BNPT : Teroris Ingin Dirikan Negara

Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Ansyaad Mbai, tujuan dari teroris di Indonesia yakni ingin mendirikan sebuah Negara.


"Targetnya kan sudah jelas. Mendirikan Negara, konstitusi dirubah, ideologi semua diubah, itu kan sudah jelas itu. Itu kan bukan isapan jempol, mereka bisa bikin buku sendiri, mereka fatwakan sendiri, itu kan sudah jelas," ujar Ansyaad Mbai, di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Kamis (2/1/2014).


Lebih lanjut dia menuturkan bahwa kaderisasi teroris di Indonesia hingga saat ini masih sama. "Intinya kaderisasi mereka sama, menanamkan radikalisme. Ideologi utama mereka kebencian terhadap negara (Indonesia), permusuhan kepada negara itu ideologinya," imbuhnya.

Dia pun mengajak semua masyarakat untuk melawan teroris yang masih berkeliaran. "Mari kita sama-sama melawan mereka. Kalau anda tahu siapa, kasih tahu kita," ucapnya. (Sindo)

Parlemen Kritik Cara Polisi Gerebek Terduga Teroris

Penggerebekan terduga teroris selalu berujung kematian, termasuk penggerebekan terduga teroris di Ciputat, Tangerang Selatan.

Parlemen Kritik Cara Polisi Gerebek Terduga Teroris

Hal ini mendapat kritikan dari Ketua MPR Sidarto Danusubroto. Menurutnya, perlu ada kajian pola penggrebekan terhadap orang-orang yang diduga teroris oleh kepolisian.

"Ini operasi (penggerebekan di Ciputat) dengan korban enam orang perlu dikaji pimpinan (Polri)," kata Sidharto di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (2/1/2014).


Namun diakui politikus Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini, para terduga teroris itu terkadang memilih mati ketimbang menyerahkan diri ke aparat kepolisian.

"Kalau menyerah dia dianggap sebagai penghianat oleh teman-temannya. Nanti kebocoran info itu dari situ," tukasnya. (Sindo)


Legislator minta BNPT selesaikan cetak biru pencegahan terorisme

Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) harus segera membuat dan menyelesaikan cetak biru  pencegahan tindak pidana terorisme sebagai panduan semua lembaga negara terkait pemberantasan terorisme.

"Cetak biru itu bisa menjamin efektivitas penanggulangan terorisme dari hulu hingga hilir. Selama ini Tim Detasemen Khusus 88/Anti Teror hanya menjadi pasukan ‘pemadam kebakaran’ tanpa bisa menumpas aksi terorisme," kata anggota Komisi III DPR RI, Eva Kusuma Sundari di Jakarta, Kamis.

Menurut dia, pencegahan itu akan efektif kalau sumber suplai teroris ditutup yaitu dengan meluruskan ideologi agama kelompok-kelompok radikal dan intoleran.

"Sementara kerja-kerja pencegahan yang seharusnya dilakukan lembaga intelijen yang notabene memiliki unit antiteror, tidak efektif dan bahkan kontraproduktif,” kata Eva.

Eva juga mengatakan, BNPT harus menyiapkan skenario untuk menanggulangi kelompok-kelompok radikal yang berpotensi besar menjadi kelompok teroris.

 "BNPT juga harus menugaskan lembaga-lembaga tertentu yang memiliki akses terhadap kelompok tersebut untuk melakukan berbagai pendampingan," sebut politisi PDI Perjuangan itu.

Adapun program yang bisa dilakukan BNPT adalah dengan memberikan program pemberdayaan ekonomi, konseling keluarga, program untuk para istri, dan lain-lain.

Program pembinaan para narapidana teroris di lembaga pemasyarakatan juga harus disiapkan BNPT bersama Menteri Hukum dan HAM.

“Di Lapas mereka saling berkoordinasi agar operasi-operasi di luar jalan terus. Bahkan bisa melakukan perekrutan di dalam Lapas.  Jadi, kita minta BNPT tak hanya menjadi eksekutor, tapi menjalankan fungsi sebagai koordinator antara aparat keamanan,” ujarnya.  (Antara)

Jika Terjadi Perang, Alutsista Berat TNI Haya Bertahan 3 Hari..?

Wakil Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Susilo Siswoutomo mengatakan jika suatu saat Indonesia perang dengan negara lain, hanya akan bertahan paling lama 3 hari, kenapa?

Jika Terjadi Perang, Alutsista Berat TNI Haya Bertahan 3 Hari..?

Susilo mengatakan, Indonesia akan kalah perang dengan negara lain hanya dalam waktu 3 hari, lantaran Indonesia tidak memiliki ketahanan energi yang cukup baik. Lain jika dibandingkan dengan negara lain yang memiliki ketahanan energi yang baik.

"Zero strategic kita. Kita nggak punya ketahanan energi, kalau Indonesia ini diblokir sana sini, kapal perang kita punya, pesawat tempur kita punya tapi mau diisi bahan bakarnya pakai apa? Pakai air?" tegas Susilo di acara Penyerahan Surat Penugasan Kepada Badan Usaha Pelaksana Penyediaan dan Pendistribusian Jenis Bahan Bakar Minyak Tertentu Tahun 2014, di Kantor Kementerian ESDM, Selasa (31/12/2013).


"Kalau suatu saat kita perang, dalam 3 hari kita bisa meninggal," imbuhnya.

Susilo mengungkapkan Indonesia tidak punya cadangan BBM yang disimpan secara khusus jika terjadi hal darurat seperti bencana alam atau terjadi perang.

"Cadangan BBM kita nol! Bandingkan dengan Malaysia yang punya 30 hari, Jepang dan Korea 50 hari, Singapura 50 hari," tegas dia.

Susilo menambahkan yang dimiliki Indonesia saat ini adalah cadangan operasional yang digunakan setiap hari, yang disediakan badan usaha yang menyalurkan BBM subsidi, tersebar di SPBU-SPBU dan Depo BBM.

"Cadangan operasional itu pun hanya 17 hari, bandingkan dengan Malaysia yang punya 25 hari, Singapura 50 hari, Korea 50 hari," tandasnya. (Detik)

22 Titik Pelabuhan di Bali Diwaspadai Jadi Akses Masuknya Teroris

Terdapat 22 titik pelabuhan sebagai pintu masuk Bali perlu diwaspadai akan dijadikan akses masuknya teroris ke Bali, Hal ini disampaikan oleh Ketua Bidang Pemberdayaan, penelitian dan perempuan, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Bali , Wayan Gede Suyatartha, saat diskusi mengenai pencegahan terorisme di Bali, Denpasar, Kamis(2/1).


“Yang menjadi perhatian khusus di Bali adalah pintu-pintu masuk. Terdapat 22 pelabuhan di seluruh Bali baiki pelabuhan besar maupun pelabuhan rakyat yang harus mendapat pengawasan dari aparat keamanan. Jadi kadang munculnya senjata atau bahan ledak masuk ke Bali lewat pelabuhan rakyat yang tidak kita duga,” katanya.


Disampaikan pula bahwa Pintu masuk Bali ada dua yaitu jalur udara, melalui Bandara Ngurah Rai dan jalur laut lewat Pelabuhan. Sementara untuk Pelabuhan, tidak hanya pelabuhan besar seperti Gilimanuk, Benoa dan Padangbai saja, tapi juga pelabuhan rakyat atau lebih dikenal dengan pelabuhan tikus menjadi atensi khusus.

“Pintu masuk Bali kan ada dua, lewat udara yaitu Bandara dan lewat laut yaitu pelabuhan. Nah untuk pelabuhan tikut atau pelabuhan rakyat saat ini menjadi atensi khusus,” tambahnya.

FKPT Bali juga sudah mendeteksi adanya kantong kantong wilayah yang dijadinya aktivitas orang yang dicurigai dan dalam pengawasan. Juga mengimbau kepada masyarakat untuk tertib administrasi kependudukan dan peduli lingkungan sekitar untuk antisipasi adanya tindakan radikalisme oleh kelompok tertentu, termasuk aksi teroris. (JN)

Densus 88 Grebek Rumah Terduga Teroris di Bogor

Anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror menggrebek dan menggeledah salah satu rumah di Perumahan Mega Sentul, Kecamatan Sukaraja, Bogor, yang diduga tempat teroris berada, Rabu malam. 


Data dihimpun di lapangan, penggrebekan di satu rumah di  Sektor Alamanda, RT 02/RW 08, Desa Pasir Laja, terjadi itu mulai pukul 18.00 WIB. Sekitar lima anggota detasemen itu, dengan berpakaian biasa, mendatangi dua rumah yang diketahui milik Saduloh.

Inilah aksi penggerebekan perdana Detasemen Khusus Anti Teror 88 Kepolisian pada 2014. 


Dari keterangan yang dihimpun, anggota Densus 88 juga menangkap seorang pemilik rumah di Perumahan Mega Sentul Sektor Alamanda, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.

Penggeledahan cukup alot hingga waktu beberapa jam. 

Belum diketahui apakah penggrebekan itu rangkaian dari penggrebekan terduga teroris di Kampung Sawah, Ciputat Tanggerang Selatan pada malam pergantian tahun, Selasa kemarin (31/12/2013)

Sementara itu, belum ada pernyataan resmi baik dari pejabat Polres Bogor maupun Densus 88 terkait operasi tersebut. (ANtara)

Terduga Teroris Ciputat Siapkan Aksi di Hari Raya Imlek 2014

TERDUGA teroris kelompok Abu Roban yang ditembak mati di Kelurahan Kampung Sawah, Kecamatan Ciputat, Tangerang Selatan, diduga berencana melakukan aksi teror pada perayaan Imlek 2014. Sekitar 50 gambar vihara ditemukan berikut gambar rencana rangkaian bom yang akan dipasang.

Terduga Teroris Ciputat Siapkan Aksi di Hari Raya Imlek 2014

Kuat dugaan, kelompok ini masih menjadikan kelompok agama tertentu untuk dijadikan target teror. Kelompok ini juga terkait bom yang diletakan di vihara Ekayana, Tanjung Duren, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Boy Rafli Amar, Rabu (1/1) mengatakan, barang bukti yang ditemuka mengarahkan, bahwa ada kesamaan bom yang dipakai pelaku. Pada setiap bom ada ciri khas pembuatnya (bom signature) yang menandakan ada kaitan satu peristiwa atau kelompok dengan yang lain.


Menurut Boy, kelompok ini juga ditengarai sebagai pelaku perampokan atau fa’i di sejumlah tempat. "Salah satunya, perampokan toko emas di Tambora dan perampokan bank, serta penembakan anggota Polri di sejumlah tempat," kata Boy di Mabes Polri.

Perampokan terakhir terjadi di sebuang bank BRI di Panongan, Tangerang, sehari sebelum perayaan Natal lalu. Selain menggondol uang Rp300 juta, kelompok ini juga sempat meletakkan bom di sebuah warteg.

Dari aksi penyergapan yang dilakukan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror Mabes Polri di sebuah rumah kontrakan di Kampung Sawah, Ciputat, sejak Selasa (31/12) malam, petugas berhasil mengamankan senjata api rakitan, 5 pistol revolver, peluru, dan bom. Petugas juga ikut mengamankan sepeda motor rampasan. Sepeda motor ini milik seorang satpam yang dirampas saat kawanan menembak mati anggota polisi, Aiptu Kus Hendratna dan Brigadir Maulana, di depan Polsek Pondok Aren, Tangerang Selatan, beberapa waktu lalu.

Petugas, lanjut Boy, juga mengamankan sejumlah bahan kimia untuk membuat bom, seperti potasium clorat, serbuk hitam (black powder), rangkaian switching, rangkaian elektronik, dan rangkain bom pipa paralon dan pipa besi. Dari rangkaian setengah jadi ini, petugas menyimpulkan bahwa kelompok ini adalah pelaku yang sama dalam aksi teror penembakan polisi, perampokan bank, dan bom Vihara Ekayana.

Petugas juga menemukan uang Rp200 juta dalam tas besar. Uang itu merupakan hasil rampokan kelompok ini di BRI Panongan. Selain itu, juga menemukan gambar tangan tata cara merangkai bom. Adanya gambar 50 vihara berikut gambar rangkaian bom membuat Polisi menduga kelompok ini merencanakan aksi teror saat Hari Raya Imlek yang jatuh 31 Maret 2014. "Patut diduga demikian," kata Boy.

Rumah yang digrebek Densus 88 ini, sambung Boy, adalah rumah perlindungan (save house) tempat kelompok ini berkumpul dan melakukan perencanaan. Pemilik kontrakan sempat curiga karena mereka yang menyewa rumah hanya ada pada malam hari.

Petugas terus mengembangkan kasus ini. Penggeledahan pada sebuah rumah di Rempoa, Ciputat Timur dan Cirendeu dilakukan. Rumah ini juga diduga dipakai untuk merakit bom.


Sumber : Jurnas

"Kado" Tahun Baru Densus 88 Untuk Teroris

Suasana mencekam menyelimuti rumah kontrakan di Jalan KH Dewantoro Gang H Hasan RT 04/07 Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan pada Selasa 31 Desember 2013. Malam pergantian tahun itu, tim Densus 88 Polri menggerebek tempat tersebut untuk memburu terduga teroris. 

"Kado" Tahun Baru Densus 88 Untuk Teroris

Penggerebekan dimulai pukul 07.00 WIB. Sejumlah polisi berpakaian preman menyambangi rumah itu untuk mencari seorang bernama Dayat Hidayat. Pria yang juga kerap dipanggil Daeng itu sempat menantang polisi dan berusaha melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda jenis Supra Fit.

Namun nahas, dia tewas setelah mendapat "kado" timah panas dari petugas. Usai jenazahnya dipindahkan ke tepi jalan, tim pun merangsek ke rumah kontrakan milik Rahmat itu.


Proses penyampaian kado pun berlangsung dramatis. 5 Terduga teroris Ciputat bertahan dan melawan. Suara adu peluru menderu. Beberapa ledakan cukup keras juga mewarnai rentetan tembakan. Rumah dengan jarak 200 meter dari kontrakan itu pun bergetar.

Setelah sekitar 10 jam lamanya mempertahankan diri, perlawanan para terduga teroris di Ciputat itu akhirnya selesai. Mereka dilumpuhkan. Kelimanya tewas bersimbah darah dalam satu ruangan depan. Dengan begitu, seluruh yang tewas dalam penggerebekan ini menjadi 6 orang.

Mereka adalah Daeng alias Dayat Hidayat, Nurul Haq alias Dirman, Oji alias Tomo, Rizal alias Teguh alis Sabar, Hendi, dan Edo alias Amril.

Keenam jenazah terduga teroris itu pun dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepala Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, Kombes Polisi Anton Castelan menyatakan, sejauh ini Tim Inafis baru bekerja memeriksa sidik jari dan odontologi (gigi geligi) 6 jenazah terduga teroris teroris tersebut.

"Tim otopsi belum bekerja, jadi mungkin baru besok (selesai). Tapi (hasilnya) belum," ujar Anton.

Barang Sitaan di "Sarang Teroris"

Tak hanya menewaskan 6 terduga teroris, dalam penggerebekan itu, polisi juga menemukan beberapa dokumen yang diduga merupakan rangkaian kegiatan mereka. Dalam dokumen itu, terdapat nama-nama vihara di Jakarta yang diduga bakal menjadi target ancaman teroris.

"Ada sekitar lebih dari 20-30 lokasi. Itu dalam bentuk print out dari komputer. Di situ adalah vihara yang kami duga akan menjadi target mereka," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu 1 Januari 2014.

Polisi menduga ada keterkaitan para terduga teroris dengan ancaman bom yang terjadi di Vihara Ekayana, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.

Selain itu, kelompok yang disebut terkait jaringan Abu Roban ini juga diduga terlibat dalam kasus penembakan 2 polisi di Pondok Aren, Tangsel.

Dari "sarang" teroris tersebut, polisi juga menyita uang Rp 200 juta yang diduga didapatkan dari pencurian emas di Tambora dan perampokan beberapa bank beberapa waktu lalu. Uang itu terdiri dari beberapa pecahan.

"Terdiri dari pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu yang kalau di-estimasi sementara ada Rp 200 juta," ungkap Boy.

Barang "berharga" lainnya yang diamankan berupa 1 revolver, 5 pistol. Dari 5 pistol itu diantaranya ada 3 rakitan dan 2 pabrikan. Selain itu, 34 butir peluru berukuran 9 milimeter juga disita.

"Kita juga temukan 34 butir peluru 9 milimeter. Diduga sementara peluru-peluru itu merupakan amunisi dari senjata api yang juga diamankan," jelas Boy.

Kuli Bangunan Dikenal Ramah

Warga sekitar mengaku kaget dengan adanya penggerebekan kontrakan terduga teroris tersebut. Karena selama ini, mereka dikenal ramah dengan para tetangga.

Sartika (49) salah satu tetangga mengaku pernah bertemu dengan Dayat dan sempat berbincang. "Saya pernah ketemu sekali. Orangnya baik, ramah," kata Sartika saat ditemui di sekitar lokasi penggerebekan, Rabu (1/1/2014).

Hal yang sama dirasakan warga lainnya Wawan. Menurutnya, tak ada yang aneh dengan terduga teroris yang baru setahun tinggal di kampung tersebut. Mereka tetap beraktivitas seperti warga pada umumnya. Hanya sedikit mengambil jarak, terkesan tertutup.

"Kalau aktivitas sih biasa. Cuma nggak terlalu terbuka. Ala kadarnya saja gitu," kata Wawan.

Mengenai mata pencaharian, mereka mengaku bekerja sebagai kuli. "Kalau ditanya warga sih bilangnya kuli bangunan," ungkap Wawan.

Semoga penggerebekan ini menjadi titik terang bagi Polri untuk membekuk dan membasmi jaringan terorisme di Indonesia. Tanah Air lekas damai dan jauh dari ancaman pihak yang tak bertanggung jawab. (Liputan6)