Produk panser Anoa nampak terlihat di pameran perdagangan atau Trade Expo Indonesia (TEI) 2013 di JIExpo Kemayoran Jakarta. PT Pindad (Persero) sebagai produsen Anoa, sengaja memamerkan jenis Panser 6X6 Anoa 2 ke para pengunjung TEI 2013.
"Dari PT Pindad (Persero) menghadirkan Panser 6X6 Anoa 2. Mobil militer besar buatan anak bangsa," ungkap Wildan salah satu marketing PT Pindad (Persero) saat ditemui di lokasi TEI 2013, Rabu (16/10/2013).
Menurut Wildan, kendaraan militer ini mempunyai kapasitas mesin hingga 6.000 cc. Kendaraan tempur yang didesain unik dan dinamis ini sebelumnya sudah digunakan oleh pasukan perdamaian United Nations (UN) Tentara Nasional Indonesia (TNI) saat bertugas di Libanon dan Kongo tahun 2010 silam.
"Kapasitas untuk dibagian depan mobil 2 orang plus 10 orang dibelakang. Pernah digunakan pasukan perdamaian TNI di Kongo dan Libanon tahun 2010. Sudah dilengkapi senjata," katanya.
Pindad sengaja memamerkan kendaraan militer jenis Anoa di pergelaran TEI 2013. Selain sosialisasi perkembangan industri militer Indonesia, Pindad juga mengincar para calon pembeli. Anoa 2 baru diekspor ke Mali dan Timor Leste.
"Di pameran ini dijual juga kalau harga saya belum bisa kasih informasi. Diekspor baru ke Mali dan Timor Leste yang lain tahap penjajakan seperti Malaysia, Singapura dan Brunei Darusalam," katanya.
Sementara itu, para pengunjung menyatakan kekagumannya dan tidak percaya kendaraan militer Panser Anoa produk buatan Kota Bandung.
"Saya tidak percaya ini buatan Kota Bandung. Kalau benar sungguh luar biasa kita bisa produksi sendiri. Jadi nggak usah impor kendaraan militer," jelas Lien Tan yang tidak malu-malu untuk berfoto di depan Anoa 2. (Detik)
Home » All posts
Panglima TNI Jadi Warga Kehormatan Korpaskhas AU
PANGLIMA TNI Jenderal TNI Moeldoko beserta Kasad Jenderal TNI Budiman dan Kasal Laksamana TNI Marsetio diangkat menjadi Warga Kehormatan Korps Pasukan Khas (Korpaskhas) TNI AU dalam suatu upacara militer, di Markas Komando Korpaskhas TNI AU Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/10/2013).
Dalam kesempatan tersebut, Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Amarullah menyematkan Baret dan Wing Kualifikasi Komando Korpaskhas kepada Panglima TNI, Kasad dan Kasal, sesuai dengan petikan keputusan Komandan Korpaskhas TNI AU nomor Kep 50/10/2013 tanggal 15 Oktober 2013.
Panglima TNI dalam sambutannya mengatakan bahwa, ada dua esensi moral atas pengukuhan warga kehormatan ini. Dua esensi tersebut :
Pertama, pengukuhan ini adalah kehormatan untuk membawa TNI ke puncak prestasi yang lebih baik, khususnya Korps Paskhas TNI AU, melebihi prestasi yang dicapai sebelumnya dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.
Kedua, bagi Korps Paskhas, pengukuhan ini adalah pesan moral untuk tidak mereduksi kehormatan yang diberikan oleh perilaku ego sektoral, jiwa korsa sempit dan sikap-sikap primitif lainnya, yang dapat merusak kehormatan TNI, kehormatan pimpinan TNI dan kehormatan Korps Paskhas itu sendiri.
Jenderal TNI Moeldoko juga menyampaikan, guna mewujudkan upaya TNI yang profesional, militan dan solid, yang merupakan modal dalam membangun kekuatan kerakyatan, sebagaimana moto “Bersama Rakyat TNI Kuat”, TNI akan melakukan penyempurnaan dan penguatan 4 sektor pokok guna mendongkrak kinerja TNI dalam pelaksanaan tugas, yaitu : Pertama, mengeliminasi kebijakan, perilaku, sikap dan tindakan yang cenderung ego sektoral. Kedua, membangun kemampuan TNI berdasarkan interoperability based capacity. Dalam kaitan ini, Panglima TNI tekankan bahwa interoperability tidak didefinisikan secara sempit hanya pada substansi kecil.
Ketiga, penguatan Bais TNI menuju penguatan kebutuhan intelijen Trimatra Terpadu, baik kebutuhan Intelijen Darat dan Intelijen Kemaritiman, maupun Intelijen Udara, termasuk kebutuhan intelijen dalam pembinaan sosial kemasyarakatan, guna mendukung kebutuhan operasional satuan di jajaran TNI.
Keempat, penguatan Kodiklat TNI agar menjadi sumber dalam peletakan dasar-dasar pendidikan dan latihan di jajaran TNI, yang berorientasi pada trimatra interoperability based capacity, serta penguatan kultur TNI, yang berjatidiri Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional, yang searah dengan Reformasi Internal TNI. (MPI)
Authentikasi : Pjs. Kadispenum Puspen TNI, Letkol Caj Drs. Edyana Sulistiadie
Dalam kesempatan tersebut, Komandan Korpaskhas Marsekal Muda TNI Amarullah menyematkan Baret dan Wing Kualifikasi Komando Korpaskhas kepada Panglima TNI, Kasad dan Kasal, sesuai dengan petikan keputusan Komandan Korpaskhas TNI AU nomor Kep 50/10/2013 tanggal 15 Oktober 2013.
Panglima TNI dalam sambutannya mengatakan bahwa, ada dua esensi moral atas pengukuhan warga kehormatan ini. Dua esensi tersebut :
Pertama, pengukuhan ini adalah kehormatan untuk membawa TNI ke puncak prestasi yang lebih baik, khususnya Korps Paskhas TNI AU, melebihi prestasi yang dicapai sebelumnya dalam pengabdian kepada bangsa dan negara.
Kedua, bagi Korps Paskhas, pengukuhan ini adalah pesan moral untuk tidak mereduksi kehormatan yang diberikan oleh perilaku ego sektoral, jiwa korsa sempit dan sikap-sikap primitif lainnya, yang dapat merusak kehormatan TNI, kehormatan pimpinan TNI dan kehormatan Korps Paskhas itu sendiri.
Jenderal TNI Moeldoko juga menyampaikan, guna mewujudkan upaya TNI yang profesional, militan dan solid, yang merupakan modal dalam membangun kekuatan kerakyatan, sebagaimana moto “Bersama Rakyat TNI Kuat”, TNI akan melakukan penyempurnaan dan penguatan 4 sektor pokok guna mendongkrak kinerja TNI dalam pelaksanaan tugas, yaitu : Pertama, mengeliminasi kebijakan, perilaku, sikap dan tindakan yang cenderung ego sektoral. Kedua, membangun kemampuan TNI berdasarkan interoperability based capacity. Dalam kaitan ini, Panglima TNI tekankan bahwa interoperability tidak didefinisikan secara sempit hanya pada substansi kecil.
Ketiga, penguatan Bais TNI menuju penguatan kebutuhan intelijen Trimatra Terpadu, baik kebutuhan Intelijen Darat dan Intelijen Kemaritiman, maupun Intelijen Udara, termasuk kebutuhan intelijen dalam pembinaan sosial kemasyarakatan, guna mendukung kebutuhan operasional satuan di jajaran TNI.
Keempat, penguatan Kodiklat TNI agar menjadi sumber dalam peletakan dasar-dasar pendidikan dan latihan di jajaran TNI, yang berorientasi pada trimatra interoperability based capacity, serta penguatan kultur TNI, yang berjatidiri Tentara Rakyat, Tentara Pejuang, Tentara Nasional dan Tentara Profesional, yang searah dengan Reformasi Internal TNI. (MPI)
Authentikasi : Pjs. Kadispenum Puspen TNI, Letkol Caj Drs. Edyana Sulistiadie
Perwira TNI Harus Memiliki Multi-Kemampuan
"Para perwira TNI tidak hanya membutuhkan kemampuan tempur di lapangan, tetapi juga harus dibekali kemampuan akademis. Setiap perwira TNI harus punya multi kemampuan," ujar Duta Besar Indonesia untuk Singapura, Andri Hadi.
Hal itu dikemukakan Andri Hadi saat menghadiri acara penyerahan penghargaan kepada alumni Nanyang Technological University (NTU), Sabtu lalu (12/10), demikian keterangan Pusat Penengan TNI di Jakarta.
Salah seorang perwira TNI Angkatan Darat, Mayor Infantri Agus H. Yudhoyono, mendapatkan penghargaan Nanyang Outstanding Young Alumnae 2013. Agus Yudhoyono adalah alumnus NTU pada 2005, dari program Rajaratnam School of International Studies (RSIS).
Penghargaan dari Presiden Nanyang Technological University, Prof Bertil Andersson, dan Menteri Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda/Menteri Senior Komunikasi dan Informasi Singapura, Lawrence Wong, itu merupakan apresiasi NTU kepada putera sulung Presiden Bambang Susilo Yudhoyono itu, yang dianggap menorehkan banyak prestasi dalam aktivitas militernya.
Agus Yudhoyono tidak hanya terjun ke daerah konflik di Lebanon dalam misi perdamaian PBB pada 2006, tetapi juga aktif mengajar di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI dan forum akademis lain sejak 2007 hingga sekarang.
Selain itu, dia memiliki kontribusi aktif dalam pendirian Pusat Pelatihan Penjaga Perdamaian PBB di Indonesia, di Sentul, Jawa Barat, dan Universitas Pertahanan pada 2011.
The Nanyang Alumni Awards pertama kali diadakan pada 2005 bagi alumnus berprestasi di bidang spesialisasi pada tingkat nasional, regional, maupun internasional.
Penghargaan tersebut juga diberikan bagi para alumni yang berkontribusi signifikan terhadap kemajuan dan nama baik universitas ataupun kepada komunitas dan masyarakat.
The Nanyang Alumni Awards ini memiliki empat kategori penghargaan yaitu: The Nanyang Distinguished Alumni Award, The Nanyang Alumni Achievement Award, The Nanyang Outstanding Young Alumni Award dan The Nanyang Alumni Service Award.
Sebastian selaku Associate Profesor dan Kepala Koordinator untuk Program Indonesia menilai, Agus Yudhoyono sangat layak mendapatkan penghargaan itu.
Dalam pengamatannya, selama mengajar perwira TNI AD mahasiswanya itu memiliki empat potensi utama, yaitu kemampuan berpikir jauh ke depan, kemampuan analisa tinggi, kemampuan berpikir alternatif, dan memiliki kemampuan kepemimpinan sangat baik.
Sumber : Antara
Hal itu dikemukakan Andri Hadi saat menghadiri acara penyerahan penghargaan kepada alumni Nanyang Technological University (NTU), Sabtu lalu (12/10), demikian keterangan Pusat Penengan TNI di Jakarta.
Salah seorang perwira TNI Angkatan Darat, Mayor Infantri Agus H. Yudhoyono, mendapatkan penghargaan Nanyang Outstanding Young Alumnae 2013. Agus Yudhoyono adalah alumnus NTU pada 2005, dari program Rajaratnam School of International Studies (RSIS).
Penghargaan dari Presiden Nanyang Technological University, Prof Bertil Andersson, dan Menteri Kebudayaan, Masyarakat dan Pemuda/Menteri Senior Komunikasi dan Informasi Singapura, Lawrence Wong, itu merupakan apresiasi NTU kepada putera sulung Presiden Bambang Susilo Yudhoyono itu, yang dianggap menorehkan banyak prestasi dalam aktivitas militernya.
Agus Yudhoyono tidak hanya terjun ke daerah konflik di Lebanon dalam misi perdamaian PBB pada 2006, tetapi juga aktif mengajar di Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian (PMPP) TNI dan forum akademis lain sejak 2007 hingga sekarang.
Selain itu, dia memiliki kontribusi aktif dalam pendirian Pusat Pelatihan Penjaga Perdamaian PBB di Indonesia, di Sentul, Jawa Barat, dan Universitas Pertahanan pada 2011.
The Nanyang Alumni Awards pertama kali diadakan pada 2005 bagi alumnus berprestasi di bidang spesialisasi pada tingkat nasional, regional, maupun internasional.
Penghargaan tersebut juga diberikan bagi para alumni yang berkontribusi signifikan terhadap kemajuan dan nama baik universitas ataupun kepada komunitas dan masyarakat.
The Nanyang Alumni Awards ini memiliki empat kategori penghargaan yaitu: The Nanyang Distinguished Alumni Award, The Nanyang Alumni Achievement Award, The Nanyang Outstanding Young Alumni Award dan The Nanyang Alumni Service Award.
Sebastian selaku Associate Profesor dan Kepala Koordinator untuk Program Indonesia menilai, Agus Yudhoyono sangat layak mendapatkan penghargaan itu.
Dalam pengamatannya, selama mengajar perwira TNI AD mahasiswanya itu memiliki empat potensi utama, yaitu kemampuan berpikir jauh ke depan, kemampuan analisa tinggi, kemampuan berpikir alternatif, dan memiliki kemampuan kepemimpinan sangat baik.
Sumber : Antara
T50i Golden Eagle Langkah TNI AU Menuju "World Class Air Force"
11 September lalu, dua T-50i Golden Eagle menjejakkan roda-roda pendaratnya di Pangkalan Udara TNI AU Balikpapan, sebagai bagian penerbangan ferry-nya dari manufakturnya di Korea Aerospace Industries, Sacheon, Korea Selatan, menuju Indonesia.
Itu pendaratan pertama Golden Eagle itu, dua pesawat lagi mendarat pada 26 September 2013 di Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, "rumah" barunya.
Bagi TNI AU, kehadiran Golden Eagle itu memiliki arti khusus karena akan mendekatkan cita-cita dan visi mereka pada predikat World Class Air Force, sejalan peta jalan pertahanan Indonesia melalui TNI yang menetapkan pada 2014 sudah berada pada status kekuatan minimum esensial arsenalnya.
Golden Eagle yang dibeli baru sebanyak 16 unit itu akan menggantikan peran seniornya, Hawk Mk-53 buatan Inggris, yang berdinas sejak 1970-an di Skuadron Udara 15 Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, Jawa Timur.
Semula, ada lima kandidat yang dilirik Kementerian Pertahanan sesuai keperluan spesifikasi dari pengguna, TNI AU.
Mereka semua ada di kelas dan spesifikasi kurang lebih sama, yaitu di kelas advanced training jets/lead-in fighter trainer; T-50i Golden Eagle, Yakovlev Yak-130 Mitten, Aermacchi M-346, L-159 buatan Ceko, dan Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000.
Dengan L-159, TNI AU pernah punya pengalaman pemakaian, yaitu pada seniornya, L-29 Dolphin saat pabrikannya masih bernaung dalam Republik Cekoslovakia.
Yak-130 Mitten dan M-346 memiliki penampilan identik hanya beda mesin, beberapa feature avionika/sistem penjejak musuh-peluru kendali, dan kelengkapan sistem pendukung saja; Mitten dengan basis Rusia-nya, dan M-346 dengan pilihan sistem pendukung lebih luas dari Barat.
Satu yang baru adalah Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000, yang jujur saja, belum teruji di manapun di dunia ini kecuali di negeri asalnya, China. Bicara tentang China, negeri ini sangat ambisius mengembangkan industri penerbangan sipil dan militernya, dan sangat gencar berpromosi.
Beberapa persyaratan yang diinginkan pengguna adalah advanced jet trainer yang baru harus mampu mengantarkan pilot-pilot tempur TNI AU mengawaki pesawat-pesawat tempur baru secara lebih mudah dan canggih.
Skuadron Udara 3 memiliki F-16 Fighting Falcon Blok 15/25, Skuadron Udara 11 menjadi rumah bagi Sukhoi Su-27 Flankers (Su-27SKM dan Su-30Mk2) yang jumlahnya genap 16 unit plus sistem kesenjataannya.
Mencetak pilot-pilot tempur untuk mengawaki semua pesawat tempur itu jelas bukan urusan mudah dan cepat. Belum lagi jika nanti 24 unit F-16 Fighting Falcon Blok 32+ eks Angkatan Udara Pengawal Pantai Amerika Serikat tiba, yang akan ditempatkan di Skuadron Udara 16.
Sebagai negara pertama pemakai T-50i Golden Eagle di luar Angkatan Udara Korea Selatan, TNI AU akan menempatkan Elang-elang Emas ini bukan cuma sebagai pesawat latih semata. Designasi di ekor tegaknya diberi huruf dan angka TT5001 dan seterusnya, pertanda dia adalah pesawat tempur taktis.
Belajar dari peristiwa Bawean pada 3 Juli 2003 --sebagai misal-- saat F-16 TNI AU "dikunci" pesawat tempur asing di wilayah udara kedaulatan sendiri jelas bukan hal menyenangkan untuk dialami pilot tempur TNI AU; dan Golden Eagle diharapkan bisa memberi pelajaran lebih nyata tentang itu.
Dari luar, tampilan samping dan tampak atas/bawah T-50i Golden Eagle ini sangat mirip dengan F-16 Fighting Falcon; yang lumrah mengingat KAI mengembangkan Elang-elang Emas ini dengan terobosan bekerja sama dengan pabrikan barunya, Lockheed Martin dari Amerika Serikat. Dalam hal rekayasa rancangan, kerja sama ini sangat menguntungkan KAI.
Dari Lockheed Martin, Elang-elang Emas ini disuplai sistem penginderaan musuh radar AN/PG-67(v)4 dan mesin jet tunggal General Electric GE F404, yang cukup mampu menerbangkan dia pada kecepatan 1,5 Mach sangat mudah dalam keadaan full gear pada bobot maksimal 27.322 pound menuju ketinggian maksimal 55.000 kaki dari permukaan laut.
Juga dikenal (para edisi awal 1992), Elang-elang Emas para generasi terkini --yang dibeli Indonesia-- ini juga ditanami radar aktif (AESA/active electronically scanned array radar) Israeli EL/M-2032 pulse-Doppler.
Data pabrikan KAI menyatakan, radar ini 66 persen lebih besar dan memiliki sistem tautan data lebih canggih ketimbang radar semula yang dipasang di TA-50.
Radar AESA EL/M-2032 sejak awal diunggulkan ketimbang AN/APG-67(V)4 and SELEX Vixen 500E AESA radar, yang dipilih Lockheed Martin. Pilihan lain adalah Raytheon Advanced Combat Radar dan Northrop Grumman's Scalable Agile Beam Radar, bagi produksi-produki mendatang.
Yang unik, sistem data yang dibangun pada piranti dan sistem radar ini memungkinkan T-50i Angkatan Udara Korea Selatan dan F-16 Fighting Falcon Angkatan Udara Amerika Serikat saling berkomunikasi.
Bicara hal unik ini, jelas telah memasuki ranah politis mengingat Korea Selatan sekutu dekat Amerika Serikat sebagaimana Jepang di Asia Timur.
Di Tanah Air, Elang-elang Emas ini akan diutilisasi semaksimal mungkin, layaknya dinyatakan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pengirimannya selesai sepenuhnya pada 2014.
"Pesawat ini yang kita beli, sangat bertenaga," kata dia, saat menerima delegasi KAI di Jakarta, September 2011.
Berbagai misi akan bisa diemban Elang Emas, mulai dari melatih pilot muda dan profisiensi lain, patroli udara, tim aerobatik (sesuai warna biru-aksen kuning enam Golden Eagle pertama yang hadir), hingga pertahanan udara.
Omong-omong, rasio antara jumlah pesawat terbang dan pilot pengawaknya lazim dipahami satu banding dua atau tiga; dengan begitu maka paling tidak 32 (kalau bukan 48) pilot Elang Emas harus bisa dicetak pada 2014 nanti. (Antara)
Itu pendaratan pertama Golden Eagle itu, dua pesawat lagi mendarat pada 26 September 2013 di Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, "rumah" barunya.
Bagi TNI AU, kehadiran Golden Eagle itu memiliki arti khusus karena akan mendekatkan cita-cita dan visi mereka pada predikat World Class Air Force, sejalan peta jalan pertahanan Indonesia melalui TNI yang menetapkan pada 2014 sudah berada pada status kekuatan minimum esensial arsenalnya.
Golden Eagle yang dibeli baru sebanyak 16 unit itu akan menggantikan peran seniornya, Hawk Mk-53 buatan Inggris, yang berdinas sejak 1970-an di Skuadron Udara 15 Pangkalan Udara Utama Iswahyudi, Jawa Timur.
Semula, ada lima kandidat yang dilirik Kementerian Pertahanan sesuai keperluan spesifikasi dari pengguna, TNI AU.
Mereka semua ada di kelas dan spesifikasi kurang lebih sama, yaitu di kelas advanced training jets/lead-in fighter trainer; T-50i Golden Eagle, Yakovlev Yak-130 Mitten, Aermacchi M-346, L-159 buatan Ceko, dan Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000.
Dengan L-159, TNI AU pernah punya pengalaman pemakaian, yaitu pada seniornya, L-29 Dolphin saat pabrikannya masih bernaung dalam Republik Cekoslovakia.
Yak-130 Mitten dan M-346 memiliki penampilan identik hanya beda mesin, beberapa feature avionika/sistem penjejak musuh-peluru kendali, dan kelengkapan sistem pendukung saja; Mitten dengan basis Rusia-nya, dan M-346 dengan pilihan sistem pendukung lebih luas dari Barat.
Satu yang baru adalah Guizhou JL-9 Shanying alias FTC-2000, yang jujur saja, belum teruji di manapun di dunia ini kecuali di negeri asalnya, China. Bicara tentang China, negeri ini sangat ambisius mengembangkan industri penerbangan sipil dan militernya, dan sangat gencar berpromosi.
Beberapa persyaratan yang diinginkan pengguna adalah advanced jet trainer yang baru harus mampu mengantarkan pilot-pilot tempur TNI AU mengawaki pesawat-pesawat tempur baru secara lebih mudah dan canggih.
Skuadron Udara 3 memiliki F-16 Fighting Falcon Blok 15/25, Skuadron Udara 11 menjadi rumah bagi Sukhoi Su-27 Flankers (Su-27SKM dan Su-30Mk2) yang jumlahnya genap 16 unit plus sistem kesenjataannya.
Mencetak pilot-pilot tempur untuk mengawaki semua pesawat tempur itu jelas bukan urusan mudah dan cepat. Belum lagi jika nanti 24 unit F-16 Fighting Falcon Blok 32+ eks Angkatan Udara Pengawal Pantai Amerika Serikat tiba, yang akan ditempatkan di Skuadron Udara 16.
Sebagai negara pertama pemakai T-50i Golden Eagle di luar Angkatan Udara Korea Selatan, TNI AU akan menempatkan Elang-elang Emas ini bukan cuma sebagai pesawat latih semata. Designasi di ekor tegaknya diberi huruf dan angka TT5001 dan seterusnya, pertanda dia adalah pesawat tempur taktis.
Belajar dari peristiwa Bawean pada 3 Juli 2003 --sebagai misal-- saat F-16 TNI AU "dikunci" pesawat tempur asing di wilayah udara kedaulatan sendiri jelas bukan hal menyenangkan untuk dialami pilot tempur TNI AU; dan Golden Eagle diharapkan bisa memberi pelajaran lebih nyata tentang itu.
Dari luar, tampilan samping dan tampak atas/bawah T-50i Golden Eagle ini sangat mirip dengan F-16 Fighting Falcon; yang lumrah mengingat KAI mengembangkan Elang-elang Emas ini dengan terobosan bekerja sama dengan pabrikan barunya, Lockheed Martin dari Amerika Serikat. Dalam hal rekayasa rancangan, kerja sama ini sangat menguntungkan KAI.
Dari Lockheed Martin, Elang-elang Emas ini disuplai sistem penginderaan musuh radar AN/PG-67(v)4 dan mesin jet tunggal General Electric GE F404, yang cukup mampu menerbangkan dia pada kecepatan 1,5 Mach sangat mudah dalam keadaan full gear pada bobot maksimal 27.322 pound menuju ketinggian maksimal 55.000 kaki dari permukaan laut.
Juga dikenal (para edisi awal 1992), Elang-elang Emas para generasi terkini --yang dibeli Indonesia-- ini juga ditanami radar aktif (AESA/active electronically scanned array radar) Israeli EL/M-2032 pulse-Doppler.
Data pabrikan KAI menyatakan, radar ini 66 persen lebih besar dan memiliki sistem tautan data lebih canggih ketimbang radar semula yang dipasang di TA-50.
Radar AESA EL/M-2032 sejak awal diunggulkan ketimbang AN/APG-67(V)4 and SELEX Vixen 500E AESA radar, yang dipilih Lockheed Martin. Pilihan lain adalah Raytheon Advanced Combat Radar dan Northrop Grumman's Scalable Agile Beam Radar, bagi produksi-produki mendatang.
Yang unik, sistem data yang dibangun pada piranti dan sistem radar ini memungkinkan T-50i Angkatan Udara Korea Selatan dan F-16 Fighting Falcon Angkatan Udara Amerika Serikat saling berkomunikasi.
Bicara hal unik ini, jelas telah memasuki ranah politis mengingat Korea Selatan sekutu dekat Amerika Serikat sebagaimana Jepang di Asia Timur.
Di Tanah Air, Elang-elang Emas ini akan diutilisasi semaksimal mungkin, layaknya dinyatakan Menteri Pertahanan, Purnomo Yusgiantoro, pengirimannya selesai sepenuhnya pada 2014.
"Pesawat ini yang kita beli, sangat bertenaga," kata dia, saat menerima delegasi KAI di Jakarta, September 2011.
Berbagai misi akan bisa diemban Elang Emas, mulai dari melatih pilot muda dan profisiensi lain, patroli udara, tim aerobatik (sesuai warna biru-aksen kuning enam Golden Eagle pertama yang hadir), hingga pertahanan udara.
Omong-omong, rasio antara jumlah pesawat terbang dan pilot pengawaknya lazim dipahami satu banding dua atau tiga; dengan begitu maka paling tidak 32 (kalau bukan 48) pilot Elang Emas harus bisa dicetak pada 2014 nanti. (Antara)
Kemenham Paparkan Akuntabilitas Pengunaan Anggaran Pada MEF tahap 1 Kepada Media
Demi akuntabilitas, sebagai lembaga tinggi negara Kementrian Pertahanan harus bisa mempertanggung jawabkan pemakaian dana yang telah dipercayakan. Paling tidak demikianlah aroma yang ARC tangkap ketika Wamenhan Sjafrie Sjamsoeddin mengadaka pertemuan dengan segenap Pemimpin Redaksi Media Massa di Jakarta pada awal Oktober lalu. Dalam acara itu, Wamenhan yang juga sebagai ketua HLC (High Level Committee) pengadaan persenjataan, menjelaskan dengan gamblang proses pengadaan alutsista yang terangkum dalam MEF tahap 1, 2010-2014.
Dalam penjelasannya, sejak 2010 telah dilakukan 24 kegiatan pengadaan besar. Dimana 19 kegiatan diantaranya telah memasuki fase kontrak, dan 5 lainnya dalam proses kontrak. Dari kontrak sebanyak itu 7 diantaranya sudah dalam proses produksi di negara produsen. Namun demikian, ARC memiliki informasi terbaru, bahwa meriam 155 howitser Caesar yang dalam presentasi masih dalam proses aktivasi, saat ini sudah kontrak efektif. Jika tidak ada aral melintang, meriam canggih asal Prancis itu akan tiba pada pertengahan 2014. Untuk lebih jelasnya, simak copy presentasi sederhana dari Wamenhan.
Perlu diketahui, dalam proses pengadaan ini, dilakukan dengan banyak skema. Mulai dari skema pembiayaan dalam negeri, pembiayaan luar negeri dan rupiah murni.
Jika dilihat secara utuh, memang pengadaan kali ini bisa dinilai luar biasa. Hanya dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, Indonesia berhasil membangun kekuatan. Karenanya kini diperlukan konsistensi dari pemerintahan selanjutnya untuk melanjutkan program pembangunan kekuatan. Semoga saja. (Arc)
Dalam penjelasannya, sejak 2010 telah dilakukan 24 kegiatan pengadaan besar. Dimana 19 kegiatan diantaranya telah memasuki fase kontrak, dan 5 lainnya dalam proses kontrak. Dari kontrak sebanyak itu 7 diantaranya sudah dalam proses produksi di negara produsen. Namun demikian, ARC memiliki informasi terbaru, bahwa meriam 155 howitser Caesar yang dalam presentasi masih dalam proses aktivasi, saat ini sudah kontrak efektif. Jika tidak ada aral melintang, meriam canggih asal Prancis itu akan tiba pada pertengahan 2014. Untuk lebih jelasnya, simak copy presentasi sederhana dari Wamenhan.
Perlu diketahui, dalam proses pengadaan ini, dilakukan dengan banyak skema. Mulai dari skema pembiayaan dalam negeri, pembiayaan luar negeri dan rupiah murni.
Jika dilihat secara utuh, memang pengadaan kali ini bisa dinilai luar biasa. Hanya dalam jangka waktu kurang lebih 4 tahun, Indonesia berhasil membangun kekuatan. Karenanya kini diperlukan konsistensi dari pemerintahan selanjutnya untuk melanjutkan program pembangunan kekuatan. Semoga saja. (Arc)
LAPAN dan CNSA Jajaki Kerjasama Pengindraan Jauh dan Satelit
Lapan dan CNSA (lembaga antariksa Republik Rakyat Tingkok atau RRT) mengadakan pertemuan untuk membahas kerja sama di bidang antariksa. Pertemuan berlangsung di kantor Lapan, Rawamangun, Jakarta Timur, Kamis (3/10).
Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana, mengatakan bahwa Lapan dan CNSA dapat melaksanakan kerja sama di bidang penginderaan jauh dan satelit. Kedua kegiatan tersebut saat ini menjadi program prioritas Lapan.
"Penginderaan jauh menjadi prioritas karena data citra sangat dibutuhkan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sementara itu, di bidang satelit, Lapan saat ini sedang dalam proses untuk meningkatkan kapasitas pembangunan satelit," ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya kerja sama tersebut, Lapan juga dapat meningkatkan kemampuan dalam sistem stasiun bumi penginderaan jauh dan navigasi.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan naskah kerja sama oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan Administrator CNSA. Penandatangan tersebut disaksikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Cina, Xi Jinping, Rabu (2/10).
Dalam pertemuan Lapan dan CNSA, Deputi Bidang Penginderaan Jauh Lapan, Taufik Maulana, memaparkan mengenai kegiatan Lapan di bidang penginderaan jauh. Ia menjelaskan, sesuai dengan Inpres No. 6 tahun 2012 dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, Lapan bertugas untuk menyediakan data penginderaan jauh resolusi tinggi dengan lisensi pemerintah. Data tersebut dimanfaatkan untuk berbagai bidang seperti pemantauan kebakaran hutan dan banjir, pengamatan pertumbuhan padi, dan penentuan Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI).
Taufik mengatakan, saat ini stasiun bumi yang dimiliki Lapan telah mampu menerima data satelit SPOT-6 yang memiliki resolusi 1,5 meter.
Sementara itu, dalam pertemuan tersebut, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Prof. Dr. Soewarto Hardhienata, memaparkan mengenai program pengembangan satelit, penerbangan, dan roket di Indonesia.
Soewarto mengatakan bahwa saat ini satelit pertama Lapan telah enam tahun mengorbit dan masih berfungsi dengan baik. Lapan juga telah menyelesaikan pembangunan satelit Lapan A2, yang rencananya akan diluncurkan tahun depan. Selain itu, saat ini Lapan sedang membangun Satelit Lapan A3. Satelit tersebut direncanakan selesai pada 2015.
Satelit yang dibangun Lapan sekarang termasuk dalam kategori satelit mikro. Namun, dalam program pengembangan satelit, Lapan berencana meningkatkan kemampuan diri dengan membangun satelit penginderaan jauh.
Pertemuan ini dihadiri oleh Sekretaris Utama Lapan, para eselon II di lingkungan Lapan, serta Administrator, Secretary General, dan Direktur CNSA. (Lapan)
Kepala Lapan, Bambang S. Tejasukmana, mengatakan bahwa Lapan dan CNSA dapat melaksanakan kerja sama di bidang penginderaan jauh dan satelit. Kedua kegiatan tersebut saat ini menjadi program prioritas Lapan.
"Penginderaan jauh menjadi prioritas karena data citra sangat dibutuhkan baik oleh pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Sementara itu, di bidang satelit, Lapan saat ini sedang dalam proses untuk meningkatkan kapasitas pembangunan satelit," ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya kerja sama tersebut, Lapan juga dapat meningkatkan kemampuan dalam sistem stasiun bumi penginderaan jauh dan navigasi.
Pertemuan ini merupakan tindak lanjut dari penandatanganan naskah kerja sama oleh Menteri Negara Riset dan Teknologi dengan Administrator CNSA. Penandatangan tersebut disaksikan oleh Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dan Presiden Cina, Xi Jinping, Rabu (2/10).
Dalam pertemuan Lapan dan CNSA, Deputi Bidang Penginderaan Jauh Lapan, Taufik Maulana, memaparkan mengenai kegiatan Lapan di bidang penginderaan jauh. Ia menjelaskan, sesuai dengan Inpres No. 6 tahun 2012 dan Undang-undang Nomor 21 Tahun 2013 tentang Keantariksaan, Lapan bertugas untuk menyediakan data penginderaan jauh resolusi tinggi dengan lisensi pemerintah. Data tersebut dimanfaatkan untuk berbagai bidang seperti pemantauan kebakaran hutan dan banjir, pengamatan pertumbuhan padi, dan penentuan Zona Potensi Penangkapan Ikan (ZPPI).
Taufik mengatakan, saat ini stasiun bumi yang dimiliki Lapan telah mampu menerima data satelit SPOT-6 yang memiliki resolusi 1,5 meter.
Sementara itu, dalam pertemuan tersebut, Deputi Bidang Teknologi Dirgantara Lapan, Prof. Dr. Soewarto Hardhienata, memaparkan mengenai program pengembangan satelit, penerbangan, dan roket di Indonesia.
Soewarto mengatakan bahwa saat ini satelit pertama Lapan telah enam tahun mengorbit dan masih berfungsi dengan baik. Lapan juga telah menyelesaikan pembangunan satelit Lapan A2, yang rencananya akan diluncurkan tahun depan. Selain itu, saat ini Lapan sedang membangun Satelit Lapan A3. Satelit tersebut direncanakan selesai pada 2015.
Satelit yang dibangun Lapan sekarang termasuk dalam kategori satelit mikro. Namun, dalam program pengembangan satelit, Lapan berencana meningkatkan kemampuan diri dengan membangun satelit penginderaan jauh.
Pertemuan ini dihadiri oleh Sekretaris Utama Lapan, para eselon II di lingkungan Lapan, serta Administrator, Secretary General, dan Direktur CNSA. (Lapan)
IMI dan Balitbang Kemhan jalin kerja sama pengembangan "Flying Boat"
Balitbang Kementerian Pertahanan (Kemhan) dan Indonesia Maritime Institute (IMI) menandatangai kesepakatan bersama (MoU) pengembangan "Flying Boat" demi tercapainya pertahanan yang kuat.
"MoU tentang penelitian dan pengembangan "Flying Boat GEVER-OS" type khusus untuk kepentingan pertahanan aadalah sebuah inovasi baru agar bisa memberikan kontribusi bagi kepentingan pertahanan Indonesia," kata Direktur Eksekutif IMI, Y Paonganan, dalam peluncuran Flying Boat bertepatan HUT ke-3 IMI di Jakarta, Senin.
Paonganan mengatakan model "Flying Boat Gever-OS" yang merupakan semi prototype kendaraan alternatif yang diharapkan bisa bermanfaat bagi sebuah negara kepulauan.
Penandatangan MoU itu disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI Emil Salim, Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan Syarief Wijaya dan Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun dan KSAL Laksamana TNI Marsetio serta dewan pakar dan dewan pembina IMI.
Sementara itu, anggota Dewan Pakar IMI, Erid Rizki mengatakan, kapal (flying boat) tersebut dapat terbang dengan ketinggian 150 meter di atas permukaan laut. Kecepatannya pun cukup tinggi, bisa mencapai 400 km/jam.
"Flying boat dapat menempuh selama 3--4 jam dari Tanjung Priok ke Surabaya (Tanjung Perak), namun jangan lupa mampir di Tegal untuk isi bensin," ujar Erid.
Komponen perahu terbang ini berasal dari dalam negeri sebanyak 35 persen, sisanya mesin dari luar negeri. Bobot penuh dengan para penumpang maksimal 900 kilogram dan bahan bakar menggunakan Pertamax.
Rencananya, perahu terbang ini akan diluncurkan kembali pada bulan April 2014.
Dalam penawaran yang dilakukan IMI, tentang pemenat Flying Boat, maka salah satu peserta seminar, langsung angkat tangan, yaitu pengusaha bernama Budiyanto A. Ganidia langsung memesan kapal terbang seharga Rp1,5 miliar ini.
Menurut Budiyanto, selain untuk keperluan kantor, Flying Boat itu ini juga untuk jalan-jalan. "Saya akan gunakan untuk jalan-jalan," ujarnya sambil tertawa saat ditanya oleh pembawa acara. (Antara)
"MoU tentang penelitian dan pengembangan "Flying Boat GEVER-OS" type khusus untuk kepentingan pertahanan aadalah sebuah inovasi baru agar bisa memberikan kontribusi bagi kepentingan pertahanan Indonesia," kata Direktur Eksekutif IMI, Y Paonganan, dalam peluncuran Flying Boat bertepatan HUT ke-3 IMI di Jakarta, Senin.
Paonganan mengatakan model "Flying Boat Gever-OS" yang merupakan semi prototype kendaraan alternatif yang diharapkan bisa bermanfaat bagi sebuah negara kepulauan.
Penandatangan MoU itu disaksikan langsung oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro, Ketua Dewan Pertimbangan Presiden RI Emil Salim, Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan Syarief Wijaya dan Wakil Menteri Perindustrian Alex Retraubun dan KSAL Laksamana TNI Marsetio serta dewan pakar dan dewan pembina IMI.
Sementara itu, anggota Dewan Pakar IMI, Erid Rizki mengatakan, kapal (flying boat) tersebut dapat terbang dengan ketinggian 150 meter di atas permukaan laut. Kecepatannya pun cukup tinggi, bisa mencapai 400 km/jam.
"Flying boat dapat menempuh selama 3--4 jam dari Tanjung Priok ke Surabaya (Tanjung Perak), namun jangan lupa mampir di Tegal untuk isi bensin," ujar Erid.
Komponen perahu terbang ini berasal dari dalam negeri sebanyak 35 persen, sisanya mesin dari luar negeri. Bobot penuh dengan para penumpang maksimal 900 kilogram dan bahan bakar menggunakan Pertamax.
Rencananya, perahu terbang ini akan diluncurkan kembali pada bulan April 2014.
Dalam penawaran yang dilakukan IMI, tentang pemenat Flying Boat, maka salah satu peserta seminar, langsung angkat tangan, yaitu pengusaha bernama Budiyanto A. Ganidia langsung memesan kapal terbang seharga Rp1,5 miliar ini.
Menurut Budiyanto, selain untuk keperluan kantor, Flying Boat itu ini juga untuk jalan-jalan. "Saya akan gunakan untuk jalan-jalan," ujarnya sambil tertawa saat ditanya oleh pembawa acara. (Antara)
Langganan:
Postingan (Atom)





















