Tampilkan postingan dengan label JurnalAirCraft. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JurnalAirCraft. Tampilkan semua postingan

PESAWAT AIRBUS A400M, TACTICAL TRANSPORT AIRCRAFT, EUROPE

Biaya pembuatan pesawat pengangkut militer Airbus A400M telah melampaui anggaran pembuatannya beberapa miliar dollar AS. Namun, pesawat ini melakukan penerbangan uji coba perdana di Sevilla, Spanyol pada Jumat 11/12/2009

Rata Penuh
Biaya pembuatan pesawat raksasa berwarna abu-abu ini menghabiskan 20 miliar euro atau 5 miliar euro lebih besar dari rencana sebelumnya. Penyelesaiannya juga tiga tahun lebih lambat dari jadwal.

Pembuatan A400M pertama kali disetujui oleh anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), yaitu Jerman, Spanyol, Perancis, Inggris, Turki, Belgia, dan Luksemburg.

Louis Gallois, pemimpin EADS, perusahaan induk Airbus, mengatakan, penerbangan perdana itu merupakan awal dari serangkaian uji coba yang dilakukan dalam satu tahun ke depan. ”Pesawat kedua akan terbang pada akhir Maret 2010 dan yang ketiga akan terbang sebelum musim panas 2010,” ujarnya.

Tujuh negara telah memesan 180 pesawat, sebagian sebagai pengganti pesawat Transall dan C130 Hercules. Akan tetapi, banyak pihak yang menyesalkan penundaan penyelesaian. Afrika Selatan, misalnya, membatalkan pesanan dan tinggal Malaysia sebagai pemesan di luar Uni Eropa.

Penerbangan perdana sebenarnya dijadwalkan pada tahun 2008, dan pengiriman ke pembeli dilakukan pada akhir tahun 2009. Akan tetapi, dalam perjalanannya banyak sekali hambatan teknis serius, khususnya pada bagian mesin baling-baling.

A400M, yang berharga 100 juta dollar AS, dapat terbang setinggi 12.000 meter serta dapat mendarat di landasan pendek dan tidak mulus.

Baling-balingnya memiliki kekuatan 11.000 tenaga kuda dan merupakan mesin yang paling kuat yang dibuat di luar Rusia.



Akan tetapi, pengiriman pertama tertunda setidaknya hingga awal tahun 2013. Perancis dan Jerman telah memberikan waktu kepada Airbus hingga akhir tahun ini untuk membuktikan bahwa proyek A400M masih dapat dilanjutkan. Inggris juga mengalihkan pesanannya ke AS dan berkeras akan menegosiasikan kembali kontraknya.

EADS telah mengeluarkan dana sebesar 2,4 miliar euro untuk menutupi kerugian pada proyek A400M ini. Jumlah itu belum termasuk biaya pembuatan pesawat baru.

Fabrice Bregier, salah seorang anggota dewan eksekutif EADS, mengatakan bahwa kelompok negara NATO tersebut sepakat untuk menerima harga yang lebih tinggi, tetapi dia berharap ada kontrak baru dari pembeli yang disepakati pada akhir tahun 2009. (AFP/joe)


Dimensions:
Length
43.8m
Height
14.6m
Wingspan
42.4m

Weights:
Maximum Take-Off Weight
130t
Maximum Landing Weight
114t
Operating Empty Weight
70t
Maximum Payload
37t
Total Internal Fuel
47t

Engines:
Type
4 x TP400-D6 turboprop
Power
Over 11,000shp each

Performance:
Cruise Speed
Mach 0.68 to 0.72
Maximum Operating Speed
300kt CAS
Range at Maximum Payload
1,800nm
30t Payload Range
2,600nm
20t Payload Range
3,750nm
Maximum Operating Altitude
37,000ft

Tanker Performance Characteristics
2-point role-convertible tanker/transporter
Fuel Capacity
46.7t or 58t with two cargo bay fuel tanks

Cargo Box Dimensions:
Length (Excluding Ramp)
17.71m
Ramp Length
5.4m
Width
4m
Height
3.85m
Height (Aft of Wing)
4m
Cargo Box Capacity
342m³

Boing Berteknologi ATL (Adavanced Tactical Laser)

KIRKLAND - Perusahaan pesawat terbang Boeing Co menyatakan telah menguji pesawat terbang yang dilengkapi dengan senjata laser taktis (advanced tactical laser/ATL). Hasilnya, senjata yang diletakkan pada bagian bawah badan pesawat militer C130-Hercules itu mampu menghancurkan target level tinggi tanpa melukai seorang pun di dekatnya.

Boeing mengatakan, laser teknologi tinggi tersebut diyakini akan mengubah peralatan perang masa depan itu sehingga bisa menembak sasaran dari jarak berkilo-kilometer dengan ketepatan tinggi



"Itu sama seperti punya penembak jitu di angkasa. Bila memiliki senjata tersebut di medan perang, tak akan ada lagi tempat aman bagi musuh untuk bersembunyi," kata Gary Fitzmire, wakil presiden sekaligus direktur program Sistem Energi Terarah Boeing yang membuat senjata laser tersebut.

Menurut Fitzmire, senjata laser taktis itu memproduksi sorotan cahaya. Serangkaian cermin yang dikendalikan dengan komputer akan mengarahkan sinar laser tersebut kepada sasaran. Cermin-cermin itu membantu mengatur sinar laser yang dihasilkan oleh senjata tersebut untuk mengimbangi turbulensi yang mungkin dialami pesawat pembawa.

Karena kemampuan membidik sasaran dengan presisi ultra, ATL diharapkan bisa mengurangi kerusakan berat saat pertempuran. "Kami mungkin mampu membidik target yang tidak mungkin Anda bidik dengan cara lain," tegasnya.

Sistem senjata laser itu kali pertama diuji di pangkalan Angkatan Udara Kirkland di New Mexico pekan lalu. Para petinggi Boeing menyatakan, senjata tersebut mampu menghantam target berukuran 1 x 1 meter. Namun, dengan alasan keamanan, mereka menolak mengatakan sasaran itu ditembak dari jarak berapa kilometer.

Meski hasil tes awal tersebut dinilai menjanjikan, Boeing mengingatkan bahwa senjata laser itu masih butuh waktu panjang untuk bisa dipakai bertempur. "Itu demonstrasi untuk memancing kekaguman, bukan demonstrasi sistem militer baru yang sudah terbukti bisa dioperasikan secara efektif dan diandalkan dalam pertempuran," tutur Philip Coyle, pakar persenjataan di Center for Defense Information.

Coyle menjelaskan, senjata laser itu mungkin efektif untuk memusnahkan target level tinggi tanpa melukai siapa pun di dekatnya. "Anggap saja kita melihat Usamah Bin Laden atau orang lain yang diincar. Pertanyaannya, akankah kita memakai senjata tersebut, bukannya peluru?" ucapnya.

Coyle lalu mengingatkan, laser tidak selalu mematikan. Ia memang memancarkan panas tinggi. Tapi, senjata tersebut tidak selalu membunuh sasaran. "Rasanya sulit mengganti senjata biasa dengan laser. Misalnya, adakah cukup tenaga dalam sebuah senjata laser untuk melelehkan tank mush? Kalau tidak, apa bagusnya?" sindir dia. Menurut rencana, uji coba kembali dilakukan pada akhir tahun mendatang.


Pesawat Stealth Bird of Pray

Namanya juga negara adidaya, tak hanya urusan politik saja yang dibayangi oleh kerahasiaan, soal teknologi, utamanya yang berkaitan dengan militer juga setali tiga uang. Tak percaya? Lihat saja apa yang dilakukan AS di pelataran pabrikan pesawat kondang Boeing, St. Louis pada 18 Oktober lalu. Bukannya roll out sebuah pesawat jenis terbaru melainkan peluncuran pertama di depan publik sebuah pesawat demonstrator rahasianya.


Kalau dicermati kata-kata "peluncuran pertama di depan publik" plus "rahasia", berarti burung besi ini sebenarnya telah lama ada namun diharamkan untuk diketahui khalayak ramai. Dan memang benar, seperti yang disebutkan dalam siaran pers Boeing (18/10), ternyata hasil karya Boeing Phantom Works bernama Bird of Prey ini telah berwujud sejak 1996. Bila menengok lebih ke belakang lagi diceritakan bahwa Pemerintah AS mesti mengucurkan dana sebesar 67 juta dollar AS agar program tersebut bisa dijalankan Boeing mulai 1992 hingga 1999. Sejak awalnya berwujud, Bird of Prey telah melakukan 38 kali uji terbang. Dari penerbangan itu tak diceritakan kendala atau adanya musibah dalam pengujian.

Lantas sekarang apa tujuannya? Kembali merujuk pada keterangan Boeing, Bird of Prey sebenarnya adalah pionir bagi pesawat-pesawat berteknologi siluman (stealth) dan berancang-bangun revolusioner namun layak operasional. Dengan basis platform ini pulalah maka AU AS sekarang mampu mewujudkan kekuatan pesawat tempur siluman.

Secara teknis Bird of Prey mengadopsi konfigurasi kursi tunggal, struktur komposit monokok, peralatan pendukung lapangan yang ekonomis, dan berdimensi mirip pesawat asli. Untuk menghela pesawat sepanjang 47 kaki, rentang sayap 23 kaki, dan berat 7.400 pon, Boeing mengandalkan sebuah mesin turbofan JT15D-5C. Hasilnya, Bird of Prey sanggup melesat hingga kecepatan 260 knots dengan ketinggian maksimal 20.000 kaki.

Tak hanya berhenti begitu saja, saat ini Boeing mengakui menggunakan cetak biru Bird of Prey untuk program selanjutnya. Program dimaksud adalah pengembangan pesawat nir awak berkemampuan tempur (UCAV), X-45A. (avi)

Teknologi Penyerang Radar Pesawat Tempur Lawan

Di kancah Perang Dunia II Jerman berhasil memanfaatkan sinyal komunikasi-navigasi (com-nav) untuk menunjang operasi malam hari pesawat pembom Luftwaffe. Sistem pemancar sinyal yang disebut Knickebein itu akan mengirim kode tertentu pada Luftwaffe saat pesawat tersebut pada posisi yang tepat untuk menjatuhkan bom.

Pada awal dioperasikannya sistem tersebut Luftwaffe sukses menjalankan misi pengebomannya. Bom berhasil dijatuhkan pada sasaran yang tepat. Tetapi, keberhasilan Inggris melakukan infiltrasi sinyal Knickebein mengacaukan misi pengeboman berikutnya. Awak pesawat Luftwaffe bukan hanya kehilangan panduan pengeboman, bahkan disesatkan hingga beberapa di antaranya mendaratkan pesawat mereka di pangkalan Angkatan Udara Inggris.




Intervensi terhadap sinyal Knickebein memperluas zona pertempuran hingga merambah ruang ‘tidak kasat mata’, yakni ranah spektrum elektromagnetik. Ini merupakan perkembangan awal dari fenomena yang diidentifikasi sebagai perang elektronik (electronic warfare). Yakni perang yang menjadikan perangkat elektronik tertentu sebagai sasaran. Perangkat yang menjadi sasaran dikacaukan operasinya hingga terdegradasi fungsinya atau bahkan sepenuhnya macet. Tujuannya menciptakan keunggulan perangkat penunjang pertempuran.

Beradu sinyal

Dalam perang elektronik, sasaran penyerangan adalah perangkat yang menggunakan medium medan elektromagnetik, utamanya adalah radar dan alat komunikasi. Dua perangkat tersebut menjadi target karena urgensinya dalam petempuran yang melibatkan pesawat udara amat vital. Radar dapat mendeteksi keberadaan pesawat penyusup dan menentukan posisi target tembakan. Sedangkan alat komunikasi menjadi sarana koordinasi dan penentuan identifikasi pesawat lain, sekutu atau musuh.

Radar modern, dengan dukungan teknologi komputer, bukan hanya mampu menentukan posisi aktual sebuah pesawat, tetapi juga memprediksi keberadaan pesawat beberapa saat kemudian. Dimungkinkan hasil pelacakannya digunakan sebagai data masukan untuk pengarahan dan penentuan kecepatan peluru kendali (guided missile). Dengan dukungan radar berakurasi tinggi, yang terkonek dengan peluncur rudal atau on-board pada rudal, kemungkinan rudal tepat sasaran sangat besar.

Antisipasi dini terhadap tembakan rudal yang dipandu radar dilakukan dengan pemasangan perangkat RWR (Radar Warning Receiver) pada pesawat. Instrumen ini akan menyalakan sinyal peringatan ketika keberadaan pesawat tengah dilacak radar. Penyalaan sinyal sekaligus menjadi perintah kepada awak pesawat untuk segera mengaktifkan instrumen electronic countermeasures (ECM), disebut juga electronic protective measures (EPM), perangkat yang diadakan untuk melumpuhkan operasi radar.

Deteksi radar dapat dikecoh dengan penghamburan chaff, lempeng metal yang menimbulkan pantulan gelombang radar hingga memunculkan titik-titik target semu pada displai radar. Reaksi yang lebih agresif adalah dengan melancarkan serangan electronik (electronic attack) terhadap radar. Langkah ofensif untuk mendegradasi fungsi radar dilakukan dengan memancarkan sinyal pengganggu gelombang pantul radar.

Frekuensi dan daya sinyal serangan diatur sedemikian sehingga operasi radar terdegradasi, atau bahkan sepenuhnya macet, misalnya dengan memperlambat waktu tempuh pantulan gelombang radar mencapai unit penerima (receiver) radar. Pelambatan tersebut akan membuat perhitungan jarak target tidak sesuai dengan posisi sebenarnya.

Namun, serangan electronik terhadap radar menjadi tidak efektif jika radar telah dilengkapi perangkat ECCM (electronic counter-countermeasures). Dengan alat tersebut radar dapat ‘berkelit’ dari upaya pemacetan (jamming) atau gangguan terhadap operasinya. Ketika terindikasi ada serangan terhadap radar dengan segera dilakukan pemindahan frekuensi dan atau penguatan daya pancar. ECCM yang dilengkapi sensor tertentu juga dapat mengenali target-target semu yang dimunculkan chaff.

Pemindahan frekuensi atau penguatan daya akan mengundang serangan elektronik baru. ALQ-218 TJR, senjata elektronik yang akan dipasang pada pesawat penyerang elektronik generasi baru Amerika EA-18 Growler, misalnya, dapat dengan segera mendeteksi pemindahan frekuensi, dan frekuensi penyerangan pun segera menyesuaikan. Ini membuat pertempuran elektronik terus berkecamuk hingga salah satu pihak berhasil sepenuhnya mengontrol pergerakan energi-sinyal frekuensi di ranah spektrum elektromagnetik.

Perangkat avionik lain yang sering menjadi sasaran serangan elektronik adalah sistem komunikasi, salah satunya IFF (identification, friend or foe). Penyerangan terhadap IFF dimungkinkan karena instrumen tersebut juga menggunakan sinyal gelombang elektromagnetik untuk menginterograsi pesawat lain, teman atau lawan. Penurunan efektivitas IFF diupayakan dengan melakukan interferensi terhadap sinyal IFF atau memecahkan pengacakan kode transponder replay-nya.

Efektivitas serangan

Efektivitas serangan elektronik terhadap radar didemonstrasikan oleh aksi penyusupan pesawat Israel ke dalam wilayah Suriah awal September 2007 lalu. Pesawat penyusup yang melakukan penyerangan terhadap sebuah bangunan tersebut berhasil memasuki wilayah Suriah tanpa terdeteksi radar. Ditengarai penyusupan pesawat tidak berkarakteristik siluman itu diawali dengan serangan elektronik oleh sebuah pesawat tak berawak hingga radar pemantau (surveillance) buatan Rusia yang dioperasikan pihak pertahanan udara Suriah berhasil dimacetkan.

Amerika secara efektif juga menggunakan pesawat penyerang elektronik EA-6B Prowler di berbagai medan pertempuran, antara lain di Bosnia, Kosovo, Afghanistan, dan Irak. Dengan perangkat ALQ-99 dan USQ-113 pesawat tersebut mendegradasi fungsi radar dan alat komunikasi lawan.

Aksi serangan elektronik menjadi pembuka jalan bagi pesawat lain, terutama tipe fighter atau pengebom untuk menjalankan operasinya. Ini menempatkan pesawat penyerang elektronik (electronic attack aircraft atau AEA) pada peran yang strategis, mengawal sebuah penyerangan. Keberhasilan serangan elektronik merupakan sebuah kemenangan awal pertempuran, sebelum akhirnya dituntaskan oleh pesawat tempur atau pengebom.***

M. Nurdin Suhar.
Karyawan PT Dirgantara Indonesia Bandung.*

Pesawat Tornado Arab Saudi

Pemerintah Arab Saudi akan melengkapi persenjataan untuk pesawat tempur Tornadonya yang sedang di upgrade di Inggris, guna memperkuat angkatan udara-nya. Dalam program ini ditengarai pihak Inggris akan melengkapinya dengan sista rudal jelajah Storm Shadow dari MBDA. Pada tanggal 2 April lalu dari pangkalan BAE Systems, Warton melesat pesawat Tornado milik AU Kerajaan Arab Saudi dengan membawa rudal Storm Shadow yang terpasang pada bagian bawah fuselage pesawat.




Bulan Pebruari lalu, Pimpinan dari MBDA, Marwan Lahoud memberikan keterangan press bahwa perusahaan berupaya untuk mendapatkan kontrak senilai 1,5 milyar Euro untuk meng-upgrade persenjataan pesawat Tornado Arab Saudi. Walau tidak disebutkan jenis senjata yang akan ditawarkan oleh MBDA, berbagai pihak menebak bahwa persenjataan yang akan dijual kepada Arab Saudi termasuk rudal Storm Shadow (Rudal anti-tank dari Brimstone) dan kemungkinan rudal udara-ke-udara jarak pendek ASRAAM.

BAE Systems merupakan salah satu peserta tender yang unggul untuk program paket upgrade dan persenjataan untuk pesawat Tornado milik Saudi. Mereka tidak bersedia menyebutkan persenjataan apa yang nantinya pasti akan melengkapi Tornado tersebut.

Sementara itu pihak Arab Saudi juga menaruh minat pada precision-guided bomb generasi baru yang telah dikembangkan oleh pihak Raytheon.

Rudal Storm Shadow memperlihatkan debutnya saat digunakan oleh AU Kerajaan Inggris pada operasi invasi ke Iraq pada tahun 2003, dimana pesawat GR4 Tornado memuntahkan rudal-rudal tersebut terhadap berbagai target di Iraq.

Perancis juga mengoperasikan sista rudal sejenis dengan nama Scalp EG, rudal ini sudah di ekspor ke Yunani dan Itali. Dan versi Scalp EG yang diberi nama Black Shaheen juga sudah di ekspor ke Uni Emirat Arab, Arab Saudi dan negara tetangganya.

Dibawah aturan Missile Technology Control Regime, pihak MBDA harus mengurangi muatan bahan bakar rudal Storm Shadow untuk dijual ke Arab Saudi sehingga jarak tembaknya menjadi kurang dari 300 km.

Industri pertahanan Inggris merupakan salah satu pemasok terbesar angkatan besenjata Kerajaan Arab Saudi melalui program proyek Al Yamamah. Pemerintah Arab Saudi diperkirakan akan memesan 72 unit pesawat tempur Eurofighter Thypoon untuk menggantikan Tornado.

Tactical Communication Antara Penerbang Pesawat Pemburu Dengan Pusat Kendali

Melihat Pesawat Stealth di Layar Radar

F Djoko Poerwoko

”Foxtrot One.. tally hoo.. bandit at ten o’clock six thousand feet high.”

”Keep padlock, ready to destroy bandit if VID (visual identification)....”

”Destroy bandit, wilco….”

Sepenggal tactical communication antara penerbang pesawat pemburu dengan pusat kendali operasi pertahanan udara ini mengisyaratkan bahwa pesawat musuh terlihat secara visual oleh penerbang dan telah diperintahkan untuk dihancurkan.

Sebagai informasi, di negara mana pun proses penyergapan pasti melibatkan radar pertahanan udara (militer) yang dapat mendeteksi semua pesawat terbang, baik kawan maupun lawan, termasuk pesawat penyergap sebagai eksekutor dan pesawat musuh yang harus disergap.




Namun, dalam realita, proses penyergapan sampai eksekusi kegiatan penyergapan tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Terlebih setelah kemajuan teknologi di bidang penerbangan yang terus berkembang menghasilkan pesawat Stealth, sang siluman yang konon tidak dapat ditangkap radar.

Untuk dapat melihat pesawat atau obyek di udara, sebuah radar memancarkan gelombang elektromagnetik dari sistem transmiternya. Setelah gelombang tersebut mengenai obyek di udara, gelombang itu lalu dipantulkan kembali oleh obyek untuk diterima receiver radar.

Seluruh data tentang perbedaan waktu antara pengiriman dan diterimanya kembali gelombang pantulan diperhitungkan dengan arah horizontal dan vertikal antena, dikalkulasi oleh prosesing radar sehingga obyek yang tertangkap tersebut dapat ditentukan jarak dan arah (bearing) serta kecepatan dan ketinggiannya dari radar.

Kemampuan yang dimiliki radar pertahanan udara modern ini disebut radar 3D (tiga dimensi: jarak, arah, dan ketinggian). Di beberapa negara, dengan prosesing tambahan, beberapa tipe radar dapat menentukan jenis dan macam pesawat yang tertangkap radar tersebut.

Biasanya, setiap radar militer dan sipil juga dilengkapi dengan interogator IFF (identification friends or foe) yang sering disebut sebagai radar sekunder. Interogator ini mengirim sinyal pertanyaan yang disebut sebagai mode 1, mode 2 (khusus pesawat militer), mode 3/A (identifikasi untuk semua pesawat), dan mode C (pertanyaan tentang ketinggian terbang).

Pesawat yang dilengkapi transponder IFF, setelah menerima sinyal pertanyaan (mode 1, 2, 3/A, dan C) akan menjawab sesuai pertanyaannya secara otomatis. Data perbedaan waktu antara dikirimnya sinyal pertanyaan dan diterimanya kembali jawaban dari pesawat serta arah horizontal antena dikalkulasi oleh prosesing radar sekunder sehingga pesawat yang menjawab dapat ditentukan jarak dan arahnya (bearing-nya) dari radar.

Dengan kata lain, untuk penerbangan sipil, radar sekunder banyak dipakai sebagai peralatan pendukung keselamatan penerbangan dengan kemampuan dapat melihat pesawat-pesawat yang harus dan bersedia diketahui posisinya demi keselamatan penerbangan.

Adapun radar militer, selain memiliki kemampuan serupa, juga dapat mendeteksi pesawat yang tidak ingin diketahui keberadaannya. Radar militer menggunakan kemampuan radar sekunder sebagai alat bantu untuk mendeteksi dan menentukan pesawat milik kawan atau lawan.

Teknologi

Kompetisi antara pengembangan teknologi pesawat tempur dan radar pertahanan udara selalu terjadi. Pihak pengembang pesawat tempur selalu berusaha untuk menciptakan pesawat yang tidak dapat tertangkap oleh radar, sedangkan pihak pengembang radar berusaha untuk menciptakan radar yang selalu dapat menangkap semua jenis pesawat terbang.

Mereka bersaing di daerah gelombang radar tertentu. Di mana pada umumnya gelombang yang dipancarkan oleh radar menggunakan frekuensi di daerah long band atau L band dan short band atau S band, yaitu frekuensi antara 1 GHz hingga 4 Ghz, sedangkan radar navigasi kapal laut bekerja pada frekuensi S band dan X band, yaitu antara 8 GHz sampai 12 GHz.

Dalam persaingan ini, berbagai cara telah diusahakan oleh pengembang pesawat, yaitu mulai dari pesawat yang dapat mengeluarkan chaff (pengacak gelombang radar) hingga tercipta pesawat jenis stealth atau siluman yang direncanakan sedemikian rupa, baik bentuk, jenis lapisan pelindung, maupun jenis catnya, sehingga setiap gelombang elektromagnetik yang mengenai pesawat tersebut akan diserap atau dipantulkan ke tempat lain.

Menyadari hal ini, beberapa pengembang radar, khususnya yang menjadi pesaing negara adikuasa pemilik teknologi stealth, mengembangkan metode baru di mana gelombang elektromagnetik yang dipancarkan bukan dari L band, S band atau X band, tetapi gelombang yang sangat rendah frekuensinya, dari 100 Mhz hingga 400 Mhz, atau gelombang yang bekerja pada frekuensi VHF (very high frequency) dan UHF (ultra high frequency).

Walhasil, dengan frekuensi band di VHF dan UHF, ternyata pesawat jenis stealth masih tetap memantulkan gelombang elektromagnetik walaupun pantulannya menyebar. Agar pantulan gelombang elektromagnetik yang tersebar dari pesawat jenis stealth tersebut dapat ditangkap kembali, diciptakanlah radar di mana tidak hanya terdapat satu receiver, namun banyak receiver yang digelar pada area yang luas. Metode ini terbukti andal dan sejumlah Stealth tertangkap radar dan bahkan pernah ditembak jatuh beberapa tahun yang silam.

Meskipun terlihat andal, radar jenis ini masih mempunyai kelemahan karena dalam setiap operasinya selalu memancarkan gelombang elektromagnetik. Hal ini menjadi kerawanan tersendiri karena tetap dapat dilacak oleh rudal jenis HARM (high speed anti radiation missile) sang penghancur radar. Pasalnya, rudal jenis ini akan homing menuju transmiter radar yang memancarkan gelombang elektromagnetik. Selama masih ada gelombang elektromagnetik yang dipancarkan, kedudukan atau posisi radar dapat dilacak, diketemukan, dan dihancurkan.

Masih ada cara lain

Setiap pesawat tempur modern diterbangkan dengan teknologi maju. Banyak perangkat yang diciptakan untuk membantu pekerjaan penerbang, mulai dari komputer sebagai alat pengendali, komunikasi radio, navigasi ataupun alat identifikasi diri berupa transponder IFF agar pesawat ini selalu ditengarai sebagai pesawat kawan oleh radar pertahanan udara kawan.

Meskipun pesawat siluman tidak memancarkan radar, tetap ada pancaran gelombang radio yang keluar darinya. Inilah yang jadi obyek penelitian untuk menemukan cara terbaik mendeteksi pesawat siluman saat ini.

Prinsip kerjanya cukup sederhana, setiap pesawat memiliki gelombang elektromagnetik yang terpancar. Sekecil apa pun pancaran gelombang itu akan dapat ditangkap dan diperbesar serta diolah sehingga menjadi masukan yang berharga dalam mendeteksi adanya sumber gelombang.

Dengan proses berikutnya dapat diketahui apakah sumber gelombang tersebut merupakan suatu target yang berbahaya atau tidak, untuk menentukan tindakan selanjutnya. Agar radar dapat menangkap gelombang elektromagnetik ini, diciptakanlah sebuah radar yang tidak memancarkan gelombang elektromagnetik, tetapi memanfaatkan limbah gelombang elektromagnetik atau gelombang radio yang terpaksa harus dikeluarkan oleh pesawat tempur lawan, termasuk pesawat siluman.

Teknologi ini dikenal dengan nama radar pasif, yaitu sebuah perangkat radar yang hanya terdiri dari receiver saja, atau radar yang sama sekali tidak mengeluarkan gelombang elektromagnetik. Dengan demikian, sulit untuk dapat dilacak di mana kedudukannya.

Receiver yang bekerja pada spektrum frekuensi 0,1 Ghz hingga 46 Ghz ini memungkinkan semua gelombang radio yang terpancar dari pesawat dapat ”didengar” serta diolah sehingga dapat dijadikan masukan yang sangat berarti.

Untuk itu, diperlukan tiga macam receiver yang diletakkan satu sama lain berjarak 30 km-50 km sehingga area yang ter-cover dapat mencapai jarak hingga 550 km dari titik pusat reciver yang diletakkan di tengah. Daerah liputan selebar 100 km x 550 km pun dapat terdeteksi dengan akurasi tinggi, sedangkan diluar itu toleransi kesalahan cuma satu kilometer.

Berbasis fiber

Apabila digabung dengan transmisi data berbasis fiber optik, data ini dapat dikirim ke pusat pengendalian pertahanan udara dan menjadikan satu jebakan pertahanan udara yang tidak dapat diendus musuh dengan cara apa pun, layaknya jebakan sarang laba laba.

Setiap sistem receiver dilengkapi dengan tiga macam antena, yaitu antena yagi untuk menangkap gelombang radio dengan frekuensi antara 0,1-0,8 Ghz, antena wide band dish untuk menangkap gelombang radio dengan frekuensi antara 0,85-40 Ghz, serta antena horn untuk menangkap gelombang radio dengan frekuensi antara 40-46 Ghz.

Karena dapat menangkap gelombang elektromagnetik dengan frekuensi mulai 0,1 GHz sampai 46 GHz, jebakan radar ini dapat menangkap sinyal mulai dari pesawat terbang yang terbang tinggi hingga kapal laut ataupun kapal selam, manakala sang kapal selam ini terpaksa harus mengirim sinyal untuk berkomunikasi atau bernavigasi lewat antena yang mencuat di atas permukaan laut.

Dengan perkembangan teknologi yang semakin maju, saat ini telah diciptakan satu sistem receiver dengan berat hanya sekitar 150 kilogram dan kebutuhan pasokan catu daya listrik tidak lebih dari 1.000 watt serta dapat digelar menggunakan tenaga manusia sehingga hanya perlu waktu kurang dari 30 menit untuk siap dioperasikan sebagai sistem pertahanan udara yang siap beroperasi.

Beberapa negara telah mengembangkan sistem yang telah terbukti andal dalam beberapa konflik terakhir dan terus berkompetisi dengan pengembang pesawat dan pengembang radar. Tetapi, yang jelas, sistem yang andal ini masih dapat tertembus juga oleh sebuah pesawat yang sama sekali tidak dilengkapi dengan peralatan komunikasi radio dan tidak memiliki alat navigasi elektronis serta diterbangkan secara manual.

Mungkin negara kita perlu juga mengadopsi teknologi ini untuk menambah kekuatan pengawasan ruang udara dan kekuatan deterrent kita. Di sisi lain, selain secara teknologi kita mampu, juga karena sifatnya yang pasif sehingga biaya pembuatan, operasi, dan perawatan pasti jauh lebih murah dibandingkan dengan hanya mengandalkan radar aktif.

F Djoko Poerwoko Marsekal Muda TNI/ Penerbang Uji

Efek G Pada Simulasi Pesawat Tempur

EFEK G PADA SIMULASI PESAWAT TEMPUR
Oleh :Kapten Lek Ir. Arwin “Daemon” Sumari, FSI, FSME, VDBM, SA1

Faktor utama yang membedakan pesawat tempur dengan pesawat angkut dan helikopter adalah kemampuan manuver yang tinggi di udara (high maneuverability). Dengan kemampuan spesifik ini adalah lumrah bila pesawat tempur dapat “menari-nari” dengan luwes memperagakan berbagai gerakan yang indah di udara. Tetapi “tarian”



yang indah ini dapat membawa ke kehancuran bila pilot kehilangan kesadaran (unconsciousness) sebagai akibat dari black out setelah menerima efek G (G-force) yang melebihi kemampuan daya tahannya (overload) saat melakukan gerakan-gerakan di udara tersebut. Salah satu cara mencegah hal ini terjadi adalah selain secara kontinyu melakukan centrifugal test, juga melatih kecepatan respon di udara dengan terbang menggunakan simulator.
-----------------------
Arahan Bagi pembaca :
Bagi anda pembaca awam maka ini bisa di jadikan bahan bacaan yang baik untuk menambah pengetahuan di bidang kedirgantaraan khususnya bidang Angkatan Udara

Download E-book Efek G Pada Simulasi Pesawat Tempur