Petugas Detasemen Khusus (Densus) 88/Antiteror menemukan rangkaian bom dalam penggerebekan rumah kontrakan terduga teroris di Jalan Tanah Merah Sayur I, Kenjeran, Surabaya, Senin malam.
Koresponden Antara dari lokasi kejadian melaporkan bahwa rangkaian bom yang ditemukan petugas di rumah kontrakan yang berjarak hanya 1 kilometer sebelum Jembatan Suramadu itu berbentuk "switching" dan tabung.
Tabung itu memiliki panjang sekitar 30 cm, berdiameter 5 cm, berisi paku, dan rangkaian itu menggunakan timer.
Selain, petugas Densus 88 juga menemukan buku-buku dan bendera warna hitam.
Kapolda Jatim Irjen Pol Unggung Cahyono di lokasi penggerebekan itu menegaskan bahwa pengintaian keduanya sebenarnya dilakukan tim Densus 88 dan Polda Jatim sejak Minggu (19/1) malam.
"Akhirnya, Senin (20/1) pukul 19.00 WIB terlihat dua pelaku di sekitaran SPBU Kedungcowek, Surabaya, lalu diikuti dan ditangkap tanpa perlawanan," katanya, didampingi Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Awi Setiyono.
Setelah dua terduga teroris berinisial R dan M itu digerebek, maka penggeledahan pun dilakukan di rumah kontrakan di Jalan Tanah Merah Sayur I, Kenjeran, Surabaya yang tidak jauh dari Jembatan Suramadu itu.
Hingga informasi ini dilaporkan, ratusan warga masih mengerumuni lokasi kejadian, tapi petugas Polda Jatim sudah melakukan sterilisasi lokasi dengan didukung Polrestabes Surabaya dan Polsek Kenjeran.
Namun, petugas sudah membawa rangkaian bahan peledak itu dengan dua mobil APV dari lokasi kejadian pada pukul 22.45 WIB. (Antara, Detik TV).
Home » Posts filed under Densus 88
Tampilkan postingan dengan label Densus 88. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Densus 88. Tampilkan semua postingan
Komisi III DPR Kecam Cara Penyergapan Teroris Oleh Densus 88
Anggota Komisi III DPR RI Ahmad Yani, mengecam aksi penyergapan terduga teroris yang dilakukan oleh Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror, di daerah Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan.
"Saya mengecam betul aksi itu," kata Yani di Kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 5 Januari 2014.
Yani menambahkan, seharusnya Densus 88 Antiteror tersebut, menangkap seluruh terduga teroris itu hidup-hidup, untuk memastikan apakah benar yang telah dilumpuhkan oleh Densus 88 tersebut adalah seorang teroris.
"Selain itu, kalau semua terduga teroris itu ditangkap hidup-hidup, Polri juga akan mendapatkan informasi jaringan teroris lainnya. Seharusnya Densus berpikir sejauh itu," papar Yani.
Untuk itu, Yani mengimbau kepada Polri, agar dapat mengarahkan Densus 88 Antiteror untuk tidak bertindak gegabah dalam setiap menangani aksi penyergapan teroris. (Sindo)
"Saya mengecam betul aksi itu," kata Yani di Kantor DPP PPP, Jalan Diponegoro, Menteng, Jakarta Pusat, Minggu 5 Januari 2014.
Yani menambahkan, seharusnya Densus 88 Antiteror tersebut, menangkap seluruh terduga teroris itu hidup-hidup, untuk memastikan apakah benar yang telah dilumpuhkan oleh Densus 88 tersebut adalah seorang teroris.
"Selain itu, kalau semua terduga teroris itu ditangkap hidup-hidup, Polri juga akan mendapatkan informasi jaringan teroris lainnya. Seharusnya Densus berpikir sejauh itu," papar Yani.
Untuk itu, Yani mengimbau kepada Polri, agar dapat mengarahkan Densus 88 Antiteror untuk tidak bertindak gegabah dalam setiap menangani aksi penyergapan teroris. (Sindo)
5 Alasan Mabes Polri Sikat Habis Teroris Ciputat
Tim Densus 88 Mabes melakukan penyergapan terhadap terduga teroris di Kampung Sawah, Ciputat. Dalam aksi Rabu (1/1) itu, 6 terduga teroris tewas karena diberondong tembakan.
Beberapa pihak pun menyayangkan tewasnya enam teroris itu. Seharusnya, ke enam teroris itu bisa ditangkap hidup-hidup untuk kemudian bisa dikorek informasinya mengenai jaringan mereka.
Namun Kapolri Jenderal Polisi Sutarman enggan disalahkan atas tewasnya enam terduga teroris itu. Menurutnya, Tim Densus sudah bekerja sesuai dengan standar operasional yang ada yang menyergap.
Tak hanya itu, Sutarman juga melemparkan tudingan kepada para terduga teroris tersebut. Berikut lima alasan yang disampaikan Kapolri terkait penyergapan yang menewaskan 6 terduga teroris Ciputat:
1. Teroris Ciputat didanai jaringan internasional
Kapolri Jenderal Polisi Sutarman menyebut pemberantasan terorisme harus ditumpas hingga ke sel-selnya. Saat ini menurut Sutarman , teroris terus menerus berkembang dengan sel-sel yang lebih kecil.
Sutarman juga berharap para anggota-anggotanya bisa menghabiskan sel-sel teroris yang masih berada di Indonesia. Sebab, teroris yang saat ini masih berkeliaran diduga selalu mendapat aliran dana operasional dari jaringan teroris di luar negeri.
"Selama ini kan (teroris) dibantu dan didukung dana-dana dari luar, dari kelompok teroris internasional. Kita bisa kurangi, sehingga kegiatan itu pasti akan memerlukan anggaran," ujar Kapolri.
2. Teroris mendapat legalisasi dari buku Ba'asyir
Sutarman menambahkan, para teroris-teroris yang beraksi selama ini di Indonesia diduga sudah terdoktrin dari buku karangan Abu Bakar Ba'asyir. Buku yang dimaksud Sutarman adalah buku yang berjudul Tadzkirah.
Sutarman pun yakin bahwa ajaran tersebut sama sekali tak dapat dibenarkan, karena salah satu ajaran di dalamnya menyebutkan bahwa melakukan kejahatan itu diperbolehkan.
"Merampok itu mendapat legalisir dan ada bukunya Abu Bakar Ba'asyir yang berjudul Tadzkirah. Di situ mengatakan bahwa merampok untuk kepentingan itu dihalalkan, itu ajaran dari mana? Itu yang harus kita pertanyakan. Saya kira seluruh bangsa Indonesia juga harus mempertanyakan," papar jenderal bintang empat ini.
3. Dana teroris dari merampok
Kapolri Jenderal Polisi Sutarman meminta kepada seluruh tokoh agama agar terus menyampaikan kepada masyarakat untuk membantu pemberantasan teroris. Hal ini karena di kalangan masyarakat banyak persepsi yang salah.
Menurut Sutarman , persepsi yang salah tersebut yakni merampok untuk mendanai teroris seolah diperbolehkan. Sebab, selama ini teroris-teroris yang berkeliaran di Indonesia sudah terdoktrin dengan ajaran tersebut. Bahkan aksi teror bom sudah diyakini oleh para teroris sebagai ibadah.
"Kita juga mengimbau kepada alim ulama, tokoh masyarakat untuk menyampaikan kepada masyarakat kita, kalau melakukan suatu tujuan dengan cara merampok untuk membiayai operasionalnya, itu saya kira di agama manapun tidak dibenarkan. Oleh karenanya kita juga harus bisa menyampaikan," kata Sutarman , Kamis (2/1).
4. Penggerebekan di Ciputat sesuai SOP
Ketua MPR Sidarto Danusubroto tak sepakat dengan aksi penggerebekan yang dilakukan Densus 88 Polri di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan malam tahun baru kemarin. Sidarto mengatakan, operasi ini perlu dikaji oleh para pimpinan lembaga negara. Karena sudah memakan korban enam orang.
"Ini operasi dengan korban 6 orang perlu dikaji pimpinan. Memang di satu pihak itu dilematis, itu orang-orang yang menurut mereka lebih baik mati dari pada menyerah," ujar Sidarto di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/1).
Namun Kapolri menyebut bahwa penyergapan di Ciputat sudah sesuai SOP yang berlaku. "Dalam SOP, kita juga harus ramah, termasuk memperlakukan teroris. Kemarin anggota kita sudah memperingatkan tiga sampai empat kali agar mereka keluar menyerahkan diri, anggota kita kan sudah kepung rumahnya. Tapi dari mereka sempat lempar bom rakitan keluar dan sempat meledak di sana," kata Sutarman saat perjalanan menengok anggotanya di rumah sakit daerah Jakarta Selatan.
5. Kapolri: Nurul Haq berencana jihad ke Suriah
Kapolri Jenderal Sutarman menyebut bahwa teroris tewas Nurul Haq sudah menyiapkan rencana pergi ke Suriah. Nurul Haq telah menyiapkan penyerangan aksi teror untuk hari Natal dan Tahun Baru.
Hal tersebut disampaikan Sutarman di rumah sakit di Jakarta Selatan untuk menengok salah satu anggotanya yang terluka saat baku tembak di rumah kontrakan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.
"Kita dalam pengungkapan dokumen bahwa Nurul Haq akan berjihad ke Suriah. Dia sudah mempersiapkan paspor untuk ke sana. Sebetulnya targetnya adalah Natal dan tahun baru, termasuk wihara," kata Sutarman , Kamis (2/1)
Sumber : Merdeka
Beberapa pihak pun menyayangkan tewasnya enam teroris itu. Seharusnya, ke enam teroris itu bisa ditangkap hidup-hidup untuk kemudian bisa dikorek informasinya mengenai jaringan mereka.
Namun Kapolri Jenderal Polisi Sutarman enggan disalahkan atas tewasnya enam terduga teroris itu. Menurutnya, Tim Densus sudah bekerja sesuai dengan standar operasional yang ada yang menyergap.
Tak hanya itu, Sutarman juga melemparkan tudingan kepada para terduga teroris tersebut. Berikut lima alasan yang disampaikan Kapolri terkait penyergapan yang menewaskan 6 terduga teroris Ciputat:
1. Teroris Ciputat didanai jaringan internasional
Kapolri Jenderal Polisi Sutarman menyebut pemberantasan terorisme harus ditumpas hingga ke sel-selnya. Saat ini menurut Sutarman , teroris terus menerus berkembang dengan sel-sel yang lebih kecil.
Sutarman juga berharap para anggota-anggotanya bisa menghabiskan sel-sel teroris yang masih berada di Indonesia. Sebab, teroris yang saat ini masih berkeliaran diduga selalu mendapat aliran dana operasional dari jaringan teroris di luar negeri.
"Selama ini kan (teroris) dibantu dan didukung dana-dana dari luar, dari kelompok teroris internasional. Kita bisa kurangi, sehingga kegiatan itu pasti akan memerlukan anggaran," ujar Kapolri.
2. Teroris mendapat legalisasi dari buku Ba'asyir
Sutarman menambahkan, para teroris-teroris yang beraksi selama ini di Indonesia diduga sudah terdoktrin dari buku karangan Abu Bakar Ba'asyir. Buku yang dimaksud Sutarman adalah buku yang berjudul Tadzkirah.
Sutarman pun yakin bahwa ajaran tersebut sama sekali tak dapat dibenarkan, karena salah satu ajaran di dalamnya menyebutkan bahwa melakukan kejahatan itu diperbolehkan.
"Merampok itu mendapat legalisir dan ada bukunya Abu Bakar Ba'asyir yang berjudul Tadzkirah. Di situ mengatakan bahwa merampok untuk kepentingan itu dihalalkan, itu ajaran dari mana? Itu yang harus kita pertanyakan. Saya kira seluruh bangsa Indonesia juga harus mempertanyakan," papar jenderal bintang empat ini.
3. Dana teroris dari merampok
Kapolri Jenderal Polisi Sutarman meminta kepada seluruh tokoh agama agar terus menyampaikan kepada masyarakat untuk membantu pemberantasan teroris. Hal ini karena di kalangan masyarakat banyak persepsi yang salah.
Menurut Sutarman , persepsi yang salah tersebut yakni merampok untuk mendanai teroris seolah diperbolehkan. Sebab, selama ini teroris-teroris yang berkeliaran di Indonesia sudah terdoktrin dengan ajaran tersebut. Bahkan aksi teror bom sudah diyakini oleh para teroris sebagai ibadah.
"Kita juga mengimbau kepada alim ulama, tokoh masyarakat untuk menyampaikan kepada masyarakat kita, kalau melakukan suatu tujuan dengan cara merampok untuk membiayai operasionalnya, itu saya kira di agama manapun tidak dibenarkan. Oleh karenanya kita juga harus bisa menyampaikan," kata Sutarman , Kamis (2/1).
4. Penggerebekan di Ciputat sesuai SOP
Ketua MPR Sidarto Danusubroto tak sepakat dengan aksi penggerebekan yang dilakukan Densus 88 Polri di kawasan Ciputat, Tangerang Selatan malam tahun baru kemarin. Sidarto mengatakan, operasi ini perlu dikaji oleh para pimpinan lembaga negara. Karena sudah memakan korban enam orang.
"Ini operasi dengan korban 6 orang perlu dikaji pimpinan. Memang di satu pihak itu dilematis, itu orang-orang yang menurut mereka lebih baik mati dari pada menyerah," ujar Sidarto di Kompleks Parlemen, Jakarta, Kamis (2/1).
Namun Kapolri menyebut bahwa penyergapan di Ciputat sudah sesuai SOP yang berlaku. "Dalam SOP, kita juga harus ramah, termasuk memperlakukan teroris. Kemarin anggota kita sudah memperingatkan tiga sampai empat kali agar mereka keluar menyerahkan diri, anggota kita kan sudah kepung rumahnya. Tapi dari mereka sempat lempar bom rakitan keluar dan sempat meledak di sana," kata Sutarman saat perjalanan menengok anggotanya di rumah sakit daerah Jakarta Selatan.
5. Kapolri: Nurul Haq berencana jihad ke Suriah
Kapolri Jenderal Sutarman menyebut bahwa teroris tewas Nurul Haq sudah menyiapkan rencana pergi ke Suriah. Nurul Haq telah menyiapkan penyerangan aksi teror untuk hari Natal dan Tahun Baru.
Hal tersebut disampaikan Sutarman di rumah sakit di Jakarta Selatan untuk menengok salah satu anggotanya yang terluka saat baku tembak di rumah kontrakan Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan, Banten.
"Kita dalam pengungkapan dokumen bahwa Nurul Haq akan berjihad ke Suriah. Dia sudah mempersiapkan paspor untuk ke sana. Sebetulnya targetnya adalah Natal dan tahun baru, termasuk wihara," kata Sutarman , Kamis (2/1)
Sumber : Merdeka
Densus 88 Grebek Rumah Terduga Teroris di Bogor
Anggota Detasemen Khusus 88 Anti Teror menggrebek dan menggeledah salah satu rumah di Perumahan Mega Sentul, Kecamatan Sukaraja, Bogor, yang diduga tempat teroris berada, Rabu malam.
Data dihimpun di lapangan, penggrebekan di satu rumah di Sektor Alamanda, RT 02/RW 08, Desa Pasir Laja, terjadi itu mulai pukul 18.00 WIB. Sekitar lima anggota detasemen itu, dengan berpakaian biasa, mendatangi dua rumah yang diketahui milik Saduloh.
Inilah aksi penggerebekan perdana Detasemen Khusus Anti Teror 88 Kepolisian pada 2014.
Belum diketahui apakah penggrebekan itu rangkaian dari penggrebekan terduga teroris di Kampung Sawah, Ciputat Tanggerang Selatan pada malam pergantian tahun, Selasa kemarin (31/12/2013)
Sementara itu, belum ada pernyataan resmi baik dari pejabat Polres Bogor maupun Densus 88 terkait operasi tersebut. (ANtara)
Data dihimpun di lapangan, penggrebekan di satu rumah di Sektor Alamanda, RT 02/RW 08, Desa Pasir Laja, terjadi itu mulai pukul 18.00 WIB. Sekitar lima anggota detasemen itu, dengan berpakaian biasa, mendatangi dua rumah yang diketahui milik Saduloh.
Inilah aksi penggerebekan perdana Detasemen Khusus Anti Teror 88 Kepolisian pada 2014.
Dari keterangan yang dihimpun, anggota Densus 88 juga menangkap seorang pemilik rumah di Perumahan Mega Sentul Sektor Alamanda, Desa Pasir Jaya, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor.
Penggeledahan cukup alot hingga waktu beberapa jam.
Penggeledahan cukup alot hingga waktu beberapa jam.
Belum diketahui apakah penggrebekan itu rangkaian dari penggrebekan terduga teroris di Kampung Sawah, Ciputat Tanggerang Selatan pada malam pergantian tahun, Selasa kemarin (31/12/2013)
Sementara itu, belum ada pernyataan resmi baik dari pejabat Polres Bogor maupun Densus 88 terkait operasi tersebut. (ANtara)
"Kado" Tahun Baru Densus 88 Untuk Teroris
Suasana mencekam menyelimuti rumah kontrakan di Jalan KH Dewantoro Gang H Hasan RT 04/07 Kampung Sawah, Ciputat, Tangerang Selatan pada Selasa 31 Desember 2013. Malam pergantian tahun itu, tim Densus 88 Polri menggerebek tempat tersebut untuk memburu terduga teroris.
Penggerebekan dimulai pukul 07.00 WIB. Sejumlah polisi berpakaian preman menyambangi rumah itu untuk mencari seorang bernama Dayat Hidayat. Pria yang juga kerap dipanggil Daeng itu sempat menantang polisi dan berusaha melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda jenis Supra Fit.
Namun nahas, dia tewas setelah mendapat "kado" timah panas dari petugas. Usai jenazahnya dipindahkan ke tepi jalan, tim pun merangsek ke rumah kontrakan milik Rahmat itu.
Proses penyampaian kado pun berlangsung dramatis. 5 Terduga teroris Ciputat bertahan dan melawan. Suara adu peluru menderu. Beberapa ledakan cukup keras juga mewarnai rentetan tembakan. Rumah dengan jarak 200 meter dari kontrakan itu pun bergetar.
Setelah sekitar 10 jam lamanya mempertahankan diri, perlawanan para terduga teroris di Ciputat itu akhirnya selesai. Mereka dilumpuhkan. Kelimanya tewas bersimbah darah dalam satu ruangan depan. Dengan begitu, seluruh yang tewas dalam penggerebekan ini menjadi 6 orang.
Mereka adalah Daeng alias Dayat Hidayat, Nurul Haq alias Dirman, Oji alias Tomo, Rizal alias Teguh alis Sabar, Hendi, dan Edo alias Amril.
Keenam jenazah terduga teroris itu pun dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepala Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, Kombes Polisi Anton Castelan menyatakan, sejauh ini Tim Inafis baru bekerja memeriksa sidik jari dan odontologi (gigi geligi) 6 jenazah terduga teroris teroris tersebut.
"Tim otopsi belum bekerja, jadi mungkin baru besok (selesai). Tapi (hasilnya) belum," ujar Anton.
Barang Sitaan di "Sarang Teroris"
Tak hanya menewaskan 6 terduga teroris, dalam penggerebekan itu, polisi juga menemukan beberapa dokumen yang diduga merupakan rangkaian kegiatan mereka. Dalam dokumen itu, terdapat nama-nama vihara di Jakarta yang diduga bakal menjadi target ancaman teroris.
"Ada sekitar lebih dari 20-30 lokasi. Itu dalam bentuk print out dari komputer. Di situ adalah vihara yang kami duga akan menjadi target mereka," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu 1 Januari 2014.
Polisi menduga ada keterkaitan para terduga teroris dengan ancaman bom yang terjadi di Vihara Ekayana, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.
Selain itu, kelompok yang disebut terkait jaringan Abu Roban ini juga diduga terlibat dalam kasus penembakan 2 polisi di Pondok Aren, Tangsel.
Dari "sarang" teroris tersebut, polisi juga menyita uang Rp 200 juta yang diduga didapatkan dari pencurian emas di Tambora dan perampokan beberapa bank beberapa waktu lalu. Uang itu terdiri dari beberapa pecahan.
"Terdiri dari pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu yang kalau di-estimasi sementara ada Rp 200 juta," ungkap Boy.
Barang "berharga" lainnya yang diamankan berupa 1 revolver, 5 pistol. Dari 5 pistol itu diantaranya ada 3 rakitan dan 2 pabrikan. Selain itu, 34 butir peluru berukuran 9 milimeter juga disita.
"Kita juga temukan 34 butir peluru 9 milimeter. Diduga sementara peluru-peluru itu merupakan amunisi dari senjata api yang juga diamankan," jelas Boy.
Kuli Bangunan Dikenal Ramah
Warga sekitar mengaku kaget dengan adanya penggerebekan kontrakan terduga teroris tersebut. Karena selama ini, mereka dikenal ramah dengan para tetangga.
Sartika (49) salah satu tetangga mengaku pernah bertemu dengan Dayat dan sempat berbincang. "Saya pernah ketemu sekali. Orangnya baik, ramah," kata Sartika saat ditemui di sekitar lokasi penggerebekan, Rabu (1/1/2014).
Hal yang sama dirasakan warga lainnya Wawan. Menurutnya, tak ada yang aneh dengan terduga teroris yang baru setahun tinggal di kampung tersebut. Mereka tetap beraktivitas seperti warga pada umumnya. Hanya sedikit mengambil jarak, terkesan tertutup.
"Kalau aktivitas sih biasa. Cuma nggak terlalu terbuka. Ala kadarnya saja gitu," kata Wawan.
Mengenai mata pencaharian, mereka mengaku bekerja sebagai kuli. "Kalau ditanya warga sih bilangnya kuli bangunan," ungkap Wawan.
Semoga penggerebekan ini menjadi titik terang bagi Polri untuk membekuk dan membasmi jaringan terorisme di Indonesia. Tanah Air lekas damai dan jauh dari ancaman pihak yang tak bertanggung jawab. (Liputan6)
Penggerebekan dimulai pukul 07.00 WIB. Sejumlah polisi berpakaian preman menyambangi rumah itu untuk mencari seorang bernama Dayat Hidayat. Pria yang juga kerap dipanggil Daeng itu sempat menantang polisi dan berusaha melarikan diri menggunakan sepeda motor Honda jenis Supra Fit.
Namun nahas, dia tewas setelah mendapat "kado" timah panas dari petugas. Usai jenazahnya dipindahkan ke tepi jalan, tim pun merangsek ke rumah kontrakan milik Rahmat itu.
Proses penyampaian kado pun berlangsung dramatis. 5 Terduga teroris Ciputat bertahan dan melawan. Suara adu peluru menderu. Beberapa ledakan cukup keras juga mewarnai rentetan tembakan. Rumah dengan jarak 200 meter dari kontrakan itu pun bergetar.
Setelah sekitar 10 jam lamanya mempertahankan diri, perlawanan para terduga teroris di Ciputat itu akhirnya selesai. Mereka dilumpuhkan. Kelimanya tewas bersimbah darah dalam satu ruangan depan. Dengan begitu, seluruh yang tewas dalam penggerebekan ini menjadi 6 orang.
Mereka adalah Daeng alias Dayat Hidayat, Nurul Haq alias Dirman, Oji alias Tomo, Rizal alias Teguh alis Sabar, Hendi, dan Edo alias Amril.
Keenam jenazah terduga teroris itu pun dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur. Kepala Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri, Kombes Polisi Anton Castelan menyatakan, sejauh ini Tim Inafis baru bekerja memeriksa sidik jari dan odontologi (gigi geligi) 6 jenazah terduga teroris teroris tersebut.
"Tim otopsi belum bekerja, jadi mungkin baru besok (selesai). Tapi (hasilnya) belum," ujar Anton.
Barang Sitaan di "Sarang Teroris"
Tak hanya menewaskan 6 terduga teroris, dalam penggerebekan itu, polisi juga menemukan beberapa dokumen yang diduga merupakan rangkaian kegiatan mereka. Dalam dokumen itu, terdapat nama-nama vihara di Jakarta yang diduga bakal menjadi target ancaman teroris.
"Ada sekitar lebih dari 20-30 lokasi. Itu dalam bentuk print out dari komputer. Di situ adalah vihara yang kami duga akan menjadi target mereka," kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar di Ciputat, Tangerang Selatan, Rabu 1 Januari 2014.
Polisi menduga ada keterkaitan para terduga teroris dengan ancaman bom yang terjadi di Vihara Ekayana, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, beberapa waktu lalu.
Selain itu, kelompok yang disebut terkait jaringan Abu Roban ini juga diduga terlibat dalam kasus penembakan 2 polisi di Pondok Aren, Tangsel.
Dari "sarang" teroris tersebut, polisi juga menyita uang Rp 200 juta yang diduga didapatkan dari pencurian emas di Tambora dan perampokan beberapa bank beberapa waktu lalu. Uang itu terdiri dari beberapa pecahan.
"Terdiri dari pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu yang kalau di-estimasi sementara ada Rp 200 juta," ungkap Boy.
Barang "berharga" lainnya yang diamankan berupa 1 revolver, 5 pistol. Dari 5 pistol itu diantaranya ada 3 rakitan dan 2 pabrikan. Selain itu, 34 butir peluru berukuran 9 milimeter juga disita.
"Kita juga temukan 34 butir peluru 9 milimeter. Diduga sementara peluru-peluru itu merupakan amunisi dari senjata api yang juga diamankan," jelas Boy.
Kuli Bangunan Dikenal Ramah
Warga sekitar mengaku kaget dengan adanya penggerebekan kontrakan terduga teroris tersebut. Karena selama ini, mereka dikenal ramah dengan para tetangga.
Sartika (49) salah satu tetangga mengaku pernah bertemu dengan Dayat dan sempat berbincang. "Saya pernah ketemu sekali. Orangnya baik, ramah," kata Sartika saat ditemui di sekitar lokasi penggerebekan, Rabu (1/1/2014).
Hal yang sama dirasakan warga lainnya Wawan. Menurutnya, tak ada yang aneh dengan terduga teroris yang baru setahun tinggal di kampung tersebut. Mereka tetap beraktivitas seperti warga pada umumnya. Hanya sedikit mengambil jarak, terkesan tertutup.
"Kalau aktivitas sih biasa. Cuma nggak terlalu terbuka. Ala kadarnya saja gitu," kata Wawan.
Mengenai mata pencaharian, mereka mengaku bekerja sebagai kuli. "Kalau ditanya warga sih bilangnya kuli bangunan," ungkap Wawan.
Semoga penggerebekan ini menjadi titik terang bagi Polri untuk membekuk dan membasmi jaringan terorisme di Indonesia. Tanah Air lekas damai dan jauh dari ancaman pihak yang tak bertanggung jawab. (Liputan6)
Teroris Temanggung Berencana Bom Kedubes Myanmar
Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah Irjen Pol Dwi Priyatno membenarkan bahwa terduga teroris yang ditangkap di Temanggung berkaitan dengan rencana pengeboman Kedutaan Besar Myanmar.
"Itu (terduga teroris, red.) sudah ditangkap. Pelakunya kaitannya dengan pelaku teroris di Kedutaan Besar Myanmar," katanya usai menerima Penghargaan Bahasa di Semarang, Kamis (19/12) malam.
Sebelumnya, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap seorang pemuda bernama Priyo Hutomo alias Iyok (22)di Dusun Sojayan, Desa Campursari, Kecamatan Bulu, Temanggung, Kamis, sekitar pukul 08.00 WIB.
Kapolda menjelaskan bahwa satu orang terduga teroris yang ditangkap di Temanggung karena diduga terlibat perencanaan pengeboman Kedubes Myanmar itu sudah dibawa oleh tim Densus 88 Antiteror ke Mabes Polri.
Ia mengatakan bahwa terduga teroris lainnya yang terlibat perencanaan pengeboman Kedubes Myanmar di Menteng, Jakarta Pusat sudah ditangkap, dan pelaku yang ditangkap sekarang ini merupakan sisanya.
"Yang lainnya sudah ditangkap. Yang ini, yang satu ini sisanya. Dia (Iyok, red.) sudah dibawa ke Mabes Polri, ke Densus 88 Antiteror. Kami (Polda Jateng, red.) hanya melakukan back-up," katanya.
Menurut dia, penangkapan terduga teroris Iyok merupakan hasil penyelidikan yang sudah lama berkaitan dengan perencanaan pengeboman Kedubes Myanmar, dan sempat dilakukan pengejaran dalam waktu cukup lama.
"Ini (penangkapan Iyok, red.) kan memang hasil lidik (penyelidikan) sudah lama. Jadi, ada pengejaran untuk pelaku yang belum bisa ditangkap karena kan selalu berpindah dan bergerak terus," katanya.
Berkaitan dengan penangkapan satu orang terduga teroris di Temanggung itu, Kapolda mengimbau masyarakat Jateng untuk tetap tenang dan ikut membantu kepolisian untuk mengantisipasi tindak terorisme.
"Kami harap masyarakat ikut membantu, apabila ada hal-hal yang mencurigakan, dan sebagainya segera lapor kepada polisi. Mudah-mudahan Jateng tetap kondusif, dan kami sendiri tetap antisipasi," tegas Kapolda.
Penghargaan Bahasa diberikan kepada empat tokoh dan enam lembaga di wilayah Jateng yang dinilai sebagai pengguna bahasa terbaik di wilayah tersebut oleh Balai Bahasa Jateng, salah satunya Polda Jateng.
"Itu (terduga teroris, red.) sudah ditangkap. Pelakunya kaitannya dengan pelaku teroris di Kedutaan Besar Myanmar," katanya usai menerima Penghargaan Bahasa di Semarang, Kamis (19/12) malam.
Sebelumnya, tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri menangkap seorang pemuda bernama Priyo Hutomo alias Iyok (22)di Dusun Sojayan, Desa Campursari, Kecamatan Bulu, Temanggung, Kamis, sekitar pukul 08.00 WIB.
Kapolda menjelaskan bahwa satu orang terduga teroris yang ditangkap di Temanggung karena diduga terlibat perencanaan pengeboman Kedubes Myanmar itu sudah dibawa oleh tim Densus 88 Antiteror ke Mabes Polri.
Ia mengatakan bahwa terduga teroris lainnya yang terlibat perencanaan pengeboman Kedubes Myanmar di Menteng, Jakarta Pusat sudah ditangkap, dan pelaku yang ditangkap sekarang ini merupakan sisanya.
"Yang lainnya sudah ditangkap. Yang ini, yang satu ini sisanya. Dia (Iyok, red.) sudah dibawa ke Mabes Polri, ke Densus 88 Antiteror. Kami (Polda Jateng, red.) hanya melakukan back-up," katanya.
Menurut dia, penangkapan terduga teroris Iyok merupakan hasil penyelidikan yang sudah lama berkaitan dengan perencanaan pengeboman Kedubes Myanmar, dan sempat dilakukan pengejaran dalam waktu cukup lama.
"Ini (penangkapan Iyok, red.) kan memang hasil lidik (penyelidikan) sudah lama. Jadi, ada pengejaran untuk pelaku yang belum bisa ditangkap karena kan selalu berpindah dan bergerak terus," katanya.
Berkaitan dengan penangkapan satu orang terduga teroris di Temanggung itu, Kapolda mengimbau masyarakat Jateng untuk tetap tenang dan ikut membantu kepolisian untuk mengantisipasi tindak terorisme.
"Kami harap masyarakat ikut membantu, apabila ada hal-hal yang mencurigakan, dan sebagainya segera lapor kepada polisi. Mudah-mudahan Jateng tetap kondusif, dan kami sendiri tetap antisipasi," tegas Kapolda.
Penghargaan Bahasa diberikan kepada empat tokoh dan enam lembaga di wilayah Jateng yang dinilai sebagai pengguna bahasa terbaik di wilayah tersebut oleh Balai Bahasa Jateng, salah satunya Polda Jateng.
Densus 88 bekuk jaringan teroris Medan
Tim Datasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror kembali melakukan penangkapan terhadap tiga orang teroris jaringan Fadli Sadama di Medan, atas nama Hidayatullah Mushab Hasibuan alias Hayat, Thomas Muslim Hasibuan dan Fahrulrozi Lubis pada Senin 16 Desember 2013.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Mabes Polri, Brigjen Pol Boy Rafli Amar menegaskan, ketiganya ditangkap di tempat berbeda, di Medan, Sumatera Utara (Sumut).
"Hidayatullah Mushab Hasibuan alias Hayat ditangkap di Jalan Raya Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, pada pukul 08.30, lalu Thomas Muslim Hasibuan dan Fahrulrozi Lubis ditangkap bersama di Jalan Veteran, Kecamatan Medan, Marelan, Kota Medan pada pukul 09.15 WIB," kata Boy di Kantor Divisi Humas Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (17/12/2013).
Boy menambahkan, selain turut serta merampok beberapa Bank di daerah Medan, ketiganya juga belakangan diketahui pernah menyembunyikan Fadli Sadama, pada waktu melarikan diri dari Lapas Tanjung Gusta, Medan saat terjadi kerusuhan.
"Ketiganya juga pernah terlibat dalam beberapa aksi perampokan di beberapa Bank di daerah Medan dan juga ikut menyembunyikan Fadli Sadama sewaktu melarikan diri dari Lapas Tanjung Gusta, Medan," papar Boy.
Boy juga mengatakan, ketiga teroris tersebut, sore ini akan diterbangkan ke Jakarta usai dilakukan pemeriksaan di Polda Sumut. "Ketiganya masih diperiksa di kepolisian Polda Sumut. Rencana siang ini kita upayakan untuk dibawa ke Jakarta," pungkasnya. (Sindo)
![]() |
| ilustrasi |
"Hidayatullah Mushab Hasibuan alias Hayat ditangkap di Jalan Raya Kecamatan Medan Marelan, Kota Medan, pada pukul 08.30, lalu Thomas Muslim Hasibuan dan Fahrulrozi Lubis ditangkap bersama di Jalan Veteran, Kecamatan Medan, Marelan, Kota Medan pada pukul 09.15 WIB," kata Boy di Kantor Divisi Humas Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Jakarta Selatan, Selasa (17/12/2013).
Boy menambahkan, selain turut serta merampok beberapa Bank di daerah Medan, ketiganya juga belakangan diketahui pernah menyembunyikan Fadli Sadama, pada waktu melarikan diri dari Lapas Tanjung Gusta, Medan saat terjadi kerusuhan.
"Ketiganya juga pernah terlibat dalam beberapa aksi perampokan di beberapa Bank di daerah Medan dan juga ikut menyembunyikan Fadli Sadama sewaktu melarikan diri dari Lapas Tanjung Gusta, Medan," papar Boy.
Boy juga mengatakan, ketiga teroris tersebut, sore ini akan diterbangkan ke Jakarta usai dilakukan pemeriksaan di Polda Sumut. "Ketiganya masih diperiksa di kepolisian Polda Sumut. Rencana siang ini kita upayakan untuk dibawa ke Jakarta," pungkasnya. (Sindo)
Kasus terorisme, asing mudah dapatkan BAP dari kepolisian
Pengurus Majelis Pustaka Dakwah Informasi Pimpinan Pusat (DPP) Muhammadiyah, Mustofa Nahrawardaya, mempertanyakan mudahnya bagi peneliti asing memperoleh Berita Acara Pemeriksaan (BAP) atas kasus-kasus yang ditangani kepolisian terkait terduga teroris.
Mustofa mengatakan, sering ditemui kasus dimana peneliti asing keluar-masuk memperoleh data BAP dari kepolisian. Bahkan, BAP tersebut dijadikan sebagai bahan penelitian.
Padahal, BAP kata dia, merupakan data yang harus dikunci rapat dan tidak bisa dipublikasi kepada siapa pun apalagi kepada pihak asing.
"Peneliti seperti Sydney Jones kok bisa orang asing dapat BAP bertumpuk-tumpuk dari kepolisian," kata Mustofa, saat diskusi "Penanganan Tindakan Pidana Terorisme Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia" di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (25/11/2013).
Mustofa berpendapat, pihaknya merasa aneh terkait penanganan dan isu terorisme yang terjadi di Indonesia. Sebab, menurutnya penanganan tindakan terorisme harus terbebas dari kepentingan asing.
"Padahal ini kan logikanya enggak bisa orang asing seenaknya dapat BAP keluar masuk dari kepolisian," ujarnya.
Bahkan, tambah dia, terorisme sulit dihapus. Karena "cap" teroris justru sengaja dilekatkan kepada keluarga para terduga teroris.
"Jadi saya berpikir tidak mungkin terorisme mau dibiarkan hidup. Ini jelas keluarganya mau dicap, kerjaannya mau dihilangkan," ungkapnya. (Sindo)
Mustofa mengatakan, sering ditemui kasus dimana peneliti asing keluar-masuk memperoleh data BAP dari kepolisian. Bahkan, BAP tersebut dijadikan sebagai bahan penelitian.
Padahal, BAP kata dia, merupakan data yang harus dikunci rapat dan tidak bisa dipublikasi kepada siapa pun apalagi kepada pihak asing.
"Peneliti seperti Sydney Jones kok bisa orang asing dapat BAP bertumpuk-tumpuk dari kepolisian," kata Mustofa, saat diskusi "Penanganan Tindakan Pidana Terorisme Dalam Perspektif Hak Asasi Manusia" di Hotel Grand Sahid, Jakarta, Selasa (25/11/2013).
Mustofa berpendapat, pihaknya merasa aneh terkait penanganan dan isu terorisme yang terjadi di Indonesia. Sebab, menurutnya penanganan tindakan terorisme harus terbebas dari kepentingan asing.
"Padahal ini kan logikanya enggak bisa orang asing seenaknya dapat BAP keluar masuk dari kepolisian," ujarnya.
Bahkan, tambah dia, terorisme sulit dihapus. Karena "cap" teroris justru sengaja dilekatkan kepada keluarga para terduga teroris.
"Jadi saya berpikir tidak mungkin terorisme mau dibiarkan hidup. Ini jelas keluarganya mau dicap, kerjaannya mau dihilangkan," ungkapnya. (Sindo)
Polri antisipasi penyadapan Densus 88 oleh Australia
Kasus penyadapan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ( SBY ) oleh Australia membuat Polri was-was. Korps Bhayangkara itu pun mengantisipasi penyadapan alat-alat komunikasi Densus 88 Antiteror yang didatangkan dari Australia.
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Polisi Ronny F Sompie di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta, mengatakan upaya antisipasi penyadapan sudah dilakukan.
"Namun demikian saya harus tanya kepada Densus 88 dan Bareskrim Polri, apakah ada kemungkinan segala macam data yang ada di Densus 88 tersadap, terekam, dan bisa disalahgunakan untuk kepentingan negara lain, termasuk oleh Australia, itu akan kita evaluasi," kata Ronny F Sompie , Kamis (21/11).
Menurut Ronny, saat ini peralatan teknologi informasi yang digunakan Densus banyak bergantung dari pihak luar. Baik yang bentuknya bantuan hibah maupun yang dibeli secara langsung.
"Kita akan evaluasi kalau ada masukan dari IPW, saya kira Densus 88 saat membangun alat itu masih di bawah Kabareskrim Polri atau membeli atau menerima hibah alat itu, sudah dari awal sudah mengetahui kemungkinan adanya penyadapan," ujar Ronny.
Selain untuk penanganan terorisme, peralatan Polri dari Australia lainnya juga untuk kebutuhan cyber crime. Menurut Ronny, pihak kepolisian akan mengantisipasi itu kalau-kalau Australia menyertakan alat sadap dalam peralatan itu.
"Ada hibah dari Australia yang berkaitan dengan cyber crime. Tapi apakah mereka memasang alat itu dengan alat mereka untuk memudahkan penyadapan, tentunya perlu kita antisipasi," kata Ronny. (Merdeka)
![]() |
| densus . merdeka.com |
Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Polisi Ronny F Sompie di Gedung Divisi Humas Mabes Polri, Jakarta, mengatakan upaya antisipasi penyadapan sudah dilakukan.
"Namun demikian saya harus tanya kepada Densus 88 dan Bareskrim Polri, apakah ada kemungkinan segala macam data yang ada di Densus 88 tersadap, terekam, dan bisa disalahgunakan untuk kepentingan negara lain, termasuk oleh Australia, itu akan kita evaluasi," kata Ronny F Sompie , Kamis (21/11).
Menurut Ronny, saat ini peralatan teknologi informasi yang digunakan Densus banyak bergantung dari pihak luar. Baik yang bentuknya bantuan hibah maupun yang dibeli secara langsung.
"Kita akan evaluasi kalau ada masukan dari IPW, saya kira Densus 88 saat membangun alat itu masih di bawah Kabareskrim Polri atau membeli atau menerima hibah alat itu, sudah dari awal sudah mengetahui kemungkinan adanya penyadapan," ujar Ronny.
Selain untuk penanganan terorisme, peralatan Polri dari Australia lainnya juga untuk kebutuhan cyber crime. Menurut Ronny, pihak kepolisian akan mengantisipasi itu kalau-kalau Australia menyertakan alat sadap dalam peralatan itu.
"Ada hibah dari Australia yang berkaitan dengan cyber crime. Tapi apakah mereka memasang alat itu dengan alat mereka untuk memudahkan penyadapan, tentunya perlu kita antisipasi," kata Ronny. (Merdeka)
Densus 88 Tangkap Terduga Teroris Kelompok Abu Roban
Detasemen Khusus 88 Anti Teror menangkap Satrio Sandra Wiguna alias Indra alias Jendol yang diduga teroris jaringan Abu Roban dan Nurul Haq. Satrio ditangkap sekitar pukul 13.30wita di sekitar jalan Soekarno-Hatta, kota Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB).
"Keterlibatan yang bersangkutan terus kita melakukan pendalaman, yang kita miliki sementara ini yang bersangkutan ikut pelatihan militer yang dilanjutkan dengan deklarasi Situ Gintung,"kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Agus Rianto di Jakarta, Senin (21/10).
Diduga Deklarasi Situ Gintung merupakan cikal bakal berdirinya Mujahidin Indonesia Wilayah Indonesia Barat. Polisi hingga saat ini masih terus mendalami Deklarasi Situ Gintung tersebut.
Selain itu, Satrio juga diduga sebagai penerima berbagai hasil Fa'i (perampokan untuk kegiatan teror). Diantaranya adalah hasil fa'i di kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Batujajar yang dia lakukan bersama tersangka lain. Selain itu, ada beberapa kegiatan fa'i lain yang tak disebut Agus mengingat masih dalam proses penyelidikan.
Adapun hasil dari fa'i tersebut, disebar dan digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang telah disusun. Namun Agus juga tak menyebut kegiatan apa saja yang telah disusun kelompok Satrio ini.
Selain itu, Satrio juga diketahui membawa senjata api milik terduga teroris Budi Syarif alias Angga yang telah terungkap di wilayah Bandung pada Mei 2013 lalu. "Hasil pengembangan satu dua hari kemarin, yang bersangkutan merupakan jaringan Abu Roban,"imbuh Agus. (Jurnas)
![]() |
| Foto : Oky Lukmansyah |
"Keterlibatan yang bersangkutan terus kita melakukan pendalaman, yang kita miliki sementara ini yang bersangkutan ikut pelatihan militer yang dilanjutkan dengan deklarasi Situ Gintung,"kata Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Agus Rianto di Jakarta, Senin (21/10).
Diduga Deklarasi Situ Gintung merupakan cikal bakal berdirinya Mujahidin Indonesia Wilayah Indonesia Barat. Polisi hingga saat ini masih terus mendalami Deklarasi Situ Gintung tersebut.
Selain itu, Satrio juga diduga sebagai penerima berbagai hasil Fa'i (perampokan untuk kegiatan teror). Diantaranya adalah hasil fa'i di kantor Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Batujajar yang dia lakukan bersama tersangka lain. Selain itu, ada beberapa kegiatan fa'i lain yang tak disebut Agus mengingat masih dalam proses penyelidikan.
Adapun hasil dari fa'i tersebut, disebar dan digunakan dalam kegiatan-kegiatan yang telah disusun. Namun Agus juga tak menyebut kegiatan apa saja yang telah disusun kelompok Satrio ini.
Selain itu, Satrio juga diketahui membawa senjata api milik terduga teroris Budi Syarif alias Angga yang telah terungkap di wilayah Bandung pada Mei 2013 lalu. "Hasil pengembangan satu dua hari kemarin, yang bersangkutan merupakan jaringan Abu Roban,"imbuh Agus. (Jurnas)
Densus 88 Tembak Mati Terduga Teroris di Bone
Detamasemen Khusus 88 Antiteror Polri menembak mati seorang warga bernama Suardi di Desa Alinge Kecamatan Ulaweng, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, Kamis siang, 17 Oktober 2013. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri, Brigadir Jenderal Boy Rafli Amar mengatakan pria yang berasal dari Kecamatan Amali, Bone, itu tertembak di bagian punggung karena hendak melakukan perlawanan.
Boy mengatakan selain Suardi, ada lagi dua warga yang ditangkap oleh Densus di tempat yang sama yaitu Jodi alias Umar; dan Ahmad Iswan. Kemudian, Densus membawa keduanya ke Kota Makassar."Mereka diduga teroris jaringan Abu Uswah," kata Boy melalui pesan singkat.
Dalam catatan Tempo, polisi menyebut Abu Uswah merupakan pemimpin serangkaian aksi teror di Makassar, Ambon, Bima, dan Poso. Ia juga terkait dengan Santoso, pemimpin teroris di Poso, Sulawesi Tengah.
Menurut Boy, ketiga orang tersebut diduga terlibat penembakan seorang anggota Brigade Mobil di Ambon pada 2005 silam, serta kasus pembuatan bom di Enrekang tahun lalu.
Boy mengatakan penangkapan terhadap para terduga teroris tersebut dilakukan sekitar pukul 14.05 WITA. Dari tangan mereka, Densus menemukan satu pucuk pistol, satu magazine, 12 butir peluru, dan satu senapan angin hasil modifikasi. Densus juga mengamankan dua kilogram pupuk, sebilah golok dan satu unit mobil Avansa. (Tempo)
![]() |
| Sejumlah anggota brimob berjaga depan ruang forensik saat pemeriksaan Jenazah terduga teroris di Rumah sakit bayangkara, Makassar, Jumat (4/1). TEMPO/Iqbal Lubis |
Boy mengatakan selain Suardi, ada lagi dua warga yang ditangkap oleh Densus di tempat yang sama yaitu Jodi alias Umar; dan Ahmad Iswan. Kemudian, Densus membawa keduanya ke Kota Makassar."Mereka diduga teroris jaringan Abu Uswah," kata Boy melalui pesan singkat.
Dalam catatan Tempo, polisi menyebut Abu Uswah merupakan pemimpin serangkaian aksi teror di Makassar, Ambon, Bima, dan Poso. Ia juga terkait dengan Santoso, pemimpin teroris di Poso, Sulawesi Tengah.
Menurut Boy, ketiga orang tersebut diduga terlibat penembakan seorang anggota Brigade Mobil di Ambon pada 2005 silam, serta kasus pembuatan bom di Enrekang tahun lalu.
Boy mengatakan penangkapan terhadap para terduga teroris tersebut dilakukan sekitar pukul 14.05 WITA. Dari tangan mereka, Densus menemukan satu pucuk pistol, satu magazine, 12 butir peluru, dan satu senapan angin hasil modifikasi. Densus juga mengamankan dua kilogram pupuk, sebilah golok dan satu unit mobil Avansa. (Tempo)
Langganan:
Postingan (Atom)










