Kronologi Duel Udara F-16 TNI AU dengan F/A 18 Milik AU diatas Pulau Bawean

Mungkin diantara anda belum pernah mendengar insiden Bawean.Insiden Bawean adalah duel udara pesawat tempur F-16 TNI-AU dengan pewat tempur F/A 18 Hornet milik Angkatan Laut Amerika Serikat (US Navy) yang menerobos masuk wilayah Indonesia di atas kepulauan Bawean. Ini bukan latihan militer, ini kenyataan.

Tanggal 3 Juli 2003, kawasan udara di atas Pulau Bawean sontak memanas ketika lima asing yang kemudian diketahui sebagai pesawat F/A 18 Hornet terdeteksi radar TNI AU. Dari pantauan radar kelima Hornet terbang cukup lama, lebih dari satu jam dengan manuver sedang latihan tempur. Untuk sememntara Kosek II Hanudnas (Komando Sektor II Pertahanan Udara Nasional) dan Popunas (Pusat Operasi Pertahanan Udara Nasional) belum melakukan tindakan identifikasi dengan cara mengirimkan pesawat tempur karena kelima Hornet kemudian menghilang dari layar radar.




Sekitar dua jam kemudian, Radar Kosek II kembali menangkap manuver Hornet. Karena itu panglima Konanudnas menurunkan perintah untuk segera melakukan identifikasi. Apalagi manuver sejumlah Hornet itu sudah mengganggu penerbangan komersial yang akan menuju ke Surabaya dan Bali serta sama sekali tak ada komunikasi dengan ATC terdekat.

Dua pesawat tempur buru sergap F-16 TNI-AU yang masing-masing diawaki Kapten Pnb. Ian Fuadi/Kapten Fajar Adrianto dan Kapten Pnb. Tony Heryanto/Kapten Pnb. Satro Utomosegera disiapkan. Misi kedua F-16 itu sangat jelas yaitu melakukan identifikasi visual dan sebisa mungkin menghindari konfrontasi mengingat keselamatan penerbang merupakan yang utama. Selain itu, para penerbang diminta agar tidak mengunci (lock on) sasaran dengan radar atau rudal sehingga misi identifikasi tidak dianggap mengancam. Namun demikian, untuk menghadapi hal yang terduga kedua F-16 masing-masing dua rudal AIM-9 P4 dan 450 butir amunisi kanon kaliber 20 mm.

Menjelang petang, Falcon Fligh F-16 melesat ke udara dan tak lama kemudian kehadiran mereka langsung disambut dua pesawat Hornet. Radar Falcon Fligh segera menangkap kehadiran dua Hornet yang terbang cepat dalam posisi siap tempur. Perang radar atau jamming antara kedua pihak pun berlangsung seru. Yang lebih menegangkan pada saat yang sama, F-16 yang berada pada posisi pertama telah dikunci, lock on oleh radar dan rudal Hornet. F-16 kedua yang terbang dalam posisi supporting Fighter juga dikejar oleh Hornet lainnya. Namun posisi F-16 kedua lebih menguntungkan. Jika memang harus terjadi dog fight ia bisa melancarkan bantuan.

Untuk menghindari sergapan rudal lawan seandainya memang benar-banar diluncurkan, F-16 pertama lalu melakukan manuver menghindar, yakni hard break berbelok tajam hampir 90 derajat ke arah kanan dan kiri serta melakukan gerakan zig-zag. Manuver tempur itu dilakukan secara bergantian baik oleh F-16 maupun Hornet yang terus ketat menempel. Melihat keadaan yang semakin memanas, F-16 kedua lalu mengambil inisiatif menggoyang sayap (rocking wing) sebagai tanda bahwa kedua pesawat F-16 TNI-AU tidak mempunyai maksud mengancam.

Sekitar satu menit kemudian, kedua F-16 berhasil berkomunikasi dengan kedua Hornet yang mencegat mereka. Dari komunikasi singkat itu akhirnya diketahui bahwa mereka mengklaim sedang terbang di wilayah perairan internasional. "We are F-18 Hornets from US Navy Fleet, our position on International Water, stay away from our warship". F-16 pertama lalu menjelaskan bahwa mereka sedang melaksanakan patroli dan bertugas mengidentifikasi visual serta memberi tahu bahwa posisi F-18 berada di wilayah Indonesia. Mereka juga diminta mengontak ke ATC setempat, karena ATC terdekat Bali Control belum mengetahui status mereka.

Usai kontak Hornet AS itu terbang menjauh sedang kedua F-16 TNI-AU return to base, kembali ke pangkalannya Lanud Iswahjudi Madiun. Selain berhasil bertemu dengan Hornet, kedua F-16 TNI-AU juga melihat sebuah kapal perang Frigat yang sedang berlayar ke arah timur. Setelah kedua F-16 mendarat selamat di pangkalan TNI-AU menerima laporan dari MCC Rai (ATC Bali) bahwa fligh Hornet merupakan bagian dari armada US Navy. Namun yang paling penting dan merupakan tolak ukur suksesnya tugas F-16, Hornet AL AS itu baru saja mengontak MCC RAI dan melaporkan kegiatannya.

Keesokan harinya TNI-AU terus mengadakan pemantauan terhadap konvoi armada laut AS itu dengan mengirimkan pesawat intai B737. Hasil pengintaian dan pemotretan menunjukkan bahwa armada laut AS yang terdiri dari kapal induk USS Carl Vinson, dua frigat dan satu destroyer sedang berlayar diantara Pulau Madura dan Kangean menuju Selat Lombok. Selama operasi pengintaian itu pesawat surveillance B737 terus dibanyangi dua F/A 18 Hornet AL AS. Bahan-bahan yang didapat dari misi itu kemudian dipakai oleh pemerintah untuk melancarkan "keberatan" secara diplomatik terhadap pemerintah AS.




Teknologi Penyerang Radar Pesawat Tempur Lawan

Di kancah Perang Dunia II Jerman berhasil memanfaatkan sinyal komunikasi-navigasi (com-nav) untuk menunjang operasi malam hari pesawat pembom Luftwaffe. Sistem pemancar sinyal yang disebut Knickebein itu akan mengirim kode tertentu pada Luftwaffe saat pesawat tersebut pada posisi yang tepat untuk menjatuhkan bom.

Pada awal dioperasikannya sistem tersebut Luftwaffe sukses menjalankan misi pengebomannya. Bom berhasil dijatuhkan pada sasaran yang tepat. Tetapi, keberhasilan Inggris melakukan infiltrasi sinyal Knickebein mengacaukan misi pengeboman berikutnya. Awak pesawat Luftwaffe bukan hanya kehilangan panduan pengeboman, bahkan disesatkan hingga beberapa di antaranya mendaratkan pesawat mereka di pangkalan Angkatan Udara Inggris.




Intervensi terhadap sinyal Knickebein memperluas zona pertempuran hingga merambah ruang ‘tidak kasat mata’, yakni ranah spektrum elektromagnetik. Ini merupakan perkembangan awal dari fenomena yang diidentifikasi sebagai perang elektronik (electronic warfare). Yakni perang yang menjadikan perangkat elektronik tertentu sebagai sasaran. Perangkat yang menjadi sasaran dikacaukan operasinya hingga terdegradasi fungsinya atau bahkan sepenuhnya macet. Tujuannya menciptakan keunggulan perangkat penunjang pertempuran.

Beradu sinyal

Dalam perang elektronik, sasaran penyerangan adalah perangkat yang menggunakan medium medan elektromagnetik, utamanya adalah radar dan alat komunikasi. Dua perangkat tersebut menjadi target karena urgensinya dalam petempuran yang melibatkan pesawat udara amat vital. Radar dapat mendeteksi keberadaan pesawat penyusup dan menentukan posisi target tembakan. Sedangkan alat komunikasi menjadi sarana koordinasi dan penentuan identifikasi pesawat lain, sekutu atau musuh.

Radar modern, dengan dukungan teknologi komputer, bukan hanya mampu menentukan posisi aktual sebuah pesawat, tetapi juga memprediksi keberadaan pesawat beberapa saat kemudian. Dimungkinkan hasil pelacakannya digunakan sebagai data masukan untuk pengarahan dan penentuan kecepatan peluru kendali (guided missile). Dengan dukungan radar berakurasi tinggi, yang terkonek dengan peluncur rudal atau on-board pada rudal, kemungkinan rudal tepat sasaran sangat besar.

Antisipasi dini terhadap tembakan rudal yang dipandu radar dilakukan dengan pemasangan perangkat RWR (Radar Warning Receiver) pada pesawat. Instrumen ini akan menyalakan sinyal peringatan ketika keberadaan pesawat tengah dilacak radar. Penyalaan sinyal sekaligus menjadi perintah kepada awak pesawat untuk segera mengaktifkan instrumen electronic countermeasures (ECM), disebut juga electronic protective measures (EPM), perangkat yang diadakan untuk melumpuhkan operasi radar.

Deteksi radar dapat dikecoh dengan penghamburan chaff, lempeng metal yang menimbulkan pantulan gelombang radar hingga memunculkan titik-titik target semu pada displai radar. Reaksi yang lebih agresif adalah dengan melancarkan serangan electronik (electronic attack) terhadap radar. Langkah ofensif untuk mendegradasi fungsi radar dilakukan dengan memancarkan sinyal pengganggu gelombang pantul radar.

Frekuensi dan daya sinyal serangan diatur sedemikian sehingga operasi radar terdegradasi, atau bahkan sepenuhnya macet, misalnya dengan memperlambat waktu tempuh pantulan gelombang radar mencapai unit penerima (receiver) radar. Pelambatan tersebut akan membuat perhitungan jarak target tidak sesuai dengan posisi sebenarnya.

Namun, serangan electronik terhadap radar menjadi tidak efektif jika radar telah dilengkapi perangkat ECCM (electronic counter-countermeasures). Dengan alat tersebut radar dapat ‘berkelit’ dari upaya pemacetan (jamming) atau gangguan terhadap operasinya. Ketika terindikasi ada serangan terhadap radar dengan segera dilakukan pemindahan frekuensi dan atau penguatan daya pancar. ECCM yang dilengkapi sensor tertentu juga dapat mengenali target-target semu yang dimunculkan chaff.

Pemindahan frekuensi atau penguatan daya akan mengundang serangan elektronik baru. ALQ-218 TJR, senjata elektronik yang akan dipasang pada pesawat penyerang elektronik generasi baru Amerika EA-18 Growler, misalnya, dapat dengan segera mendeteksi pemindahan frekuensi, dan frekuensi penyerangan pun segera menyesuaikan. Ini membuat pertempuran elektronik terus berkecamuk hingga salah satu pihak berhasil sepenuhnya mengontrol pergerakan energi-sinyal frekuensi di ranah spektrum elektromagnetik.

Perangkat avionik lain yang sering menjadi sasaran serangan elektronik adalah sistem komunikasi, salah satunya IFF (identification, friend or foe). Penyerangan terhadap IFF dimungkinkan karena instrumen tersebut juga menggunakan sinyal gelombang elektromagnetik untuk menginterograsi pesawat lain, teman atau lawan. Penurunan efektivitas IFF diupayakan dengan melakukan interferensi terhadap sinyal IFF atau memecahkan pengacakan kode transponder replay-nya.

Efektivitas serangan

Efektivitas serangan elektronik terhadap radar didemonstrasikan oleh aksi penyusupan pesawat Israel ke dalam wilayah Suriah awal September 2007 lalu. Pesawat penyusup yang melakukan penyerangan terhadap sebuah bangunan tersebut berhasil memasuki wilayah Suriah tanpa terdeteksi radar. Ditengarai penyusupan pesawat tidak berkarakteristik siluman itu diawali dengan serangan elektronik oleh sebuah pesawat tak berawak hingga radar pemantau (surveillance) buatan Rusia yang dioperasikan pihak pertahanan udara Suriah berhasil dimacetkan.

Amerika secara efektif juga menggunakan pesawat penyerang elektronik EA-6B Prowler di berbagai medan pertempuran, antara lain di Bosnia, Kosovo, Afghanistan, dan Irak. Dengan perangkat ALQ-99 dan USQ-113 pesawat tersebut mendegradasi fungsi radar dan alat komunikasi lawan.

Aksi serangan elektronik menjadi pembuka jalan bagi pesawat lain, terutama tipe fighter atau pengebom untuk menjalankan operasinya. Ini menempatkan pesawat penyerang elektronik (electronic attack aircraft atau AEA) pada peran yang strategis, mengawal sebuah penyerangan. Keberhasilan serangan elektronik merupakan sebuah kemenangan awal pertempuran, sebelum akhirnya dituntaskan oleh pesawat tempur atau pengebom.***

M. Nurdin Suhar.
Karyawan PT Dirgantara Indonesia Bandung.*

Profile si Tua Tank 72 dan Tank 72 AG

TIDAK selamanya yang tua itu kalah dari yang muda. Begitulah barangkali semboyan tentara Irak dalam menghadapi senjata mutakhir pasukan gabungan Amerika-Inggris. Senjata-senjata kadaluwarsa yang berusia 30 tahunan nyatanya masih efektif menahan laju pasukan koalisi. Salah satunya adalah tank antipesawat bernama T-72. Terbukti kemampuannya di medan tempur masih bandel menghadapi serbuan mesin perang canggih AS.

Tank T-72 merupakan senjata pemusnah yang diciptakan Kharkiv Morozov dari Soviet yang kini menjadi Rusia, pada dekade 70-an. T-72 merupakan pengembangan dari T-64. Bentuknya mengingatkan pada tank seri T-54/55/62 dengan paduan bentuk konvensional dan ruang bahan bakar yang menyatu dengan tampilan roda yang efektif. Bila tank jenis T-64 lebih banyak digunakan di negara-negara maju bagian dari Uni Soviet, T-72 telah menyebar di dalam USSR dan diekspor ke negara-negara di luar Soviet. Jenis tank ini juga diproduksi di beberapa negara yaitu dan di Cekoslovakia, India, Polandia dan Yugoslavia.




Kendaraan ini terlihat angkuh di jalan raya dengan tongkrongan bodi besar. Panjang chasis 44,5 meter, tinggi 2,19 meter, lebar 3,58 meter dan berat 41 ton. Di dalamnya cukup lega untuk menampung 3 awak yaitu commander, pengemudi, dan penembak. Setelah disokong oleh kekuatan diesel 840 tenaga kuda, T-72 mampu melaju 45 Km/jam di medan darat. Transmisinya menggunakan sistem Syncromesh, dengan 7 gigi depan dan 1 cadangan. Kemudi mesinnya menggunakan metode clutch and brake. Di medan air pun ia mampu melakukan menyelam hingga kedalaman 5,0 meter. Namun diperlukan persiapan sebelumnya selama 20 menit untuk mengaktifkan kekedapan terhadap air.

Adapun yang membuat T-72 ini disegani lawannya adalah kelengkapan persenjataan yang disandang. Senjata meriam 2A46M/D-81TM kaliber 125 mm tipe smoothbore merupakan andalannya. Di samping itu T-72 dilengkapi amunisi Frag-HE (FS), HEAT-FS, dan HVAP-FSDS. Selongsong pelurunya dapat diisi secara otomatis dan manual dengan sudut bidik dari titik terendah -6 sampai +14 derajat. Kecepatan gerak senjata mengikuti lawan 25 Km/jam tergantung pada kondisi jalan dan jarak dengan sasaran. Namun biasanya diperlukan waktu berhenti sebelum menembak. Salah satu bukti kehebatannya adalah kemampuan menggulingkan tank jenis IFV dengan tembakan meriam utamanya hanya sekali bidik.

Tank T-72 AG


Tank T-64

Tank T-72


tank M1 Abrams M1


Daya Gempur

Meskipun menyerupai jenis T-62, tank T-72 memiliki mobilitas lebih tinggi dengan keluaran tenaga sebesar 780 HP (tenaga kuda). Mesinnya memiliki getaran yang halus dan kedap dari asap sehingga goncangan yang terjadi dalam kabin tank minimal. Keuntungannya awak yang ada di dalamnya tidak cepat lelah dibanding berada di tank dengan getaran yang kuat. Meskipun memiliki bodi yang lebih besar T-72 diyakini memiliki kecepatan yang sama dengan T-64. Pada jenis T-72B1 digerakkan oleh piston V-12 pengolah multi bahan bakar (diesel, bensin atau minyak tanah). Bahan bakar cadangan lainnya dapat ditampung pada 2 drum yang menempel pada pantat kendaraan.

Di samping itu T-72 memiliki baja perlindungan yang kokoh yang lebih baik dari generasi sebelumnya. Lempeng baja pasifnya dapat menahan serangan dari senjata kaliber 105 mm yang ditembakkan dari tank M1 Abrams dari jarak 2.000 meter. Model terakhir T-72Ms, T-72M1s dan T-72AG yang juga dilengkapi dengan laser pelacak serta alat pengindera malam. Fungsinya adalah untuk memastikan ketepatan tembakan sampai jarak 2.000 meter. Sinar infra-merah pada badan T-72 diletakkan di sisi kanan meriam utama. Letaknya berlawanan dengan sisi kiri pada jenis T-64.

Untuk T-72AG dengan alat penginderaannya tersebut mampu melihat sasaran pada siang hari sejauh 5.000 meter dan pada malam hari sampai sejauh 700 meter. Sedangkan T-72 hanya mampu melihat sejauh 2.000 meter pada siang hari dan 400 meter pada malam hari.

Meriam putar terbentuk dari baja dengan ketebalan maksimum 280 mm, moncongnya setebal 80 mm dan lapisan glacis setebal 200 mm membungkus lapisan baja. Selain memiliki sistem pendeteksi radiasi PAZ, T-72 dilengkapi dengan sistem antiradiasi kapal dan sistem penyaringan kolektif NBC serta sistem penahan tekanan. Sementara penunjang senjata utama adalah senapan mesin PKT kaliber 7,62 mm dengan jangkauan efektif siang hari 1.000 meter, malam hari 800 meter. Di sisi kanan juga terdapat peluncur roket ATGM jenis 2A46 M.

Sistem peralatan, amunisi dan kontrol senjata yang dimiliki T-72 hampir sama dengan T-62. Senjata yang dipakai kaliber 125 mm mampu untuk menembus lapisan baja dari tank Abrams M1 dari jarak 1.000 meter. Apalagi dengan dukungan peluru BK-27 HEAT semakin meningkatkan daya rasuk ke kendaraan lapis baja konvensional tiga kali lebih hebat. Sementara tipe peluru BK-29 didesain untuk menembus kendaraan lapis baja yang lebih lincah.

Saat ini sekitar 29 negara menggunakan tank T-72 ini termasuk Amerika Serikat. Di wilayah Arab yang menggunakan di samping Irak adalah Siria, Iran, dan Libia. Sebagian besar negara di Eropa bekas pecahan Uni Soviet masih banyak yang mempercayakan pada keandalannya. Sementara India yang berada di Asia menjadi salah satu yang menggunakan T-72. (Mohamad Syaefudin-35)

Profile Tank Amfibi BMP-3F

Oleh : Kolonel Mar Bambang Hullianto, Dan Menkav 1 Marinir

BMP–3F yang diproduksi oleh Rusia adalah kendaraan tempur (Ranpur) lapis baja yang bisa dikatakan sempurna dari segi teknologi dan kebutuhan pertempuran masa kini (Pertempuran Asimetris).

Awalnya angkatan bersenjata Rusia mulai menggunakan Ranpur jenis BMP sejak tahun 1980 dengan type BMP–2 (sekelas BVP-2 Slovakia yang TNI punya), pada akhir dasa warsa 1980-an.



BMP–2 sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan pertempuran saat ini, selain fungsi ganda sebagai kendaraan angkut personil dan sebagai ranpur utama.


BMP–2, ranpur angkut personil yang dijadikan basis pengembangan BMP-3

Diantara beberapa masalah yang belum terpecahkan saat membuat Ranpur baik di Rusia maupun di negara barat
adalah :

* Kemampuan menghancurkan musuh dengan instalasi yang dapat meluncurkan roket kendali anti Tank.
* Kemampuan menembakan peluru kanon ketika ranpur bergerak dalam segala kondisi cuaca (siang dan malam).
* Kemampuan menembak secara efektif dari segala jenis senjata (shell) ketika Ranpur/ panser mengarungi laut bergelombang di segala cuaca.
* Digunakannya roda-rantai sebagai dasar swa-gerak.
* Permasalahan ini dapat terpecahkan ketika BMP–3F dibuat. Hasil uji coba dalam iklim yang berbeda, baik di darat maupun di laut menegaskan efisiensi dan efektifitas yang tinggi pada BMP –3 F.


BMP-3 dengan corak gurun milik UEA

Di era 90-an BMP–3 pernah di ujicoba di United Arab Emirates bersama dengan ranpur lainnya, diantaranya buatan Inggris dan Amerika. Dari hasil ujicoba tersebut memperlihatkan hasil yang sangat memuaskan pada BMP-3.

Selanjutnya BMP–3 disempurnakan kembali khususnya untuk manuver di laut, dimana penambahan Snorkel (sirkulasi
udara saat manufer di laut ruang pasukan / tempur tetap normal), dan perbaikan pada tameng di kubah untuk menahan air agar tidak masuk ruang tempur.


Modernisasi meriam pada ranpur berbasis BMP-3

Dengan penyempurnaan ini versi BMP–3 menjadi BMP–3F, BMP–3F memiliki beberapa fitur khusus antara lain :

* Kontruksi (chasis) BMP–3F memungkinkan untuk dimodernisasi, mudah perawatannya dan minim pemeliharaan.
* Dengan adanya beberapa penyempurnaan BMP–3F menjadi ranpur segala medan yang cukup berat, namun hal ini bisa diimbangi dengan manuver dan pertahanan diri yang lebih baik
* BMP–3F mengaplikasi persenjataan baru (SKS Arteleri – Roket – Meriam) dengan sistem kontrol penembakan secara otomatis.
* BMP-3F mampu menembak tepat dari segala jenis senjata saat bergerak karena di BMP3F sudah menggunakan skema balok
* penggontrol penembakan otomatis yang baru (pola stabilizer sistem baru).
* Turet BMP-3F, sistem kontrol penembakan dapat dilakukan secara otomatis.
* Kunstruksi persenjataan BMP–3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet): Meriam, peluncur roket berkaliber 100mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan Mitraliur berkaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memungkinkan

awak ranpur dapat memilih dengan cepat keperluan penggunaan senjata dalam situasi tempur tergantung dari sasaran yang diinginkan baik darat, laut maupun udara.

Sistim pengontrol penembakan otomatis yang terdiri dari stabilisator senjata alat pembidik, kombinasi dengan stabilisasi pembidikan dalam 2 bidang : Azimut dan Elevasi (tinggi di atas permukaan laut) alat pengukur jarak/ lasser, alat pembidik komandan kendaraan, alat perhitungan lintasan tembakan, alat pengumpul data.

Sistem pengontrol penembakan otomatis itu memberi kesempatan kepada satuan infantry melaksanakan tugas taktis yang mereka hadapi (KSIT), penggunaan senjata secara efisien dan memperlihatkan keunggulannya dibandingkan dengan system pengontrol penembakan yang tidak otomatis.

Alat sistem pengontrol penembakan otomatis BMP–3F mampu mempertimbangkan berbagai data (diturunkannya atau dinaikannya alat pengontrol BMP-3F) untuk bidikan tepat, oleh karena itu penembakan dari segala jenis senjata akan selalu tepat.


dipegunungan atau menembaki sasaran udara seperti helicopter yang terbang hover/terbang diam. Untuk menembak dengan roket kendali atau peluru berkaliber 100 mm dan peluru berkaliber 30 mm hanya perlu ditekan satu kenop, fungsi pembidik tidak berubah sambil menembak dari segala jenis senjata, amunisi bagi meriam mesin berkaliber 30 mm dan mitaliur (kal 76,2mm) dimasukkan ke dalam "pitaban" peluru yang tidak putus-putusnya dan dapat digunakan lagi tanpa diisi kembali, peluru fragmentation/ asap dan brisan/pecah berkaliber 100 mm terletak di dalam otomat pengisian yang memungkinkan menembak 10 peluru/menit.

Kalau kita membandingkan dengan kendaraan berlapis baja, baik buatan Rusia maupun buatan negara Barat, maka kita bisa melihat kekhususan prinsipil yang utama BMP–3 F, yaitu bahwa seksi motor transmisi ditempatkan di bagian belakang badan BMP – 3 F dan di bagian depan badan BMP–3 F dipasang tiga mitraliur PKT dan PKTM serta ditempatkan seksi pasukan infantri pendarat karena itu efisiensi tembakan sepanjang arah gerakan BMP – 3 F jadi meningkat.

Kalau pasukan pendarat berada diluar BMP–3 F pengemudi sendiri mampu menembak dari mitraliur–mitraliur itu, persediaan amunisi untuk mitraliur berkaliber 7,62 mm berjumlah 6.000 peluru.

Berkat mitraliur itu kekuatan penggempur BMP–3 F meningkat, untuk dapat enghancurkan musuh yang berjarak dekat sedang. Data dari “Jane’s Soviet Intelligence Revier” menyatakan bahwa spesialis militer dari Negara-negara barat menilai tinggi kemampuan BMP–3F.

Pesawat Tornado Arab Saudi

Pemerintah Arab Saudi akan melengkapi persenjataan untuk pesawat tempur Tornadonya yang sedang di upgrade di Inggris, guna memperkuat angkatan udara-nya. Dalam program ini ditengarai pihak Inggris akan melengkapinya dengan sista rudal jelajah Storm Shadow dari MBDA. Pada tanggal 2 April lalu dari pangkalan BAE Systems, Warton melesat pesawat Tornado milik AU Kerajaan Arab Saudi dengan membawa rudal Storm Shadow yang terpasang pada bagian bawah fuselage pesawat.




Bulan Pebruari lalu, Pimpinan dari MBDA, Marwan Lahoud memberikan keterangan press bahwa perusahaan berupaya untuk mendapatkan kontrak senilai 1,5 milyar Euro untuk meng-upgrade persenjataan pesawat Tornado Arab Saudi. Walau tidak disebutkan jenis senjata yang akan ditawarkan oleh MBDA, berbagai pihak menebak bahwa persenjataan yang akan dijual kepada Arab Saudi termasuk rudal Storm Shadow (Rudal anti-tank dari Brimstone) dan kemungkinan rudal udara-ke-udara jarak pendek ASRAAM.

BAE Systems merupakan salah satu peserta tender yang unggul untuk program paket upgrade dan persenjataan untuk pesawat Tornado milik Saudi. Mereka tidak bersedia menyebutkan persenjataan apa yang nantinya pasti akan melengkapi Tornado tersebut.

Sementara itu pihak Arab Saudi juga menaruh minat pada precision-guided bomb generasi baru yang telah dikembangkan oleh pihak Raytheon.

Rudal Storm Shadow memperlihatkan debutnya saat digunakan oleh AU Kerajaan Inggris pada operasi invasi ke Iraq pada tahun 2003, dimana pesawat GR4 Tornado memuntahkan rudal-rudal tersebut terhadap berbagai target di Iraq.

Perancis juga mengoperasikan sista rudal sejenis dengan nama Scalp EG, rudal ini sudah di ekspor ke Yunani dan Itali. Dan versi Scalp EG yang diberi nama Black Shaheen juga sudah di ekspor ke Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan negara tetangganya.

Dibawah aturan Missile Technology Control Regime, pihak MBDA harus mengurangi muatan bahan bakar rudal Storm Shadow untuk dijual ke Arab Saudi sehingga jarak tembaknya menjadi kurang dari 300 km.

Industri pertahanan Inggris merupakan salah satu pemasok terbesar angkatan besenjata Kerajaan Arab Saudi melalui program proyek Al Yamamah. Pemerintah Arab Saudi diperkirakan akan memesan 72 unit pesawat tempur Eurofighter Thypoon untuk menggantikan Tornado.

Tactical Communication Antara Penerbang Pesawat Pemburu Dengan Pusat Kendali

Melihat Pesawat Stealth di Layar Radar

F Djoko Poerwoko

”Foxtrot One.. tally hoo.. bandit at ten o’clock six thousand feet high.”

”Keep padlock, ready to destroy bandit if VID (visual identification)....”

”Destroy bandit, wilco….”

Sepenggal tactical communication antara penerbang pesawat pemburu dengan pusat kendali operasi pertahanan udara ini mengisyaratkan bahwa pesawat musuh terlihat secara visual oleh penerbang dan telah diperintahkan untuk dihancurkan.

Sebagai informasi, di negara mana pun proses penyergapan pasti melibatkan radar pertahanan udara (militer) yang dapat mendeteksi semua pesawat terbang, baik kawan maupun lawan, termasuk pesawat penyergap sebagai eksekutor dan pesawat musuh yang harus disergap.




Namun, dalam realita, proses penyergapan sampai eksekusi kegiatan penyergapan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Terlebih setelah kemajuan teknologi di bidang penerbangan yang terus berkembang menghasilkan pesawat Stealth, sang siluman yang konon tidak dapat ditangkap radar.

Untuk dapat melihat pesawat atau obyek di udara, sebuah radar memancarkan gelombang elektromagnetik dari sistem transmiternya. Setelah gelombang tersebut mengenai obyek di udara, gelombang itu lalu dipantulkan kembali oleh obyek untuk diterima receiver radar.

Seluruh data tentang perbedaan waktu antara pengiriman dan diterimanya kembali gelombang pantulan diperhitungkan dengan arah horizontal dan vertikal antena, dikalkulasi oleh prosesing radar sehingga obyek yang tertangkap tersebut dapat ditentukan jarak dan arah (bearing) serta kecepatan dan ketinggiannya dari radar.

Kemampuan yang dimiliki radar pertahanan udara modern ini disebut radar 3D (tiga dimensi: jarak, arah, dan ketinggian). Di beberapa negara, dengan prosesing tambahan, beberapa tipe radar dapat menentukan jenis dan macam pesawat yang tertangkap radar tersebut.

Biasanya, setiap radar militer dan sipil juga dilengkapi dengan interogator IFF (identification friends or foe) yang sering disebut sebagai radar sekunder. Interogator ini mengirim sinyal pertanyaan yang disebut sebagai mode 1, mode 2 (khusus pesawat militer), mode 3/A (identifikasi untuk semua pesawat), dan mode C (pertanyaan tentang ketinggian terbang).

Pesawat yang dilengkapi transponder IFF, setelah menerima sinyal pertanyaan (mode 1, 2, 3/A, dan C) akan menjawab sesuai pertanyaannya secara otomatis. Data perbedaan waktu antara dikirimnya sinyal pertanyaan dan diterimanya kembali jawaban dari pesawat serta arah horizontal antena dikalkulasi oleh prosesing radar sekunder sehingga pesawat yang menjawab dapat ditentukan jarak dan arahnya (bearing-nya) dari radar.

Dengan kata lain, untuk penerbangan sipil, radar sekunder banyak dipakai sebagai peralatan pendukung keselamatan penerbangan dengan kemampuan dapat melihat pesawat-pesawat yang harus dan bersedia diketahui posisinya demi keselamatan penerbangan.

Adapun radar militer, selain memiliki kemampuan serupa, juga dapat mendeteksi pesawat yang tidak ingin diketahui keberadaannya. Radar militer menggunakan kemampuan radar sekunder sebagai alat bantu untuk mendeteksi dan menentukan pesawat milik kawan atau lawan.

Teknologi

Kompetisi antara pengembangan teknologi pesawat tempur dan radar pertahanan udara selalu terjadi. Pihak pengembang pesawat tempur selalu berusaha untuk menciptakan pesawat yang tidak dapat tertangkap oleh radar, sedangkan pihak pengembang radar berusaha untuk menciptakan radar yang selalu dapat menangkap semua jenis pesawat terbang.

Mereka bersaing di daerah gelombang radar tertentu. Di mana pada umumnya gelombang yang dipancarkan oleh radar menggunakan frekuensi di daerah long band atau L band dan short band atau S band, yaitu frekuensi antara 1 GHz hingga 4 Ghz, sedangkan radar navigasi kapal laut bekerja pada frekuensi S band dan X band, yaitu antara 8 GHz sampai 12 GHz.

Dalam persaingan ini, berbagai cara telah diusahakan oleh pengembang pesawat, yaitu mulai dari pesawat yang dapat mengeluarkan chaff (pengacak gelombang radar) hingga tercipta pesawat jenis stealth atau siluman yang direncanakan sedemikian rupa, baik bentuk, jenis lapisan pelindung, maupun jenis catnya, sehingga setiap gelombang elektromagnetik yang mengenai pesawat tersebut akan diserap atau dipantulkan ke tempat lain.

Menyadari hal ini, beberapa pengembang radar, khususnya yang menjadi pesaing negara adikuasa pemilik teknologi stealth, mengembangkan metode baru di mana gelombang elektromagnetik yang dipancarkan bukan dari L band, S band atau X band, tetapi gelombang yang sangat rendah frekuensinya, dari 100 Mhz hingga 400 Mhz, atau gelombang yang bekerja pada frekuensi VHF (very high frequency) dan UHF (ultra high frequency).

Walhasil, dengan frekuensi band di VHF dan UHF, ternyata pesawat jenis stealth masih tetap memantulkan gelombang elektromagnetik walaupun pantulannya menyebar. Agar pantulan gelombang elektromagnetik yang tersebar dari pesawat jenis stealth tersebut dapat ditangkap kembali, diciptakanlah radar di mana tidak hanya terdapat satu receiver, namun banyak receiver yang digelar pada area yang luas. Metode ini terbukti andal dan sejumlah Stealth tertangkap radar dan bahkan pernah ditembak jatuh beberapa tahun yang silam.

Meskipun terlihat andal, radar jenis ini masih mempunyai kelemahan karena dalam setiap operasinya selalu memancarkan gelombang elektromagnetik. Hal ini menjadi kerawanan tersendiri karena tetap dapat dilacak oleh rudal jenis HARM (high speed anti radiation missile) sang penghancur radar. Pasalnya, rudal jenis ini akan homing menuju transmiter radar yang memancarkan gelombang elektromagnetik. Selama masih ada gelombang elektromagnetik yang dipancarkan, kedudukan atau posisi radar dapat dilacak, diketemukan, dan dihancurkan.

Masih ada cara lain

Setiap pesawat tempur modern diterbangkan dengan teknologi maju. Banyak perangkat yang diciptakan untuk membantu pekerjaan penerbang, mulai dari komputer sebagai alat pengendali, komunikasi radio, navigasi ataupun alat identifikasi diri berupa transponder IFF agar pesawat ini selalu ditengarai sebagai pesawat kawan oleh radar pertahanan udara kawan.

Meskipun pesawat siluman tidak memancarkan radar, tetap ada pancaran gelombang radio yang keluar darinya. Inilah yang jadi obyek penelitian untuk menemukan cara terbaik mendeteksi pesawat siluman saat ini.

Prinsip kerjanya cukup sederhana, setiap pesawat memiliki gelombang elektromagnetik yang terpancar. Sekecil apa pun pancaran gelombang itu akan dapat ditangkap dan diperbesar serta diolah sehingga menjadi masukan yang berharga dalam mendeteksi adanya sumber gelombang.

Dengan proses berikutnya dapat diketahui apakah sumber gelombang tersebut merupakan suatu target yang berbahaya atau tidak, untuk menentukan tindakan selanjutnya. Agar radar dapat menangkap gelombang elektromagnetik ini, diciptakanlah sebuah radar yang tidak memancarkan gelombang elektromagnetik, tetapi memanfaatkan limbah gelombang elektromagnetik atau gelombang radio yang terpaksa harus dikeluarkan oleh pesawat tempur lawan, termasuk pesawat siluman.

Teknologi ini dikenal dengan nama radar pasif, yaitu sebuah perangkat radar yang hanya terdiri dari receiver saja, atau radar yang sama sekali tidak mengeluarkan gelombang elektromagnetik. Dengan demikian, sulit untuk dapat dilacak di mana kedudukannya.

Receiver yang bekerja pada spektrum frekuensi 0,1 Ghz hingga 46 Ghz ini memungkinkan semua gelombang radio yang terpancar dari pesawat dapat ”didengar” serta diolah sehingga dapat dijadikan masukan yang sangat berarti.

Untuk itu, diperlukan tiga macam receiver yang diletakkan satu sama lain berjarak 30 km-50 km sehingga area yang ter-cover dapat mencapai jarak hingga 550 km dari titik pusat reciver yang diletakkan di tengah. Daerah liputan selebar 100 km x 550 km pun dapat terdeteksi dengan akurasi tinggi, sedangkan diluar itu toleransi kesalahan cuma satu kilometer.

Berbasis fiber

Apabila digabung dengan transmisi data berbasis fiber optik, data ini dapat dikirim ke pusat pengendalian pertahanan udara dan menjadikan satu jebakan pertahanan udara yang tidak dapat diendus musuh dengan cara apa pun, layaknya jebakan sarang laba laba.

Setiap sistem receiver dilengkapi dengan tiga macam antena, yaitu antena yagi untuk menangkap gelombang radio dengan frekuensi antara 0,1-0,8 Ghz, antena wide band dish untuk menangkap gelombang radio dengan frekuensi antara 0,85-40 Ghz, serta antena horn untuk menangkap gelombang radio dengan frekuensi antara 40-46 Ghz.

Karena dapat menangkap gelombang elektromagnetik dengan frekuensi mulai 0,1 GHz sampai 46 GHz, jebakan radar ini dapat menangkap sinyal mulai dari pesawat terbang yang terbang tinggi hingga kapal laut ataupun kapal selam, manakala sang kapal selam ini terpaksa harus mengirim sinyal untuk berkomunikasi atau bernavigasi lewat antena yang mencuat di atas permukaan laut.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, saat ini telah diciptakan satu sistem receiver dengan berat hanya sekitar 150 kilogram dan kebutuhan pasokan catu daya listrik tidak lebih dari 1.000 watt serta dapat digelar menggunakan tenaga manusia sehingga hanya perlu waktu kurang dari 30 menit untuk siap dioperasikan sebagai sistem pertahanan udara yang siap beroperasi.

Beberapa negara telah mengembangkan sistem yang telah terbukti andal dalam beberapa konflik terakhir dan terus berkompetisi dengan pengembang pesawat dan pengembang radar. Tetapi, yang jelas, sistem yang andal ini masih dapat tertembus juga oleh sebuah pesawat yang sama sekali tidak dilengkapi dengan peralatan komunikasi radio dan tidak memiliki alat navigasi elektronis serta diterbangkan secara manual.

Mungkin negara kita perlu juga mengadopsi teknologi ini untuk menambah kekuatan pengawasan ruang udara dan kekuatan deterrent kita. Di sisi lain, selain secara teknologi kita mampu, juga karena sifatnya yang pasif sehingga biaya pembuatan, operasi, dan perawatan pasti jauh lebih murah dibandingkan dengan hanya mengandalkan radar aktif.

F Djoko Poerwoko Marsekal Muda TNI/ Penerbang Uji

Efek G Pada Simulasi Pesawat Tempur

EFEK G PADA SIMULASI PESAWAT TEMPUR
Oleh :Kapten Lek Ir. Arwin “Daemon” Sumari, FSI, FSME, VDBM, SA1

Faktor utama yang membedakan pesawat tempur dengan pesawat angkut dan helikopter adalah kemampuan manuver yang tinggi di udara (high maneuverability). Dengan kemampuan spesifik ini adalah lumrah bila pesawat tempur dapat “menari-nari” dengan luwes memperagakan berbagai gerakan yang indah di udara. Tetapi “tarian”



yang indah ini dapat membawa ke kehancuran bila pilot kehilangan kesadaran (unconsciousness) sebagai akibat dari black out setelah menerima efek G (G-force) yang melebihi kemampuan daya tahannya (overload) saat melakukan gerakan-gerakan di udara tersebut. Salah satu cara mencegah hal ini terjadi adalah selain secara kontinyu melakukan centrifugal test, juga melatih kecepatan respon di udara dengan terbang menggunakan simulator.
-----------------------
Arahan Bagi pembaca :
Bagi anda pembaca awam maka ini bisa di jadikan bahan bacaan yang baik untuk menambah pengetahuan di bidang kedirgantaraan khususnya bidang Angkatan Udara

Download E-book Efek G Pada Simulasi Pesawat Tempur