Karakteristik Kapal Kelas Zumwalt dan Kelas Arleigh Burke

Washington AL AS membenarkan, Kamis, pihaknya akan mengakhiri program destroyer generasi mendatang kelas Zumwalt yang mahal dan lebih memilih kapal perang generasi kini yang lebih murah demi mencapai tujuan meningkatkan dengan segera jumlah armada kapal perusaknya menjadi 313 unit.

Menteri AL, Donald Winter, dan pimpinan penting AL lainnya akan berada di Capitol Hill pekan ini untuk menjelaskan pembatalan program Zumwlat yang mahal tersebut, setelah dua destroyer awal dari kelas itu selesai dibuat.



karakteristik Kapal :
Sebagai gantinya, AL AS berharap akan membuat sembilan lagi kapal perusak kelas Arleigh Burke, yang harganya separuh dari Zumwalt.

Menurut AL AS, kemajuan yang dibuat pada Zumwalt tak akan sia-sia, karena teknologi itu akan dimanfaatkan pada kapal-kapal mendatang.

Biaya pembuatan Zumwalt diperkirakan dua kali dari ongkos produksi destroyer saat ini yang mencapai 1,2 miliar dolar. Para pengecam proyek itu menyatakan biaya pembuatan Zumwalt akan menggelembung lebih besar lagi, sehingga akan mempersulit AL AS untuk memproduksi kapal itu dalam jumlah banyak.

Dua Zumwalt telah selesai dibuat, sebuah oleh Bath Iron Works, anak perusahaan General Dynamics Corp, dan yang satunya lagi oleh Northrop Grumman Corp.

Destroyer kelas Zumwalt merupakan kapal perang siluman dengan daya rusak yang besar untuk memperlicin jalan bagi pasukan marinir mendarat di pantai lawan.

Kapal ini menggunakan teknologi yang canggih, material komposit, lambung pemecah ombak dan awak kapal yang tak banyak.

Namun demikian, bobot kapal itu mencapai 14.500 ton, sehingga membuat destroyer ini dua kali lebih besar ketimbang destroyer kelas Arleigh Burke.

Karakteristik Kapal Kelas Arleigh Burke :






Class: 1 building; 28 to be ordered
Displacement: 8,400 tons full load
DImensions: Length 466ft (142.1m) oa; beam 60ft (18.3m);
draught 30ft (9.1m) over sonar dome
Propulsion: 2-shaft gas turbine ( 4 General Electric LM2500), 80,000shp
Performance: Speed 30+ knots;
range 5.000nm at 20 knots
Weapons: SSM: 2 x 4 Harpoon launchers; 56 Tomahawk SAM: Vertically-launched Standard SM-2 (MR)
Guns: 15in/54 Mk 45; 2 20mm Phalanx Mk 15 CIWS ASW weapons: Asroc; 2 x 3 Mk 32 torpedo tubes Vertical Launch System: 2 Mk 41
Sensors: Radar: SPY-1D (Aegis) multi-purpose phased array;
SPS-67(V) surface search; Mk 99 (3 SPG-62 radar) missile fire control system Sonar: SQ5-53C; SQR-19 (TACTAS) towed array

Weapon
A. 5in/45 Mk 45 Mod 1 dual-purpose gun (1x1 )
B. Mk 41 Mod 0 32-cell Vertical Launch System (VLS) for Standard SM-2 (MA) SAM, Tomahawk SSM and Asroc ASW missiles
C. Mk 15 20mm Vulcan-Phalanx CIWS (1x1)
D. Harpoon SSM (2x4)
E. Mk3212.75in ASW torpedo tubes (2x3)
F. Mk 41 Mod a 64-cell Vertical Launch System
G. Landing decks for LAMPSASW helicopters

Electronics
1. SQS-53C hull-mounted LF sonar
2. SPY-1 D phased array radar
3. SL0-32(V)2 EW system (2x2)
4. SPG-62 illuminator (slaved to Aegis system) for Mk 99 Fire Control System
5. SPS-67 surface search radar
6. SAN-25 Tacan antenna
7. SPG-62 illuminator
8. SPG-62 illuminator
9. SQR-19 towed array sonar

Jenis Kendaraan Tempur Taktis di Medan Perang

Biasanya seorang komandan pasukan akan menerima advis untuk mengetahui kemampuan dan keterbatasan sistem senjata yang dimiliki sehingga Ia dapat menentukan langkah yang terbaik dalam pengerahannya. Penggunaan dan pengerahan kendaraan militer juga memerlukan advis seperti itu. Di Iraq pada tahun lalu dapat dilihat penggunaan kendaraan militer secara luas untuk mendukung berbagai operasi militer.

Pasukan mengoperasikan kendaraan militer jenis HMMWV dan trukck yang tidak memiliki tingkat perlindungan tinggi terhadap bahaya tembakan senapan maupun ranjau, sementara banyak kendaraan lapis baja yang hanya nongkrong di basis-basis pangkalan. Dari berbagai study yang dilakukan memperkirakan bahwa lebih dari separuh korban luka maupun gugur dikarenakan mereka tidak menggunakan kendaraan militer yang memiliki tingkat perlindungan yang tinggi seperti misalnya APC M113. Sekitar 300 sampai 400 personil mungkin masih dapat diselamatkan bila mereka diberikan sarana yang benar.



Yang terpenting dari karakteristik kendaraan militer adalah bukan dari beratnya, atau pemilihan antara beroda ban atau beroda rantai, tetapi pada kemampuannya. Kemampuan untuk beroperasi dikawasan dimana operasi akan dilaksanakan, dan kemampuan untuk melaksanakan misi yang dibebankan.

Komandan pasukan perlu mengetahui kondisi wilayah operasinya dengan mengidentifikasi secara benar, dan jenis misi yang akan dilaksanakan. Ia harus membuat rancangan pemilihan kendaraan yang akan digunakan serta cadangannya dan jangan hanya memperkira-kira saja. Pemilihan jenis kendaraan yang salah hanya akan menimbulkan kegagalan misi operasi dan menurunkan moral prajurit yang dipimpinnya.

Salah satu sistem senjata yang populer digunakan dalam peperangan di kawasan teluk adalah senjata bahu RPG-7 dan sejenisnya. Rata-rata setiap grup infanteri menggunakan 50-80 senjata jenis ini. Ancaman senjata RPG-7 dan sejenisnya menimbulkan implikasi yang significant bagi berbagai jenis kendaraan militer dan hal ini perlu untuk diperhitungkan dalam rencana pengadaan kendaraan militer kedepan.
Kendaraan militer jenis Soft-Skin.
Kendaraan militer jenis soft-skin, atau non lapis baja. Kendaraan jenis ini tidak memiliki sistem proteksi balistik, atau memiliki sistem perlindungan hanya terhadap efek ledakan (fragment) saja, bukan terhadap senjata ringan. Banyak juga yang disebut sebagai HMMWV lapis baja dari pra-M1114 atau kategori lanjutannya, namun efektivitasnya juga tidak sebaik Ranlapba.

Ran soft-skin digunakan untuk operasi pada masa damai atau untuk operasi di garis belakang dimana kemungkinan untuk diserang oleh gerilyawan musuh sangat kecil. Dalam konflik moderen atau masa datang seperti situasi yang tidak menentu, tetap saja digunakan kendaraan jenis soft-skin, termasuk oleh unit digaris depan. Kendaraan seperti HMMWV seharusnya tidak digunakan dalam operasi garis depan dimana masih banyak jenis kendaraan yang dapat dijadikan pilihan.

TNI pada masa gelar operasi di Aceh mengerahkan sebagian besar kendaraan berupa jenis soft-skin, sehingga untuk mengantisipasi serangan proyektil munisi caliber kecil dan efek ledakan GLM diupayakan oleh pasukan didaerah operasi dengan memodifikasi pemberian lapisan dari mulai pelat logam sampai pada batang-batang pohon kelapa yang disusun pada dinding bak truk militer.

Banyak juga Ran kategori soft seperti sepeda motor yang sangat bermanfaat dalam pertempuran moderen, tetapi tetap memerlukan perhitungan yang tinggi dalam pengoperasiannya. Hal ini mungkin tidak efisien dalam medan tempur non-linear, atau memerlukan tabir dari sistem yang lebih tinggi untuk memasuki areal yang dituju. Pengoperasian kendaraan jenis soft skin sangat rentan terhadap efek ledakan senjata artileri dan mortir.

Pasukan didaerah operasi harus waspada dengan terminologi "Light" (ringan) dalam istilah "Light Patrol Vehicle", kata light dihubungkan dengan tingkat ancaman saat patroli, bukan pada bobot kendaraan. Terminologi yang lebih tepat seharusnya "Low-threat Patrol Vehicle" (kendaraan patroli dengan tingkat ancaman rendah.

Ide yang popular bagi beberapa pasukan darat adalah jeep, HMMWV atau kendaraan ringan beroda lainnya, dilengkapi dengan sista ATGM seperti TOW. Penjelasannya biasanya bahwa sistemnya lebih baik dari tank dan sistanya mampu menghadapi tank. ATGM moderen memerlukan kendaraan yang membawa peluncurnya untuk tetap siaga bagi peluncur dan pengendaliannya, sehingga tank tidak memiliki kesempatan menembakan meriamnya.

Battlefield Combat Vehicles.
Kategori kedua adalah kendaraan tempur yang sesungguhnya. Kategori ini memiliki berbagai sub-divisi.

Pertama, berupa "Frontal Battle Vehicles" atau Assault vehicles. Kendaraan ini diciptakan untuk menghadapi penembakan langsung dari pihak lawan. Assault vehicle harus mampu melakukan maneuver lintas medan (off-road) dan memiliki lapisan baja yang memadai dan kebal terhadap tembakan RPG. Frontal Battle vehicles termasuk Tanks dan APC seperti Bradley dan M113. Namun hingga saat ini belum ada kendaraan tempur yang sungguh-sungguh kebal terhadap tembakan RPG, masih belum didapat hasil pengembangan lapisan baja yang kebal terhadap tembakan RPG. Dalam perang Vietnam, penetrasi RPG terhadap M113 diperkirakan memiliki kans 0.8 untuk menyebabkan korban tunggal. Hanya satu dari tujuh tembakan yang dapat melakukan penetrasi, maka kans dari setiap perkenaan menyebabkan satu korban lebih rendah dari 12%. M113 moderen dengan applique armour memiliki daya proteksi yang lebih tinggi. Beberapa kendaraan beroda ban dapat dijadikan kendaraan tempur apabila memiliki kemampuan lintas medan dan menjaga jarak dari jangkauan tembakan RPG.

Kendaraan tempur memiliki berbagai peran dalam pertempuran skala besar atau Major Theatre Warfare (MTW). Perannya dalam konflik kecil seperti operasi kontra gerilya juga sangat penting. Unit kecil kekuatan penembakan dan pencegat dalam karakteristik pertempuran ini artinya pasukan akan diuntungkan dengan daya tembak dan perlindungan yang diberikan oleh kendaraan tempur. Timbulnya korban yang tidak bersalah sering membatasi dukungan tembakan artileri dan serangan dari udara, menjadikan pilihan jatuh pada sistem tembakan langsung.

Seperti yang terlihat di Grozny dan Mogadishu, senjata RPG pihak lawan dalam daerah urban akan menyerang kendaraan tempur secara simultan dari berbagai arah. Hanya kendaraan tempur roda rantai yang memiliki kekebalan atas ancaman ini. Walaupun tidak semuanya mampu terus bertahan untuk membantu memberi dukungan bagi pasukan infanteri. Tank akan membantu pasukan infanteri dengan menghancurkan penghalang dengan tembakan jarak jauh dan memberikan tabir asap, iluminasi, tembakan senapan mesin dan dukungan sensor. APC dand IFV juga dapat membawa bekal amunisi dan peralatan khusus seperti barikade portable dan tangga untuk pasukan infanteri. Penggunaan ranpur roda rantai juga bermanfaat untuk melalui barikade dan halang rintang yang dipasang pihak lawan.

Tidak semua Ranpur memiliki perlindungan yang baik. Platform seperti meriam gerak sendiri sering hanya memiliki lapisan baja yang tipis. Ran seeprti yang dikelompokkan dalam kategori Ranpur "Secondary" atau "Lini Kedua" dimana kendaraan dioperasikan pada daerah yang tidak terjangkau tembakan senjata RPG.

Sebarapa mudah kita dapat menciptakan daerah aman dalam pertempuran non-linear dimasa datang?, hal ini masih harus diperdebatkan. Juga dalam sub-kategori ini termasuk Ran yang dapat digunakan dibelakang garis pertahanan depan pihak lawan untuk pertahanan. Ini termasuk Ran ringan atau Ran intai yang tidak berlapis baja serta Ranpur Infanteri Linud (AIFV - Airborne Infantry Fighting Vehicles) seperti seri BMD Rusia.

Seberapa bergunanya hal ini akan dapat dibuktikan, gerilyawan di pedesaan saat ini sudah memiliki persenjataan seperti GLM (pelontar gradand), RPG maupun LAW (Senjata ringan, anti-tank). Komandan unit yang dilengkapi dengan kendaraan mungkin akan menghidari berbagai jenis rintangan dimana pasukan infanteri atau kekuatan gerilyawan akan menghadang dalam jarak 300 meter. Untuk unit pengintai hal ini akan memberikan keterbatasan bagi misi yang dijalankannya.

Black-top Combat Vehicles.
Ran pengaman jalan merupakan sub-kelas dari Ranpur term I "Black-top". Black-top merupakan Ranlapba yang tugas utamanya untuk beroperasi di jalan raya. Kemungkinan juga memiliki kemampuan lintas medan, dimana diperhitungkan diberbagai Negara masih banyak jalan raya yang kotor dan berlumpur.

Dalam berbagai situasi medan tempur non-linear target utama dari operasi gerilya/ insurgent biasanya untuk memotong jalur komunikasi/jalur logistik. Dalam situasi ini, jalan raya akan berubah menjadi medan tempur.

Tingkat lapis baja pelindung kendaraan setidaknya dipertimbangkan untuk melindungi diri dari serangan senjata ringan dan ranjau (bukan saja ranjau anti-personil). Penampilan yang penting dari kendaraan black-top adalah memiliki kemampuan akselerasi yang tinggi dan kecepatan melaju di jalan yang baik, terutama dalam tugas konvoi pasokan logistic. Pada masa perang Vietnam, konvoi logistik biasanya dikawal denngan tank atau M113. Pada kondisi jalan raya yang baik, sebuah truk dapat melaju dengan kecepatan diatas 70 km/jam dan kecepatan akan dikurangi didaerah yang dianggap tidak aman. Kendaraan kawal konvoi kemungkinan memiliki tingkat kecepatan yang lebih lambat dari truk yang dikawalnya.

Idealnya kendaraan tempur kategori Black-top memiliki kekebalan terhadap serangan senjata RPG maupun senjata ringan lainnya. Untuk tujuan ini diperlukan perhitungan pada penampilan serta ukurannya. FV1611 Humber Pig digunakan oleh AD Inggris di Irlandia Utara memiliki tingkat proteksi terhadap RPG dan ranjau antara lain dengan memasang grip logam pada seluruh sisi kendaraan, program ini dikenal dengan sebutan Operation Bracelet. Pada kendaraan Humber juga memiliki ruang untuk pemasangan double skin dari bahan pelat baja, namun bobot kendaraan yang meningkat akan mengurangi daya tampung perlengkapan operasi, dan akan mengganggu kemampuan manuvernya.

Rangkaian gril logam yang dipasang disekitar sisi kendaraan dekenal juga dengan istilah RPG cages, juga digunakan pada beberapa kendaraan yang dioperasikan di Grozny. LAV-III Stryker yang beroperasi di Iraq juga banyak yang dipasangi perangkat kandang (cage) ini, kalangan AD AS di Iraq menyebutnya sebagai ”Slat armor”, awak kendaraan memanfaatkan ruang diantara body kendaraan dengan slat armor ini untuk meletakan bagasi. Dalam serangan RPG di Mosul pada 28 Maret 2004, bagasi yang terdapat diantara body dan slat armor justru menimbulkan kebaran pada kendaraan.

Generator yang menghasilkan medan listrik dapat membuat premature ledakan RPG. Hal ini juga perlu diperhatikan dalam operasional kendaraan tempur maupun kendaraan kategori Black-top.

Perhatian lain yang perlu diberikan pada kendaraan pengangkut pasukan infanteri, jenis kendaraan kategori Black-top juga diperlukan. Terutama untuk pengaangkut kargo, yang biasanya terdiri dari berbagai jenis. Perlu adanya sisipan kendaraan bersenjata untuk tembakan langsung untuk menghancurkan barikade dijalan. Misalnya dengan kelengkapan senjata caliber 76mm atau mortar caliber 60mm. Kendaraan dengan kanon caliber 20-25mm juga akan sangat bermanfaat dalam menghadapi pencegatan.

Blue-Top Vehicles.

Sejauh ini kita memperhatikan kendaraan untuk peperangan berskala besar dan counter-insurgency. Masih ada wilayah lain yang menuntut tanggung jawab militer yang dikelompokkan dalam Operasi Militer Selain Perang – atau "Military Operations Other Than War"/MOOTW atau Other Operation Than War/OOTW. Hal ini tidak berhubungan dengan COIN/Counter-guerilla/Local-Intensified Conflict atau LIC sebagai OOTW. MOOTW termasuk misi seperti:
• Penjaga perdamaian.
• Tugas dimasa damai/Peace Enforcement.
• Kamdagri/asistensi tugas kepolisian/gangguan keamanan.
• Operasi Evakuasi Non-Tempur.
• Bantuan Kemanusiaan.
• Bantuan Pemeliharaan Lingkungan.
• Gempa Bumi dan Bencana Alam.
• Pertolongan paska Konflik.
• Operasi Keamanan Perbatasan, dll.
Dalam operasi seperti tersebut diatas akan memerlukan kekuatan pasukan dengan kemampuan tempur. Penjaga Perdamaian dianjurkan melibatkan kegiatan pemeliharaan perlucutan senjata dimana satu atau lebih dari pihak yang bertikai tidak menyetujui adanya intervensi. Oleh karenanya Penjaga Perdamaian terkadang menggunakan angkatan bersenjata untuk menciptakan gencatan senjata yang belum tercapai. Dengan situasi demikian maka pasukan Penjaga Perdamaian harus memiliki kemampuan tempur dan diperlengkapi sebagaimana halnya angkatan bersenjata.

Tugas Bantuan Kemanusiaan dan Tugas Bantuan paska Konflik kemungkinan masih akan menghadapi aktifitas gerilyawan, terutama yang sering mengganggu konvoi. Motivasinya biasanya krimninal, berbeda dengan operasi gerilya sesungguhnya atau kegiatan teroris, dengan demikian diperlukan sarana pertahanan untuk melindungi konvoi.

Misi MOOTW akan memerlukan kendaraan tempur yang dapat dikelompokan dengan terminologi LAMO (Low Aggression Military Operations). Kendaraan yang dimaksud dapat nyaman untuk mendukung operasi, dan disebut sebagai Blue-top atau LAMOV. Kendaraan ini bukanlah kendaraan tempur, tetapi lebih condong kepada APC.

Kebutuhan minimum kendaraan LAMO, batas minimum kendaraan LAMO sebatas asumsi memiliki proteksi yang baik terhadap ancaman senjata sejenis RPG, proyektil senapan serbu maupun ranjau darat. Memiliki payload yang memadai, dilengkapi sarana komunikasi yang handal dan daya maneuver yang lincah. Kendaraan harus diperhitungkan untuk menghadapi situasi yang seketika berubah menjadi agresif. Untuk itu disarankan untuk memilih jenis kendaraan tempur.

Kendaraan tempur yang dipilih tidak teralu besar ukuranya sehingga dapat dioperasikan juga dikepadatan lalu-lintas umum. Maka pilihan untuk hal ini sebaiknya berupa kendaraan tempur beroda ban seperti LAV atau sejenisnya. Kondisi jalan raya atau jalur kedearah bencana kemungkinan berupa medan lintas alam, maka kendaraan dituntut untuk mampu melakukan gerak lintas medan berat ataupun melakukan gerak amphibi atau melintas di genangan air dalam (deep fording).

Kendaraan LAMO dilengkapi dengan persenjataan untuk pertahanan diri terhadap serangan bersenjata. Persenjataan dapat berupa senapan mesin ringan, kanon ringan atau pelontar granad sekelas Mk-19. Untuk menghadapi serangan diperbukitan, kemungkinan dilengkapi dengan persenjataan seperti Carl Gustav 84mm atau sejenis, meriam M67 kaliber 90mm atau M40 kaliber 106mm, terutama bagi kendaraan untuk wilayah check-point atau wilayah yang banyak terdapat penembak runduk.

Jenis kendaraan lain yang mungkin dioperasikan dalam kriteria LAMO adalah kendaraan penghubung dengan kapasitas angkut 4-5 personil dan kendaraan untuk sat regu. Biasanya digunaikan kendaraan sejenis Land-Rover. Kendaraan ini juga dapat digunakan sebagai pengangkut robot penjinak bahan peledak. Untuk pengangkut pasukan sebaiknya dilengkapi dengan dinding pelindung dengan lubang penembakan khusus dengan pengaturan tempat duduk belakang sistem center-line, hal ini untuk memperkecil risiko perlukaan pada personil didalam kendaraan akibat ledakan ranjau.

Kendaraan yang memiliki kriteria seperti diatas antara lain Tactica dari inggris, Mamba atau RG-31 Nyala dari Afrika Selatan, Dingo dari Jerman, ACMAT TPK 4.20 dari Perancis, atau Wolf dan M463 Rhino dari israel.


Untuk tugas yang lebih ringan, sejumlah kendaraan patroli yang dibuat dengan dasar kendaraan Land-Rover akan lebih bermanfaat dibandingkan yang sejenis HMMWV. Dibeberapa lokasi, digunakan juga Ran roda rantai BV-206. Konfigurasi HMMWV yg ada untuk memenuhi kriteria diatas sangatlah kurang efisien. Proteksi terhadap balistik dan ranjau sangat rendah dan terlalu ringan, serta ukurannya terlalu lebar untuk manuver, dan bila ditambahkan sistem proteksi semacam add-on armor, maka daya manuvernya akan menurun.

Berapa banyak kendaraan yang sesungguhnya diperlukan untuk misi LAMO dan perlu untuk dipertimbangkan. AD Jerman saat ini hanya merencanakan untuk membeli 56 unit Dingo. Ran Infanteri dan Ran Lapba Ringan Stryker ditujukan untuk misi pemelihara perdamaian, apakah AD Amerika memerlukan 1,830 unit dalam enam Brigade dari Korps AD ke-310.


________________________________________
Perbandingan dua Ranpur AD AS dari konteks diatas.
Pertama, HMMWV, Ran ini merupakan konfigurasi “Armament carriers”. Jelas, HMMWV bukanlah kendaraan tempur, dan sulit untuk menyelamatkan diri apabila menghadapi ancaman tembakan senjata RPG ataupun ledakan ranjau darat. Hal ini dapat dilihat di Iraq. Beberapa penelitian mengindikasikan bahwa separuh dari pengalaman yang fatal selama tahun 2005 personil dapat selamat apabila terjadi serangan keluar dari kendaraan. Tidak seperti pada Ranpur Bradley atau APC M113.

Seperti Kendaraan LAMO, HMMWV tidak memiliki tingkat keselamatan bagi personil dibandingkan dengan Tactica, Mamba dan Dingo yang lebih baik tingkat perlindungannya.

Kendaraan lain yang diteliti adalah LAV Stryker. Apakah Stryker merupakan Ranpur? Tingkat perlindungan Stryker terhadap serangan ranjau dan RPG masih diragukan. Hal ini terjadi berkenaan dengan pengalaman di Mosul dimana Stryker dilumpuhkan oleh dua tembakan RPG.

Membandingkan Stryker dengan M113 yang sudah terbukti di medan tempur sangatlah menarik. Stryker dapat membawa 2+9 personil dengan bobot 19 ton. M113 memiliki bobot tempur 11 tons dan dapat membawa 2+11 personil. M113 lebih kecil, sistem proteksinya lebih baik, memiliki daya tekan kebumi yang kecil dan dapat melakukan gerakan berputar seketika. Mobilitas lintas medan lebih baik dari Stryker dan tidak seperti Stryker, M1113 mampu melakukan operasi ampibi dengan modifikasi Amphigavin.

Stryker kurang efektif ditransportasikan dengan pesawat angkut C-130 kecuali muatan bahan bakar pesawat dikurangi, dengan risiko jarak tempuh pesawat akan berkurang. Selain menggunakan Tank-Transporter, Stryker sangat bergantung kepada kemampuan daya jelajahnya sendiri dengan mengandalkan kapasitas bahan bakar penuh dapat menempuh jarak 300 mil. Dan karena ukurannya, didalam perut C-130 tidak terdapat spasi yang cukup untuk lalu lintas personil, maka pengakutannya harus memiliki peraturan keamanan yang ketat. Saat membawa Stryker, C-130 tidak boleh didaratkan pada semi-prepared forward airfields.

M113 mudah diangkut dengan C-130 dan dapat di turunkan dengan sistem airdropped atau diangkut dengan helicopter. Pesawat angkut jenis C-17 dan C-5 dapat membawa sejumlah besar M113 dibandingkan Strykers, memungkinkan untuk membentuk kekuatan didarat secara cepat.

Harga sebuah Stryker $3 juta, sementara satu unit M113 (brand new) hanya sekitar $550,000. Saat ini AD memiliki stock 13,000 unit M113, dan tambahan 700 unit (1st May 2004) ditempatkan di Kuwait.

Di Iraq, Strykers digunakan untuk mengawal convoy, terutama dikawasan utara dimana kegiatan convoy jarang mendapat serangan. Secara teori Stryker memiliki kecepatan maksimum 62 mil/jam, namun kecepatan maksimum ini ternyata kurang aman, maka saat ini kecepatan dibatasi hanya sampai 45mil/jam, hanya beberapa mil/jam lebih cepat dari M113A3. Posisi pengemudi dari Stryker hanya memungkinkan pengemudi dalam mengoperasikan kendaraan dengan posisi kepala diluar lubang atap kendaraan atau menggunakan periscopes. Pada kecepatan tinggi posisi ini akan sangat tidak nyaman dan tidak aman.

Dalam term “Peacekeeping” yang sering duhubungkan dengan Stryker. Secara umum pasukan penjaga perdamaian harus berpenampilan tidak mengancam. Dan lebih efektif dengan menggunakan persenjataan ringan, orientasi bertahan sebagai kekuatan pengamat. Dibandingkan dengan penampilah Tank Tempur Utama M1 Abrams, Stryker akan tampak lebih agresif dan terlihat menyeramkan.

Selain dari anggapan sebagai Ranpur ideal untuk operasi militer diabad ke-21, penampilan Stryker termasuk pilihan buruk untuk mendukung misi AD.

Sejarah Panjang Kapal Selam


Masih berkutat pada Majalah Angkasa Edisi ke 5 Kapal Selam The Silent Warrior . kali ini gue mencoba ngetik ulang "Sejarah Panjang Kapal Selam".

Meskipun di zaman sekarang sama-sama merupakan alat persenjataan yang menggetarkan, namun dibandingkan pesawat terbang atau tank misalnya, maka sejarah kapal selam ternyata sudah jauh lebih tua. Sejak abad pertengahan, para penemu atau investor di Eropa sudah mulai memikirkan bagaimana membuat kapal yang dapat menyelam dan timbul lagi dengan dayanya sendiri, baik untuk kepentingan peperangan maupun sekedar mengamati kehidupan di dalam laut.




Seorang penemu dari Nuremberg di Jerman bernama Keyser tahun 1465 dilaporkan sudah merancang sebuah perahu yang dapat menyelam dalam air. Namun yang secara sadar merancang sebuah kapal yang menyelam untuk menghindari musuh adalah seorang inggris yang kreatif, William Bourne. Pada tahun 1578 dia membuat rencana kapal selam dengan cukup rinci. Dilengkapi dengan tangki-tangki (ballast) yang dapat di isi air dan di kosongkan lagi untuk mengapung. Namun rancangan ini tidak mewujudkan secara nyata, melainkan hanya di tuangkan dalam buku Inventions of Devices. Padahal sistem tanki balas tersebulah yang di kemudian hari menjadi suatu kunci terpenting pada kapal selam.



Seorang investor Belanda bernama Cornelius Drebbel, 50 tahun kemudian memberanikan diri mewujudkan sebuah kapal selam yang berbentuk seperti dua perahu yang di susun yang di tutup dengan kulit agar kedap air. Lubang-lubang dayungannya juga dibuat sedemikian rupa sehingga tidak kemasukan air . Drebbel tidak menggunakan sistem balas, melainkan dengan pemberat biasa seperti besi agar perahunya menyelam.

Pada 1620 ia mendemokan kapal selam di sungai Themes di London, dan konon di situ ia dikabarkan telah memakai pipa dan katup untuk memasukkan udara bersih ke kabin dan mengeluarkan udara kotor.

Sehingga ia merupakan perintis pemakaian schnorkel, alat kapal selam modern yang di temukan juga oleh orang Belanda tiga abad kemudian, Adapula orang Prancis, de Son yang membantu membuat kapal selam untuk membantu Belanda dalam perang dengan inggris tahun 1652-54. Kapalnya di buat di Rotterdam, diperkuat dengan tombak-tombak besi di tabrakkan ke kapal musuh. De Son mengkalim kapalnya mampu mengaramkan 100 kapal musuh setiap harinya dan dapat mencapai kepulawan jajahan belanda di Indonesia hanya dalam enam pekan saja, Namun kenyataannya, kapal tersebut tidak mampu bergerak dan hanya menjadi tontonan saja.

Selang 30 tahun kemudian, seseorang pastor Italia Giovanni Alfonso Borelli pada 1680 juga merancang kapal selam yang di gerakkan dengan dayung dan memakai kantung-kantung pengapung dari kulit kambing . Pastor itu merancang kapal karena sebagai ilmuan ia ingin mengamati kehidupan dalam laut dengan kapalnya. Namun rancangan itu tetap tinggal di atas kertas, dan baru mewujud ketika orang inggris, Nethaniel Symons mengkopinya tahun 1747 dan menguji perahunya di S. Themes. Laporan pada masa itu menyebutkan kapal ini mampu bertahan di dalam air selama 45 menit.

Seorang pembuat kapal Inggris lainnya bernama kapalnya Day pada 1773 berhasil menyelamkan kapalnya sedalam 30 kaki. Ia memakai pemberat batu yang dapat di lepas dari dalam kapal. Setahun kemudian ia mencoba lagi di perairan yang lebih dalam, Day bersama awaknya menyelamkan kapal mereka pada kedalaman 132 kaki tanpa memperhitungkan bahaya tekanan air yang makin dalam. Kapal beserta awaknya tidak muncul kepermukaan, dan usaha untuk menolong mereka gagal karena cuaca lalu memburuk. Di duga kapal selam Day tergencet tekanan air, dan ini merupakan kecelakaan fatal pertama kapal selam dalam sejarahnya.

Tenggelamkan kapal musuh
Dalam perjalanan sejarahnya yang sudah cukup panjang tadi, penggunaan kapal selam dengan tujuan militer untuk menenggelamkan kapal musuh, pertama kali di uji coba pada 1776 oleh seorang pejuang kemerdekaan Amerika, David Bushnel. Lawannya adalah AL Kerjaan Inggris yang paling kuat di dunia. Tatkala Revolusi Amerika dimulai pada tahun itu, Inggris pun dengan kekuatan lautnya memblokade Amerika. Untuk menebus dan melawan blokade itulah Bushnell membuat kapal selam yang dinamainya Turtle.

Kapal selam kecil ini direncanakan untuk menyerang musuh dengan mendekatinya dari dalam air, lalu melekatkan peledak pada tubuh kapal lawan. Dengan memicu pemicu ledak setelah 30 menit bom itu dilekatkan, diharapkan kapal selam kecil itu sudah menghindar cukup jauh apabila musuh mengejarnya.

Pada bulan Agustus 1776, kapal selam yang diawaki Sersan Ezra Lee tersebut di tugaskan untuk menyerang kapal perang Inggris HMS Eagle yang di lengkapi dengan 64 pucuk meriam, yang merupakan kapal bendera Laksamana Earl Howe. Kapal Perang ini bertugas memblokade New York.

Namun Ezra merupakan orang perama dalam sejarah yang menyerang musuh dengan kapal selam, tidak begitu beruntung. Karena orang inggris keburu mengetahui dan mengejarnya dengan sekoci. Ezra pun melepaskan peledaknya dan bom itu meletus di depan para pengejarnya sehingga Ezra berhasil Lolos.

Dua kali percobaan menyerang dengan kapal selam dilakukan lagi, tetapi gagal semua. Pada perang Inggris lawan Amerika tahun 1812-13, Bushnell mencoba menyerang lagi dengan dengan Turtle yang telah di tingkatkan. Sasaran kali ini frigat inggris HMS Ramillies yang berada di perairan Connecticut. Awak kapal selam ini berhasil merapat di bawah kapal inggris itu dan berusaha melubangi lunasnya untuk menempatkan peledak. Tetapi bornya patah sehingga gagal, dan karena musuh mulai c

Seni Perhitungan Ketepatan Menambak

MOA atau Minute of Arc atau arc minute merupakan standar perhitungan ketepatan menembak yang diterapkan dalam angkatan bersenjata, kepolisian maupun olahraga menembak di Amerika Serikat. MOA ini juga digunakan oleh para petembak runduk dalam menghitung prakiraan ketepatan dalam pembidikan target.

Standar satuan penghitungan menggunakan standar terminology ilmu pasti yaitu derajat, menit (′), dan detik (″). MOA merupakan satuan dari ukuran angular/sudut pada busur lingkaran (angular measurement), setara dengan seperenampuluh (1/60) dari satu derajat. Satu derajat didefinisikan sebagai satu per tigaratus enampuluh (1/360) dari sebuah lingkaran, 1 MOA sama dengan 1/21600 dari jumlah busur dalam lingkaran, atau (Ï€/10800) radian.


Digunakan pada medan dimana diperlukan satuan hitungan untuk mengekspresikan hitungan yang sangat kecil dari busur, seperti pada astronomi. Simbol SI untuk menandai menit arc atau arcminute adalah prime atau satu tanda koma diatas (′) (U+2032, & prime), atau dalam ASCII code digunakan satu tanda baca koma diatas (') (U+0027). Satu arcminute ditulis sebagai 1′. Juga pengertian arcmin atau amin atau, setidaknya, dengan circumflex /tanda koma diatas ( ).

Sub-divisi dari MOA adalah arcsecond (detik). Satu arcminute (menit) sama dengan 60 arcsecond (detik). Penandaannya dengan dua koma diatas (″) (U+2033).

Kegunaan Pada Senjata
Unit ini umum didapati dalam industri persenjataan dan literatur, terutama yang berhubungan dengan ukuran keakuratan senapan. Populer karena 1 MOA digambarkan kira-kira 1 inci pada 100 yard, jarak tradisional pada penjarakan target. Penembak dengan mudah menyetel alat bidiknya dengan mengukur jarak dalam inci pada lubang peluru yang diakibatkan oleh perkenaan peluru (impact point), dan menyetel pembidik dimana banyak MOA pada arah berlawanan. Kebanyakan pembidik sasaran dirancang untuk jarak jauh di setel dalam seperempat (¼) atau seperdelapan (⅛) MOA "clicks". Seperdelapan MOA sama dengan sekitar seperdelapan inci pada jarak 100 yard atau satu inci pada 800 yard.


Kalkulasi fisik sama dengan jarak yang setara dengan satu menit busur dapat dilakukan dengan persamaan: jarak persamaan = 2*tan(MOA ∙ Ï€/21600)*jarak. Dalam contoh yang diberikan dan pengganti 3600 inci untuk 100 yards, 2*tan(1 MOA∙ Ï€∕21600 )∙ 3600 inci = 1.04719756 inci.


Terkadang, akurasi senjata diukur dalam MOA. Hal ini memudahkan kondisi ideal, senjata mampu memproduksi secara berulang sekelompok penembakan dalam satu lingkaran, diameter dihitung dengan jumlah busur. (misalnya: "1 MOA rifle" akan mampu, dalam kondisi ideal dan terkunci dalam arah sasaran (vise) penembakan 1-inci grup pada jarak 100 yard, "2 MOA rifle", 2-inci grup pada jarak 100 yards, dst.) Namun demikian, penampilan ideal pada laboratorium balistik sering berbeda dengan hasil didunia nyata.

Pabrik senapan dan majalah senjata sering menyesatkan dalam menarik minat pembaca mengenai MOA senjatanya, term yang umum saat ini adalah "Sub-MOA", artinya penembakan dibawah 1 MOA. Ini sering berlebih pada grup tunggal dibandingkan rata-rata agar senjata mereka terdengar baik, dan sering melupakan faktor lain seperti recoil senapan (secara umum, hasil tembakan kurang akurat dengan senjata yang memiliki recoil tinggi disbanding senjata dengan recoil rendah).

Kartographi
Minutes of angle (dan sub-unit-nya, seconds of angle atau SOA - setara dengan seper-enampuluh dari MOA) juga digunakan dalam kartographi dan navigasi. Pada tingkat ketinggian air laut(sea level), sudut satu menit (sekitar lingkaran besar seperti katulistiwa atau meridian) setara dengan sekitar 1,15 mil atau 1.86 km, sekitar satu mil laut (kira-kira, karena permukaan bumi agak sedikit dempak pada ujungnya).

Posisi tradisional digunakan bilangan derajat, menit, dan detik dari sudut dalam dua ukuran: satu untuk latitude, sudut utara dan selatan dari garis katulistiwa, dan satu lagi untuk longitude, sudut untuk barat dan timur dari meridian utama. Menggunakan metoda ini, setiap posisi pada atau diatas permukaan bumi dapat dihitung secara tepat.

Namun, terkadang karena kekakuan natur dasar-60 dari MOA dan SOA, banyak orang saat ini lebih sering hanya menggunakan derajat dalam menentukan letak posisi, menggambarkan hitungan desimal dalam persamaan jumlah presisi. Derajat yang diberikan dalam tiga desimal digambarkan sebagai lebih presisi dibandingkan menggunakan derajat, menit dan detik.

Astronomi
Serupa dengan Kartographi, astronomi juga menggunakan arcminute. Derajat digunakan untuk mengukur deklinasi, atau jarak sudut utara atau selatan dari penginderaan garis katulistiwa. Arcsecond juga sering digunakan untuk menjabarkan parallax, karena sangat kecilnya sudut parallax.

Visi Manusia
Pada manusia, kemampuan untuk menanggulangi contoh spatial dipisahkan dengan sudut pandang dari satu menit dari busur dianggap sebagai visual acuity normal.

Kemampuan
Ketika dilakukan pengujian individual, kemampuan senapan runduk mungkin tidak terlihat keunikannya, atau ada kelebihan dibandingkan dengan senjata jenis lainnya. Tentu saja dari sudut pandang tersebut hanya terdapat sedikit perbedaan pada senapan khusus untuk penembak runduk dengan senapan untuk berburu.
Bila dilihat secara keseluruhan, terdapat keunggulan yang cukup besar pada senapan runduk dimana penembak runduk lebih dapat mendominasi sasarannya. Namun karena penembak runduk memiliki peran khusus harus dicatat bahwa keberhasilan penembak runduk akan bergantung pada keahlian dan kebiasaan berlatih dibanding pengguna senapan lainnya.


Akurasi
Berlawanan dengan kepercayaan yang populer, senapan runduk tidak perlu di karakteristikkan dengan pengecualian keakuratan – terutama bila dibandingkan dengan senapan olahraga sipil, dimana senapan olah raga sipil banyak yang mirip kemampuannya dengan senapan lain dikalangan kategori militer dan polisi.

Standar militer di Amerika ditentukan hanya 1 MOA, akurasi dari standar senapan runduk sering dikorbankan untuk menekan biaya dan kemampuannya menjadi kurang baik, termasuk perhitungan kemudahan operasional dan pemeliharaannya. Tingkat akurasi ini secara kasar diterjemahkan kedalam varian dari titik perkenaan peluru misalnya 8 inci pada jarak 800 yard, dimana diperhitungkan pada posisi tersebut efek mematikan pada manusia sudah memadai.
Tingkat akurasi untuk senapan polisi dicanagkan pada 1,5 MOA sampai yang tertinggi 0,5 MOA atau terkadang sampai 0,25 MOA (dengan biaya yang lebih tinggi).
Tingkat keakuratan 1 MOA untuk senapan polisi dirasa sudah sangat memadai karena dalam operasionalnya kontak senjata yang terjadi biasanya dalam jarak pendeki. Pada jarak 100 yard atau kurang, senapan dengan tingkat akurasi yang relatif rendah sekitar 1 MOA sudah cukup untuk menghantam target berukuran 1 inci secara berulang. Tingkat akurasi yang lebih tinggi diperlukan untuk moment-moment tertentu saja seperti untuk menghadapi target dalam jarak jauh.


Daftar jenis akurasi berikut dapat dijadikan sebagai perbandingan:
• Pistol biasa kemungkinan memiliki tingkat akurasi antara 15 MOA dan 30 MOA.
• Pistol high end memiliki kemampuan penembakan 4 MOA.
• Senapan serbu militer biasanya memiliki kemampuan antara 3 MOA dan 6 MOA.
• Senapan semi-otomatis sipil dan polisi keakuratan kurang dari 1 MOA sampai 4 MOA.
• Senapan berburu memiliki keakuratan 0.5 sampai 3 MOA.
• Senapan runduk standar militer 0,5 sampai 2 MOA
• Senapan runduk polisi 0,25 sampai 1,5 MOA
• Senapan tembak target (kompetisi) 0.1 MOA atau lebih tinggi lagi
• Senapan untuk pengujian amunisi memiliki tingkat keakuratan yang paling tinggi dan dilengkapi dengan peralatan komputer untuk mengukur keakuratan.

Jarak maksimum efektif

Senapan runduk dikarakteristikkan memiliki daya jangkauan penembakan yang jauh dibandingkan dengan senapan biasa. Penembak tepat yang terlatih akan memperhitungkan berbagai faktor alam terhadap pencapaian jarak tembak efektif seperti gerak arah angin, perhitungan jarak target dan sebagainya. Senapan runduk juga memiliki keterbatasan pada bidang pandang akhir (line of sight) sebagaimana halnya senjata jenis penembakan langsung (direct fire) lainnya. Maka sering terlihat operator penembak runduk didamping oleh seorang personil observasi yang bertugas untuk menentukan jarak sasaran dan pergerakan serta arah angin.

Tidak seperti senapan runduk polisi, untuk versi militer diperlukan kemampuan jarak tembak efektif maksimum yang lebih jauh. Demikian juga halnya dengan senapan militer lainnya seperti senapan mesin, senapan serbu, senapan kontra penembak runduk, dan senapan penembak tepat (marksman) dipersyaratkan memiliki daya jangkauan efektif yang cukup jauh.

Senapan runduk militer yang populer (banyak digunakan oleh kalangan militer) adalah kaliber .30 seperti 7,76x51mm NATO (.308 Winchester) dan 7,62x54 R. Keahlian penembak akan sangat menentukan hasil yang dicapai untuk jarak maksimum yang efektif.

Pada senapan runduk militer dewasa ini terdapat tendensi bahwa penembakan dengan amunisi kaliber besar akan memiliki jarak efektif yang lebih jauh, misalkan kaliber .338 Lapua dan .50 BMG. Hal ini memungkinkan penembak runduk untuk mengurangi bebera risiko, dan mengurangi waktu saat berhadapan dengan lawan yang tidak memiliki senapan sejenis dengan yang ia gunakan.

Perkiraan jarak maksimum efektif dari amunisi umum saat digunakan pada senapan runduk:

Amunisi Jarak efektif maksimum
5,56x45mm NATO 400-600 meter
.243 Winchester 600 meter
7,62x51mm NATO 800-1000 meter
7,62x54R 900-1100 meter
.300 Winchester Magnum 900-1100 meter
.338 Lapua 1300-1600 meter
.50 BMG 1500-2000 meter


JARAK vs AKURASI. Senapan runduk akan menjadi tidak efektif saat target berada pada jarak yang sangat jauh dimana tembakan dapat meleset dari sasaran. Hal ini justru akan membahayakan misi penembak runduk tersebut ataupun misi yang didukungnya. Dalam situasi sepreti itu diperlukan senapan runduk dengan kemampuan jangkauan jarak tembak yang lebih jauh, seperti senapan anti material.


Sebagai contoh, dalam peran kontra-penembak runduk, petugas penembak runduk biasanya memiliki posisi diluar jangkauan penembak runduk lawannya, sehingga ia mampu untuk meminta dukungan penembakan senapan mesin kearah penembak runduk lawan. Senapan mesin dengan kaliber amunisi yang sama akan lebih efektif pada jarak tembak yang cukup jauh walaupun tingkat akurasinya rendah, namun biasanya hasil tembakan beruntunnya akan lebih efektif.


Contoh yang sederhana untuk mengilustrasikan, , melawan perasaan intuisi, senjata yang kurang akurat dengan kaliber yang sama kemungkinan aktualnya memiliki jarak yang efektif dibanding senapan runduk:


Untuk target manusia dalam penembak runduk, petembak tidak membidik pada ujud manusianya, tetapi pada bidang lingkaran target. Bidang yang berhubungan dengan jarak, akurasi, dan lingkaran target, dengan memperhitungkan:
• Lingkaran target (inci) x akurasi MOA = Jarak dalam meter
• Jarak dalam meter / akurasi MOA = Lingkaran target dalam inci

Target senapan runduk


Perlu dicatat bahwa “lingkaran target” digunakan secara eksklusif saat bidang tembak “cone of fire" atau "group size" secara teknis lebih akurat. Sistem ini memiliki perbedaan yang tidak begitu penting.

Target senapan mesin
Lingkaran target umumnya berdiameter 8 inci, digambarkan sebagai lingkaran wilayah vital dari wilayah bahu manusia. Untuk kebanyakan petembak runduk memiliki kemampuan 1 akurasi MOA, jarak efektif maksimum (jarak dimana titik perkenaan peluru terjamin untuk berada diwilayah lingkaran 8 inci pada tembakan pertama) sekitar 800 meter.

Sebaliknya, penggunaan senapan mesin dengan amunisi yang sama dengan akurasi rendah hanya 6 MOA akan memiliki jarak efektif maksimum sampai sekitar 1.100 meter. Pada jarak tersebut dan keakuratannya, senapan mesin memiliki lingkaran bidang sasaran yang lebih besar sekitar 6 inci. Lingkaran target senapan mesin menjadi lebih besar karena jumlah penembakan yang dapat dilakukan lebih banyak, dengan penembakan secara acak dan berkelanjutan akan mendapatkan hasil perkenaan pada target didalam lingkaran bidiknya.
Dengan lebih luasnya lingkaran target maka jarak tembak akan dapat lebih tinggi dibandingkan senapan runduk yang harus diupayakan mengenai target pada penembakan pertama.

Catatan : semakin kecil MOA semakit akurat sasaran tembak dari senjata itu

Militer AS akan Gelar Uji Coba Tameng Rudal

Washington (ANTARA News) - Militer AS akan melakukan ujicoba "realistis", Jumat, atas sistem yang dibangun untuk melumpuhkan rudal jarak jauh yang kemungkinan diluncurkan dari Korea Utara atau Iran, Pentagon menyatakan.

Latihan tersebut, yang dilakukan di Samudera Pasifik, merupakan yang pertama kali sejak September 2007 yang melibatkan upaya penyergapan oleh perisai AS tunggal terhadap rudal balistik jarak jauh.


Boeing Company menjadi kontraktor utama bagi sistem itu, yang disebut pertahanan tengah jalan berbasis di darat. Sistem ini merupakan bagian temeng berlapis terhadap rudal yang boleh jadi membawa hulu ledak nuklir, biologis dan kimia.

"Ujicoba ini juga realistis dalam arti jarak yang diambil, lintasan, kecepatan dan kerangka waktu, yakni sekitar 30 menit peluncuran rudal yang datang menyerang," kata Richard Lehner, jurubicara Badan Pertahanan Rudal AS, dalam jawabannya lewat email kepada Reuters.

Presiden George W. Bush telah menyisihkan dana 10 miliar dolar per tahun pada segala aspek pertahanan rudal, pengeluaran tahunan termahal Pentagon bagi program pengembangan persenjataan.

AS dan Rusia berselisih terkait rencana pemerintah Bush memperluas sistem yang dikelola Boeing itu ke Eropa Timur, dengan menggunakan penyergap dua tingkat yang berbasis di 10 silo di Polandia dan sistem radar yang terhubung dengan sistem itu di Republik Czech.

Presiden terpilih Barack Obama, dalam laman internet miliknya, menyatakan dukungannya terhadap pertahanan rudal, namun akan menghindari penggunaan sumberdaya dari prioritas keamanan nasional lain "sampai kita merasa positif teknologi itu mampu melindungi rakyat Amerika".

Hingga sejauh ini, sistem pertahanan inti yang berbasis di darat tersebut telah menghancurkan targetnya dalam enam dari sembilan ujicoba, demikian menurut badan Pertahanan Rudal AS.

Penyergap jarak jauh

Secara keseluruhan, ada 36 rudal penyergap dalam 46 percobaan dalam seluruh unsur pengembangan tameng rudal itu, termasuk sistem yang berbasis di kapal dan jarak menengah, kata badan itu.

Ujicoba Jumat akan menggunakan rudal penyergap jarak jauh dari Pangkalan AU Vandenberg, California, atas rudal dengan hulu ledak dummy yang diluncurkan dari Kodiak, Alaska.

Rudal penyergap akan dipandu oleh empat sensor pelacak target, kata Pentagon.

Lehner, jurubicara badan itu, memperingatkan cuaca di Kodiak kurang bagus dan diramalkan hujan akan turun. (*)

Sejarah dan Jenis Kapal Induk

Kapal induk (bahasa Inggris: carrier vessel, CV) adalah sebutan untuk kapal perang yang memuat pesawat tempur dalam jumlah besar. Tugasnya adalah memindahkan kekuatan udara kedalam armada angkatan laut sebagai pendukung operasi operasi angkatan laut. Selain itu juga digunakan sebagai pusat komando operasi dan sebagai kekuatan detterence atau memberikan efek gentar pada lawan karena kekuatan udara yang dibawanya dalam satu kapal sama dengan jumlah kekuatan armada angkatan udara kebanyakan negara-negara di dunia.

Sejarah kapal induk
Kapal induk pertama kali digunakan oleh Angkatan Laut Inggris, namun sampai menjelang perang dunia kedua negara-negara barat termasuk Amerika Serikat masih enggan menggunakannya sebagai kekuatan Angkatan laut utama. Konsep konvensional armada angkatan laut saat itu didominasi oleh Kapal jelajah berat, Kapal jelajah, Kapal perusak (destroyer) dengan ukuran meriam yang cukup besar hal ini memang disebabkan bahwa kapal induk dipandang cukup rentan dan riskan bila digunakan dalam operasi maritim.

Adalah Angkatan Laut Jepang (Kaigun) yang menggunakan kapal Induk secara efektif pada awal perang dunia II. Akibat perjanjian maritim antara Inggris Amerika dan Jepang serta Perancis dan Jerman disepakati rasio tonase 5:5:3:1,5:1,5 untuk USA, Inggris, Jepang, Perancis dan Jerman membuat jepang mengakalinya dengan membuat kapal induk ukuran sedang tetapi dilengkapi kekuatan udara yang mematikan sekalipun menuai kemarahan dari pihak militer sendiri. Bukti dari rekayasa Jepang adalah serangan atas Pearl Harbour 9 Desember 1941 yang menyadarkan Barat akan fungsi kapal induk yang dapat melakukan serangan mematikan atas instalasi sasaran lawan. Jepang memang memiliki 20 lebih kapal induk saat itu diantaranya adalah :Akagi (merupakan kapal induk terbesar), Zuiho, Zuikaku, Soryu, Hiryu, Chiyoda. Namun dalam perjalanannya selama perang Pasifik, Jepang kehabisan seluruh armadanya. Terlebih-lebih dalam pertempuran di Midway dan Leyte yang merupakan pertempuran laut antar kapal induk.


Akagi, Kapal Induk Jepang di masa PD II

Negara-negara pengguna kapal induk
1. Amerika Serikat
2. Rusia
3. Perancis
4. Inggris
5. China
6. India
7. Italia
8. Spanyol
9. Brasil
10. Thailand

Negara-negara yang pernah menggunakan kapal induk
1. Jepang
2. Australia
3. Belanda
4. Argentina

Jenis-jenis kapal induk
Dari segi propulsi
Dari segi bahan bakar terdapat dua jenis kapal induk yakni:

Kapal Induk Nuklir
Kapal Induk ini menggunakan mesin bertenaga nuklir yang diperoleh dari reaktor nuklir yang berada pada kapal tersebut yang dihubungkan dengan turbin uap. Tenaga uap yang dihasilkan kapal Induk tersebut selain sebagai penggerak kapal juga digunakan sebagai suber tenaga listrik serta tenaga uapnya digunakan sebagai pengatur tekanan pada catapult kapal induk untuk meluncurkan pesawat. Untuk Armada Amerika serikat kapal ini diberi kode CVN contoh kapal induk nuklir adalah USS Ronald Reagan, USS Kitty Hawk, USS Enterprise.

Kapal Induk Konvensional

Kapal induk ini menggunakan mesin bertenaga diesel contohnya adalah 25 de Mayo (Argentina), Giuseppe Garibaldi (Italia), RTN Chakkri Narruebet (Thailand). Untuk Armada Amerika Serikat biasanya digunakan kode CV dan pada saat ini jarang digunakan.

Teknis Peluncuran Pesawat
Kapal Induk Konvensional (CTOL/Conventional Take Off Landing)
Kapal induk jenis ini biasanya berukuran besar karena geladaknya digunakan sebagai tempat pendaratan dan peluncuran pesawat secara convensional (biasa). Dilengkapi dengan catapult untuk meluncurkan pesawat dan kabel arrester (penahan) untuk membantu pendaratan pesawat, karena panjang geladak kapal induk lebih pendek daripada panjang landasan di pangkalan. Selain tempat parkir pesawat selain ruangan yang berarda pada lambung kapal. Kapal Kapal Induk yang digunakan US Navy rata rata adalah kapal induk jenis ini. Contoh : USS Ronald Reagan, USS John F Kennedy. Kiev(Rusia), 25 de Mayo (Argentina), Foch dan Charles de Gaulle (Perancis)

Kapal Induk STOVL (Short Take Off Vertikal Landing)

Kapal induk ini biasanya berukuran sedang/ringan, memiliki Sky Jump yang digunakan untuk meluncurkan pesawat dan pendaratan pesawat dilakukan secara vertikal. Oleh karena itu pesawat pesawat yang digunakan adalah pesawat pesawat tempur jenis khusus semacam AV-8 Harrier (USA) , Harrier II Plus (Inggris), Yak 38 Forger, Yak 141 Freehand (Rusia) ataupun Helikopter. Pada pesawat tempur Rusia biasanya dilengkapi laser untuk memudahkan pendaratan. Hampir kebanyakan negara menggunakan kapal Induk Jenis ini karena memerlukan biaya perawatan dan operasional yang lebih rendah daripada kapal induk jenis CTOL. Contoh dari Kapal Induk Jenis ini adalah: HMS Invincible, HMS Ark Royal (Inggris), Giuseppe Garibaldi (Italia), Prince de Asturias (Spanyol), Viraat, Vikrant (India), Novorossysk (Rusia), Chakri Narruebet (Thailand), USS Tarrawa (USMC.)

Jenis-Jenis Kapal Tempur Berteknologi Hydrofoil

Seperti dijabarkan di bagian depan, tak banyak negara yang mau mengoperasikan hdrofoil tempur. Alasan hampir-hampir serupa kapal model bagini dianggap kelewat rumit, mahal perawatan dan pengoperasian serta kurang bisa diandalkan dari segi kesiapan.

Tapi kenyataannya diatas bukan pertanda spesies kapal-kapal dengan lambung bercanard tak ada sama sekali. Sebagai gambaran AL AS misalnya, pernah menggelar armada Hydrofoil kelas Pegasus dengan kelengkapan rudal anti kapal Harpon sejenis yang beroperasi dari tahun 1977-1982.


Selain AS, masih ada tiga negara lain yang secara konsisten mengoperasikan hydrofoil bersenjata. Negara pertama adalah AL Italia. Negeri ini memiliki setidaknya tujuh unit hydrofoil kelas Sparviero yang kelas digelar di wilayah Mediterania sejak era1980-an. Selanjutnya berada di belakang Italia ada AL Soviet dan Cina. Berikut sejumlah tipe hydrofoil tempur itu .

PEGASUS
Pegasus merupakan gambaran kolaborasi tiga negara untuk membangun hydrofoil tempur. Ketiga negara itu adalah AS, jerman barat, dan Italia. Sesuai rencana awal, soal senjata nantinya setiap negara punya spek sendiri-sendiri. Jerman barat bakal memakai Exocet MM38. Sementara AS dengan harpon dan Italia mengandalkan Otomat. Program ini tak berusia panjang.

Spesifikasi :
Dimensi : Panjang 40m; beam 8,6m;
Drought 1,9,1 m
Bobot tempur : 225 Ton
Kecepatan Maks : 48 Knots
Jumlah awak : 21 orang








SARANCHA
Kehadiran Hydrofoil sarancha mulai di pergoki pada tahun 1977. Punya fungsi sebagai elemen pertahanan pelabuhan strategis, kapal ini di bekali dengan persenjataan berat. Sebut saja mulai dari empat rudal permukaan SS-N-9, kanon getling AK-630 , dan Rudal SAM SN-N-4

Spesifikasi
Dimensi : Panjang 45 m; beam 11 m
Draught 2,8 m
Bobot tempur : 300 ton
Kecepatan : +45 knot











SPARVIERO
Sparviero merupakan jawaban Italia atas kegagalan program Pegasus. Soal sosok jauh lebih pendek. Tapi jangan dianggap enteng. Soal persenjataan hydrofoil ini ditanggung mampu menenggelamkan kepal sekelas destroyer. Pada bagian depan terdapat meriam super cepat OTO melera kaliber 76 mm. Sementara di belakang tertanam pelontar rudal Otomat.

Spesifikasi
Dimensi : Panjang 24,6 m ; Beam 12,1 m
Draught 1,3 -4,4 m
Bobot tempur : 62,5 Ton
Kecepatan maksimal :+50 Knot
Jumlah Awak : 10 orang






HUCHUAN
Beda dengan negara-negara Barat, Cina terolong tak terlalu berhitung untuk urusan membangun armada Hydrofoil tempur. Tercatat negeri ini mengoperasikan sekitar 10 unit kapal cepat bersenjata kelas Huchuan. Selain di pakai sendiri kapal sejenis ini sempat pula dijual ke Albania, Pakistan, Rumania, dan Tanjania. Bergeser ke soal senjata. Seperti mesin-mesin perang buatan negeri tirai bambu pada umumnya, soal senjata memang tak terlalu canggih. Sebagai senjata utama kapal ini mengusung sepasang tabung torpedo kaliber 533 mm plus senjata bantu dua senapan mesin kembar DsHK kaliber 12,7 mm.

Spesifikasi
Dimensi: Panjang 21.8 m; beam 4,9 m;
Draught 0,31-1
Bobot tempur : 39 ton
Kecepatan maksimal : 54 knot
Jumlah awak 15 Orang