Tampilkan postingan dengan label JurnalSniper. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label JurnalSniper. Tampilkan semua postingan

Seni Perhitungan Ketepatan Menambak

MOA atau Minute of Arc atau arc minute merupakan standar perhitungan ketepatan menembak yang diterapkan dalam angkatan bersenjata, kepolisian maupun olahraga menembak di Amerika Serikat. MOA ini juga digunakan oleh para petembak runduk dalam menghitung prakiraan ketepatan dalam pembidikan target.

Standar satuan penghitungan menggunakan standar terminology ilmu pasti yaitu derajat, menit (′), dan detik (″). MOA merupakan satuan dari ukuran angular/sudut pada busur lingkaran (angular measurement), setara dengan seperenampuluh (1/60) dari satu derajat. Satu derajat didefinisikan sebagai satu per tigaratus enampuluh (1/360) dari sebuah lingkaran, 1 MOA sama dengan 1/21600 dari jumlah busur dalam lingkaran, atau (π/10800) radian.


Digunakan pada medan dimana diperlukan satuan hitungan untuk mengekspresikan hitungan yang sangat kecil dari busur, seperti pada astronomi. Simbol SI untuk menandai menit arc atau arcminute adalah prime atau satu tanda koma diatas (′) (U+2032, & prime), atau dalam ASCII code digunakan satu tanda baca koma diatas (') (U+0027). Satu arcminute ditulis sebagai 1′. Juga pengertian arcmin atau amin atau, setidaknya, dengan circumflex /tanda koma diatas ( ).

Sub-divisi dari MOA adalah arcsecond (detik). Satu arcminute (menit) sama dengan 60 arcsecond (detik). Penandaannya dengan dua koma diatas (″) (U+2033).

Kegunaan Pada Senjata
Unit ini umum didapati dalam industri persenjataan dan literatur, terutama yang berhubungan dengan ukuran keakuratan senapan. Populer karena 1 MOA digambarkan kira-kira 1 inci pada 100 yard, jarak tradisional pada penjarakan target. Penembak dengan mudah menyetel alat bidiknya dengan mengukur jarak dalam inci pada lubang peluru yang diakibatkan oleh perkenaan peluru (impact point), dan menyetel pembidik dimana banyak MOA pada arah berlawanan. Kebanyakan pembidik sasaran dirancang untuk jarak jauh di setel dalam seperempat (¼) atau seperdelapan (⅛) MOA "clicks". Seperdelapan MOA sama dengan sekitar seperdelapan inci pada jarak 100 yard atau satu inci pada 800 yard.


Kalkulasi fisik sama dengan jarak yang setara dengan satu menit busur dapat dilakukan dengan persamaan: jarak persamaan = 2*tan(MOA ∙ π/21600)*jarak. Dalam contoh yang diberikan dan pengganti 3600 inci untuk 100 yards, 2*tan(1 MOA∙ π∕21600 )∙ 3600 inci = 1.04719756 inci.


Terkadang, akurasi senjata diukur dalam MOA. Hal ini memudahkan kondisi ideal, senjata mampu memproduksi secara berulang sekelompok penembakan dalam satu lingkaran, diameter dihitung dengan jumlah busur. (misalnya: "1 MOA rifle" akan mampu, dalam kondisi ideal dan terkunci dalam arah sasaran (vise) penembakan 1-inci grup pada jarak 100 yard, "2 MOA rifle", 2-inci grup pada jarak 100 yards, dst.) Namun demikian, penampilan ideal pada laboratorium balistik sering berbeda dengan hasil didunia nyata.

Pabrik senapan dan majalah senjata sering menyesatkan dalam menarik minat pembaca mengenai MOA senjatanya, term yang umum saat ini adalah "Sub-MOA", artinya penembakan dibawah 1 MOA. Ini sering berlebih pada grup tunggal dibandingkan rata-rata agar senjata mereka terdengar baik, dan sering melupakan faktor lain seperti recoil senapan (secara umum, hasil tembakan kurang akurat dengan senjata yang memiliki recoil tinggi disbanding senjata dengan recoil rendah).

Kartographi
Minutes of angle (dan sub-unit-nya, seconds of angle atau SOA - setara dengan seper-enampuluh dari MOA) juga digunakan dalam kartographi dan navigasi. Pada tingkat ketinggian air laut(sea level), sudut satu menit (sekitar lingkaran besar seperti katulistiwa atau meridian) setara dengan sekitar 1,15 mil atau 1.86 km, sekitar satu mil laut (kira-kira, karena permukaan bumi agak sedikit dempak pada ujungnya).

Posisi tradisional digunakan bilangan derajat, menit, dan detik dari sudut dalam dua ukuran: satu untuk latitude, sudut utara dan selatan dari garis katulistiwa, dan satu lagi untuk longitude, sudut untuk barat dan timur dari meridian utama. Menggunakan metoda ini, setiap posisi pada atau diatas permukaan bumi dapat dihitung secara tepat.

Namun, terkadang karena kekakuan natur dasar-60 dari MOA dan SOA, banyak orang saat ini lebih sering hanya menggunakan derajat dalam menentukan letak posisi, menggambarkan hitungan desimal dalam persamaan jumlah presisi. Derajat yang diberikan dalam tiga desimal digambarkan sebagai lebih presisi dibandingkan menggunakan derajat, menit dan detik.

Astronomi
Serupa dengan Kartographi, astronomi juga menggunakan arcminute. Derajat digunakan untuk mengukur deklinasi, atau jarak sudut utara atau selatan dari penginderaan garis katulistiwa. Arcsecond juga sering digunakan untuk menjabarkan parallax, karena sangat kecilnya sudut parallax.

Visi Manusia
Pada manusia, kemampuan untuk menanggulangi contoh spatial dipisahkan dengan sudut pandang dari satu menit dari busur dianggap sebagai visual acuity normal.

Kemampuan
Ketika dilakukan pengujian individual, kemampuan senapan runduk mungkin tidak terlihat keunikannya, atau ada kelebihan dibandingkan dengan senjata jenis lainnya. Tentu saja dari sudut pandang tersebut hanya terdapat sedikit perbedaan pada senapan khusus untuk penembak runduk dengan senapan untuk berburu.
Bila dilihat secara keseluruhan, terdapat keunggulan yang cukup besar pada senapan runduk dimana penembak runduk lebih dapat mendominasi sasarannya. Namun karena penembak runduk memiliki peran khusus harus dicatat bahwa keberhasilan penembak runduk akan bergantung pada keahlian dan kebiasaan berlatih dibanding pengguna senapan lainnya.


Akurasi
Berlawanan dengan kepercayaan yang populer, senapan runduk tidak perlu di karakteristikkan dengan pengecualian keakuratan – terutama bila dibandingkan dengan senapan olahraga sipil, dimana senapan olah raga sipil banyak yang mirip kemampuannya dengan senapan lain dikalangan kategori militer dan polisi.

Standar militer di Amerika ditentukan hanya 1 MOA, akurasi dari standar senapan runduk sering dikorbankan untuk menekan biaya dan kemampuannya menjadi kurang baik, termasuk perhitungan kemudahan operasional dan pemeliharaannya. Tingkat akurasi ini secara kasar diterjemahkan kedalam varian dari titik perkenaan peluru misalnya 8 inci pada jarak 800 yard, dimana diperhitungkan pada posisi tersebut efek mematikan pada manusia sudah memadai.
Tingkat akurasi untuk senapan polisi dicanagkan pada 1,5 MOA sampai yang tertinggi 0,5 MOA atau terkadang sampai 0,25 MOA (dengan biaya yang lebih tinggi).
Tingkat keakuratan 1 MOA untuk senapan polisi dirasa sudah sangat memadai karena dalam operasionalnya kontak senjata yang terjadi biasanya dalam jarak pendeki. Pada jarak 100 yard atau kurang, senapan dengan tingkat akurasi yang relatif rendah sekitar 1 MOA sudah cukup untuk menghantam target berukuran 1 inci secara berulang. Tingkat akurasi yang lebih tinggi diperlukan untuk moment-moment tertentu saja seperti untuk menghadapi target dalam jarak jauh.


Daftar jenis akurasi berikut dapat dijadikan sebagai perbandingan:
• Pistol biasa kemungkinan memiliki tingkat akurasi antara 15 MOA dan 30 MOA.
• Pistol high end memiliki kemampuan penembakan 4 MOA.
• Senapan serbu militer biasanya memiliki kemampuan antara 3 MOA dan 6 MOA.
• Senapan semi-otomatis sipil dan polisi keakuratan kurang dari 1 MOA sampai 4 MOA.
• Senapan berburu memiliki keakuratan 0.5 sampai 3 MOA.
• Senapan runduk standar militer 0,5 sampai 2 MOA
• Senapan runduk polisi 0,25 sampai 1,5 MOA
• Senapan tembak target (kompetisi) 0.1 MOA atau lebih tinggi lagi
• Senapan untuk pengujian amunisi memiliki tingkat keakuratan yang paling tinggi dan dilengkapi dengan peralatan komputer untuk mengukur keakuratan.

Jarak maksimum efektif

Senapan runduk dikarakteristikkan memiliki daya jangkauan penembakan yang jauh dibandingkan dengan senapan biasa. Penembak tepat yang terlatih akan memperhitungkan berbagai faktor alam terhadap pencapaian jarak tembak efektif seperti gerak arah angin, perhitungan jarak target dan sebagainya. Senapan runduk juga memiliki keterbatasan pada bidang pandang akhir (line of sight) sebagaimana halnya senjata jenis penembakan langsung (direct fire) lainnya. Maka sering terlihat operator penembak runduk didamping oleh seorang personil observasi yang bertugas untuk menentukan jarak sasaran dan pergerakan serta arah angin.

Tidak seperti senapan runduk polisi, untuk versi militer diperlukan kemampuan jarak tembak efektif maksimum yang lebih jauh. Demikian juga halnya dengan senapan militer lainnya seperti senapan mesin, senapan serbu, senapan kontra penembak runduk, dan senapan penembak tepat (marksman) dipersyaratkan memiliki daya jangkauan efektif yang cukup jauh.

Senapan runduk militer yang populer (banyak digunakan oleh kalangan militer) adalah kaliber .30 seperti 7,76x51mm NATO (.308 Winchester) dan 7,62x54 R. Keahlian penembak akan sangat menentukan hasil yang dicapai untuk jarak maksimum yang efektif.

Pada senapan runduk militer dewasa ini terdapat tendensi bahwa penembakan dengan amunisi kaliber besar akan memiliki jarak efektif yang lebih jauh, misalkan kaliber .338 Lapua dan .50 BMG. Hal ini memungkinkan penembak runduk untuk mengurangi bebera risiko, dan mengurangi waktu saat berhadapan dengan lawan yang tidak memiliki senapan sejenis dengan yang ia gunakan.

Perkiraan jarak maksimum efektif dari amunisi umum saat digunakan pada senapan runduk:

Amunisi Jarak efektif maksimum
5,56x45mm NATO 400-600 meter
.243 Winchester 600 meter
7,62x51mm NATO 800-1000 meter
7,62x54R 900-1100 meter
.300 Winchester Magnum 900-1100 meter
.338 Lapua 1300-1600 meter
.50 BMG 1500-2000 meter


JARAK vs AKURASI. Senapan runduk akan menjadi tidak efektif saat target berada pada jarak yang sangat jauh dimana tembakan dapat meleset dari sasaran. Hal ini justru akan membahayakan misi penembak runduk tersebut ataupun misi yang didukungnya. Dalam situasi sepreti itu diperlukan senapan runduk dengan kemampuan jangkauan jarak tembak yang lebih jauh, seperti senapan anti material.


Sebagai contoh, dalam peran kontra-penembak runduk, petugas penembak runduk biasanya memiliki posisi diluar jangkauan penembak runduk lawannya, sehingga ia mampu untuk meminta dukungan penembakan senapan mesin kearah penembak runduk lawan. Senapan mesin dengan kaliber amunisi yang sama akan lebih efektif pada jarak tembak yang cukup jauh walaupun tingkat akurasinya rendah, namun biasanya hasil tembakan beruntunnya akan lebih efektif.


Contoh yang sederhana untuk mengilustrasikan, , melawan perasaan intuisi, senjata yang kurang akurat dengan kaliber yang sama kemungkinan aktualnya memiliki jarak yang efektif dibanding senapan runduk:


Untuk target manusia dalam penembak runduk, petembak tidak membidik pada ujud manusianya, tetapi pada bidang lingkaran target. Bidang yang berhubungan dengan jarak, akurasi, dan lingkaran target, dengan memperhitungkan:
• Lingkaran target (inci) x akurasi MOA = Jarak dalam meter
• Jarak dalam meter / akurasi MOA = Lingkaran target dalam inci

Target senapan runduk


Perlu dicatat bahwa “lingkaran target” digunakan secara eksklusif saat bidang tembak “cone of fire" atau "group size" secara teknis lebih akurat. Sistem ini memiliki perbedaan yang tidak begitu penting.

Target senapan mesin
Lingkaran target umumnya berdiameter 8 inci, digambarkan sebagai lingkaran wilayah vital dari wilayah bahu manusia. Untuk kebanyakan petembak runduk memiliki kemampuan 1 akurasi MOA, jarak efektif maksimum (jarak dimana titik perkenaan peluru terjamin untuk berada diwilayah lingkaran 8 inci pada tembakan pertama) sekitar 800 meter.

Sebaliknya, penggunaan senapan mesin dengan amunisi yang sama dengan akurasi rendah hanya 6 MOA akan memiliki jarak efektif maksimum sampai sekitar 1.100 meter. Pada jarak tersebut dan keakuratannya, senapan mesin memiliki lingkaran bidang sasaran yang lebih besar sekitar 6 inci. Lingkaran target senapan mesin menjadi lebih besar karena jumlah penembakan yang dapat dilakukan lebih banyak, dengan penembakan secara acak dan berkelanjutan akan mendapatkan hasil perkenaan pada target didalam lingkaran bidiknya.
Dengan lebih luasnya lingkaran target maka jarak tembak akan dapat lebih tinggi dibandingkan senapan runduk yang harus diupayakan mengenai target pada penembakan pertama.

Catatan : semakin kecil MOA semakit akurat sasaran tembak dari senjata itu

SLD 500 Varian Terbaru Alat Pendeteksi Sniper

Penembak runduk (Sniper) merupakan ancaan yang sangat significant dalam suatu operasi tempur. Hal ini juga dihadapi oleh pasukan pemelihara perdamaian dari Perancis yang tergabung dalam SFOR pada saat bertugas di Bosnia. Setidaknya 80 personil pasukan Perancis Gugur dalam tugas diakibatkan oleh tembakan penembak runduk di Serajevo selama tahun 1992.



Berdasarkan kejadian tersebut, dan kekhawatiran akan jatuhnya korban lebih banyak lagi, Departemen Pertahanan Perancis di Paris meminta kepada pihak Industri pertahanan untuk menciptakan alat yang dapat meng-counter ancaman dari para sniper ini. Salah satu industri pertahanan Perancis yang teribat dalam upaya pembuatan alat pendeteksi keberadaan sniper ini adalah Cilas, industri yang mengkhususkan produknya pada perangkat optic-elektronic (optronic), yang merupakan anak perusahaan dari EADS.

Saat itu peralatan yang ada hanyalah alat deteksi akustik yang aslinya dikembangkan oleh pihak militer Inggris untuk mendukung operasi mereka di Irlandia Utara.Saat di uji di Bosnia, system tersebut ternyata tidak membuahkan hasil karena ketidak akuratannya, respon yang lambat dan beberapa factor lainnya. Alat ini bekerja berdasarkan pendeteksian bunyi saat penembakan, dan saat peluru berjalan menuju target, dengan bantuan perangkat microphone baru lokasi sniper dapat diketahui.

Para teknisi Cilas berupaya keras untuk mencari solusi yang terbaik, maka mereka mencoba untuk mendapatkan cara yang lebih efisien. Dari berbagai percobaan, mereka mencoba untuk mendeteksi keberadaan sniper berdasarkan unit pembidik yang dipasang pada senapan runduk. Maka dicobalah suatu metoda dengan prinsip sinar mata kucing atau "The Cat Eye Principle". Lensa optic telescope dapat menghasilkan suatu energi yang dapat ditangkap oleh sapuan sinar laser, saat sapuan sinar laser tersebut menangkap object optic telescope, maka akan ditampakkan pada layar monitor, sehingga keberadaan penembak runduk dapat diketahui sebelum Ia menjalankan aksinya.

Seperti halnya lampu utama pada mobil/kendaraan, refleksi sinar yang ditimbulkan oleh retina mata kucing dapat terlihat dikegelapan. Demikian juga halnya dengan bola mata sniper yang sedang melakukan pembidikan dengan telescope dapat dideteksi dengan bantuan sapuan sinar laser yang tidak terlihat. Kemudian sistem laser transmitter/receiver akan secara instant dan akurat melokalisir keberadaan sniper tersebut.

Pengembangan dari kemampuan jarak tembak 300 sampai 600 meter ditingkatkan sampai dengan kemampuan jarak sapuan lebih dari 1000 meter, bahkan kemudian sampai kepada jarak 4000 meter. Seperti diketahui, dengan munculnya senapan runduk caliber 12,7mm atau .50, jarak tembak sniper dapat mencapai jarak efektif mematikan sampai 1000 meter.

Salah satu alat deteksi keberadaan sniper ini oleh pihak Cilas diberi kode SLD-400. Perangkat ini terdiri dari dua bagian utama, perangkat deteksi yang merupakan laser transmitter/receiver dengan menggunakan alat penyangga tiga-kaki (tripod) dan unit processor/monitor yang hampir sama bentuknya dengan perangkat laptop, keduanya dihubungkan dengan kabel khusus tipe RS 232 serial link. Perangkat ini bekerja dengan bantuan batere 24 Volt standar militer (MIL STD 1275 A) yang dapat beroperasi lebih dari 24 jam secara terus menerus, dan dapat diisi ulang dengan alat charger yang disediakan. Keseluruhan unit SLD 400 ini memiliki bobot sekitar 15 kg.

Panjang gelombang sinar laser bekerja mendekati kemampuan sinar infra-merah, antara 0,8 dan 0,9 micrometer, yang dapat mendeteksi tidak saja alat bidik senapan - termasuk yang tersembunyi dibalik jarring kamuflase, jendela atau struktur honeycomb - tetapi juga jenis-jenis lensa seperti light intensifier untuk teropong malam, range finder, teropong biasa (binocular/monocular), dan sebagainya.
Pengoperasian dapat dilakukan dalam berbagai kondisi cuaca, baik siang maupun malam hari, kecuali saat situasi berkabut (hal ini juga tidak dapat dilakukan oleh teropong yang digunakan oleh sniper).

Data-data mengenai SLD 400 ini antara lain;

Konsep Operasi: Perangkat deteksi penembak runduk ini merupakan konsep baru dengan aplikasi sinar laser. Dirancang untuk mendeteksi dan melokalisir posisi pembidik optic yang digunakan oleh penembak runduk atau system pembidik optic elektronik (optronic) di daerah operasi tempur, wilayah sensitive atau zona urban yang bekerja atas dasar efek mata-kucing (cat-eye); saat teriluminasi oleh sinar laser, system optic akan mengembalikan sejenis enerji.

Jarak detaksi efektif: 1000 meter untuk siang hari, sampai 3000 meter pada malam hari.
Azimuth dan levasi: -175 derajat sampai +175 derajat untuk azimuth, dan +/- 20 derajat untuk elevasi.
Jendela deteksi : 3,9 derajat x 5,3 derajat.
Scanning dan deteksi: secara manual dengan joystick.

Sedangkan yang terbaru yaitu SLD 500 yaitu tingkatan terbaru dari SLD 400 yang jelas SLD 500 ini lebih menyempurnakan varian terdahulunya yaitu penggunaannya lebih otomatis ketimbang varian terdahulunya. adapun spesifikasi alat tersebut adalah sebagai berikut :

Jarak detaksi efektif: 3000 meter untuk siang hari, sampai 6000 meter pada malam hari (Infra Red)
Azimuth dan levasi: -300 derajat sampai +300 derajat untuk azimuth, dan +/- 30 derajat untuk elevasi.
Jendela deteksi : 3,9 derajat x 5,3 derajat.
Scanning dan deteksi: secara automatics remote, GPS

Asal Mula Sniper dan Prioritas Target Sniper


Istilah sniper untuk pertamakalinya di pakai sebagai salah satu istilah militer resmi bagi penembak runduk oleh AD Jerman pada 1910. Pencipta satuan sniper dengan standar kualifikasi, doktrin oleh organisasi seperti yang kita kenal sekarang adalah tentara kerjaan Jerman sebelum PD I. Jerman pulalah yang untuk pertama kali menciptakan senapan khusus untuk sniper. Bahkan mereka pula yang membuat peluru khusus untuk senapan tersebut. senapan khusus sniper ini dibuat berdasarkan senapan Mauser Gewehr (Gew.98) kaliber 7,92 mm yang khusus di "Tune Up" agar sangat tepat tembakannya dan di pasangi teleskop pembidik.





Selain harus menembak tepat, sniper juga punya prioritas dalam memilih sasaran tembaknya. Adapun urutan yang terlebih dahulu di lenyapkan adalah sebagai berikut :

* Sniper musuh harus secepatnya dilumpuhkan karena tingkat bahayanya nomor satu.












* Sasaran kedua sniper adalah Komandan, karena dengan melumpuhkan komandan, dapat menimbulkan dampak psikologis yang sangat besar bagi anak buahnya yang di pimpinnya.
















* Sasaran ketiga adalah para operator senjata berat, karena personel ini dilumpuhkan sniper untuk mengurangi resiko serangan musuh.













* Dan yang keempat adalah operator radio termasuk peralatannya yang berhubungan dengan komunikasi



















SPR (Senjata Penembak Runduk) Made In Indonesia

SOSOK senapan penembak jitu antimaterial, menjadi salah satu keperluan utama pada pertempuran era modern, terutama untuk menghajar pasukan musuh yang berlindung di balik material. Menyadari perkembangan ini, PT Pindad pun tak mau ketinggalan, mereka sudah memproduksi dengan nama Senapan Penembak Runduk-2 (SPR-2).


SPR-2 diharapkan mampu menjadi salah satu produk senjata unggulan dalam negeri 2007, yang kehadirannya dapat menjadi varian produk impor sejenis asal Yugoslavia, Black Arrow M93. Kedua senapan antimaterial ini sama-sama menggunakan peluru kaliber 12,7 mm x 99 (umum pula disebut kaliber .50) dengan isian magasen lima peluru.

Kehadiran SPR-2, membuat produk serupa yang sudah muncul dan dipergunakan berbagai angkatan bersenjata di dunia, menjadi sedikitnya 25 jenis. Sebelumnya, sudah ada produk sejenis, misalnya Gepard M1/M2 (Hongaria, kaliber .50), Barret M82, M90 dan M95, M99, serta M-107 (Amerika, kal .50), SVN-98 (Rusia, kaliber 12,7 mm x 108), Steyr IWS-2000 (Austria, kal .50 dan 12,7 mm x 108), PGR UM-Hecate (Prancis, kal .50), AI AS (Inggris, kal .50), NTW-20 (Afrika Selatan, kal 20 mm), dll.

Menurut Desain Ghrapic Divisi Senjata PT Pindad, Dede Tasiri, senada engineer Nana Mulyana, diharapkan dapat memberikan efisiensi bagi TNI jika dibandingkan produk impor. Dari hitungan, produksi SPR-2 harga lebih murah dan fungsi sama hebatnya, apalagi jika dibandingkan Black Arrow M93 yang harganya di atas Rp 1 miliar per pucuk dan diketahui banyak yang sudah rusak.

Senjata sniper buatan pindad ini dibuat dalam 3 versi yaitu SPR1, SPR2, dan SPR3.

SPR 1 ini mempunyai peluru kaliber 7,62mm dengan jarak akurasi 900 meter , Kendati terilhami produk-produk senapan antimaterial yang sudah ada, namun menurut Dede, kehadiran SPR-2 cenderung desain sendiri dari PT Pindad. Walaupun pada sebagian sosok, masih mengambil desain dari Black Arrow M93 dan NTW-20 (Afrika Selatan).

"SPR-2 pada jarak tembak efektif mampu menembus lapisan baja dengan ketebalan sampai 2 cm pada jarak 500 meter. Pengoperasian dengan sistem bolt action bukan berarti SPR-2 kalah modern, namun diharapkan memiliki kelebihan karena akurasi biasanya lebih jitu," sedangkan SPR3 mampu menembus baja setebal 3 cm dengan jarak 700 meter.

Senjata mahal

Penggunaan senapan penembak jitu antimaterial, sudah digunakan sejak Perang Dunia II (1939-1945) oleh pasukan Nazi Jerman (Mauser Tank-Gewehr Model 1918, kaliber .51), Jepang (Tipe 97, kaliber 20 mm), dan Inggris (Boys Antitank Rifle, kaliber .55). Ketiga pasukan tersebut menggunakannya untuk menghantam masing-masing musuhnya, yang berlindung di balik tembok atau berada dalam kendaraan lapis baja.

Usai perang, berbagai negara terutama Amerika, Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa Timur kemudian mengembangkan dengan menggunakan peluru kaliber .50 (disebut pula 12,7 mm x 99) dan kaliber 12,7 mm x 108, yang menjadi standar senapan mesin berat mereka. Dari berbagai negara yang ikut memproduksi senapan antimaterial, Jerman, Amerika, dan Rusia, yang paling banyak membuat aneka produknya sejenis.

Senapan penembak jitu antimaterial, di pasaran harganya rata-rata sangat mahal, sehingga negara-negara pembeli dan dari non- produsen yang keuangannya cekak, biasanya terbatas memiliki. (Kodar Solihat/"PR")

Teknik Penyamaran Penembak Runduk

Misi utama tim petembak runduk adalah untuk menghilangkan target tertentu dipihak musuh yang memiliki nilai startegis tinggi, dengan kemampuan penembakan dari jarak yang relative jauh dengan ketepatan sangat tinggi.

Seberapa jauh petembak runduk dapat menyelesaikan misi yang diembannya akan bergantung kepada kehandalannya (skill), pengetahuan (knowledge), pegertian (understanding) dan aplikasi dari bebarai teknik lapangan yang memungkinkan ia untuk bergerak, bersembunyi, melakukan observasi, dan mendeteksi target.


Pada tulisan ini diutarakan salah satu aspek yang membantu dalam pelaksanaan misi petembak runduk yaitu teknik kamuflase lapangan dan skill bagi petembak runduk dalam melaksanakan misinya dalam mendukung operasi tempur. Teknik kamuflase merupakan salah satu faktor penyelamat petembak runduk dalam malaksanakan misinya.

Penyamaran atau camouflage merupakan salah satu teknik pertempuran, dalam sejarah kuno salah satunya dikenal apa yang dinamakan insiden Kuda Troya (semacam patung kuda besar untuk sesembahan ritual bangsa Yunani) dimana pasukan Yunani bersembunyi didalam patung kuda yang dibawa masuk ke dalam kompleks pertahanan pasukan Troy. Pada kasus penembak runduk, teknik penyamaran bukan saja bergantung kepada factor pakaian yang disesuaikan dengan kondisi alam tempatnya beroperasi, tetapi juga menyangkut berbagai faktor lainnya.

Penyamaran tidak saja menentukan berhasil atau tidak berhasilnya misi, tetapi juga menyangkut keselamatan jiwa sipetembak runduk itu sendiri. Standar penyamaran akan menjadi penting agar tim petembak runduk tidak dapat terdeteksi, baik oleh mata telanjang maupun dengan peralatan pencari petembak runduk yang lima tahun belakangan ini sudah dioperasikan oleh berbagai angkatan bersenjata.

Sejak awal tahun 1980an selain alat cat wajah, diperkenalkan pakaian penyamaran untuk petembak runduk, antara lain oleh tim Battle-Field Boogie-Man dari USMC yang disebut sebagai pakaian ‘Ghillie’ seperti terlihat pada gambar.

INDIKATOR TARGET.
Sebelum menentukan jenis kamuflase yang akan digunakan, tim petembak runduk terlebih dahulu harus mengetahui indikator target, yaitu indicator yang dapat membahayakan dirinya untuk menjadi target lawan. Indikator target merupakan segala hal yang dilakukan oleh petembak runduk untuk berhasil atau gagal dalam tugasnya. Tim petembak runduk harus mengetahui dan mengerti indikator target tidak hanya bergerak tanpa terdeteksi, tetapi juga untuk mendeteksi gerakan lawan. Indikator target berupa suara, gerakan, penyamaran, keadaan alam yang sulit, dan bebauan.

a. Suara.
Perlu diperhatikan terutama dikegelapan.Suara yang ditimbulkan oleh gerakan, peralatan atau suara bicara.Kebisingan yang sangat kecil dikarenakan oleh gerakan alam sekitar.

b. Gerakan.
Gerakan pada siang dan malam hari.Gerakan mata manusia.Gerakan cepat atau merayap yang dapat mudah terdeteksi.

c. Penyamaran yang tidak cakap.
Adanya benda yang mengkilap (shine)Bergaris Kongtras dengan latar alam sekitar

d. Gangguan alam (wildlife)
Burung yang tiba-tiba terbang Kebisingan hewan yang tiba-tiba diam Adanya hewan memiliki rasa ketakutan

e. Bebauan (odor)
Memasak
Merokok
Wangi sabun dan sejenisnya
Obat insektisida.

Hal-hal semacam tersebut diatas akan sangat mengganggu keberhasilan misi, bahkan dapat menimbulkan kegagalan.

Jenis Senjata Sniper yang dimiliki Indonesia

Beragam senapan sniper di gunakan di lingkungan TNI saat ini. Beda dengan polri yang hanya memiliki satuan 1 gegana dan Detasemen 88 Anti Teror. Sniper yang di gunakan lebih aman, yaitu Armalite AR-10T buatan Amerika Serikat. Sebenarnya tidak efektif bagi sebuah Korps. Tapi ya sudah, berikut parade sniper yang digunakan TNI-Polri

REMINGTON 700
Inilah salah satu senapan sniper terbaik di dunia. Dikembangkan dari keberhasilan Winchester 70, Remington 700 belakangan di pilih lagi saat AS butuh sniper baru, M24 Remington mengembangkan model 700 sejak 1962, ketika Winchester menolak permintaan Marinir AS untuk penggantian Laras. Charlos Hatchock termasuk pengguna model 700. Foto di atas adalah Winchester 70.

Nama : Remington 700
Kaliber :7,62 x 51 mm
Sistem : Bolt Action
Berat : 4,08 kg kosong tanpa telescope
Panjang : 1,662 mm
Laras : 660 mm
Pengguna : Marinir




GALIL GALATZ/99 R
Ide dasarnya tak lain senapan serbu AB Israel Galil AR. Lewat proses publikasi lahirlah Galil Galatz. Tak sukses pendahulunya galatz konon punya akurasi rada payah. Selain itu, ongkos produksinya juga mahal. Meski sempat di produksi banyak, IMI terpaksa merilis versi lanjutnya Galil 99r sistem otomatis.


Nama : Galil 99R
Kaliber : 7,62 mm
Panjang : 111,5 cm
Laras : -
Berat : 6,4 kg
Sistem : Semi outo
Magasen : 20
Pengguna : Kostrad

SPR-1
SPR alias Senjata Penembak Runduk buatan PT. Pindad Indonesia ini sudah menjadi standar TNI. Secara keseluruhan, semua persyaratan sudah dimiliki. Mulai dari laras yang panjang, teleskop dan bipod yang ampuh membidik target dengan jaminan akurasi dan stabilitas tinggi. Hanya sayang, body masih menggunakan kayu.


Nama : SPR-1
Kaliber : 7,62 x 51 mm
Laras : 650 mm
Berat : 6,82 kg
Sistem : Bolt Action
Alat bidik : teleskop
Pengguna : TNI


SIG SHR 970
Baik varian STR maupun SHR 970, sama-sama dikembangkan dari SHR (Swiss Hunting Rifle) oleh pabrik SIGarms, Swiss. SHR merupakan lightweight Tacicla Rifle, sementara STR Long Range Rifle. Kelebihan SIG 970 adalah kemudahan mengganti laras dan Kaliber. SIG SHR 970 Tactical Rifle Kaliber 7,62mm x 51 mm


Nama : SIG LTR 970
Kaliber : 7,62mm NATO (.308 WIN) atau 300 Win Magnum
Sistem : Bolt Action, rotating bolt
Laras : 690 mm
Berat : 4,43 kg kosong tanpa scope
Panjang : 1.143 mm
Pengguna : Den Bravo 90


HECATE II
Tak Banyak satuan TNI memiliki sniper berat sekelas FNH/PGM Ultima Ratio Hacate II. Mengusung kaliber 12,7 mm dan bobot yang berat, pastilah akurasinya bagus. Mungkin karena spesialisasi teror pesawat terbang, bravo 90 memilih Hacate II yang pelurunya anti material.


Kaliber : 50 BMG (12,7 x 99m)
Sistem : Bolt Action
Laras : 700 mm
Berat : 13,8 Kg
Panjang : 1.380 mm
Magasen : 7 Peluru
Pengguna : Den Bravo 90


SIG SAUER SSG 3000
SSG 300 dibuat oleh SIG Arms, Swiss dan J.P Sauer Jerman. SSG 3000 dikembangkan dari senapan target sauer200STR. Masih menganut sistem Bolt Action, hanya saja anak pelurunya sudah pake rumah alias magasin.

Nama : SIG Sauer SSG 3000
Kaliber : 7,62 x 51 mm
Panjang : 1.180 mm
Laras : 610 mm
Weight : 6,2 kg
Magasin : 5
Pengguna : Den Bravo 90, marinir

BRNO CZ550
Jujur saja, sniper satu ini masih berteknologi lawas. Senjata ini berasal dari Republik Chechnya dan pernah terihat di Markas Kepala Negara , Paspamres. Cz550 merupakan versi modern dari modal 70 dan mauser 98

Nama : Brno cz 550
Kaliber : 7,62 mm
Sistem : bolt Action
Pengguna : Paspamres
 

ARMALITE AR-10
Detasmen 88 Antiteror Polda Metro Jaya di dapati menggunakan AR-10 bukannya M-24 seperti yang disebut-sebut selama ini. Belum ada prestasi yang bisa disebut. Berhubung masih baru. Tim memasangkan dengan tropong bushnell.

Nama : AR-10
Kaliber : .308 / 7,62 mm (.243 win)
Laras : 610 mm
Berat : 4,72 kg
Sistem : Gas operated, Rotating bolt, semi-auto
Akurasi : 1” groups at 100 yard (93m) dengan ketepatan (1moa)
Pengguna : Den 88 AT Polri


STEYR SSG-69
Steyr Mannilicher MOD SSG-69 bolt Action kaliber 7,62 x 51mm diproduksi oleh steyr Daimter puch, swis, sudah menjadi sniper standar AD Austria


Nama : SSG 69
Kaliber : 7,62 x 51 mm
Laras : 650 mm
Berat : 6,82 kg
Sistem : bolt Action
Alat bidk : teleskop
Pengguna : Yonif Linud 328

SIG SG 550
Dibuat oleh SAN Swiss ARMS (sekarang anggota dari grup SIGARMS). Sniper SG 550 sangat cocok untuk penembakan jarak menengah dan digunakan oleh polisi antiteror. Karena sangat mudah di operasikan dan mempunyai akurasi yang baik.

Nama : SG-550
Kaliber : 5.58 mm Nato (.223 Rem)
Sisitem : Gas, semi-auto
Laras : 650 mm
Berat : 7,02 kg
Panjang : 1.130 mm
Magasin : 5,20,30
Pengguna : Marinir