu mengatasnamakan nasionalisme sempit tetapi menyengsarakan banyak pihak demi kejayaan diri sendiri atau kelompok, supaya tenar minta diakui padahal tidak peduli aksinya justru semakin mengundang masalah bagi jaringan Indonesia dan kemarahan pihak lain.


"Apa mereka tidak mikir orang seperti aku terpaksa harus meyakinkan counter part agar tidak ada balasan serangan yang sangat bisa jadi merontokkan jaringan kita, tetapi para ababil ini bersorak kemenangan menganggap pihak Australia misalnya sudah kibar bendera putih, di satu sisi jaringan kita drop turun kualitasnya karena ulah mereka berapa banyak pengguna dirugikan, kesal pria yang akrab dipanggil Didin itu kepada merdeka.com, Rabu (13/11).

Menurut Didin, kalau memang nasionalis, mereka seharusnya bergabung memperkuat ketahanan cyber Indonesia dan bekerja keras di belakang layar.

"Pekerjaan besar menunggu. Maukah menempuh jalan sepi tanpa tepukan penonton dan sorotan media? Serta imbalan cuma cukup buat jajan bakso? Sanggupkah komitmen dedikasi tak terbatas waktu dan tuntutan update, fast self learning serta kontribusi tanpa bertanya kontrak dan bayaran?" tantangnya.

Biasanya, lanjutnya, begitu tahu konsekuensinya, mereka ramai-ramai melipir kabur tiarap atau basa basi sebentar habis itu minggat tanpa kesan.

Untungnya, tambah mantan hacker itu, aset informasi Indonesia yang strategis tidak seberapa. Pihak counterpart, kata Didin, juga menjaga kondisi biar tidak makin keruh.

"Bahasa politiknya cooling down. Asal diketahui saja itu situs intelijen dan militer Australia bukan down karena serangan tetapi emang sengaja dimatikan agar tidak menjadi pemicu. Ini juga bukti bahwa aksi yang semacam itu tak ada gunanya," tuturnya.

Menurut Didin yang punya nama online Pataka itu, kalau secara ekspresi tentang martabat itu bagi Australia sudah cukup memalukan ketika dubesnya dipanggil dimintai penjelasan oleh pemerintah dan sampai Menhannya langsung datang itu secara politis adalah cara Australia meminta maaf.

"Memangnya yakin kita tidak melakukan hal yang sama, yaitu melakukan penyadapan ke mereka?" ujarnya sambil berlalu pergi. (Merdeka)

Situs Dephan Australia akan dihajar hacker Indonesia

Sukses meruntuhkan ASIS.gov.au dan ASIO.gov.au bukan berarti tugas hacker Indonesia berakhir. Kini, mereka merencanakan sasaran selanjutnya yang juga bagian dari situs pemerintahan Australia.

Situs Dephan Australia akan dihajar hacker Indonesia

Pantauan merdeka.com (12/11), sebuah page Facebook bernama Indonesian Security Down Team sekitar pukul 19:30 WIB lalu telah menentukan target selanjutnya dalam aksi #OpAustralia untuk meruntuhkan situs pemerintahan negeri kanguru tersebut. Kali ini, sasarannya adalah situs milik Departemen Pertahanan yang beralamatkan di http://defence.gov.au/.


Untuk menyiapkan serangan ini, para hacker pun kemudian diberikan beberapa informasi mengenai target seperti IP dan port situs tersebut. Selain itu, disediakan pula beberapa tool otomatis berupa DDoS yang bisa digunakan untuk melakukan serangan ini.

Masih menurut page tersebut, serangan ini sendiri sebenarnya telah dimulai pada pukul 19:00 WIB atau sama dengan waktu serangan-serangan sebelumnya. Namun, hingga kini terlihat bahwa situs http://defence.gov.au/ masih beroperasi dengan normal.

Sebelumnya, hacker Indonesia memang berhasil meruntuhkan dua situs resmi milik intelijen Australia dengan nama http://asio.gov.au dan http://asis.gov.au. Khusus untuk http://asio.gov.au sendiri dibutuhkan waktu sekitar 13 jam mengingat situs tersebut ternyata cukup kuat menghadapi serangan para hacker.

Lantas, kapan kira-kira situs http://defence.gov.au/ juga akan jadi korban keganasan hacker kita? Akankah situs ini mampu bertahan? Patut kita simak. (Merdeka)

Hacker Australia serang situs Presiden RI..??

Serangan hacker Indonesia ke Australia yang disebut beberapa pihak sebagai serangan sepihak dan bukanlah cyber war, ternyata pendapat tersebut tidak benar. Hacker Australia yang semula dianggap sebagai teman seperjuangan ternyat amenyerang balik situs Presiden RI.

Hacker Australia serang situs Presiden RI..??

Situs Presiden RI diserang balik peretas Australia dan dibuat down. Namun, untungnya, yang diserang ternyata salah. Yang diserang habis-habisan dan dibuat lumpuh adalah situs www.presidenri.gov.id.


Inilah yang terjadi. Situs pemerintah Indonesia tidak menggunakan singkatan gov.id melainkan go.id. Situs resmi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono adalah www.presidenri.go.id. Hingga pagi ini situs tersebut dalam kondisi baik-baik saja. Sebab meski sama-sama situs dengan domain presidenri, namun antara gov.id dan go.id tentu berbeda.

Pengamat Telematika Heru Sutadi mengatakan dengan serangan balik ini artinya Indonesia sudah harus siap menghadapi cyber war yang terjadi.

"Ini merupakan warning bagi seluruh situs pemerintahan dan militer untuk menjaga sistem informasi dan komunikasi secara aman. Back up semua data, dan siapkan tim yang memantau detik per detik situs setidaknya sampai warning ini dicabut, sehingga bila ada serangan dapat segera ditanggulangi," harap Heru kepada merdeka.com, Sabtu (9/11).

Dikatakannya, perang cyber ini laksana bermain bola. "jika hacker-hacker itu menyerang situs negara lain, ibarat bermain sepak bola, back dan kiper juga harus siap. Sebab jika penyerang gagal, dan terjadi serangan balik, maka kita sendiri yang akan kebobolan habis-habisan. Apalagi diketahui, situs-situs pemerintah dan militer di Indonesia sendiri tidak terlalu kuat dan sudah sering juga dijebol hacker," kata Heru. Merdeka

Penyerangan Situs Inteligen Australia didukung oleh Hacker se-Asia

Hacker Indonesia berhasil mematikan situs http://asis.gov.au hingga status 404 Not Found. Sasaran berikutnya adalah situs http://asio.gov.au yang juga sama-sama situs intelijen yang telah melakukan penyadapan kepada Indonesia.


Penyerangan Situs Inteligen Australia didukung oleh Hacker se-Asia

Berbeda dengan malam sebelumnya, malam ini (10/11), hacker Indonesia mendapat dukungan dari hacker lain se-Asia. Setidaknya demikian komentar yang dibaca dari laman www.status.ws mengenai status jatuhnya server situs Badan Intelijen Australia atau Australian Intelligence Service yang beralamat di www.asis.gov.au.

"All Asia Support you Indonesia," tulis Rachel yang berasal dari Thailand. Dukungan yang dimaksud adalah dukungan untuk menyerang situs pemerintahan Australia sebagai dampak aksi mata-mata dan penyadapan yang dilakukan pemerintah itu terhadap pemerintah Indonesia.

Dan menindaklanjuti serangan kemarin, walaupun situs www.asis.gov.au sudah down, namun para hacker nampaknya masih ingin memastikan bahwa situs ini benar-benar mati. Apalagi sebelumnya, situs yang dibuat down oleh para peretas Indonesia sesekali hidup kembali. "Kita mau kasih 404 not found," kata seorang hacker.

Setidaknya, terdapat dua kelompok hacker Indonesia dengan anggota lebih dari 500 orang yang tengah menyerang situs www.asio.gov.au. Om-Jin selaku komandan serangan hacker Indonesia malam ini meminta para hacker untuk jangan sampai menghentikan serangan walaupun DOWN, karena belum tentu sudah 404 Not Found.

"Persiapkan diri kalian. Ini Bukan tempat untuk mencari ketenaran, siapa hebat dan siapa master , kita semua sama. Kita hanya membuktikan kepada seluruh masyarakat Indonesia, bahwa hacker, DDOSER, caridinger, terserah orang mengatakan apa, kita melakukan hal ini hanya semata-mata agar privasi Indonesia tidak terusik," ujar Om-Jin.

Grup hacker lain, Suram-Crew juga menyasar sasaran yang sama, yaitu http://asio.gov.au yang dimotori oleh Zombie-Root. Berdasarkan situs http://www.zone-h.org/archive, setidaknya sudah lebih dari 100 ribu website Australia dan Amerika Serikat yang disasar para hacker Indonesia. (Merdeka)

5 Cerita seru perang cyber Indonesia vs Australia

Hacker nasional, menunjukkan keberaniannya dalam menghadapi isu adanya kegiatan penyadapan yang dilancarkan Pemerintah Australia. Tanpa dikoordinasi, tiba-tiba saja hacker Indonesia menghujani dunia maya Australia dengan berbagai serangan deface.

5 Cerita seru perang cyber Indonesia vs Australia

Hal ini pun sempat menjadi tajuk utama di beberapa situs berita besar dunia lainnya. Memang, sebagai negara dengan sumber serangan cyber terbesar di dunia, Indonesia terbilang disegani dalam dunia peretasan.

Tak pelak, ancaman akan adanya serangan balasan dari hacker Australia pun mulai ditakutkan. Jika hal ini benar terjadi, maka perang dunia maya antara dua negara bertetangga ini tak dapat dielakkan.



Serangan hacker, kata pengamat telematika Heru Sutiadi, perlu diwaspadai terjadinya serangan balik ke situs-situs Indonesia. "Kita harus waspada menjaga keamanan situs, terutama situs-situs pemerintah dan militer. Bukan tidak mungkin akan ada serangan balik, yang muaranya dapat terjadi perang cyber atau cyber war," pesan Heru.

Selagi menunggu apakah benar perang cyber ini akan terjadi, ada baiknya kita simak 5 fakta menarik di baliknya, apa saja?

1. Berawal dari pemberitaan di koran Australia

Kamis, 31 Oktober 2013, harian Australia, Sydney Morning Herald, mengulas keberadaan dan penggunaan fasilitas penyadapan di Kedutaan Australia di Jakarta dan negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara. Hal ini pun mengagetkan karena ada nama Indonesia di dalamnya.

Kementerian Luar Negeri Indonesia pun tak tinggal diam. ?Kementrian yang dipimpin Marty Natalegawa ini langsung menuntut penjelasan dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta mengenai hal tersebut.

"Duta besar Australia di Jakarta telah diminta datang ke Kementerian Luar Negeri besok untuk dimintai penjelasan resmi dari pemerintah Australia terhadap berita yang dimaksud," seperti dilansir dari siaran pers Kementerian Luar Negeri Indonesia, Kamis (31/10).


2. Mulai menyulut kemarahan hacker Indonesia

Atas alasan itu lah, hacker dari Indonesia yang menamakan dirinya hacker sakit hati dan Newbie xCrotz menyerang lima website asal Australia.

Website tersebut adalah http://www.misshumanityaustralia.com.au/, http://australianprovidores.com.au/, http://www.ecoislandwater.com.au/, http://plapackaging.com.au/, dan http://bioecof1foodware.com.au/.

Pada halaman muka http://www.misshumanityaustralia.com.au/, langsung tampil gambar seorang wanita bermata seram berambut merah panjang berlatar petir dan awan.

Penyusup tersebut yang menamakan dirinya hacker sakit hati, dan di bawahnya tertulis "Dont Touch my country INDONESIA, Stop Spying On Indonesian, your dog b*tch dog really, YOU MOTHER F****R !!!"

Sedangkan bila membuka http://australianprovidores.com.au/, terdapat gambar mata yang mengintip dari lubang kunci, dan di bawahnya terdapat tulisan "Stop Spying On Indonesian", hacker tersebut menamakan dirinya Indonesian Hacker Newbie dan menyematkan juga alamat email xCrotz@hacker-newbie.org.


3. Selang sehari, ratusan situs Australia jadi korban

Semakin menjadi-jadi, perilaku hacker saat ini sudah tak terbatas. Baru-baru ini sebuah laporan yang diterima Merdeka.com (4/11), menyebutkan bahwa ratusan situs Australia 'digarap' hacker dengan cara yang biasa disebut 'spoofing'.

Spoofing merupakan bagian dari teknik hacking yang digunakan untuk memperoleh akses yang tidak sah ke suatu komputer atau informasi dimana penyerang berhubungan dengan pengguna dengan berpura-pura memalsukan bahwa mereka adalah host yang dapat dipercaya.

Dari laporan tersebut juga diketahui bahwa pelakunya menggunakan nama ISD_andreas. Sebanyak 265 situs 'rontok' akibat ulahnya. Adapun situs yang berhasil 'diobok-obok' adalah sebagai berikut:

http://www.smashingsites.com.au/, http://www.bynicholas.com.au/, http://brunswicksinhalalanguageschool.com.au/, http://gofarmer.com.au/, http://www.micronisedminerals.com.au/, http://www.canticum.org.au/, http://shaftesbury.org.au/, http://www.binscreens.com.au/, http://vlassisco.com.au/, http://www.alloverit.net.au/

Data di atas hanya menampilkan 10 situs saja, masih ada 255 situs lainnya yang masih dalam penguasaan hacker. Belum diketahui apakah ini adalah serangan susulan yang dilakukan oleh hacker Indonesia beberapa hari lalu.


4. Aksi sadap Australia perlahan terbongkar


Soal penyadapan, setelah sebelumnya dikabarkan komunikasi pemerintah RI disadap pihak Amerika Serikat, kini situs harian The Australian menuliskan bahwa pemerintah Australia juga menyadap satelit Palapa milik Indonesia.

Pihak yang diduga menyadap adalah Australian Signals Directorate (ASD), salah satu direktorat di Kementerian Pertahanan Australia yang bertanggung jawab atas signals intelligence (SIGNIT).

Informasi mengenai penyadapan satelit ini diungkap Des Ball, professor dari Australian National University's Strategic and Defence Studies Centre. Dalam artikel itu, Satelit Palapa disebut-sebut sebagai sasaran kunci penyadapan yang dilakukan Australia.

Sebelum isu penyadapan satelit Palapa, beredar juga informasi bahwa komunikasi Indonesia ternyata selama ini disadap Singapore Telecom (SingTel), operator telekomunikasi milik Pemerintah Singapura.


5. Potensi perang cyber bisa terjadi dalam waktu dekat

Penyerangan hacker dari Indonesia ke ratusan situs Australia diprediksi bisa memicu cyber war bila tidak diwaspadai pihak-pihak yang berkompeten di kedua negara, apalagi, bila ternyata penyerangan itu bukan dilakukan oleh hacker dari Indonesia.

Selain itu, setelah serangan ke Australia, bukan tidak mungkin akan terjadi serangan ke hacker Australia ke Indonesia dan bermuara pada perang cyber atau cyber war antara Indonesia dan Australia.

Pengamat telematika Heru Sutadi mengatakan kewaspadaan bahwa yang melakukan bukan hacker Indonesia atau hanya peretas dari Indonesia saja, karena jika dilihat bahwa hacker yang menggunakan akun @AnonNewsIndo juga memberikan control panel dengan alamat login di https://202.6.141.215:2083.

"Di linimasa akun twitternya, disana lengkap ada nama pengguna dan password-nya," kata heru yang juga juga Direktur Eksekutif Indonesia ICT Institute ini melalui akun Twitter-nya di @herusutadi.





Sumber : Merdeka

Bareskrim Tangkap 25 Penjahat Cyber Asal Afrika

Tim Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Mabes Polri tangkap 25 orang pelaku kejahatan cyber crime yang berasal dari negara Afrika. Korban yang menjadi target para penjahat cyber yang juga imigran ilegal itu adalah warga negara China, Thailand dan Indonesia sendiri. Penjahat transnasional itu ditangkap di apartemen Kelapa Gading kawasan komplek Mall Of Indonesia (MOI), Jakarta Utara, Kamis (31/10) pagi.

Bareskrim Tangkap 25 Penjahat Cyber Asal Afrika

"Kita harus mengawasi orang asing ke Indonesia seperti ini, kejahatan yang dilakukan email high checking, transnational crime. Sebelumnya sudah sudah ditangkap 5 orang, sekarang ditangkap 25 orang warga asing," kata Kapolri Komisaris Jenderal Polisi Sutarman, di Mabes Polri,  Jalan Trunojoyo, Jakarta, Kamis (31/10).


Para pelaku kejahatan yang digerebek di Apartemen Kelapa Gading itu diangkut dengan menggunakan bus Patas AC 07 jurusan Kampung Rambutan - Tanjung Priok. Para penjahat rata-rata berkulit hitam itu tiba sekitar pukul 11.00 WIB di Mabes Polri sebelum di proses untuk disidik, mereka di jemur beberapa saat di halaman mabes polri. Kapolri mengemukakan, pelaku kejahatan cyber crime sudah dipantau selama sebulan oleh tim penyidik.

"Mereka dipantau dari pengembangan 5 pelaku sebelumnya yang telah di tangkap," ungkap mantan Kabareskrim tersebut.

Modus yang mereka lakukan dengan cara menipu dan mengambil email seseorang dan membajaknya, lalu mengambil data yang digunakan untuk menakut-nakuti, dan berujung pemerasan. Dengan ditangkapnya lima pelaku kejahatan, akhirnya Bareskrim berhasil menggulung 20 komplotan lainnya.

"Kami juga akan terus melakukan pengembangan atas penangkapan para pelaku kejahatan cyber dan jaringannya," tegas Sutarman. (JN)