Tampilkan postingan dengan label Marinir RI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Marinir RI. Tampilkan semua postingan

Pasukan TNI AL Bantu Korban Erupsi Kelud

Guna membantu korban bencana erupsi Gunung Kelud di wilayah Kabupaten Kediri, Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Pangarmatim) Laksamana Muda TNI Agung Pramono memberangkatkan pasukan yang tergabung dalam Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Bencana Alam TNI AL, dari Bhumi Marinir, Karang Pilang, Surabaya. 

Pangarmatin berangkatkan pasukan bantu korban korupssi (Foto kiriman Dispenarmatim)

Dengan membawa makanan dan obat-obatan, bantuan yang diberangkatkan pada Jumat 14 Februari 2014 ini merupakan tahap awal pengiriman kepada masyarakat korban bencana di Kediri.


Adapun matrial yang dibawa oleh satgas TNI AL terdiri dari Satu Satuan Setingkat Kompi (SSK) Marinir, 10 truk angkut pasukan, 5 truk bahan kontak berupa makanan, air mineral, obat-obatan, dan masker.


Satgas TNI AL penaggulangan korban erupsi Kelud (Foto kiriman Dispenarmatim)

Saat konferensi pers, Agung mengatakan Satgas Penanggulangan Bencana dari TNI AL ini akan mendirikan posko di wilayah Kecamatan Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

"Selain mendirikan Posko, Satgas TNI AL juga mendirikan rumah sakit lapangan serta dapur umum," kata Agung.

"Sedangkan untuk rumah sakit lapangan akan didukung 10 dokter dan para medis," lanjutnya.

Agung juga menambahkan, Sabtu (15/2/2014) ini pasukan TNI AL akan bersinergi dengan jajaran terotorial dan pemerintah daerah bencana dengan memberangkatkan pasukan berikutnya ke wilayah Kabupaten Blitar. (Liputan6)

Satu Batalyon Prajurit Marinir Siaga Bencana

Satu satuan setingkat batalyon (SSY) Prajurit Korps Marinir TNI AL telah disiapkan untuk mendukung langkah-langkah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam siaga bencana.

Satu Batalyon Prajurit Marinir Siaga Bencana

Kesiapan itu ditunjukkan dalam gelar kesiapan pengamanan BNPB yang dipimpin Komandan Komando Garnisun Tetap III Surabaya (Kogartap III Surabaya) Mayjen TNI Ediwan Prabowo di lapangan Apel Kodam V Brawijaya, Surabaya, Kamis.

Prajurit Korps Marinir tersebut berasal dari Pasmar-1 yang dipimpin Mayor Mar Yulindo SE. Mereka tergabung dalam tiga SSY TNI AL dan akan selalu berkoordinasi dengan jajaran TNI AD, TNI AU, Polda Jatim, Basarnas serta elemen masyarakat lainnya.


Dalam gelar kesiapan yang dihadiri Komandan Komando Pengembangan dan Pendidikan TNI AL (Kobangdikal), Gubernur Akademi TNI AL, Kepala Staf Garnisun Tetap III Surabaya, Kepala Staf Koarmatim, Wadan Kobangdikal, dan pejabat teras TNI/Polri se-Jatim itu, Komandan Kogartap III Surabaya menyatakan Indonesia menyimpan potensi bencana alam yang cukup besar.

"Hal itu karena letak geografis Indonesia yang diapit oleh dua lempeng yaitu lempeng Erasia dan lempeng Indoaustralia serta wilayah yang dikelilingi oleh barisan gunung berapi yang termasuk dalam lingkaran api pasifik, sehingga Indonesia dikenal sebagai Ring of Fire," katanya.

Selain itu, Indonesia juga memiliki dua musim yaitu musim panas dan musim hujan, selain kekayaan alam yang luar biasa, berupa kekayaan energi yang besar dan kondisi alam yang subur, namun potensi bencana alam juga cukup besar, di antaranya potensi gempa tektonik dan bahaya tsunami, potensi bencana erupsi gunung berapi dan gempa vulkanik, bahaya banjir dan tanah longsor serta angin puting beliung.

"Dengan mengetahui potensi bahaya bencana alam di wilayah kita ini, maka TNI/Polri serta segenap elemen masyarakat dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana di daerah, baik tingkat provinsi maupun kabupaten dituntut untuk selalu siaga menghadapi bencana alam yang akan terjadi sehingga dapat mencegah terjadinya dan jatuhnya korban," katanya.

Apel gabungan TNI/Polri di wilayah Kogartap III Surabaya itu dilaksanakan secara bersamaan dengan gelar pasukan TNI dan Polri serta elemen masyarakat dalam rangka kesiapsiagaan menghadapi bencana alam di wilayah Jawa Timur pada tahun 2014 dengan tema "TNI/Polri Siap Membantu Rakyat dan Pemerintahan Daerah Dalam Menghadapi dan Mengatasi Bencana".

Dalam waktu yang sama, Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) A. Faridz Washington selaku Pembina Gabungan Jalasenastri Korps Marinir melakukan Tatap Muka dengan istri perwira Marinir Wilayah Timur (Marwiltim) di Balai Prajurit Pangkalan Korps Marinir (Lanmar) Surabaya.

Kegiatan yang juga diisi dengan ceramah Etika Pergaulan dari Prof Dr Neni Yulianita MS itu dihadiri Komandan Pasmar-1 Brigjen TNI (Mar) Siswoyo Hari Santoso, Ketua PG Jalasenastri Kormar Ny. Faridz Washington, Wakil Ketua PG Kormar Ny. Tommy Basari Natanegara, Ketua Korcab Pasmar-1 Ny. Siswoyo Hari Santoso, Ketua Korcab Pasmar-2 Ny. Denny Kurniadi, Kepala Staf Pasmar-1 Kolonel Marinir Bambang Suryo Aji, dan ratusan istri perwira di jajaran Marwiltim.

"Keberhasilan suami tidak terlepas dari bijaknya istri yang mendampingi, sehingga bila ingin suaminya berhasil harus menjadi istri yang bijak, penuh pengertian dan pemahaman terhadap karir suaminya, karena setiap tindakan dan perbuatan yang dilakukan istri prajurit akan berdampak terhadap kehidupan keluarga dan kedinasan suami," kata Dankormar. (Antara)

Batalyon Baru Marinir di Pulau Setokok, Batam

Korps Marinir dikenal sebagai salah satu Komando Utama TNI Angkatan Laut. Dalam struktur organisasi TNI AL, Korps Marinir sejajar dengan Kotama lain seperti Koarmatim, Koarmabar, Kolinlamil, Kobangdikal, Seskoal dan AAL.

Batalyon Baru Marinir di Pulau Setokok, Batam
 
Korps Marinir tentu sangat diandalkan dalam perannya menjaga kedaulatan Republik Indonesia. Dewasa ini, dalam menghadapi ancaman Korps Marinir berbenah dengan menambah kekuatan armadanya. Yang terbaru adalah penguatan dalam wujud batalyon baru Marinir di Pulau Setokok, Batam. Tidak jauh dari Singapura.

Laksamana TNI Agus Suhartono saat masih menjabat Panglima TNI pernah mengatakan, keputusan memilih Setokok sebagai pangkalan Marinir karena posisinya dekat dengan Selat Singapura, Selat Philips, dan Selat Malaka.


"Kita tidak ingin situasi damai di Selat Singapura dan Selat Malaka yang sudah kita lakukan dan tekan selama ini kembali berkembang seperti dulu, atau yang lebih buruk lagi," ucapnya.

Oleh karena itu, katanya, TNI perlu melakukan penambahan kekuatan untuk lebih mendekatkan pasukan pada daerah-daerah yang rawan. Panglima berharap dengan pendirian Batalyon Marinir di Batam akan memberi reaksi yang lebih cepat, lebih responsif terhadap ancaman stabilitas keamanan di perbatasan.

1. Pembangunan atas perintah Presiden SBY

Pada hari jadi ke-67, Korps Marinir TNI-AL mendapat kado istimewa dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Presiden memerintahkan KSAL agar membangun satu batalyon infanteri-10 Marinir di Pulau Setokok, Batam. Batalyon tersebut untuk memperkuat korps marinir dalam menjaga kedaulatan NKRI khususnya wilayah laut. Pada kesempatan tersebut, korps marinir juga show a force akan armada tempur yang dimilikinya.

"Kepercayaan yang telah diberikan oleh pemimpin negara ini kepada kalian. Salah satu contoh wujud kepercayaan tersebut adalah adanya perintah langsung Presiden RI untuk menambah dan membangun satu batalyon infanteri-10 Marinir di Pulau Setoko Batam," ungkap KSAL Laksamana TNI Soeparno di lapangan upacara Brigif-2 Marinir, Kesatrian Hartono, Cilandak, Jakarta, Kamis, (22/11/12) dikutip situs Korps Marinir.

Peringatan HUT ke-67 Korps Marinir TNI-AL tahun 2012 yang bertemakan 'Dengan Semangat Pengabdian Tanpa Batas Kita Tingkatkan Profesionalisme Prajurit yang Kaya Kompetensi Serta Berkarakter Sebagai Prajurit Petarung yang Religius dan Humanis' mempertontonkan unjuk kekuatan akan armada tempur yang dimilikinya.

2. Peletakan batu pertama oleh KSAL

Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Dr Marsetio melakukan peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya Pembangunan Yonif- 10 Marinir di Pulau Setokok, Batam Kepulauan Riau, Rabu (05/6/2013).

Kasal mengatakan peletakan batu pertama Yonif-10 Marinir ini merupakan bentuk perealisasian Rencana Strategis (Renstra) TNI AL untuk Sistem Senjata Terpadu (SSAT) guna mewujudkan TNI AL yang handal dan disegani berkelas dunia.

Kasal juga menegaskan pembangunan kekuatan Marinir di wilayah ini merupakan jawaban bahwa Korps Marinir siap hadir di setiap tempat di seluruh wilayah nusantara, guna menciptakan dan menjaga stabilitas nasional demi keutuhan NKRI.

Hadir dalam acara peletakan batu pertama tersebut Asrenum Panglima TNI Laksdya TNI Among Pratomo, Komandan Korps Marinir Mayor Jenderal TNI (Mar) A Faridz Washington, dan para Pangkotama TNI AL.

Kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Prasasti Yonif-10 Marinir, penyampaian tali asih dari Kasal kepada Prajurit Marinir yang bertugas dalam pembangunan Yonif-10 Marinir. Kegiatan juga dimeriahkan tarian daerah sekapur sirihsebagai tanda sambutan yang positif masyarakat Setokok terhadap pembangunan Yonif-10 Marinir dan demo ketrampilan prajurit Marinir terjun payung.

3. Perkembangan proyek dipantau Menhan

Menteri Pertahanan Republik Indonesia (Menhan RI) Purnomo Yusgiantoro meninjau pembangunan Batalyon Infanteri-10 Marinir di Pulau Setokok, Batam, Jumat (20/12/2013).

Dalam kunjungan tersebut Menhan RI yang didampingi oleh Kasal Laksamana TNI Dr Marsetio, Kabaranahan Kemhan Laksda TNI Rahmat Lubis, Karo TU Kemhan Brigjen TNI Bambang Hartawan, dan sejumlah pejabat TNI AL dan Kemhan, disambut oleh Komandan Korps Marinir Mayjen TNI (Mar) A Faridz Washington. Kunjungan tersebut untuk melihat langsung perkembangan proyek pembangunan Yonif-10 Marinir yang sampai saat ini sedang berlangsung.

Sebelum kunjungan tersebut, Menhan RI Purnomo Yusgiantoro meresmikan tiga kapal perang dalam sebuah upacara militer yang dipimpin Komandan Upacara Danyonmarhanlan IV Tanjungpinang Mayor Marinir Arief RH Anggorojati di Pelabuhan Batu Ampar, Batam, Kepulauan Riau.

Ketiga kapal perang buatan putra-putri Indonesia yang diproduksi PT Palindo Marine Shipyard Batam tersebut adalah Kapal Republik Indonesia (KRI) Alamang 644 merupakan Kapal Cepat Rudal (KCR), Kapal Angkatan Laut (KAL) Bireun II-1-63 dan KAL Kumai I-6-58, yang memiliki spesifikasi teknologi tinggi disiapkan untuk penambahan alusista TNI AL dalam mengamankan NKRI.

4. Prajurit dari Surabaya

Komandan Pasmar-1 memberikan pengarahan kepada prajurit Pasmar-1 yang akan mengisi Yonif-10 Mar Setokok Kepulauan Riau di Indoor Sport Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Senin (03/02/2014).

Kegiatan tersebut juga diikuti prajurit Pasmar-1 yang akan melaksanakan penugasan (BKO) di Pangkalan Brandan, Satgas Expedisi Koridor Maluku dan Satgas Encap Latma Multilateral Komodo Naval Exercise 2014.

Pada pengarahan tersebut juga dihadiri kepala Staf Pasmar-1 Kolonel Marinir Bambang Suryo Aji, Danmenkav-1 Mar Kolonel Marinir Sarjito, Danmenart-1 Mar Kolonel Marinir M. Nadir, para Asisten Pasmar-1 dan para Dansatlak Pasmar-1, serta para pejabat teras dijajaran Pasmar-1.

Dalam arahannya, Komandan Pasmar-1 menyampaikan agar para prajurit benar-benar siap, baik secara fisik, mental maupun spiritual. Karena tugas yang akan dilaksanakan merupakan tugas mulia demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Dalam kesempatan tersebut Komandan Pasmar-1 menekankan kepada seluruh prajurit yang akan melaksanakan penugasan agar selalu melaksanakan koordinasi dengan instansi terkait demi kelancaran pelaksanaan penugasan serta menjaga nama baik korps. (Merdeka)

Mengapa Kapal Perang TNI Usman Harun Bikin Singapura Meradang?

Sebagai dua negara bertetangga dekat, Indonesia dan Singapura terkadang berselisih paham. Setelah sekian lama adem-ayem, perselisihan itu kembali muncul, namun dengan dimensi yang baru.

Mengapa Kapal Perang TNI Usman Harun Bikin Singapura Meradang?
Pahlawan Nasional Usman - Harun

Kali ini perselisihan terkait dengan penamaan sebuah kapal perang Indonesia, yang dibenturkan dengan sentimen historis di Singapura. Gara-gara itu, hubungan militer dan diplomatik kedua negara kini terlihat canggung dan bisa berlanjut kepada ketegangan di sektor-sektor lain bila tidak segera ditangani secara memuaskan.

Di Indonesia, Usman bin H Ali Hasan dan Harun bin Said Harum adalah pahlawan semasa konfrontasi dengan Malaysia/Singapura dekade 1960an. Sebagai bentuk penghormatan, nama depan masing-masing tentara itu diabadikan jadi nama sebuah kapal perang milik TNI Angkatan Laut, yang baru dibeli dari Inggris.


Tapi langkah TNI itu membuat gusar Singapura. Pemerintahnya terang-terangan menyatakan keberatan atas nama kapal baru TNI AL itu, karena membuat mereka kembali teringat kepada peristiwa pahit.

Bagi Singapura, Usman dan Harun adalah dua nama yang bertanggungjawab meledakkan sebuah bangunan di kawasan sipil semasa mereka konflik dengan militer Indonesia hampir 50 tahun yang lalu.  

Usman dan Harun merupakan pelaku tindak pengeboman yang terjadi tahun 1965 di Macdonald House di Orchard Road. Mereka ditangkap dan dieksekusi mati. Bagi Singapura, kedua orang itu tak lebih dari teroris.

Itulah sebabnya, pemerintah Singapura menyampaikan keberatan resmi dan meminta TNI mengganti nama kapal baru jenis fregat itu. Keberatan Singapura langsung disampaikan Kementerian Luar Negeri Singapura kepada Menteri Luar Negeri Indonesia Marty Natalegawa.

Pemerintah Singapura menganggap rencana tersebut akan berpengaruh terhadap warga mereka, khususnya keluarga korban. "Dua tentara marinir Indonesia saat itu dinyatakan bersalah karena telah melakukan aksi pengeboman dan menewaskan tiga orang serta melukai 33 orang lainnya," ungkap jubir Kemlu Singapura.

Pemerintah Singapura mengeksekusi Usman dan Harun tahun 1968 dan membuat hubungan kedua negara tegang. Sebanyak 400 pelajar Indonesia berusaha memaksa masuk ke dalam Kedutaan Besar Singapura di Jakarta. Kediaman Konsulat Jenderal Singapura di Indonesia pun turut diserang massa. Para demonstran ikut membakar bendera nasional Singapura.

Tapi Indonesia bergeming. Pemilihan nama itu sudah melewati diskusi yang panjang dan disahkan pada 12 Desember 2012. Bagi Indonesia, Usman-Harun adalah pejuang yang mengharumkan nama bangsa.

"Saya tidak terima kalau Usman-Harun dinyatakan sebagai teroris. Dia adalah aktor negara, bukan aktor nonstate, mereka adalah marinir," tegas Panglima TNI Jenderal Moeldoko.

Moeldoko juga menjelaskan, kerjasama militer Indonesia-Singapura belum berubah paska protes penamaan KRI itu. TNI juga tetap melakukan pengamanan di Selat Malaka.

"Prinsipnya Panglima TNI akan bekerja sama dengan siapapun dengan baik, tetapi kalau sudah berkaitan dgn kedaulatan negara no way. Kita punya sikap yang jelas dan tegas," kata dia.

Mantan koresponden pertahanan media Singapura, Straits Times, bernama David Boey menyarankan agar kapal fregat milik Indonesia, KRI Usman Harun tidak diizinkan melintas di perairan Singapura.

Menanggapi dorongan itu, Moeldoko tak ambil pusing karena itu urusan dalam negeri Singapura. Namun, kata dia, Singapura tak bisa melarang KRI Usman Harun melintasi perairan internasional, termasuk Selat Malaka.

Sejauh ini, reaksi keras Singapura adalah batal mengundang sejumlah petinggi militer RI ke acara pameran dirgantara terbesar di Asia, Air Force Show 2014. Meski, tim akrobatik udara yang diberi sandi 'Jupiter' diizinkan untuk berlaga di arena itu pada 11 Februari mendatang. 

Menteri Pertahanan RI Purnomo Yusgiantoro mengatakan, Pemerintah Indonesia tidak sakit hati atas sikap Singapura itu. "Mereka membatalkan undangan, ya kita tidak pergi sama sekali. Sesederhana itu," tegas Purnomo. Menhan mengaku tak tahu alasan pasti Singapura membatalkan undangan mereka.

Beberapa petinggi militer RI yang semula dijadwalkan hadir antara lain Wakil Menteri Pertahanan, Letnan Jenderal (Purn) Sjafri Sjamsoedin, Panglima TNI, Jenderal Moeldoko, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Jenderal Budiman dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Ida Bagus Putu Dunia. Selain itu, juga ada 100 undangan untuk delegasi militer asal RI.

Diberitakan sebelumnya, Indonesia membeli tiga kapal tempur jenis Multi Role Light Frigate dari Inggris. Kepala Badan Perencanaan Pertahanan Mayor Jenderal Ediwan Prabowo mengungkapkan, kementerian menganggarkan dana sebesar US$385 juta untuk pembelian kapal tersebut.

Misi Rahasia Usman dan Harun tahun 1965

Usman bin H Ali Hasan dan Harun bin Said bukan orang sembarangan. Keduanya adalah anggota Korps Komando Operasi (kini disebut Marinir) berpangkat sersan dua dan kopral. Di tahun 1965, mereka mendapat misi rahasia:  menyusup ke Singapura dan meledakkan bom di jantung negeri itu. Saat itu, Indonesia tengah terlibat konfrontasi dengan Malaysia, dan Singapura masih menjadi bagian negeri jiran.

Usman, kelahiran Dukuh Tawangsari, Desa Jatisaba, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, masih berumur 22 tahun, saat aksi heroiknya meledakkan bom di kandang musuh terjadi. Bahkan Harun yang lahir di Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur baru menginjak usia 18 tahun ketika itu.

Harun baru tiga bulan menjadi anggota KKO ketika Presiden RI pertama Soekarno menggelorakan Dwi Komando Rakyat (Dwikora) pada 3 Mei 1964. Dwikora digaungkan menyusul pemutusan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Malaysia pada 17 September 1963 setelah sehari sebelumnya Inggris membentuk negara federasi Malaysia yang terdiri dari Persekutuan Tanah Melayu, Singapura, Serawak, Brunei, dan Sabah. Soekarno menganggap ini sebagai bentuk neokolonialisme dan dikhawatirkan mengganggu jalannya revolusi Indonesia.

Bersama Usman dan Gani bin Arup, 10 Maret 1965, Harun menyusup ke jantung Singapura yang hanya terpisah Selat Malaka. Mereka berhasil menembus pertahanan negeri itu. Target mereka adalah MacDonald House di Jalan Orchad Road. Gedung berlantai 10 ini merupakan kantor Hongkong and Shanghai Bank. Saat itu, hujan turun sangat deras dengan petir yang sambar menyambar. Mereka lalu meletakkan bom di dekat lift.

Tujuh menit setelah layanan bank tutup, tepatnya pukul 15.07 waktu setempat, bom meledak. Ledakan bom merobek pintu lift dan menghancurkan salah satu dinding di gedung itu. Reruntuhan tembok menimpa 150 karyawan bank yang sedang menyelesaikan tugasnya. Meja, kursi dan mesin ketik terpental hingga ke jalan.

Harian Singapura, The Strait Times melaporkan, tiga orang meninggal dunia dan 33 lainnya terluka. Puluhan mobil rusak berat. Kaca-kaca jendela gedung sepanjang Orchad Road dengan radius 100 meter hancur. Sebagian karyawan yang selamat awalnya menduga suara ledakan dan kilatan yang menyilaukan mata itu berasal dari petir yang menghujam gedung.

Usman dan Harun berhasil melarikan diri. Negeri Singa pun gempar.  Pasukan khusus kemudian disebar untuk mencari otak peledakan. Pasukan khusus Australia ikut membantu.

Usman dan Harun akhirnya tertangkap saat boat yang mereka tumpangi kehabisan bahan bakar. Pengadilan Singapura yang menyidangkan kasus ini kemudian menjatuhkan hukuman mati untuk keduanya. Hukuman itu dilaksanakan tiga tahun setelah peristiwa peledakan bom di  penjara Changi pada 17 Oktober 1968.

Harun baru berusia 21 tahun saat tali yang menjulur dari tiang gantungan melingkar di lehernya, dan Usman berumur 25 tahun. Sebelum eksekusi dilaksanakan, permintaan mereka: dimandikan di tanah air dengan air Indonesia. Untuk menghormati jasa-jasa mereka, Harun dan Usman dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.


Jangan kembali ke masa lalu
Hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura menjadi tegang karena RI bersikukuh menamai salah satu kapal barunya dengan nama Usman dan Harun (KRI Usman-Harun). Kedua pahlawan nasional RI itu adalah pengebom MacDonald House di Orchard Road, Singapura, tahun 1965, pada periode konfrontasi Indonesia-Malaysia.

Staf Khusus Presiden RI, Teuku Faizasyah menegaskan, masalah Usman-Harun cukup menjadi sejarah masa lalu sehingga tidak perlu mengganggu hubungan bilateral antara Indonesia dan Singapura. Apalagi, mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew pernah melakukan tabur bunga ke pusara Usman dan Harun di Taman Pemakaman Pahlawan Kalibata, Jakarta.

“Kalau kita rujuk dengan apa yang terjadi selama ini, yakni tabur bunga oleh PM Lee Kuan Yew, sudah ada penyelesaian atas masalah yang terjadi di masa lalu,” kata Faizasyah. Dia menilai, langkah Singapura yang melancarkan protes keras itu bentuk perluasan masalah.

Presiden SBY, kata dia, telah menugaskan Menkopolhukam untuk ‘mengelola’ isu ini. "Yang jelas tidak ada niat Indonesia mengubah nama KRI Usman-Harun,” ujar Faizasyah.

Faizasyah berpandangan, Singapura perlu menimbang prospek ke depan dari kondisi yang tidak menguntungkan ini terkait hubungan bilateral maupun kerjasama ASEAN. “Janganlah hal-hal seperti ini seperti melihat kembali ke masa lalu – yang persoalannya sebenarnya sudah selesai,” kata dia. (VivaNews)

Marinir TNI AL Cari Lima Nelayan Merauke

KENDATI dihadang ombak tinggi dan badai kencang, tim SAR TNI Angkatan Laut terdiri dari delapan orang personel Batalyon Marinir Pertahanan Pangkalan Xl (Yonmarhanlan Xl) Merauke ditambah dengan tiga orang warga setempat hingga, Senin (11/2), masih terus melakukan pencarian terhadap lima nelayan yang hilang di perairan Torasi, Merauke, Papua.

Marinir TNI AL Cari Lima Nelayan Merauke

Komandan Yonmarhanlan XI Merauke, Mayor Marinir Azrin ketika dihubungi via telepon masih berada di laut untuk memimpin langsung jalannya pencariaan kapal nelayan Merauke yang dikabarkan telah dibakar oleh tentara Papua Nugini (PNG), pada Kamis lalu.

Torasi letaknya paling ujung tenggara, tepatnya paling pojok bawah Pulau Irian. “Tidak ada penghuni, hanya Marinir yang bertugas sebagai penjaga perbatasan saja di sana,” kata Mayor Marinir Azrin seperti dilansir dalam siaran pers Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal).


Berdasarkan pengakuan Antonius Basik seperti ditirukan Mayor Azrin, kala itu dirinya beserta sembilan nelayan Merauke lainnya melihat tiga kapal cepat seperti kandas di laut. Antonius bersama sembilan orang temannya bermaksud mendekat dan menolong ketiga speed tersebut. Ketika sudah mendekat, terlihat beberapa tentara menggunakan pakaian lengkap dengan senjatanya, menghampiri perahu mereka dan menyuruh seluruh penumpang di dalam perahu turun di atas Reef (daratan pasir di tengah laut).

Kemudian tentara PNG merampas sejumlah uang, satu dus rokok, dan dua jerigen bensin. Setelah itu tentara PNG membakar perahu nelayan asal Merauke. Para nelayan berusaha memadamkan api tapi tidak berhasil. Tentara PNG pun pergi meninggalkan mereka begitu saja.

Merasa nyawanya terancam, para nelayan Merauke memutuskan untuk menyelamatkan diri dengan berenang sampai ke Pos Pengamanan Perbatasan RI-PNG di wilayah Torasi. Lima nelayan berhasil selamat sampai di pos tersebut, sementara lima nelayan lainnya hingga saat ini belum bisa diketahui nasibnya.

Adapun nelayan yang selamat adalah Antonius Basik, Yakobus Mahuze, Andi Mahuze, Silvester Basik, dan Maya Gabze. Sementara lima nelayan yang belum diketahui nasibnya, yakni Alex Tjoa, Ferdi Tjoa, Roby Rahel, Jhon Kaize, dan Vikar.

Dalam upaya pencarian korban, para prajurit Korps Marinir TNI Angkatan Laut yang dipersenjatai secara lengkap, dipimpin oleh Mayor Marinir Azrin telah menurunkan satu Sea Rider serta didukung oleh unsur angkatan laut lainnya, yaitu KRI Abdul Halim Perdanakusuma-355, menyusul dua perahu karet yang sudah dikerahkan beberapa hari sebelumnya. (Jurnas)

Sekilas Kehebatan Tank Amfibi BMP-35 Asal Rusia

Korps Marinir Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut pada hari ini, Senin, 27 Januari 2014, menerima 37 unit tank amfibi jenis BMP-35 (Boyevaya Mashina Pyekhota) dari Kementerian Pertahanan. Upacara penyerahan di Pusat Latihan Pertempuran Korps Marinir, Desa Karangtekok, Kecamatan Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu dipimpin oleh Menteri Pertahanan Purnomo Yusgiantoro. Upacara penyerahan juga dihadiri oleh Panglima TNI Jenderal Moeldoko dan Duta Besar Rusia untuk Indonesia Mikhail Haluzin.

Sekilas Kehebatan Tank Amfibi BMP-35 Asal Rusia

"Kini Korps Marinir telah memiliki 54 tank modern produksi Rusia. Sebelumnya, pada 11 Desember 2010, Korps Marinir menerima 17 unit tank jenis sama dari Menteri Pertahanan," kata Kepala Dinas Penerangan Angkatan Laut Untung Suropati.


Penyerahan tank amfibi itu merupakan realisasi kontrak jual-beli antara Kementerian Pertahanan dengan perusahaan Rusia, Rosoboonexport. Kerja sama itu juga mencakup pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan tank. Pada Juni 2013 lalu, enam prajurit dari Resimen Kavaleri mengikuti pelatihan di Pusat Pelatihan Pabrik Kendaraan Tempur Kurganmashzavod di Kurgan, Rusia.

Tank amfibi BMP-3F adalah kendaraan tempur lapis baja yang mampu bermanuver di air dan darat. Ia punya kemampuan paling unggul di kelas peralatan tempur amfibi saat ini. Tank produksi Rusia itu dirancang untuk menghadapi pertempuran dengan senjata utama meriam canon kaliber 100 milimeter yang mampu menembak sampai jarak 4 kilometer. Dengan berat 18 ton, panjang 7,14 meter, lebar 3,16 meter, dan tinggi 3,57 meter, tank ini mampu membawa tujuh pasukan dan tiga kru. Sistem persenjataan tank ini memadukan artileri, rudal, dan roket dengan kontrol otomatis, sehingga tembakan tetap akurat meski saat berenang.


Spesifikasi BMP-3F
Jenis : Infantry fighting vehicle
Pabrik : Kurganmashzavod
Berat : 18,7 ton
Tinggi : 2,4 meter
Lebar : 3 meter
Panjang : 7,14 meter
Mesin : UTD-29M diesel
500 hp (375 kW)
Senjata : 100 mm gun/launcher 2A70
30 mm autocannon 2A72
3 x 7,62 mm machine gun
Suspensi : torsion bar
Kru : 3
Pasukan : 7


 (Tempo)

37 Unit Tank BMP-3F Rusia Kembali Perkuat Alutsista TNI AL

Sebanyak 37 unit kendaraan tempur amfibi Tank BMP-3F buatan Rusia kembali memperkuat Alutsista TNI AL. Puluhan kendaraan lapis baja itu masuk jajaran Resimen Kavaleri Marinir, setelah diserahkan secara remi oleh Menteri Pertahanan (Menhan) RI Prof. Dr. Ir. Purnomo Yusgiantoro kepada jajaran Korps Marinir di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Marinir, Asembagus, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, Minggu (27/01). Hadir dalam acara serah terima Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, Kasal Laksamana TNI Dr. Marsetio, Pangarmatim Laksamana Muda TNI Agung Pramono, S.H., M.Hum, Dankorrmar Mayjend TNI (Mar) Faridz Washington, Duta Besar RI untuk Rusia Djauhari, Duta Besar Rusia untuk RI Mikhail Galuzin serta rombongan dari Komisi-1 DPR RI, pejabat teras Mabes TNI dan Kemhan.


Dalam acara serah terima dilaksanakan penandatanganan naskah penyerahan 37 unit BMP-3F dari pihak Rusia ke Dephan kemudian ke Mabes TNI dan terakhir ke pihak TNI AL. Dalam konferensi pers dengan media, Menhan didampingi Panglima TNI, Kasal, Dankormar serta anggota Komisi-1 DPR RI Mahfudz Sidiq.


Pada kesempatan itu Menhan mengatakan, selain kerjasama pembelian BMP-3F juga dilakukan transfer teknologi antara RI dan Rusia. Dalam hal ini untuk sistem dan senjata BMP-3F akan diproduksi di PT. Pindad. Menhan juga mengatakan Indonesia saat ini sedang menjajaki kerja sama untuk pembelian kapal selam Kelas Kilo. Jajaran Kemhan mengajukan spesifikasi untuk Alutsista tersebut diantaranya yaitu minimal Kapal selam tersebut mampu menembakkan misil  pada saat menyelam. Selain itu spesifikasi lain yang menjadi perioritas yakni jangkauan misil dari kapal selam tersebut minimal 200 sampai 300 kilo meter.



Mengutip dari konferensi pers tersebut Panglima TNI mengatakan akan meng-upgrade Panser Amfibi AMX-13 yang ada di jajaran Korps Marinir. Selain itu secara bertahap AMX-13 akan diganti dengan Alutsista yang baru. Selanjutnya Kasal juga menambahkan bahwa Panser Amfibi PT-76 akan diremajakan dengan Alutsista baru pada Rencana Setrategis dua periode tahun 2015 sampai dengan 2019.  Saat ini menurut Kasal, ada sebanyak 70 unit Tank PT-76 masih memperkuat jajaran Korps Marinir. Pada tahap awal sebagai pengganti PT-76 akan didatangkan sebanyak 55 unit Tank BTR-4. Dengan demikian Korps Marinir akan memilki satu Batalyon Ranpur BTR-4. “Pada Renstra dua dan tiga akan ditambah lagi satu Batalyon BTR-4”, kata Kasal.

Dalam klausal kesepakatan kontrak di antaranya tertulis bahwa selama proses pembuatan Tank Amfibi BMP–3F dapat diawasi oleh empat personil Tim Techrep (tim pengawasan produksi) dari Korps Marinir. Selain itu Korps Marinir juga mengirimkan enam prajuritnya dari Resimen Kavaleri untuk dapat mengikuti pelatihan pengoperasian dan pemeliharaan tank terebut.

 


Pelaksanaan pelatihan dilaksanakan selama lima bulan di Pusat Pelatihan Pabrik Kendaraan Tempur Kurganmashzavod, Kurgan, Rusia. Para prajurit Korps Marinir tiba pada pertengahan bulan Juni 2013 lalu dan selesai melaksanakan pelatihan pada bulan November 2013. Semua materi pelajaran diajarkan oleh para instruktur yang memiliki pengalaman yang cukup tinggi dalam hal perkembangan dan teknologi kendaran tempur Rusia. Materi pelajaran yang diterimakan dalam bentuk teori di kelas, praktek lapangan di pabrik, serta praktek uji coba senjata, mengemudi di darat, laut, serta praktek melaksanakan evakuasi tank di Ground Test Facility yang berjarak sekitar 30 km di luar kota Kurgan, Rusia.

Materi pelajaran yang diterima, antara lain, pengetahuan tentang pengoperasian tata tembak senjata dan  pemeliharaan persenjataan canggih yang ada di tank. Pengetahuan tentang pengoperasian dan pemeliharaan sistem komunikasi. pengetahuan tentang pemeliharaan dan perbaikan sistem kelistrikan. pengetahuan tentang pemeliharaan dan perawatan mesin, serta sistem penggerak dan suspensi hidrolis tank.   pengetahuan tentang pengawakan dan mengoperasikan kendaraan tempur BREM-L sebagai kendaraan recovery dan kendaraan pendukung (supporting vehicle) untuk Tank Amfibi BMP-3F, yang memiliki peralatan mulai dari crane kapasitas 11 Ton, peralatan las aluminium, potong plat, dan peralatan perbengkelan lainnya guna mendukung perbaikan dan pemeliharaan Tank Amfibi BMP-3F, sampai dengan bongkar pasang mesin, transmisi, dan senjata utama (100 mm beserta turret-nya).

BMP, dalam bahasa Rusia Boyevaya Mashina Pyekhota, Sebelumnya TNI AL sudah memperoleh Tank BMP-3F pada tahun 2010 sebanyak 17 unit, jadi total semuanya sebanyak 54 unit. BMP-3F akan menjadi kekuatan utama marinir sebagai bagian dari komponen Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL. Kontrak pembeliannya 37 unit BMP-3F resmi ditandatangi oleh Kepala Badan Sarana Pertahanan (Kabaranahan) Kemhan Mayjen TNI Ediwan Prabowo bersama Kepala Perwakilan JSC Rosoboronexport (Rusia), Jumat, 11Mei 2012, di Kantor Kementrian pertahanan (Kemhan) RI. Selain kontrak pembelian dilakukan juga penandatanganan kerjasama Transfers of Technology (ToT) yang memungkinkan kedepanya indonesia bisa memproduksi sendiri Tank BMP 3F.

Rencananya TNI AL, akan melengkapi BMP-3F menjadi satu batalion. Menhan merencanakan kebutuhan ranpur untuk AL sebanyak 95 unit terdiri dari 81 unit BMP-3F, 10 unit BMP-3FK (versi komando), dan 4 unit BREM-L (versi bengkel). Dengan kehadiran ranpur tersebut Indonesia memasuki masa baru kendaraan tempur invantri amfibi. Indonesia menandatangani kontrak dengan Rusia untuk pengadaan 37 unit kendaraan tempur amfibi untuk Marinir TNI AL senilai lebih dari $ 100 juta. Pengadaan 37 unit tank amfibi BMP-3F dari Rusia ini merupakan program pengadaan 2012.

 


BMP-3 dirancang berkemampuan amfibi penuh, melaju di permukaan air memakai sistem hidrojet, bukan sistem penggerak rantai roda seperti pada BMP-1 dan BMP-2. Kecepatan berenang maksimal 10 km/jam, daya tahan berenang selama 7 jam. BMP-3F, varian BMP-3 yang dirancang untuk pendaratan amfibi Marinir AL terdapat tambahan snorkel di atas badan belakang dan alat pemecah ombak di depan badan kendaraan. Mampu berenang pada level sea state 3, akurasi tembakan sambil berenang masih akurat pada sea state level 2. Sea state adalah indikator kondisi gelombang laut menurut Badan Meteorologi Dunia, level 2 berarti tinggi gelombang berkisar hingga setengah meter, level 3 berarti tinggi gelombang berkisar hingga 1,25 meter.  BMP-3F mempunyai kecepatan di medan berlumpur 45 km, 70 km di jalan raya, 10 km di air dan mampu berjalan mundur dengan kecepatan 20 km.

Kemampuan kendaraan tempur (ranpur) ini selain bisa beroperasi di darat, dia juga bisa memusnahkan musuh dari air. Oleh sebab itu, ranpur ini disebut sebagai tank amphibi yang tangguh. Ranpur BMP-3F mampu melaju dengan kecepatan 70 Km/jam di darat ini juga dilengkapi dengan sistem sirkulasi udara (NBC) yang berguna untuk menanggulangi peperangan Nuklir, Biologi dan Kimia (Nubika). BMP 3F merupakan salah satu ranpur infanteri bersenjata berat yang disegani di seluruh dunia. Dilengkapi dengan alat komunikasi R 173 dengan jarak jangkau maksimum 12 km. Sementara Jika keluar malam, tank ini memiliki sinar inframerah dan teropong bidik sasaran. Sementara untuk sistem operasional persenjataan tank yang mampu menampung 10 orang personel yang terdiri dari 7 orang pasukan dan 3 orang awak ini menggunakan sistem manual dan elektrik.

Untuk pengerahan cepat, unit BMP-3 mudah diangkut dengan pesawat angkut taktis C-130 Hercules atau Antonov An-12. Pesawat kargo jumbo An-124 Ruslan mampu memuat 4 unit. Bahkan helikopter angkut berat Mi-26 bisa mendrop BMP-3 menggunakan platform parasut khusus. Fleksibilitas, ketangguhan di segala medan, kekuatan pemukulnya BMP-3 menjadikan senjata utama sebagai kendaraan tempur infantri andalan dalam angkatan bersenjata di berbagai negara termasuk Indonesia. Tercatat ada 10 negara yang menggunakan BMP-3 yaitu Rusia, UEA, Venezuela, Kuwait, Korsel, Sri Lanka, Cyprus, Indonesia, Ukraina, Azerbaijan, dan Yunani. Bahkan yang mengejutkan, Korea Selatan yang dikenal pengasup setia teknologi militer dari Amerika Serikat, nyatanya juga memiliki 70 unit BMP-3F.

BMP–3F yang diproduksi oleh Rusia adalah kendaraan tempur lapis baja yang bisa dikatakan sempurna dari segi teknologi dan kebutuhan pertempuran masa kini (Pertempuran Asimetris). Awalnya angkatan bersenjata Rusia mulai menggunakan Ranpur jenis BMP sejak tahun 1980 dengan type BMP–2 (sekelas BVP-2 Slovakia, seperti yang dimiliki Marinir TNI AL), pada akhir dasa warsa 1980-an. Hasil uji coba dalam iklim yang berbeda, baik di darat maupun di laut menegaskan efisiensi dan efektifitas yang tinggi pada BMP–3 F.

BMP–3F memiliki beberapa fitur khusus antara lain Kontruksi (chasis) BMP–3F memungkinkan untuk dimodernisasi, mudah perawatannya dan minim pemeliharaan.  Dengan adanya beberapa penyempurnaan BMP–3F menjadi ranpur segala medan yang cukup berat, namun hal ini bisa diimbangi dengan manuver dan pertahanan diri yang lebih baik. BMP–3F mengaplikasi persenjataan baru (SKS Arteleri – Roket – Meriam) dengan sistem kontrol penembakan secara otomatis.

BMP-3F mampu menembak tepat dari segala jenis senjata saat bergerak karena BMP-3F sudah menggunkan skema balok pengontrol penembakan otomatis yang baru (pola stabilizer sistem baru). Kunstruksi persenjataan BMP–3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet) yakni Meriam, peluncur roket berkaliber 100mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan Mitraliur berkaliber 7,62 mm. Penggabungan ini memungkinkan awak ranpur dapat memilih dengan cepat keperluan penggunaan senjata dalam situasi tempur tergantung dari sasaran yang diinginkan baik darat, laut maupun udara.

Sistim pengontrol penembakan otomatis yang terdiri dari stabilisator senjata alat pembidik, kombinasi dengan stabilisasi pembidikan dalam 2 bidang : Azimut dan Elevasi (tinggi di atas permukaan laut) alat pengukur jarak/ lasser, alat pembidik komandan kendaraan, alat perhitungan lintasan tembakan, alat pengumpul data. Sistem pengontrol penembakan otomatis itu memberi kesempatan kepada satuan infantry melaksanakan tugas taktis yang mereka hadapi (KSIT), penggunaan senjata secara efisien dan memperlihatkan keunggulannya dibandingkan dengan system pengontrol penembakan yang tidak otomatis. Alat sistem pengontrol penembakan otomatis BMP–3F mampu mempertimbangkan berbagai data (diturunkannya atau dinaikannya alat pengontrol BMP-3F) untuk bidikan tepat, oleh karena itu penembakan dari segala jenis senjata akan selalu tepat.

Hasil penembakan yang tepat sama ketika BMP–3 digunakan di pegunungan atau menembaki sasaran udara seperti helikopter yang terbang hover/terbang diam. Untuk menembak dengan roket kendali atau peluru berkaliber 100 mm dan peluru berkaliber 30 mm hanya perlu ditekan satu kenop, fungsi pembidik tidak berubah sambil menembak dari segala jenis senjata, amunisi bagi meriam mesin berkaliber 30 mm dan mitaliur (kal 76,2mm) dimasukkan ke dalam "pitaban" peluru yang tidak putus-putusnya dan dapat digunakan lagi tanpa diisi kembali, peluru fragmentation/ asap dan brisan/pecah berkaliber 100 mm terletak di dalam otomat pengisian yang memungkinkan menembak 10 peluru/menit.

Jika dibandingkan dengan kendaraan berlapis baja, baik buatan Rusia maupun buatan negara Barat, maka  bisa dilihat kekhususan prinsipil yang utama BMP–3 F, yaitu bahwa seksi motor transmisi ditempatkan di bagian belakang badan BMP – 3 F dan di bagian depan badan BMP–3 F dipasang tiga mitraliur PKT dan PKTM serta ditempatkan seksi pasukan infantri pendarat karena itu efisiensi tembakan sepanjang arah gerakan BMP – 3 F jadi meningkat. Jika pasukan pendarat berada diluar BMP–3 F pengemudi sendiri mampu menembak dari mitraliur–mitraliur itu, persediaan amunisi untuk mitraliur berkaliber 7,62 mm berjumlah 6.000 peluru.

Berkat mitraliur itu kekuatan gempur BMP–3F meningkat, untuk dapat menghancurkan musuh yang berjarak dekat sedang. Data dari “Jane’s Soviet Intelligence Revier” menyatakan bahwa spesialis militer dari Negara-negara barat menilai tinggi kemampuan BMP–3F.

Sebagai perbandingan antara BMP–3 F dengan ranpur lain yakni Ranpur ini memungkinkan melaksanakan berbagai tugas yang dihadapi dan dapat digunakan sebagai bantuan tembak jarak jauh/ dekat dan sebagai Ranpur pengangkut personil berlapis baja penghancur Tank (Ranpur lain) dengan Roket. BMP–3 F dapat digunakan bersama Infanteri untuk meningkatkan kemampuan anti Tank dengan bantuan tembak jarak jauh atau dekat ketika jumlah Tank dikurangi. Pada saat ini di negara barat belum ada panser tempur yang mempunyai kekuatan menyerupai seperti BMP–3 F. Hasil perbandingan Ranpur BMP–3 F dengan Ranpur USA M2 "Bradley" menunjukkan bahwa BMP–3 F mengungguli M2 dalam daya gerak dan daya tembak.

MP-3, tipe 3F dirancang dengan kemampuan tambahan untuk bisa berenang dengan lebih baik, yakni mampu menantang ombak laut di level 2, dan bisa beroperasi di laut selama 7 jam. Untuk menunjang kemampuan amfibinya, BMP-3F dapat dilengkapi snorkel.

Senjata andalan BMP-3F adalah kanon kaliber 100 mm. Kanon ini dirancang untuk menembakkan peluru/ roket non-kendali (shell). Kanon jenis ini masuk dalam kategori balistik sedang, dengan kecepatan tembak berkisar 250m/detik. Selain itu terdapat platform peluncur rudal kendali anti tank (ATGM), baik yang diluncurkan langsung melalui laras meriam (laser guided system) maupun yang terpasang pada badan panser. diri dari dua bidang stabilisator dari pembidik kaca utama dan sebuah sensor gyroscope.

Konstruksi persenjataan BMP-3F merupakan penggabungan dalam satu komponen (single-turet): meriam, peluncur roket berkaliber 100 mm, kanon otomatis berkaliber 30 mm dan mitraliur berkaliber 7,62 mm. Dengan penggabungan ini memungkinkan awak tank dapat memilih model keperluan penggunaan senjata yang tersedia dikaitkan dengan situasi, kondisi serta medan tempur, tergantung sasaran yang dipilih untuk dihancurkan baik sasaran di darat, laut maupun udara.

BMP-3F memiliki bobot kurang lebih 18,7 ton, panjang 8 meter, lebar 3,5 meter dan tinggi 2,5 meter, kapasitas awak 3 orang serta 7 personel pasukan bersenjata lengkap. Bila dipandang dari segi bobot, BMP-3F kini menduduki kendaraan tempur kavaleri terberat yang dimiliki Korps Marinir, bahkan menjadi arsenal ranpur kelas berat nomer satu dibanding beragam jenis tank yang dimiliki Marinir. (Dispenarmatim)

Marinir TNI AL Siagakan Kendaraan Amfibi Untuk Antisipasi Kemungkinan Banjir Susulan

SATUAN Tugas (Satgas) banjir dari Korps Marinir TNI Angkatan Laut masih terus melancarkan aksinya dalam membantu masyarakat yang terkena musibah banjir tahunan itu di sejumlah wilayah ibu kota dan sekitarnya. Untuk mengantisipasi adanya banjir susulan, Korps Marinir TNI Angkatan Laut telah menyiapkan Satgas cadangan yang dilengkapi sejumlah Kendaraan Amfibi Pengangkut Artileri (KAPA), dan perlengkapan SAR lainnya.

Marinir TNI AL Siagakan Kendaraan Amfibi Untuk Antisipasi Kemungkinan Banjir Susulan

Kendaraan berat yang mampu berenang di air itu akan dioperasikan di sejumlah lokasi yang spesifik dan sulit dijangkau, seperti halnya pada saat banjir setahun yang lalu.


Dinas Penerangan Angkatan Laut (Dispenal) dalam siaran pers diterima Jurnal Nasional, mengatakan, sejak 13 Januari 2014, Korps Marinir TNI Angkatan Laut telah mendirikan delapan posko yang tersebar di beberapa lokasi, antara lain di Muara Kapuk Jakarta Utara, Kelurahan Penjaringan Jakarta utara, sekitar Kantor Wali Kota Jakarta utara, kawasan Daan Mogot, Jakarta Barat, di wilayah Jakarta Selatan, dan beberapa tempat lainnya.

Bagi masyarakat yang ingin membutuhkan bantuan dari Satgas Banjir Korps Marinir TNI Angkatan Laut, dapat menghubungi telephone (021) 3506069, (021) 3843514, (021) 3841752, Mako Brigif 2 Marinir( 021) 7805003, Mako Menbanpur 2 Marinir (021) 7801023, serta Yon Taifib 2 Marinir (021) 7821206.

Sementara itu, Satgas Banjir TNI Angkatan Laut secara keseluruhan melibatkan 2.555 prajurit dari Koarmabar, Korps Marinir, Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Sekolah Staf dan Komando Angkatan Laut (Seskoal) Jakarta, Lantamal III, dan Dinas Hidro Oseanografi (Dishidros) Angkatan Laut, masing-masing lengkap dengan sekoci karet, serta peralatan SAR lainnya.

Satgas TNI Angkatan Laut tersebut telah bergiat sejak tanggal 13 Januari 2014 dengan mengirimkan personel dan peralatan ke tempat-tempat musibah banjir seperti Babelan, Bukit Duri, Bendungan Hillir Pejaringan, Daan Mogot, Pluit, Graha Prima Tambun, Kampung Pulo, Sunter, dan beberapa wilayah lainnya yang terkena musibah banjir. Personel yang diterjunkan selain dilengkapi peralatan evakuasi berupa perahu karet (PK) dengan motor tempel, juga dilengkapi sarana pendukung truk angkut dan mobil ambulans.

Masyarakat yang terkena musibah banjir dan lokasinya belum ada petugas evakusi yang berada di tempat banjir, dapat minta bantuan evakuasi kepada TNI Angkatan Laut dengan berkoordinasi dengan instansi terkait melalui via telepon, ke posko-posko banjir TNI Angkatan Laut. Diantaranya Satgas Koarmabar telepon 021-4243000, Satgas Kormar 021-3506069, Satgas Kolinlamil 021-4301495, Seskoal 021- 7236611 (280), Lantamal III 021- 64712689 dan Dishidros Angkatan Laut 021- 64714810. (Jurnas)

2014 Koarmatim Laksanakan latihan multilateral dan Uji Coba Senjata Strategis

Pertengahan tahun 2014 jajaran TNI AL khususnya Koarmatim akan menggelar uji coba Alat Utama Sistem Senjata (Alutsista) berupa penembakan senjata strategis (Fire Power). Hal itu disampaikan oleh Asisten Operasi (Asops) Kasal Laksamana Muda TNI Didit Herdiawan, M.P.A., M.B.A., saat membuka Sidang Ke-63/2013 Dewan Pengembangan Operasi dan Taktik (Wanbangopstik), di Auditorium Pusat Latihan Kapal Perang (Puslatkaprang) Kolatarmatim, Ujung, Surabaya, Senin (16/12).


Pada tahap fire power tersebut seluruh senjata yang ada Kapal Perang Republik Indonesia (KRI) mulai dari senapan ringan, senapan mesin dan peluru kendali  ditembakkan. Dalam kegiatan ini juga dilaksanakan uji coba komunikasi terpadu menggunakan sarana komunikasi milik TNI AL.


Selain itu, kata Asops Kasal, even besar lain di tahun 2014 yakni TNI Angkatan Laut berencana menggelar latihan multilateral (Multilateral Exercise) yang dilaksanakan oleh seluruh komponen kekutan Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) TNI AL mulai dari unsur KRI, Pesawat Udara, Marinir dan Pangkalan di perairan Kepulauan Riau dan Batam.

Asops Kasal menegaskan  dalam amanatnya bahwa Forum Dewan Pengembangan Operasi dan Taktik ini pada hakekatnya merupakan wadah bagi para Perwira TNI AL dalam melakukan pengkajian /pengembangan dan pengujian doktrin-doktrin TNI AL baik untuk menyempurnakan doktrin-doktrin yang sudah ada maupun untuk menghasilkan pemikiran-pemikiran baru berkaitan dengan tugas-tugas yang diemban oleh TNI-AL.

Adapun dalam sidang Wanbangopstik kali ini membahas beberapa konsep materi tentang operasi perlindungan garis perhubungan laut sendiri, operasi mengatasi gerakan separatis bersenjata, operasi dukungan oleh TNI AL pada operasi gabungan TNI serta  petunjuk lapangan dukungan informasi oleh TNI AL pada operasi gabungan.

“Diharapkan agar dalam forum diskusi ini dapat memicu lahirnya pemikiran-pemikiran baru dan inovatif, adanya output yang berupa doktrin-doktrin yang up to date dan aplikatif serta dapat dijadikan pedoman dalam penentuan langkah-langkah dan pengambilan keputusan pada pelaksanaan di lapangan”, kata Asops Kasal.

Selain itu  Asops Kasal berharap forum ini dapat dimanfaatkan  secara maksimal sebagai sarana untuk berinteraksi antara perwira  muda dan perwira senior  sehingga tercipta lingkungan kerja yang kondusif sekaligus menumbuhkan kreatifitas dan  daya pikir yang kritis khususnya bagi para perwira muda guna mewujudkan profesionalisme prajurit matra laut yang handal dan mencerminkan World Class Navy.

Hadir dalam acara sidang Wanbangopstik tersebut, Komandan Kobangdikal Laksamana Muda TNI Widodo, Gubernur Akademi Angkatan Laut Laksamana Muda TNI I.N.G.N Ari Atmaja, Kepala Staf Koarmatim Laksamana Pertama TNI Siwi Sukma Adji, Komandan Gugus Tempur Laut Armabar Laksamana Pertama TNI Amarulla Oktavian, S.T., M.Sc., Komandan Lantamal V Laksamana Pertama TNI Sumadi serta pejabat TNI AL lainnya. (Dispenarmatim).

Rheinmetall Defence Kenalkan Sistem Manajemen Pertempuran Kepada Marinir TNI AL

Kepala Dinas Material Korps Marinir (Kadismat Kormar) Kolonel Marinir Endang Taryo menerima presentasi pengenalan sistem manajemen pertempuran (BMS-Battlefield management System) dari Rheinmetall Defence Electronics GmbH Jerman di ruang rekreasi Lapangan Tembak Pistol Marinir “Jusman Fuger” Cilandak, Jakarta Selatan, Selasa (10/12/2013).

Rheinmetall Defence Electronics GmbH Jerman Perkenalkan BMS-Battlefield management System Kepada Marinir TNI AL
Rheinmetall Defence Electronics GmbH Jerman Perkenalkan BMS-Battlefield management System Kepada Marinir TNI AL

Tampil selaku pembicara Mr. Nico Hanemann dari Rheinmetall Defence Electronics GmbH Jerman yang merupakan mitra PT. Emico Mitra Samudra dengan dipandu Paban Srena Kormar Letkol Marinir RE. Girsang, memaparkan tentang sistem manajemen pertempuran (BMS-Battlefield management System) type INIOCHOS yang merupakan sistem BMS modular yang dapat menghubungkan tank dengan tank, tank dengan infanteri, maupun tank dengan markas Komando, serta type GLADIUS.


 
Usai pemaparan dilanjutkan dengan peragaan BMS type Gladius, merupakan piranti canggih yang dikenakan pada system tentara modern, digunakan untuk memperluas dan meningkatkan kemampuan system yang berkaitan dengan jaringan komando dan kontrol serta efektivitas tempur, sehingga memungkinkan pertukaran cepat informasi. Dengan demikian prajurit perorangan dapat menerima semua data yang relevan mengenai situasi taktis, posisi pasukan kawan, misi dan status sistem termasuk GPS, sistem navigasi serta kompas magnetik.  
 

 

Hadir dalam acara tersebut Asops Dankormar Kolonel Marinir Purwadi, Aspers Dankormar Kolonel Marinir Purnomo, Kadiskomlek Kormar Kolonel Marinir Baedowi Octavida, Kadisinfolahta Kormar, Dandenma Mako Kormar dan Para Pejabat teras Pasmar-2.   (Marinir)

TNI AL Persiapkan Pembentukan Divisi Marinir di Sorong

TNI Angkatan Laut sedang mempersiapkan kelengkapan sarana untuk pengembangan pasukan Korps Marinir divisi ketiga di Sorong, Papua untuk menjaga kedaulatan Indonesia di wilayah perbatasan dengan Papua Nugini. Secara bertahap 15 ribu prajurit Marinir ditempatkan di Sorong, untuk mendukung keamanan dan pertahanan komando wilayah laut timur.


“Kita akan membangun sebuah divisi ketiga Korps Marinir di Sorong. Saat ini tengah disiapkan sarana dan prasarananya,” ujar Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Marsetio usai peringatan HUT Korps Marinir ke-68, di Lapangan Apel Hartono Kesatrian Marinir, Cilandak, Jakarta, Jumat (15/11/2013).

TNI AL masih mempersiapkan kebutuhan alutsistanya berikut pangkalan, termasuk markas divisi, brigade, dan batalyon bagi pasukan Koprs Marinir. “Sebagian sudah jadi. Mudah-mudahan pada 2014 sudah mulai efektif,” tegas Marsetio.


Alutsista yang akan disiapkan untuk pengembangan Korps Marinir di Sorong, antara lain: tank amfibi BMP-3F dari Rusia yang rencananya tiba pada akhir 2013 ini, Kendaraan lapis baja dari Korea Selatan tahun 2014, Panser BTR-4, MLRS serta kendaraan perintis untuk kelengkapan batalyon lain yang berada di jajaran Marinir.



“Pimpinan TNI AL berjanji akan selalu mendukung penuh persenjataan Korps Marinir,” tambah KSAL. Pasukan yang ditempatkan di Sorong merupakan Pasmar-3, yang akan dilengkapi dengan alutsista mamadai.

Pembangunan markas komando sudah dilaksanakan sejak 2012 lalu, dan sesuai target pada tahun 2013 ini pembangunan sarana dan prasarana Divisi III telah selesai. Selain pembangunan markas komando, di kompleks KM 16, juga akan dibangun barak-barak Marinir, perumahan untuk anggota dan fasilitas penunjang lainnya.



Saat ini mabes TNI AL tinggal menunggu Peraturan Presiden turun, yang diperkirakan terbit pada awal 2014. Sambil menunggu perpres tersebut, TNI AL terus melengkapi kebutuhan alutsista terbaru.

Kasal Laksamana Marsetio mengatakan, pembentukan Divisi III Marinir di Sorong Papua sudah menjadi kebutuhan pokok. Saat ini Marinir baru memiliki setingkat tiga brigade, yaitu di Surabaya, Jakarta dan Lampung. Sementara tugas Marinir menjangkau seluruh Indonesia, terlebih untuk pengamanan pulau terluar yang tidak berpenghuni, menjadi kewajiban Marinir.

Untuk wilayah Indonesia bagian timur, kekuatan Marinir masih dirasakan kurang karena baru ada kekuatan setingkat satu batalyon. Dengan kekuatan tersebut dinilai tidak cukup ideal untuk mengamankan wilayah Papua yang luas.

Selain di Sorong, juga dibangun satu batalyon infanteri-10 Korps Marinir di Pulau Setoko, Batam, Kepulauan Riau. (edisinews.com | JKGR)

Marinir TNI AL Akan Terima 37 Tank dari Rusia di Akhir Tahun 2013

Modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) terus dilakukan TNI. Akhir 2013, TNI akan kedatangan puluhan tank dari Rusia.

Marinir TNI AL Akan Terima 37 Tank dari Rusia di Akhir Tahun 2013

"Peningkatan dari waktu ke waktu akan berjalan terus. Sebentar lagi akan hadir 37 unit tank dari Rusia akhir tahun ini, kemudian dari korea menyusul pada 2014. Dan semuanya baru," kata Panglima TNI, Jenderal TNI Moeldoko di lapangan tembak Mmarinir FX Supramono, Bhumi Marinir Karangpilang, Surabaya, Jumat (1/11/2013).


Bahkan kata dia, anggaran belanja alutsista 2014 dipastikan akan naik, tapi tidak signifikan meski tahun ini hanya terserap 42 persen.

"Anggaran alutsista, ada peningkatan tahun depan. Harusnya target. Sekarang (2013) hanya terserap 42 persen, tetapi pada 2014 bisa terlampaui 53 persen tidak ada akselerasi yang signifikan dan belanja untuk semua kesatuan," ungkap dia. (Detik)